MAULID NABI MUHAMMAD SAW

Maulid Nabi Untuk Merayakan Hari Kelahiran Nabi Muhammad saw

Posts Tagged ‘Tasawuf’

Tiada Akan Masuk Sorga Kecuali Orang Yang Muslim

Posted by Teknik Jumper on November 5, 2008

ImageAssalamu’alaikum warohmatullallhi wabarokaatuh,
Hamdan li Robbin Khosshona bi Muhammadin
Wa anqodznaa bi dzulmatiljahli waddayaajiri
Alhamdulillahilladzii hadaanaa bi ‘abdihilmukhtaari man da’aanaa ilaihi bil idzni waqod naadaanaa labbaika yaa man dallanaa wa hadaanaa
Shollallahu wa sallama wa baarok’alaih
Alhamdulillahilladzi jam’anaa fi hadzalmahdhor,Limpahan puji kehadirat Allah SWT, Maha Raja tunggal di alam semesta, tunggal dan abadi kekuasaan-Nya, tunggal dan abadi menguasai setiap ruh dan jiwa, tunggal dan abadi menciptakan setiap jasad hamba-hambanya, dan tiada satupun dari wajah hambanya yang sama dan serupa, Maha suci Allah SWT yang menjadikan alam semesta sebagai seruan bagi keturunan Adam, untuk mengenalkan dzat-Nya yang Maha luhur, untuk mengundang jiwa dan hamba-hambanya agar mengenal siapa yang menciptakan langit dan bumi, agar mereka mengetahui betapa indah dan agung-Nya Allah, mengundang ruh dan sanubari mereka untuk mencapai kebahagian yang kekal, hingga datanglah undangan-undangan Ilaahi dengan kebangkitan utusan Ilaahi yang paling dicintai Allah, sayyidina Muhammad SAW wa barak’alaih, pemimpin pembawa kemuliaan, pemimpin pembawa al-Quran, pembawa kebahagiaan, pembawa tuntunan-tuntunan suci, yang menuntun manusia dari kegelapan dosa dan kemurkaan Allah, menuju cahaya pengampunan dan kasih sayang Allah yang kekal, demikianlah kebangkitan sayyidina Muhammad SAW wa barak’alaih wa ‘ala alih. Sampailah kita di malam hari yang diberkahi Allah SWT ini, dengan membawa dosa-dosa dan kesalahan, dosa-dosa kita selalu mengikuti kita siang dan malam.

Maha Suci Allah SWT yang Maha Luhur, Maha Raja alam semesta, Maha menuntun hamba-hambanya dengan kedermawanan untuk melewati kehidupannya, maka beruntunglah hamba-hambanya yang menjawab seruan Allah, yang mau memahami perasaan Allah, yang mau berduaan dengan Allah didalam kesendirian, melewati satu dua menit dalam hari-harinya untuk berduaan bersama Robbul’alaimin, didalam keindahan sujudnya, mensucikan nama Allah SWT, melampiaskan keriinduannya kepada pencipta-Nya, kepada yang Maha berjasa kepadanya dan Maha berjasa kepada segenap makhluk hidup, Maha memiliki segenap kehidupan dan Maha berjasa kepada semua yang hidup di alam semesta, Dialah Allah, kenalilah nama-Nya, nama yang dikenal oleh seluruh sel tubuh kita, karena seluruh sel tubuh itu hidup dan kehidupannya berawal dari Allah Jalla wa’ala. Nama yang diagungkan oleh alam semesta, jangan kecualikan jiwa dan sanubari kita, alam semesta mengagungkan Robbul’alamin, alam semesta bergemuruh mensucikan nama Allah, jangan kecualikan diri dan jiwa kita, yang lepas dari mengagungkan Allah, dan ternyata ketika datang keinginan hamba untuk bertaubat dan memohon pengampunan, itu adalah salah satu hal yang sangat mengembirakan Allah.

Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah.
Rahasia pengampunan Ilaahi, tiada akan berhenti terus mengundang para pendosa untuk dilimpahi maaf-Nya, hingga mereka hidup dan wafat dari beratus generasi dari sejak Adam hingga manusia yang terakhir di akhir zaman, sang Maha Memaafkan tiada pernah berhenti memaafkan, sang Maha Pemberi tiada pernah berhenti pemberiannya, sang Maha dermawan tiada pernah terputus kedemawanannya, Jalla wa’ala, yang tiada pernah bosan-bosannya melihat hambanya terus berdosa menentang-Nya dan terus menantikan taubat hambanya untuk kembali kepada Allah, kembalilah, kembalilah kepada yang melamarmu untuk dekat kepada-Nya, yang melamar kita untuk sampai kepada puncak keluhuran dalam kebahagiaan yang kekal, yang melamar kita adalah yang Maha memiliki kelembutan dan kasih sayang, melebihi seluruh kasih sayang di alam, kenalilah nama-Nya yang Maha Luhur, maka salah satu dari bentuk kenikmatan yang muncul dalam kehidupan kita adalah munculnya lambang rahmat Ilaahi sayyidina Muhammad SAW wa barak’alaih, yang Allah jadkan beliau itu bulan purnama hamba-hambanya untuk mengenal keindahan Ilaahi, yang menjadi cermin keagungan Allah, yang menjadi cermin bagi kita untuk mengenal Allah, itulah sayyidina Muhammad sayyidina Muhammad sayyidina Muhammad, tidak akan ada orang mengenal keindahan Allah terkecuali mengenalnya dari tuntunan Muhammad Rasulullah, dan tiada akan ada orang sampai kepada puncak ma’rifat dan iman “illa bi Muhammadin shollallahu wa sallama wa barak’alaih” umatnya ini yang Allah jadikan bagaikan benteng yang saling menguatkan satu sama lain.

Sampailah kita pada hadits mulia dimalam ini riwayat Shohih Bukhori: “laa yadkhulul-jannata illa nafsun muslimah (tiada akan masuk ke surga terkecuali orang-orang yang muslim) wa innallaha layuayyidu hadzaddiin birrojulil-faajir” ini yang menjadi tanda tanya yang perlu kita perjelas, kalau kalimat yang pertama, “tidak akan masuk surga terkecuali orang muslim” jelas sudah tidak perlu penjelasan, surga adalah milik ahli “laa ilaaha illallaah Muhammad Rasulullah” tapi bagaimana dengan ucapan sang Nabi; “innallaha layuayyidu hadzaddiin birrojulil-faajir” Allah menolong kebangkitan agama ini dengan orang-orang pendosa”, al-Imam ibnu Hajar al-Asgholani di dalam kitabnya fathul-baari bi syarah Shahih Bukhari, mensyarahkan makna hadits ini bahwa inilah kemuliaan pada muslimim muslimat walaupun pendosa, Allah tidak menyingkirkan mereka, terkecuali tetap merangkul mereka untuk turut berjasa menegakkan agama ini, walaupun mereka seorang yang banyak berdosa, bahkan ini bukan banyak berdosa, tapi faajir, orang yang selalu berbuat dosa,

Al-Imam ibnu Hajar al-Asgholani menukil riwayat didalam shahih bukhori; ketika saat seseorang berjihad dan Rasul berkata: huwa min ahlinnaar” orang itu ahli neraka, maka para shahabat memungkirinya, ya Rasulullah orang ini berjihad, Rasul berkata: innahu min ahlinnaar” ia wafat akan sampai ke dalam api neraka, dan ternyata benar, ketika ia melewati satu peperangan dan ia mendapatkan luka yang cukup parah, seraya membunuh dirinya sendiri, ia wafat dalam keadaan bunuh diri, sabda Rasulullah SAW, seraya bersabda: innallaha layuayyidu hadzaddiin birrojulil-faajir” Allah itu juga menegakkan agama ini dengan tumpukkan orang-orang yang faajir, dalam peperangan itu orang tadi berjasa, ia cukup hebat dalam membela Islam, walaupun ia wafat sebagai orang yang bunuh diri.

Al-Imam ibnu Hajar al-Asgholani memberi kejelasan dalam hadits ini, bagi kita untuk tidak meremehkan orang yang faajir, apalagi kalau seandainya sebagaimana al-Imam ibnu Hajar menukil; ketika kita melihat penguasa yang zholim, penguasa yang zholim kalau seandainya sampai kederajat yang faajir, tetap Allah SWT masih mengambilnya sebagai penegak agama,
demikian hadirin hadirot yang dimuliakan Allah, Allah memuliakan seorang muslim, ketika seorang pemimpin Islam maka tiadalah selayaknya rakyatnya untuk menghancurkannya, walaupun ia seorang yang zholim, akan tetapi kebangkitan Islam dan kemajuan Islam, bukan ditangan pemimpin yang zholim atau tidak zholim, tetapi pada rakyat yang bergerak didalam kemuliaan ataupun didalam kehancuran. Demikian hadirin hadirot yang dimuliakan Allah, seorang pemimpin yang sholeh tidak akan mampu berbuat apa-apa ketika rakyatnya faajir dan sebaliknya jika rakyatnya mu’minin mu’minat sholihin sholihat, pemimpin yang faajir tidak akan bisa bebuat apa-apa berhadapan dengan kekuatan Robbul’alamin.

Demikian hadirin hadirot karena kekuatan Allah ma’al-jama’ah, yadullah ma’al-jama’ah wa innal-fatt gholab wa adzab” kekuatan muslimin bersama kekuatan Allah pada persatuan muslimin bukan pada perpecahan, dan perpecahan adalah gholab dan adzab, demikian sabda Nabiyyuna Muhammad SAW wa barak’alaih, Demikian hadirin hadirot yang dimuliakan Allah. Hadits ini membuka bagi kita pemahaman bahwa para pendosa yang banyak berbuat salahpun Allah SWT masih menggunakan jasanya untuk menegakkan Islam, disinilah kemuliaan muslimin muslimat, umat Nabi Muhammad SAW wa barak’alaih wa’ala alih.

Seindah-indah makhluknya Allah adalah Nabi kita Muhammad, yang dengan mengikuti tuntunan beliau sampailah kita pada kesejateraan dunia dan akhirat, diriwayatkan didalam Shohih Bukhori Rasul SAW bersabda: “tidak dihalalkan bagi seorang muslim untuk bermusuhan dengan saudaranya melebihi tiga malam” sehingga “wayu’ridhu hadza wa yu’ridhu hadza”, sehingga yang ini berpaling dari saudaranya, saudara berpaling darinya, “inna min khoirihim man yabda,u bissalam” dan yang paling baik diantara keduanya yang saling berselisih adalah yang paling pertama mengucapkan salam kepada yang berselisih padanya” ketika dua orang berselisih dan bermusuhan, Rasul berkata; tidak halal baginya melebihi tiga malam, lewat dari tiga malam ia telah sampai kepada hal yang haram dari permusuhannya, dan permusuhannya bukan lagi kepada saudaranya, tetapi ia telah sampai kepada hal yang dimurkai Allah, dan yang terbaik diantara mereka adalah yang pertama kali mengucapkan salam, bukan yang salah atau yang tidak salah, tapi yang paling baik diantaranya adalah yang pertama kali memulai untuk keinginan kembali berdamai, demikian hadirin hadirot, warisi pada dirimu, warisi pada hari-hari kita, wasiat-wasiat Nabi kita Muhammad SAW shollallah wasallama wa barak ‘alaih.

jadikan jiwa kita terbuka bagi saudara-saudara kita yang kita cintai dan yang kita tidak menyukainya, ia telah berbuat salah padaku menyinggung perasaanku, tidak berat bagimu untuk memaafkannya, ingatlah semakin seeseorang banyak memaafkan saudaranya, melupakan kesalahan saudaranya, semakin cepat Allah melupakan kesalahannya, ketika seseorang berat melupakan kesalahan saudaranya, hati-hati barangkali Allah berat pula melupakan kesalahannya.

Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah,
Ketika jiwa yang paling indah selalu melupakan orang-orang yang berbuat salah padanya, maka jiwa itulah yang paling berhak dilupakan oleh Allah kesalahan-kesalahannya, “man laa yarhan laa yurham” sabda sang Nabi riwayat Shohih Bukhori: barang siapa yang tidak mempunyai sifat penyayang maka ia akan sulit mendapatkan kasih sayang Allah SWT. Hadirin hadirot, diriwayatkan didalam Shohih Bukhori, ketika salah seorang selalu memaafkan kesalahan saudaranya, ketika ia sampai dihisab dan dipertanggungjawabkan atas dosa-dosanya, maka ia mengadu kepada Allah; aku memaafkan fulan, aku memaafkan fulan, aku memaafkan fulan, maka berkatalah Allah SWT: lupakan, lupakan kesalahan ia, sebagaimana ia melupakan kesalahan orang yang berbuat salah padanya, Allah malu untuk mempertanyakan kesalahan orang yang melupakan kesalahan orang padanya, ketika orang ini berbuat salah kepada Allah, Allah merasa Aku lebih berhak memaafkan daripada engkau wahai hamba-Ku, engkau memaafkan orang yang berbuat salah padamu, Aku lebih berhak memaafkan orang yang berbuat salah pada-Ku dari engkau, demikian hadirin hadirot keluasan kedermawanan ilaahi yang semakin bergelombang dahsyatnya dengan perubahan jiwa kita yang semakin indah, warisi kemuliaan sayyidina Muhammad SAW wa barak’alaih, orang yang paling cepat memaafkan, Nabiyyuna Muhammad SAW, makin dikerasi, makin disinggung, makin dikecam, makin lembut, makin mendoakan, demikian budi pekerti yang indah yang digelari oleh Allah “wa innaka la’ala khuluqin ‘azhiim”.

Diriwayatkan didalam Shohih Bukhori: ketika beliau SAW disihir, disihir oleh Labid bin Ahshom, salah seorang Yahudi yang mengirim sihir kepada sang Nabi dan Allah SWT yang Maha melihat, Maha Menjaga sang Nabi, membiarkan sihir itu sampai kepada sang Nabi, namun tahtal- murokabak” dibawah pengawasan Allah SWT, sihir seperti apa bisa menembus seorang yang paling dicintai Allah, namun Allah SWT izinkan sihir itu mengenai sang Nabi, “ibrotan li ummati” ibroh bagi umatnya, maka ketika sihir itu terkena dalam beberapa hari Allah telah mengirimkan jibril dan salah seorang malaikat lainnya memberi tahu sang Nabi, bahwa engkau terkena sihir, dan yang menyihirmu adalah Labid bin Ahshom dan sihirnya itu ditaruh disumur anu, didekat Madinatul munawarah, maka Rasul SAW keluar bersama para shahabat dan mengeluarkan sihir itu dari dalam sumur dan membuangnya, maka berkata sayyidatuna Aisyah ra: ya Rasulullah memangnya sihir itu bisa membuatmu membawa mudhorot padamu, kalau seandainya tidak dibuang, dibiarkan didalam sumur, Rasul berkata: “innallah” sungguh Allah telah menjagaku dari sihir ini akan tetapi yang ku risaukan bila sihir itu tidak dihancurkan, akan membawa mudhorot bagi orang lainnya, kalau sang Nabi berada dalam penjagaan Allah, mau dikirim sihir oleh seluruh penyihir di muka bumi, tidak akan bisa membawa mudhorot, karena ia dilihat langsung oleh pengawasan Allah SWT, dan beliau SAW memaafkan Labid bin Ahshom, orang yang menyihir beliau, orang Yahudi itu dibiarkan oleh sang Nabi dan dimaafkan, demikian indahnya budi pekerti beliau SAW wa barak’alaih.

Diriwayatkan di dalam Shohih Bukhori, ketika datang sayyidina Umar bin Khattab ra, Rasul SAW kebetulan sedang mengajar kaum nisa, kaum wanita, kaum wanita ribut suaranya saat itu, begitu sayyidina Umar bin Khattab masuk semuanya terdiam, maka Rasul SAW tersenyum, maka berkata Umar bin Khattab: ada apa engkau tersenyum sampai gigimu terlihat, karena Rasul SAW itu jika tertawa tidak terdengar suara beliau SAW, jarang sekali sampai terlihat giginya terkecuali betul-betul gembira, kenapa engkau seperti ini ya Rasulullah? Apa yang membuatmu tersenyum kata sayyidina Umar, Rasul berkata: tadi masih ribut disini kaum wanita, saat engkau masuk semuanya diam wahai Umar, maka berkatalah Umar bin Khattab ra, ya Rasulullah tidak pantas mereka itu lebih risau dan takut kepadaku, sepantasnya mereka menghormatimu lebih lagi, maka Umar berkata: wahai kalian kenapa kalian lebih takut kepadaku dari pada Rasulullah? maka berkata mereka ini; wahai Umar, engkau ini tegas dan berwibawa sedangkan Rasulullah lembut dan berkasih sayang, Rasul SAW tambah tersenyum lagi, seraya berkata: demi Allah wahai Umar jika syaithon datang berpapasan denganmu disuatu jalan, syaithon itu akan mencari jalan dari bukit yang lain, untuk tidak berpapasan denganmu wahai Umar ra wa ardhoh.

Disini hadirin hadirot menunjukkan bahwa ketegasan Umar bin Khattab bukan dengan emosi dan hawa nafsu, beliau adalah orang yang berwibawa dan sangat tegas, akan tetapi bukan dengan hawa nafsunya, karena apa? karena syaithon menghindar darinya. Al-Imam Nawawi dalam kitabnya syarah nawawi ‘ala shohihul-muslim mensyarahkan makna hadits ini, bahwa tidak mustahil, memang ma’sum yaitu sifat terjaga dari perbuatan berdosa, pasti bagi para Nabi dan Rasul, akan tetapi tidak mustahil bagi selain Nabi dan Rasul, dan hal seperti ini, berkata Imam Nawawi, bukan hanya pada sayyidina Umar bin Khattab, tapi banyak pada shahabat lainnya, ra wa ardhohum, akan tetapi riwayat yang sampai adalah sayyidina Umar bin Khattab, akan tetapi banyak dari para shahabat besar yang sudah tidak lagi didekati oleh syaithon karena dasar kuatnya iman mereka, karena cahaya Allah yang berpijar dalam jiwa mereka.

sehingga teriwayatkan dalam salah satu riwayat yang tsiqoh, bahwa salah seorang shahabat berkata: aku tidak pernah berpaling hatiku saat aku sholat sejak aku masuk Islam, sejak masuk Islam tidak pernah hatinya berpaling pada selain Allah disaat sholat, inikan tentunya bukan terikat kepada jiwanya yang suci saja, tetapi terikat kepada sang guru, sang pembimbing semulia-mulia pembimbing, semulia-mulia guru, sayyidina Muhammad SAW wa barak’alaih yang dengan memandang wajah beliau, sampailah para shahabat bertambah kekhusu’annya, sebagaimana riwayat Abu Hurairah ra wa ardhoh, “ya Rasulullah idza roainaaka rooqqod quluubina” wahai Rasulullah jika kami melihat wajahmu, terangkat kami kepada kekhusu’an yang lebih” melihat wajah manusia yang paling ramah, manusia yang paling khusu’, manusia yang paling lembut, sayyidina wa maulana Muhammad SAW wa barak’alaih.

Diriwayatkan didalam Shohih Bukhori, ketika salah seorang shahabat dari Badui yaitu orang dusun, sedang berdesakkan Rasul SAW bersama para shahabat, seraya menarik rida sang Nabi SAW dengan kerasnya, seraya berkata wahai Muhammad, beri aku bagian daripada shodaqoh yang dari Allah SWT, tarikan rida sedemikian keras sehingga terlihatlah bekas yang merah dileher Nabi Muhammad SAW, beliau berpaling dan tersenyum kepada orang itu dan memerintahkan para shahabatnya untuk memberikan shodaqoh kepada orang tersebut, demikian seindah-indah budi pekerti. Al-Imam ibnu Hajar didalam kitabnya fathul-baari bi syarah shohihul-bukhori menjelaskan bahwa makna kejadian itu bukan orang dusun itu berbuat kurang ajar dan menarik sorbannya sang Nabi untuk meminta shodaqoh, kecuali karena Rasul sudah hampir masuk kedalam rumah beliau, sudah hampir masuk kedalam rumah, maka orang ini takut Rasul masuk kedalam rumah, tidak sempat ia meminta shodaqohnya, ia menarik baju sang Nabi SAW, maka Rasul tersenyum dan Rasul SAW memerintahkan kepada para shahabat untuk memberinya, demikian indahnya budi pekerti Nabiyyuna wa syafii’una Muhammad SAW wa barak’alaih.

Hadirin hadirot, kejadian-kejadian mulia ini, ditunjukkan oleh Allah SWT, kepada para shahabat ra wa ardhohum, agar mereka lebih mengenal kelembutan Allah, dan Allah tidak memutus kabar-kabar mulia itu dimasa beliau saja, akan tetapi menyambungkan dan menyampaikannya dari zaman-ke zaman, bahkan sampai saat ini, 14 abad dari masa wafatnya sang Nabi, kemuliaan budi pekerti beliau, masih diabadikan oleh Allah SWT, sehingga menerangi jiwa kita dimalam hari ini dan para penerus beliau yang mewarisi kemulian khusu’, kemuliaan-kemuliaan tawadhu, kemuliaan-kemuliaan kerinduan kepada Allah, para shahabat minal-muhajirin dan Anshor dimasanya, diteruskan generasi selanjutnya dan tidak pernah terputus.

Kita mendengar satu nama mulia Imamuna Ali Zainal Abidin As-Sajjad ibnu Husein bin Ali bin Abi Thalib ra wa karromallahu wajhah, yang digelari As-Sajjad, orang yang banyak bersujud, ia melewati malamnya dengan 1000 kali sujud setiap malam 500 raka’at, melakukan sholat muthlaq, sholat muthlaq itu adalah sholat yang tidak memakai salam setiap dua raka’at, sholat sunnah muthlaq adalah sunnah hukumnya, dilakukan tidak diputus dua raka’at dua raka’at, tidak, ia lanjut saja, bagi orang yang asyik kepada Allah lebih senang memilih sholat sunnah muthlaq, karena tidak pakai salam dan tidak pakai batas raka’at, terserah berapa raka’at saja, pokoknya sholat saja, mau dua, tiga, empat, ia tidak hitung lagi ganjil atau genap, yang jelas sholat sunnah muthlaq lepas tanpa perhitungan, tanpa perlu ia menghitung berapa kelebihan kekurangan, ia lanjut saja, dan sebagian diantara mereka para salafussholihin dan para tabi’in melakukan sholat sunnah muthlaq dengan perhitungan, seperti Imam Ali Zainal Abidin As-Sajjad ini, 500 raka’at setiap malamnya dengan perhitungan ayat, membaca sekian ayat, 4 ayat 5 ayat sekian ayat, surat anu, sampai surat anu jumlahnya 500 ayat dibaca, satu kali berdiri dua-tiga ayat, ruku’ sujud, ruku’ sujud, 500 raka’at, demikian malam-malamnya Imamuna Ali Zainal Abidin digelari As-Sajjad, kebiasaan ini didukung oleh, sebagaimana dijelaskan didalam fathul-baari bi syarah shohihul-bukhori oleh Imam ibnu Hajar al-Asgholani bahwa; ada dua kebiasaan sang Nabi, memanjangkan raka’at sholatnya dengan bacaan yang panjang, ruku’nya panjang, i’tidalnya panjang, sujudnya panjang, demikian dengan raka’at yang sedikit, atau mempersingkat setiap bacaan raka’atnya dan memperbanyak raka’atnya, ini perbuatan sang Nabi, dua-duanya diteruskan para shahabat, masing-masing memilih, ada yang memilih memanjangkannya sampai ada yang membaca delapan juz atau 12 juz al-Qur,an dalam satu malam, ada yang mengambil raka’at jumlahnya banyak, diantaranya Imam Ali Zainal Abidin, diteruskan oleh Imam Syafi’I ‘alaihi rahmatullah yang juga 500 raka’at, 1000 kali sujud setiap malamnya, diteruskan oleh Imam Faqihil Muqoddam yang juga didengar dan dipahami setiap malamnya 500 raka’at, 1000 kali sujud, dan didalam doa munajatnya, jiwa-jiwa yang indah bermunajat dengan yang Maha Indah.

ketika Imam Thous ‘alaihi rahmatullah, ingin sholat malam dimasjidil haram, sebelum waktu shubuh, ia lihat ada orang yang sudah mendahuluinya, ruku’ sujud, ruku’ sujud, berdiri, ruku’ sujud, ruku’ sujud, terus, siapa orang ini, dari tadi tidak berhenti, ia dekati Imam Ali Zainal Abidin As-Sajjad ‘alaihi rahmatullah, oh ini, orang mulia, ia lihat saja, apa sih, bagaimana keadaannya, terus sampai hampir terbitnya fajar, hampir adzan shubuh, baru beliau berhenti dan salam, setelah itu didengarlah munajat dari bisikan Imam Ali Zainal Abidin, dengan rintihan suaranya yang demikian memilukan: ‘abduka bi finaaik, miskiinuka bi finaaik, fakiiruka bi finaaik, saailuka bi finaaik, empat kalimat ini terus diulang, ‘abduka bi finaaik” hamba-Mu didepan teras istana-Mu, ”miskiinuka bi finaaik” si miskin dihadapan-Mu di depan teras istana-Mu wahai Allah, “fakiiruka bi finaaik” si fakir dihadapan istana-Mu wahai Allah, “saailuka bi finaaik” si peminta-minta didepan gerbang istana-Mu wahai Allah, ia terus mengulang kalimat itu, Imam Thous terus mendengar, betapa indahnya kalimat yang diucapkan dari jiwa yang khusu’ dan rindu kepada Allah, memanggil yang Maha berhak dirindukan, ‘abduka bi finaaik, miskiinuka bi finaaik, fakiiruka bi finaaik, saailuka bi finaaik, demikian munajat, Imam Thous menghapalnya, ia berkata: sejak itu tidaklah aku punya hajat yang sulit, ku pakai doa itu, kecuali Allah mengabulkannya, keberkahan dari jiwa Imam Ali Zainal Abidin, dari orang yang banyak bersujud, 1000 kali sujud setiap malamnya, namun demikianlah indahnya ucapannya.

Demikian hadirin hadirot yang dimuliakan Allah.
Dan akan datang satu masa berakhirnya kehidupan kita, selesai sudah dan berpisah dengan semua yang kita lihat dan semua yang kita dengar, dan tidak selesai sampai disitu, terkecuali melewati saat-saat penantian untuk menghadap Allah, dan disaat itu Allah SWT menjadikan bumi bersaksi, idza zulzilatil-ardhu zil-zaalahaa* wa akhrojatil-ardhu atsqoolahaa*wa qoolal-insaanu maalahaa*yaumaidzin tuhadditsu akhbaarohaa* ketka Allah menguncang bumi dengan guncangan yang dahsyat, idza zulzilatil-ardhu zil-zaalahaa* wa akhrojatil-ardhu atsqoolahaa” dan bumi memuntahkan semua isinya, disini sebagian para mufassir menjelaskan, yang dimaksudkan mengeluarkan isinya, adalah mengeluarkan seluruh jasad manusia yang telah terkubur didalamnya, disini hadirin hadirot telah dinukil hadits qudsi, diriwayatkan oleh para mufassir kita, dengan riwayat yang tsiqoh, bahwa ketika tubuh telah hancur menjadi tanah, tersisa tulang-tulang kecil yang barangkali tidak terlihat mata,
maka disaat hari kebangkitan, Allah menurunkan hujan sehingga air itu yang merupakan air kehidupan dikehendaki oleh Allah SWT, menumbuhkan kembali tubuh manusia, sebagaimana Allah menumbuhkannya dari sebutir sel saja dan sel ovum, Allah menumbuhkan tubuhnya hingga sempurna, Allah menumbuhkan tubuhnya kembali, dan disaat itulah setelah tubuhnya kembali sebagaimana asalnya, maka Allah memerintahkan semua ruh untuk kembali kepada tubuhnya dan mereka mendatangi panggilan Allah, disinilah bumi memuntahkan seluruh jasad yang berada didalamnya, “wa akhrojatil-ardhu atsqoolahaa*wa qoolal-insaanu maalahaa” manusia bertanya; ada apa sebenarnya, apa yang terjadi? apa yang akan terjadi? “yaumaidzin tuhadditsu akhbaarohaa” bumi bersaksi atas apa-apa yang pernah ia lihat, semua manusia yang pernah hidup tentunya saksinya adalah bumi, menginjakku ditempat anu, dalam pahala, dalam dosa, dalam sujud, dalam zina, dalam judi, dalam mabuk, dalam taubat, dalam istighfar, disaksikan oleh bumi dan disaat itu “tuhadditsu akhbaarohaa’ ia mengeluarkan seluruh kejadian yang telah terjadi di atasnya, demikian hadirin hadirot.

Dan Allah berfirman: “innalladziina sabaqot lahum minal-husnaa ulaaika ‘anha mub’aduun” ketika api neraka memanggil nama-nama para pendosa, api yang terdengar gemuruhnya 100 tahun perjalanan, dan disaat itu Allah berfirman: “innalladziina sabaqot lahum minal-husnaa ulaaika ‘anha mub’aduun”, mereka yang telah mendapatkan khusnul khotimah, mereka jauh dari api neraka, “laa yasma’uuna hasiisahaa” jangankan melihat neraka, mendengar desisnya pun tidak, “laa yasma’uuna hasiisahaa” desis neraka tidak mereka dengar, padahal gemuruhnya terdengar 100 tahun perjalanan, desisnya mereka tidak dengar, “wa lahum fii masytahat anfusuhum khooliduun” mereka diberi apa yang mereka mau dan mereka abadi, mereka tidak mendapat kesedihan disaat orang melewati ketakutan yang dahsyat, “watatalaqqoohumul-malaaikatu hadza yaumukumulladzii kuntum tuu’aduun” mereka disambut oleh para malaikat Allah.

Inilah hari yang dijanjikan oleh kalian, dihari tidak ada kemungkiran, tidak ada pendustaan, tidak ada ketidakadilan, tidak ada penipuan, yang ada adalah Maha Raja alam semesta yang Maha Adil mengadili seluruh kejadian, dan Maha menyantuni hambanya yang merindukannya, orang yang merindukan Allah disaat itu merasa pada puncak keamanan dan ketenangan, selama di dunia mereka barangkali memahami dan meyakini lindungan Allah, tapi mereka tidak atau belum berjumpa dengan Allah, hati mereka merasakan ketenangan yang dahsyat “laa yahzunuhumul-faza’ul-akbar” tidak sedih mereka dengan ketakutan yang dahsyat, mereka tidak diberi takut oleh Allah, sebagian para mufassir menjelaskan bahwa bukan berarti mereka tidak melewati api neraka, karena mereka melewati jembatan shirot, mereka melewati api neraka tentunya, bagaimana dengan firman Allah: “laa yasma’uuna hasiisahaa” mereka tidak mendengar desisnya”, Allah SWT memenuhi mereka dengan cahaya keindahan Allah dan mereka ditutupi dan dijaga oleh Allah, walaupun mereka melewati jembatan shirot, tidak terasa, tidak terdengar, tidak terlihat, karena cahaya keindahan Allah SWT menggulung mereka, mereka tidak mendengar selain keindahan Allah, keindahan Allah,
hadirin hadirot kita memahami hal yang akan terjadi padaku dan kalian kelak, yaitu mereka yang menyaksikan keindahan Allah SWT, dengan semulia-mulia keberuntungan.

Kita bermunajat semoga Allah menghalalkan bagi kita keindahan-Nya didunia dan diakhirat, Robbi halalkan atas kami keindahan-Mu didunia dan di akhirat, sehingga kami merasakan lezatnya menyebut nama-Mu siang dan malam, Ya Rahman Ya Rahim, jangan Kau haramkan keindahan dzat-Mu dalam jiwa kami, dalam sujud kami, dalam munajat kami, hiasi siang dan malam kami dengan keindahan-Mu, dengan kelembutan-Mu, dengan kasih sayang-Mu, dengan pengabulan doa, dengan kemudahan, dengan terangkatnya dan terhapusnya dosa-dosa, dengan tersingkirnya musibah, dengan tersingkirnya kesulitan, fa Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim kami mengadukan dosa-dosa kami Ya Robb kepada gerbang pengampunan yang paling luas yaitu Engkau wahai Allah, pada yang Maha Memaafkan yaitu Engkau wahai Allah, kami mengadukan kelemahan kami dalam ta’at menjalankan perintah-Mu, dan kami mengadukan diri kami yang malas melakukan apa yang Engkau perintahkan, dan selalu ingin berbuat apa yang Engkau telah melarangnya Robbi kami mengadukan keadaan kami kepada yang Maha berhak bagi hamba untuk mengadu, wahai Allah, tumpukkan kesulitan melewati hari-hari kami gantikan dengan kemudahan, tumpukkan doa dan munajat yang hingga malam ini masih belum Engkau kabulkan, Ya Rahman kepada siapa kami mengadu kalau bukan pada nama-Mu Robbi, Ya dzaljalali wal-Ikrom “innalillahi maa fissamaawaati wamaa fil-ardh” Engkaulah yang memiliki langit dan bumi beserta isinya, dan termasuk diri kami, maka perbaiki keadaan kami zhohiron wa bathina, hapuskan dosa-dosa kami dan dosa ayah bunda kami Robbi, ayah bunda kami yang masih hidup curahkan keberkahan dalam hidupnya, ayah bunda kami yang telah wafat, muliakan arwah mereka bersama muqorrobin, bersama para mushoddiqiin, dan wafatkan kami dalam husnul khotimah, pastikan tidak satupun dari semua yang hadir terkecuali telah bebas dari segala dosa.

Ya Rahman Ya Rahim Ya dzaljalali wal-Ikrom Ya dzathouli wal-in’am Ya Rahman Ya Rahim, kami berdoa untuk teman-teman dan saudara kami muslimin muslimat yang masih terjebak dalam perzinahan, yang masih terjebak dalam narkotika, yang masih terjebak dalam perjudian, yang masih terjebak dalam segala kemunkaran, hujani jiwa mereka dengan keinginan taubat, hujani jiwa mereka dengan hidayah, undang mereka pada lezatnya munajat, Ya Rahman Ya Rahim kami teringat sahabat dan teman kami yang telah wafat didalam kehinaan, yang masih menjerit hingga malam ini didalam kesempitan di alam kubur, bebaskan mereka dari kesulitannya Robbi, bebaskan mereka dari rintahannya Ya Allah, berikanlah malam ini kebebasan bagi mereka selama-lamanya Ya dzaljalali wal-Ikrom Ya dzatthouli wal-in’am Ya Rahman Ya Rahim fa quuluu Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim Ya dzaljalali wal-Ikrom.

Posted in Ahlussunnah, Ajaran Wahabi, Bid'ah, Hadits Dho'if, Hukum Islam, Hukum Mazhab, Majelis Dzikir, Majelis Rasulullah, Masjid Nabawi, Maulid Nabi, Nabi Muhammad, Para Habaib, Sejarah Islam, Shalawat Nabi, Sunnah, Tahlilan, Tasawuf, Tawasul, Wali Allah, Ziarah Kubur | Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Raja Dari Semua Istighfar

Posted by Teknik Jumper on November 5, 2008

ImageAssalamu’alaikum warohmatullallhi wabarokaatuh,
Hamdan li Robbin Khosshona bi Muhammadin
Wa anqodznaa bi dzulmatiljahli waddayaajiri
Alhamdulillahilladzii hadaanaa bi ‘abdihilmukhtaari man da’aanaa ilaihi bil idzni waqod naadaanaa labbaika yaa man dallanaa wa hadaanaa
Shollallahu wa sallama wa baarok’alaih
Alhamdulillahilladzi jam’anaa fi hadzalmahdhor, Limpahan puji kehadirat Allah, dengan terpanggilnya jiwa untuk menyebut nama Allah, limpahan puji kehadirat Allah, Maha Raja langit dan bumi, yang selalu mengizinkan bibir pendosa untuk terus menyebut nama Allah, mengizinkan jiwa yang penuh kegelapan dan kesalahan untuk memanggil namanya, untuk meminta pengampunan, dan pengampunannya adalah gerbang terluas di alam semesta, Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, melebihi semua pemilik sifat kasih sayang, Allah, Allah SWT Maha mendahului hajat dan kebutuhan hambanya untuk melewati kehidupan, sebelum hambanya meminta

Kedermawanan Ilaahi yang tertutup dengan tabir-tabir yang tiada akan terbuka terkecuali bagi mereka yang mempelajarinya, bahwa didalam kehidupannya, didalam menopang hari-harinya, ia membutuhkan bantuan dari Allah siang dan malam setiap waktu dan kejap, bantuan terus mengalir dari gerbang kedemawanan-Nya SWT, dan hamba-hambanya terus melupakannya dan berpaling dari kelembutan-Nya, demikian kasih sayang Ilaahi yang melebihi segenap kasih sayang, yang keindahan-Nya adalah awal dari segala keindahan, yang dengan mengingat dan merindukan-Nya terangkatlah derajat dan berjatuhanlah dosa-dosa, cahaya bulan purnama yang demikian indah, yang itu adalah mengambil dari rahasia cahaya keindahan Allah ”yaktabisul-badru min sanaahu” dan bulan purnama itu mengambil dari cahaya keindahan Robbul’alamin, demikian indahnya Allah SWT, menyinari jiwa hamba-hambanya yang merindukan-Nya.

Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah.
Sungguh kedatangan sang Nabi pembawa rahmat adalah menuntun kita kepada kesejahteraan dunia dan akhirat, bimbingan yang paling sempurna, yang dengan itu membuka rahasia kedermawanan Ilaahi, membuka rahasia keluasan kebahagiaan yang milik Allah, yang Maha mampu merubah kejadian dan keadaan, yang Maha berkuasa dalam setiap tempat dan keadaan, Allah.

Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah.
Ingin saya sampaikan sedikit, ketika salah seorang saudara kita, mengadakan satu tes percobaan, ia menaruhkan dua buah gelas yang berisi nasi yang sudah matang, yang satu ditutup, ditaruh ditempat terpisah, diucapkan padanya ucapan yang baik-baik, kasih sayang, terima kasih dan lain sebagainya dari ucapan baik, yang satu lagi diisi nasi yang sama, ditutup dan ditaruhkan ditempat yang terpisah dan diucapkan padanya caci maki, ucapan-ucapan buruk, umpatan, cacian, maka dilihat setelah satu minggu, terlihatlah gelas yang terisi nasi yang diucapkan padanya kalimat-kalimat indah, tetap pada posisinya tidak berubah, tapi yang dicaci maki dan diumpat, berubah menjadi hitam, sebagian membusuk dan basi, sangat busuk baunya, demikian percobaan yang bisa kalian coba dirumah kalian masing-masing, disinilah kita memahami bahwa ucapan-ucapan, emosi dan reaksi jiwa keturunan Adam mempengaruhi alam semesta, hal ini telah ditemukan sebelumnya oleh Prof. Masaru Emoto pada air, telah saya jelaskan beberapa hari yang lalu, dan sekarang percobaan itu bisa diuji oleh siapapun, betapa benda-benda mati itu berubah menjadi lebih buruk dengan ucapan umpatan dan caci maki dan dosa tentunya, sedangkan ucapan-ucapan baik malah mengawetkan nasi tersebut hingga bertahan seminggu belum berubah warnanya.

Demikian hadirin hadirot yang dimuliakan Allah.
Ketika salah seorang isteri sang Nabi, terlepas ucapannya menghina seorang wanita, dengan mengatakan dia itu pendek, maka berkata Rasul, ucapanmu itu, umpatanmu yang kau tidak sadari itu, jika ditaruhkan dilautan, akan berubah lautan itu warnanya, berubah menjadi air yang busuk dan menjijikkan, satu ucapan umpatan keturunan Adam, kita berkata; barang kali hal itu hanyalah tahdzir, hanya peringatan, ternyata benar, umpatan dan cacian merubah benda-benda, menjadi lebih buruk dan lebih busuk dan menjijikkan, menunjukkan perbuatan keturunan Adam sebagai khalifah berpengaruh di alam semesta.

Demikian hadirin hadirot, bagaimana dengan jiwa kita, makanan kita dan rumah kita dan harta kita dan rumah tangga keluarga kita, yang dipenuhi dengan dosa-dosa ini, bagaimana rumah kita yang sepi dari kalimatullah, sepi dari al-Quranul karim, rumah-rumah kita terus senang diperdengarkan ucapan-ucapan orang-orang yang tidak pernah mengenal Allah, ketika ia mencari ketenangan, ia cari wajah orang-orang yang tidak pernah sujud kepada Allah, ia melihatnya dan jiwanya tenang, jika ia dalam keadaan sumpek dan gundah, dicari suara orang-orang yang tidak pernah menyembah Allah, dengan itu ia mencari ketenangan, bukankah ini merupakan satu hal yang membuat kita semakin terpuruk, dalam kesialan, kesulitan, kegundahan, permasalahan.

Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah.
Telah jelas benda-benda ini berubah dengan dosa-dosa keturunan Adam, dan juga dengan pahala amal ibadah mereka, maka kita mesti memahami untuk semakin merujuk diri kita, memperindah diri kita dengan tuntunan manusia yang membawa seindah-indah tuntunan, sayyidina Muhammad SAW wa barak’alaih, sebagaimana munajat-munajat yang keluar dari sanubari beliau, muncul dari bibir beliau, menuntun keturunan Adam kepada kedekatan kehadirat Ilaahi, menuntun mereka kepada puncak kemuliaan, sampailah kita di malam hari ini, kepada sayyidul istighfar, raja dari semua istighfar, dimana Rasul SAW mengajarkan, ucapan-ucapan yang dipenuhi asmara dan cinta kepada Allah, ucapan-ucapan indah yang membuka rahasia kebahagiaan yang kekal, Allahumma anta Robbii, Robbii, apa artinya Robb? Mempunyai tiga makna artinya Robb, malik yaitu raja, maalik dan yang memiliki, yang ketiga Robb itu adalah yang mengasuh, yang mengasuh semua hambanya, yang mengasuh mereka dari sejak mereka di alam rahim hingga mereka wafat.

Allah yang mengasuhnya dengan alam semesta, maka ketika kita memanggil Allahumma anta Robbii, wahai Allah Engkaulah yang memiliki diriku, memang tidak ada manusia yang memiliki dirinya sendiri, karena dia tidak pernah membeli dirinya sendiri dari siapapun, tidak pernah pula bisa menciptakan dirinya sendiri, dirinya sendiripun milik Allah, orang yang memahami kelembutan dan keindahan Allah semakin gembira jika mengingat ini, ternyata diriku ini milik-Mu wahai yang Maha Pengampun, ternyata diriku ini adalah milik-Mu wahai yang Maha Dermawan, wahai yang Maha berkasih sayang, berarti aku ini dekat dan Kau telah mengenalkan diri-Mu al-qorib, yang Maha Dekat.

Allahumma anta Robbii, wahai yang memilikiku, wahai Allah Engkaulah yang memiliki aku, Engkaulah yang memelihara aku, “laa ilaaha illa anta” tiada Tuhan selain-Mu, kholaktanii; Engkaulah yang menciptakan aku, kita renungkan ini kalimat-kalimat, akan mengalir air mata kerinduan terhadap indahnya dan kasih sayang Allah kepadamu, betapa indahnya hubungan kita dengan Allah, anta Robbii kholaktanii wa ana ‘abduka, aku ini hamba-Mu, indah sekali ini percakapan sang Nabi kepada Allah, yang diajarkan kepada kita, wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu, dan aku ini dalam janji kepadamu dan dalam perjanjian yang harus ku selesaikan dan harus ku tunaikan “mastatho’tu” tapi segenap kemampuanku, barangkali ada kelemahanku dalam menjalankan janji setiaku, dalam kalimat “laa illaa ha illallah” maafkan aku, lalu apa wahai sang Nabi, wahai sang pemilik jiwa terindah, wahai yang seindah-indah mengajarkan doa, “a’uudzubika min syarri maa shona’tu” aku berlindung kepada-Mu dari keburukan apa yang kuperbuat.

Perbuatan buruk itu hadirin, banyak efeknya, Rasul berlindung kepada Allah dari pada efek setiap perbuatan buruk, pertama dosa, menjauhkan kita dari Allah, menjauhkan kita dari keluasan rizki, menjauhkan kita dari surga, menjauhkan kita dari pengabulan doa, menyempitkan jiwa kita, karena semakin banyak dosa, semakin gelap jiwa ini, “a’uudzubika min syarri maa shona’tu” aku berlindung dari buruknya apa yang kuperbuat, sudah ia jadikan Allah membentengi semua keburukan apa yang ia perbuat, dengan itu ia membuka pengampunan Ilaahi, dengan itu dia meminta terbukanya dirinya dari segala yang menutupnya sebab dosa-dosanya, ketika semua perbuatan buruknya itu ia rindukan kepada Allah, maka tidak akan membawa mudharat baginya dunia dan akhirat, “abuu,u laka bi ni’matika ‘alayya” dan aku ini tahu wahai Allah betapa nikmat yang Kau limpahkan kepadaku, “wa abuu-ulaka bi dzanbii” dan aku tahu bagaimana dosa-dosaku, lalu apa wahai Robb, lalu apa wahai sang Nabi yang mengajarkan kami doa-doa yang indah, “faghfirlii” baru minta ampunan dosa, dari tadi adalah ucapan-ucapan yang menghubungkan cintanya dengan Allah, menunjukkan betapa besar harapan kita kepada Allah, baru setelah itu kembali kepada hajat yang dibutuhkan “faghfirlii” satu kalimat singkat yang bila Allah berikan, selesai sudah permasalahan kita dunia dan akhirat.

Hadirin, jika masih ada satu dosa kita yang belum Allah ampuni, belum akan kita menginjak surga, lalu dimana tempat kita? kalau masih ada satu dosa yang terkecil, yang masih belum Allah maafkan, tidak akan sampai kita kedalam surga-Nya Allah SWT, lalu dengan apa? dengan pengampunan, bagaimana caranya? doa yang diajarkan sang Nabi, salah satu pintu menuju pengampunan Ilaahi, “fainnahuu laa yaghfirudz-dzunuuba illa anta” sungguh tidak ada yang bisa memberikan pengampunan terkecuali Engkau wahai Allah, wahai penciptaku, wahai yang memiliki diriku, wahai yang aku adalah hamba-Mu, wahai yang menciptakan kerajaan langit dan bumi, wahai yang mencipta hewan dan tumbuhan, wahai yang mencipta bumi dan langit, wahai yang mencipta surga dengan segala keindahan, wahai yang mengundang keturunan Adam untuk sampai kepada istana-istana yang kekal dan abadi, Allah.

Demikian indahnya dan mesranya hubungan sang Nabi kepada Allah, dan ini diajarkan sang Nabi kepada kita, seraya bersabda: “barang siapa yang mengucapkan ucapan ini “muuqinan bihaa” dengan ucapan yang giat, dalami maknanya, bukan hanya sekedar asal ucap, tapi ia dalami maknanya, ia membacanya diwaktu siang hari disuatu hari, maka Allah “ketika ia wafat, sebelum terbenam matahari ia wafat”, maka ia akan masuk ke dalam surga-Nya Allah” jika ia membacanya dimalam hari, lalu ia wafat sebelum terbit matahari, Allah menjadikannya ahli surga juga, kenapa? kita lihat betapa cepatnya pengampunan Allah dan rahmatnya Allah datang dengan istghfar ini, bukan tunggu 10 tahun, 20 tahun, 30 tahun, untuk masuk kedalam surga jika ia wafat, jika ia wafat dihari itu, ia sudah masuk kedalam surganya Allah SWT, lalu mana amalnya? lalu mana ibadahnya?

Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah, ucapan-ucapan seperti ini, yang didalami makna kedalam hati kita, akan membangkitkan seluruh keinginan kita untuk melakukan hal-hal yang menjadi perintah Allah dan mempermudahnya, membuat jiwa kita selalu ingin berbuat yang taat, membuat jiwa kita selalu enggan berbuat dosa, hingga jika ia wafat, Allah sudah pastikan ia ahli surga, ini ucapan singkat, berapa detik tadi kalau kita baca, tadikan kita bicara bagaimana nasi saja berubah menjadi buruk kalau dicaci maki, benda-benda, barangkali rumah kita, rumah tangga kita, harta kita, pekerjaan kita ini, barangkali penuh cacian, penuh sangka buruk, penuh perbuatan yang buruk, sangka buruk pada makhluk, sangka buruk pada Allah, dusta dan lain sebagainya, menjadi buruklah kehidupan kita, tapi dengan kalimat-kalimat pendek ini, kesemuanya rata dengan rahmat Ilaahi Jalla wa ‘ala, tuntunan Nabiyyuna Muhammad SAW wa barak ‘alaih.

Berubah keadaan yang demikian buruk menjadi keadaan yang paling indah, adakah lagi keadaan yang lebih indah selain wafat dijamin surga oleh Nabi Muhammad SAW, inilah, merubah keadaan yang demikian buruk menjadi hari yang indah sepanjang hari, dibaca dimalam hari menjadi malam yang indah sepanjang malam, demikianlah tugas rahmatan lil’alamiin sayyidina Muhammad SAW wa barak’alaih, seraya bersabda diriwayatkan didalam Shohih Bukhori: “wallah inni la astaghfirullah wa atuubu ilaih fil-yaumi aktsar min sab’iina marroh” demi Allah, aku beristighfar kepada Allah SWT dalam satu hari dan bertaubat kepada Allah lebih dari 70 kali setiap harinya” ini orang yang ma’sum, yang tidak mempunyai dosa, yang tidak pernah berbuat kehinaan dan kesalahan, hadirin hadirot kita bertanya, bagaimana terhadap diri kita? kenapa sang Nabi beristighfar dan bertaubat, karena beliau tahu betapa indahnya anugerah Allah pada orang yang beristighfar dan bertaubat, oleh sebab itu beliau ingin dalam kelompok mereka, padahal beliau sudah orang yang paling mulia, tapi beliau tahu betapa agungnya kemuliaan orang-orang yang bertaubat dan beristighfar, jangan tertipu dengan bisikan syaithon yang berkata; hati-hati taubat nanti kau berdosa lagi, kau berarti khianat pada taubatmu, hadirin itu bisikan syaithon, karena ketika kita bertaubat, kita meminta kekuatan kepada Allah, Robbi aku telah banyak berbuat dosa, mungkin besok berbuat lagi, tapi aku tidak mau menunda taubatku dan aku ingin sekarang aku bertaubat, beri aku kekuatan jika seandainya aku terjebak lagi dalam dosa, beri aku kekuatan untuk bertaubat lagi, Allah tidak bosan dengan perbuatan taubat, Allah tidak akan pernah bosan, kitalah yang akan bosan, orang berkata; percuma taubat lagi, nanti ma’siat, taubat lagi, tidak percuma demi Allah.

Allah SWT berfirman didalam hadits qudsi riwayat Shohih Muslim: ketika Allah melihat seorang hambanya berbuat dosa, lalu ia memohon ampun dan taubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya, bukan taubat main-main, maka Allah SWT berkata; hambaku telah berbuat dosa dan ia tahu Tuhannya Maha Pengampun Ku ampuni dosanya, ia berbuat dosa lagi setelah taubatnya, lalu ia taubat lagi, Allah jawab lagi; hambaku ia tahu memiliki Tuhan yang Maha Pengampun, Ku ampuni dosa-dosanya, karena apa? karena jiwa yang betul-betul bertaubat kepada Allah SWT, berkali-kali pun, “innallaha la yamil innakum antum tamilluu” au kama qol, riwayat Shohih Bukhori; “sungguh Allah itu tidak pernah bosan tapi kalianlah yang akhirnya menemui kebosanan”

Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah.
Nabi kita ini seindah-indahnya manusia, kenali ajaran beliau, kenali ucapan-ucapan beliau, akan merubah keadaan kita semakin indah, semakin sejahtera, semakin bahagia.

Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah. Diriwayatkan didalam Shohih Bukhori Rasul SAW berdoa, salah seorang shahabat mendengar doa sang Nabi dimalam hari, ketika beliau selesai melakukan sholat qobliyah shubuh, beliau berdoa sebelum melakukan sholat shubuh, apa doanya: “Allahummaj-‘al fii qolbii nuuroo, wa fii bashorii nuuroo, wa fii sam’ii nuuroo, wa an yamiinii nuuroo, wa an yasaarii nuuroo, wa amamii nuuroo, wa kholfii nuuroo, wa fauqii nuuroo, wa tahtii nuuroo” demikian riwayat Shohih Bukhori, dan lafadznya berbeda-beda dalam riwayat ini.

Ada beberapa riwayat, dan Imam Bukhori menukil lagi salah satu dari riwayat lain, dalam hadits yang sama, Rasul menyebut: wa fii damii nuuroo, wa fii basyarii nuuroo, wa fii ‘ashobii nuuro, wa fii sya’rii nuuroo”, yaitu doanya apa, Allahummaj-‘al fii qolbii nuuroo” wahai Allah jadikanlah didalam hatiku cahaya, Allahummaj-‘al fii qolbii nuuroo” jadikanlah didalam jiwaku cahaya, cahaya apa? cahaya Allah yang menerbitkan seluruh kebahagiaan, yang menerangi seluruh keadaan, yang meruntuhkan segala dosa, yang membuka seluruh rahmat dunia dan akhirat, cahaya Allah, beliau meminta agar Allah menerangi jiwa beliau padahal jiwa beliaulah yang paling terang benderang dengan cahaya Allah, demikian beliau berdoa; Allahummaj-‘al fii qolbii nuuroo, cukupkah? belum cukup, “wa fii bashorii nuuroo” dan dipenglihatanku cahaya, ”wa fii sam’ii nuuroo” dipendengaranku cahaya, , “wa an yamiinii nuuroo, wa an yasaarii nuuroo” dan jadikan cahaya di kananku, cahaya di kiriku “wa amamii nuuroo, wa kholfii nuuroo, didepanku cahaya, dibelakangku cahaya, “wa fauqii nuuroo, wa tahtii nuuroo” diatasku cahaya, dibawahku cahaya” dan diriwayatkan didalam riwayat lain beliau menyebut, wa fii damii nuuroo, wa fii basyarii nuuroo, wa fii ‘ashobii nuuro, wa fii sya’rii nuuroo, jadikan cahaya di darahku, jadikan cahaya di tulang-tulangku, jadikan cahaya diurat-urat tubuhku, jadikan cahaya dirambutku, jadikan cahaya pada darah dan kulit dan dagingku, waj’alnii nuuroo” jadikan untukku cahaya, demikian indahnya lantunan doa dari jiwa yang paling bercahaya dan terang benderang, sayyidina Muhammad SAW, demikian doa beliau sebelum terbitnya matahari, matahari yang terbit membawa cahaya dimuka bumi, beliau telah meminta cahaya menerangi jiwanya, menerangi panca inderanya, menerangi seluruh tubuhnya, warisi kemuliaan sunnah sayyidina Muhammad.

Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah. Rasul SAW mu’jizatnya tetap tidak akan pernah berhenti, sunnah-sunnah beliau adalah rahasia mu’jizat beliau, hidupkan rahasia mu’jizat itu di dalam hari-hari kita, karena sunnah beliau juga adalah mu’jizat sang Nabi, sedemikian banyak sunnah-sunnah beliau membawa keberkahan dunia dan akhirat, itupun mu’jizat beliau, oleh sebab itu, kita bukan orang yang bisa mempunyai mu’jizat, tetapi warisi mu’jizat sang Nabi pada sunnah-sunnah beliau, kita akan lihat bagaimana perbedaannya orang yang meminta kepada Allah dengan sunnah sang Nabi, meminta cahaya dihatinya, meminta cahaya dipanca inderanya, meminta cahaya diseluruh sel tubuhnya, meminta cahaya pada darahnya, pada seluruh apa-apa yang ia miliki pada tubuhnya, kiri kanan, atas bawah, dan diberikan padanya cahaya, inilah doa yang diajarkan Nabimu.

Hadirin hadirot, betapa ruginya kita yang tidak mau mewarisi cahaya yang dibawakan oleh sang Nabi, doa ini digelari oleh para ulama, doa cahaya, inilah doa dari yang paling indah, dari sang Nabi meminta cahaya kepada Allah SWT.
Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah.Rasul SAW adalah sosok manusia yang paling ramah dan paling indah, semua tuntunan beliau membawa keberkahan, beliau, perlu saya sampaikan juga bahwa hal yang sunnah bagi setiap orang itu merubah namanya, jika namanya mempunyai makna yang kurang baik, jika namanya maknanya sudah baik tidak perlu dirubah, tapi kalau namanya bermakna kurang baik, sunnah dirubah.

Diriwayatkan didalam Shohih Bukhori, Rasul SAW, menemui salah seorang yang berkata; namanya Huzn artinya sedih, namanya sedih, Rasul SAW berkata ; “bal anta sahl” engkau ini jangan Huzn namamu, tapi Sahl, sahl itu indah dan mudah, ganti namamu dengan indah dan mudah, “sahl atau sahlun”, orang itu belum mengerti makna mu’jizat sunnah sang Nabi, seraya berkata; aku tidak mau mengganti nama yang sudah diberikan oleh ayah ibuku, salahnya, ketaatannya kepada ayah ibu itu benar, tapi kalau sudah perintah sang Nabi, Nabi mengatakan padanya ganti namamu dengan “Sahlun” mudah dan luas, ia tetap berkata; aku tidak mau menganti nama yang telah diberikan oleh ayah ibuku, maka berkata Anas bin Malik; sepanjang usia orang itu dirundung kesedihan hingga ia wafat, kenapa? karena ia mengingkari hal-hal yang telah diperintahkan oleh Nabi Muhammad SAW, sepanjang usianya hingga ia wafat ia dirundung kesedihan.

Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah.
Rasul SAW bersabda: “sammu bi ismii wa laa ta,tanuu bi qudyatii” kalau mau beri nama, beri nama seperti namaku kata Rasulullah, (Muhammad) wa laa ta,tanuu bi qudyatii” jangan pakai gelar yang diberikan kepadaku yaitu (Rasulullah SAW), didalam riwayat lain (Abu Qosim), tapi yang disunnahkan menamai dengan nama beliau SAW, semampu kita, jika punya keturunan atau teman yang ingin mempunyai keturunan, ingat sunnah sang Nabi, warisi keberkahan nama Muhammad SAW.

Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah.
Kita bermunajat kepada Allah SWT, semoga Allah SWT membangkitkan rahasia kemuliaan dalam diri kita, Ya Rahman Ya Rahim Ya Dzal Jalali wal-Ikrom, kami bermunajat kepada-Mu demi kebangkitan muslimin muslimat, untuk lebih banyak lagi yang mencintai sunnah Nabi-Mu Muhammad SAW, Ya Robb kami mengadukan kepadanya gelapnya hari-hari kami dengan kesulitan, dengan dosa, dengan kegundahan, dengan kesedihan, gantikan dengan cahaya kebahagiaan.

Ya Rahman malam hari ini kami mendengar betapa indahnya doa istighfar, malam ini kami mendengar betapa indahnya doa cahaya, maka Robbi Robbi terangi jiwa kami dengan cahaya, terangi penglihatan kami dengan cahaya, terangi pendengaran kami dengan cahaya, terangi depan kami dengan cahaya, terangi belakang kami dengan cahaya, terangi seluruh penjuru kami dengan cahaya, terangi darah kami dengan cahaya, terangi tulang tubuh kami dengan cahaya, terangi pemikiran kami dengan cahaya, terangilah hari-hari kami dengan cahaya, Ya Rahman cahaya keindahan-Mu, wahai yang menamakan diri-Mu An-Nuur, Maha Bercahaya, terangilah hari-hari kami, terangilah sakaratul maut kami, terangi kubur kami kelak, dan bangkitkan kami di yaumil qiyamah bersama yang terang benderang, bersama orang-orang yang bersama Rasulullah, sebagaimana firman-Mu: “yauma laa yukhzillaahunnabiy walladziina amanuu ma’ahuu nuuruhum yas’a baina aidiihim wa bi aimaanihim” hari dimana Allah tidak mengecewakan sang Nabi, hari kiamat Allah tidak akan membuat beliau sedih, tidak akan pula mengecewakan para pengikutnya “walladziina amanuu ma’ahuu nuuruhum yas’a baina aidiihim” cahaya mereka menerangi seluruh tubuh mereka, menerangi depan belakang mereka, demikian keadaan orang-orang yang bersama Rasulullah kelak.

Robbi pastikan nama kami tertulis bersama mereka, pastikan wajah kami bercahaya terang benderang di yaumil qiyamah, sebagaimana firman-Mu: “wujuuhuyyaumaidzin naadhiroh, ilaa robbiha naazhiroh” wajah-wajah yang terang benderang bercahaya kata Allah di yaumil qiyamah, “ilaa robbiha naazhiroh” memandang kepada Tuhannya yang Maha bercahaya, Robbi pastikan wajah kami bercahaya dan memandang indahnya cahaya-Mu ya Allah, Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim Ya Dzal Jalali wal-Ikrom Ya Dzathouli wal-in’am, hadirin hadirot, disaat Allah mengumpulkan mu’minin mu’minat, Allah membukakan dan menyikap cahaya keindahan Dzat-Nya, maka mereka semua bersujud kehadirat Allah, Allah SWT katakan kepada mereka: idfau’ ru,uusakum ‘ibaadii undzuru ilaiha” angkat kepala kalian dari sujud kalian wahai hamba-hamba-Ku, pandanglah keindahan Dzat-Ku, disaat itu semoga nama kita akan bersama mereka yang memandang indahnya Allah, amin Allahumma amin.

Hadirin hadirot, disaat jiwa manusia yang terakhir keluar dari api neraka, tidak ada lagi orang lain yang keluar dari api neraka terkecuali dia yang terakhir, entah ratusan ribu tahun ia melewati gelapnya api neraka, merintih , mati, dan dihidupkan kembali dengan kulit yang baru, terbakar dan hangus lagi dan lagi dan lagi, entah ratusan ribu tahun ia dikeluarkan, dan Allah memperlihatkan keindahan Dzat-Nya kepada hamba ini, lalu ia ditanya; pernahkah engkau merasakan siksa api neraka? berapa lama wahai hambaku? hamba itu berkata; aku tidak pernah merasakan siksa neraka Robb, hilang seluruh kepedihannya, terbakar dan hangus selama ribuan tahun, ketika memandang indahnya dzat Robbul’alamin, ingat detik-detik perjumpaanmu dengan Allah disaat itu.

Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah.Warisi kemuliaan sunnah Nabi kita Muhammad, kita doakan pula tamu-tamu kita, para Habaib kita yang akan kembali ke wilayah Malang Jawa Timur, semoga Allah melimpahkan keberkahan kepada mereka, semoga kehidupan mereka dipenuhi keberkahan dan rahmat, kehadiran mereka disini membawa keberkahan bagi kita, juga untuk para tamu-tamu kita dari Singapura, bapak-bapak yang kita muliakan, saudara-saudara yang kita muliakan dan personil dari Singapura, limpahkan Robbi keberkahan atas mereka, mereka telah mengunjungi para wali-wali Allah yang telah wafat dan sekarang mereka kumpul bersama kami, pastikan kami semua dan mereka akan berkumpul kelak bersama Nabi Muhammad SAW, limpahkan keberkahan bagi yang kita muliakan da’i ilallah, seorang penyeru ke jalan Allah, pejuang dalam dakwah Nabi, KH. Ust. Hasan Saiful matta annallahu bihi, agar Allah melimpahkan keberkahan pada beliau, menyingkirkan seluruh fitnah yang datang pada beliau, dan dijadikan beliau ini adalah salah satu dari pada panji Nabi Muhammad SAW, terima kasih tamu-tamu yang hadir dari Malang, dari Singapura, dan semua hadirin hadirot yang hadir, juga para Habaib kita, wal-afu minkum wassalamu’alaikum wr wb

Posted in Ahlussunnah, Ajaran Wahabi, Bid'ah, Hadits Dho'if, Hukum Islam, Hukum Mazhab, Majelis Dzikir, Majelis Rasulullah, Masjid Nabawi, Maulid Nabi, Nabi Muhammad, Para Habaib, Sejarah Islam, Shalawat Nabi, Sunnah, Tahlilan, Tasawuf, Tawasul, Wali Allah, Ziarah Kubur | Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Tujuh Pesan Rasulullah SAW Untuk Ummatnya

Posted by Teknik Jumper on November 5, 2008

Image Assalamu’alaikum warohmatullallhi wabarokaatuh,
Hamdan li Robbin Khosshona bi Muhammadin
Wa anqodznaa bi dzulmatiljahli waddayaajiri
Alhamdulillahilladzii hadaanaa bi ‘abdihilmukhtaari man da’aanaa ilaihi bil idzni waqod naadaanaa labbaika yaa man dallanaa wa hadaanaa
Shollallahu wa sallama wa baarok’alaih

Limpahan puji kehadhirat Allah SWT, yang memuliakan kita dengan undangan agung, berkumpul dalam bangunan yang paling agung, dari segenap yang dibangun dibumi Allah, yaitu bait min buyuutillah (rumah dari rumahnya Allah SWT).

Hadirin-hadirot yang dimuliakan Allah, Maha suci Allah SWT, yang memberikan kesejukkan kepada jiwa hamba-hambanya yang beriman, Maha suci Allah SWT, yang selalu mengundang hamba-hambanya kepada taubah, dan ketahuilah, dengan seseorang bertaubah itu, terangkatlah derajatnya, dari hamba yang dimurkai menjadi hamba yang dicintai, dalam sekejap berbalik keadaannya, dari maghdub ila mahbub (dari hamba yang jauh dari rahmatnya Allah), menjadi hamba yang sangat dicintai Allah.
Taubah tidak harus dengan dosa, karena idola kita panutan kita sayyidina Muhammad SAW, diriwayatkan didalam shohihain Bukhori dan Muslim, bertaubat setiap hari lebih dari 100 kali, padahal beliau tidak pernah berbuat dosa, karena apa? karena beliau tahu cintanya Allah kepada orang yang bertaubat, cintanya Allah kepada orang yang bertaubat inilah, yang dikehendaki oleh sang Nabi, beliau makhluk yang paling dicintai Allah, tapi ingin selalu dicintai Allah dan selalu mengejar rahasia kemuliaan taubat.

Hadirin hadirot, ketika seorang hamba sering bertaubat kepada Allah, maka ia diangkat semakin dekat kepada Allah, semakin dekat ia kepada Allah, semakin jauh ia dari dosa-dosa kepada Allah, hadirin hadirot, ketika muncul kerinduan kepada Allah SWT, maka cahaya iman akan menerangi jiwanya dan teranglah jiwanya dengan nama-nama Allah, teranglah sanubarinya dengan cahaya nama-nama Allah SWT, ketika jiwa terang benderang dengan cahaya nama Allah SWT, maka mengalirlah rahasia keagungan nama-Nya, kepada jiwanya, kepada dirinya, ia mengenal Allah sehingga terbit matahari keindahan Allah dalam jiwanya, akan muncul rahasia kemuliaan nama-nama Allah, dalam sifatnya, dalam ucapannya, dalam gerak-geriknya, dalam hari-harinya, muncul sifat kasih sayang pada seluruh hambanya Allah, tiba-tiba sirna kebenciannya kepada musuhnya, berganti dengan doa untuk mereka, ini hadirin, bukan hal yang kecil, tapi memuncul dari cahaya Allah yang ada didalam jiwa, ketika ia berubah menjadi lembut dan berkasih sayang kepada sesama, ketika ia menjadi pemaaf, ketika ia menjadi dermawan, ketika ia jadi idaman Allah, ketika terus dan terus sifat-sifat mulia dari cahaya kemuliaan Allah muncul dalam hari-harinya, ini semua datang dari cahaya khusu’, berawal dari taubat, berawal dari shobba (Rindu kepada Allah), berawal dari sholat, yang setiap ibadah sholat itu merupakan cahaya kerinduan kepada Allah SWT, bukankah sholat itu adalah pelampiasan rindu kepada Allah?
Kita tidak bisa jumpa kepada yang kita rindukan, tapi kita telah berizin menghadapnya, walau belum dengan panca indra, dengan jiwa. Ada orang-orang yang rindu kepada Allah, mereka melampiaskannya dengan sholat, demikian Nabiyyuna Muhammad SAW wa barak’alaih seraya bersabda: “ Ji’lah qurrotu’ain sholah” dijadikan hal yang paling kucintai adalah sholat”, hal yang paling kucintai adalah shalat kata sang Nabi, karena apa? Karena beliau ini orang yang paling mencintai Allah, dan paling dicintai Allah, Allah jadikan yang paling ia cintai dalam perbuatannya adalah sholat, karena sholat adalah pelampiasan ruh Muhammad kepada Allah.

Hadirin hadirot yang dimulaikan Allah, Allah SWT yang sangat merindukan hamba-hambanya ini, sehingga mengundang hambanya 50 kali setiap hari untuk menghadapnya, demi Allah inign dekat kepada hamba-hambanya umat Nabi Muhammad SAW, maka ketika sang Nabi meminta keringanan, maka Allah mengurangkannya sampai 5 waktu, tapi sama dengan 50 waktu, padahal Allah Maha Tahu, bahwa sholat ini akan 5 waktu nantinya, tapi Allah jadikan 50 waktu terlebih dahulu, agar mereka tahu setiap raka’at ini, bagaimana cintaKu dan rinduKu kepada mereka, agar mereka yang Kuberi penglihatan, pendengaran, kehidupan, dan hari-harinya itu dimuka bumi, memahami betapa rinduKu kepada mereka, lantas Allah mengurangkannya menjadi 5 waktu, tapi sama dengan 50 waktu, merugi mereka yang mengecewakan cintanya Allah, yang memutus cintanya Allah SWT, karena dalam setiap terbit dan terbenamnya matahari, kau digulung dengan cinta Allah SWT, dalam ruku’ dan sujud, itulah ucapan-ucapan manusia yang paling agung, tidak pernah kita ucapkan kepada sesama makhluk “Subhaana Robbiyal a’la wa bihamdih” tidak pernah kita ucapkan kepada sesama makhluk “Subhaana Robbiyal ‘azhimi wa bihamdih” ini ucapan-ucapan cinta dan rindu hamba, yang diajarkan Allah untuk hamba-Nya,

Allah yang mengajarkan, ini yang mesti kalian ucapkan, wahai yang Ku cintai, untuk berjumpa dengan cintaKu Allah SWT, hadapilah cintaNya didalam sholat fardhu, itulah lambang keridhoan Ilahi Jalla wa ‘ala, yang merupakan imaduddin, yang merupakan tiangnya agama, karena dari dasar perbuatan inilah maka muncul sifat-sifat luhur dalam perbuatan kita, bila kita temukan perbuatan munkar dalam perbuatan kita, Allah memberikan obatnya, yaitu sempurnakan lagi sholat kita, muncul pertanyaan dalam jiwa banyak dari kita, aku punya maksiat ini, tapi kau tidak bisa kulawan, aku punya dosa ini, tapi aku tidak bisa menghindarinya, obati dengan sholat “Innasholaata tanha ‘anil fahsyaai wal munkar” sebagian orang berkata; untuk apa sholat kalau masih terus bermaksiat? justru terbalik, dengan banyaknya maksiat itu, obati dengan menyempurnakan sholat, obati dengan khusu’ obati dengan ucapan ruku’ dan sujud yang didalami makna, obati dengan kedalaman jiwa, saat menghadapi cinta dan rindunya Allah SWT.

Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah.
Pada perjumpaan kita yang lalu, saya menukil salah satu pesan dari Nabi Muhammad SAW, berupa tujuh pesan wasiat Nabi Muhammad SAW yang belum diselesaikan, kita lanjutkan lagi tujuh pesan itu, adalah ’iyaadatul mariidh” mengunjungi orang yang sakit, dan ini telah saya jelaskan malam selasa yang lalu, dan yang kedua adalah “Ittiba’il janazah” mengikuti jenazah dan mengantarnya” ini telah dijelaskan, dan yang ketiga “Tasymitul ‘aathis” mendoakan orang yang bersin”, orang yang sakitnya paling ringan itu ya bersin, sakit yang paling ringan, kita doakan, ini warisan dari indahnya akhlak sang Nabi, dan yang empat adalah “ibroorilqosim” , yaitu “menjalankan sumpah” , mereka yang bersumpah dengan nama Allah SWT wajib untuk melakukannya dan bila mereka tidak mampu melakukan apa yang telah ia sumpahkan maka kafaratnya berpuasa empat hari, hadirin hadirot yang dimuliakan Allah yang selanjutnya yang kelima adalah “Nasrul mazhlum” menolong orang yang dizholimi” , ini adalah salah satu sifat agung, yang sangat dicintai Allah, karena Allah Maha menolong hamba-hamba yang dizholimi, sehingga dalam beberapa majlis yang lalu, kita telah mendengar hadits Nabi Muhammad SAW riwayat Shohih Bukhori “Ittaquu da’watal madzlum fainnahu laisa bainahu wa bainallahi hijaab“ berhati-hatilah dengan doa orang yang dizholimi sungguh tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah SWT” . Allah menjawab doa orang yang dizholimi, walaupun dari orang yang diluar Islam.

Hadirin hadirot, demikian jumhur (kesepakatan/ kebanyakan pendapat) para ulama, bahwa orang yang dizholimi itu dikabul doanya oleh Allah, walaupun ia diluar Islam, karena apa? Bukan karena ia diterima imannya oleh Allah, tapi keadilan Allah SWT kepada hambaNya, sebagaimana sang Nabi pun, ketika orang-orang non muslim dizholimi oleh orang muslim, sang Nabi menghukumnya, sang Nabi membela orang tersebut, ia mengadu sebagaimana riwayat Shohih Bukhori “salah seorang Yahudi datang kepada sang Nabi, ya Rasulullah, ada dari shahabatmu menamparku, kenapa kau ditampar? Karena aku berkata; Nabi Musa lebih mulia dari engkau, tentunya menurut agamakan kepercayaannya, maka Rasul memanggil Shahabat itu kehadapan sang Nabi, sekarang wahai Yahudi, tampar balik shahabatku ini, demikian qishosh (hukum timbal balik) sang Nabi, membela orang non muslim yang dizholimi, demikian hadirin hadirot yang dimuliakan Allah.

Demikian pula Allah, ketika Nabiyyullah Musa AS menghadapi Qorun yang sangat kaya raya, dan ia itu kufur kepada Nabi Musa, dan Nabi Musa memerintahkannya bertaubat, dan Qorun pun menolak, maka Musa AS berdoa kepada Allah “wahai bumi telanlah Qorun ini sampai kelututnya” maka bumi menelannya sampai kelutut, dan Qorun tetap tidak mau bertaubat maka Nabi Musa berkata “wahai bumi pendam ia sampai keperutnya” maka bumi memendamnya sampai keperutnya, dan Qorun tetap belum bertaubat, lantas Musa AS berkata “wahai bumi pendam ia sampai kelehernya” dan setelah itu Qorun berkata “yaa Musa (wahai Musa)…”, Nabi Musa berkata “wahai bumi pendam ia dengan seluruh tumpukkan hartanya”, maka disaat itu Allah menurunkan malaikat kepada Nabi Musa dan menegur Musa “ya Musa Lau da’aanii fa ajabtu” wahai Musa kalau Qorun ini memanggil namaKu akan kujawab taubatnya.

Demikian hadirin hadirot, Maha Indahnya Allah, Maha Lembutnya Allah kepada orang-orang yang telah kufur kepada Allah SWT. Allah sangat lembut kepada hamba-hambanya, diriwayatkan dalam Shohih Bukhori ketika salah seorang Nabi, yang ia itu digigit oleh seekor semut yang berbisa, dibawah sebuah pohon, maka sang Nabi memerintahkan umatnya untuk membakar pohon tersebut, maka turunlah malaikat mengatakan “Allah menyampaikan salam kepadamu; “fahalla namlatun waahidah” kau membakar seluruh Negara semut padahal hanya satu yang berbuat kesalahan” perbuatan sang Nabi itu, (bukan sang Nabi Muhammad SAW), sebelum beliau, perbuatan Nabi itu adalah benar, karena ia mengetahui bahwa seekor semut yang berbisa ini membahayakan umatnya kelak, semua yang duduk ditempat itu akan terbahayakan.
Al-hafizh al-Imam ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya Fathul barii bi syarah Shohihul Bukhori, menjelaskan kejadian ini, bahwa yang dimaksud oleh Allah menurunkan malaikat dan mengatakan “fahalla namlatun waahidah” bukankah yang bersalah cuma seekor semut saja? Adalah tahdid, untuk mengangkat akhlak dan budi pekerti sang Nabi itu kepada yang lebih lembut dan kasih sayang kepada Allah, tapi perbuatannya tidak salah, karena perbuatan para Nabi itu ma’sum (tidak pernah melakukan kesalahan dan dosa), perbuatannya adalah demi keamanan bagi manusia, akan tetapi Allah menegurnya, menunjukkan Maha lembutnya Allah, bukankah hanya seekor semut saja kata Allah SWT dan kau membunuh sedemikian banyak semut lainnya.

Demikian hadirin hadirot yang dimuliakan Allah, “Nasrul mazhlum” menolong orang-orang yang dizholimi adalah perbuatan yang sangat dicintai oleh Allah, sehingga diriwayatkan didalam Shohih Bukhori “ketika ada orang yang ketika dihari kiamat ia kehabisan amal, maka ia berkata kepada Allah; ya Robb aku dahulu, si fulan didalam kesulitan aku membantunya, fulan dalam kesulitan aku membantunya, fulan dalam kesedihan aku menghiburnya, maka Allah SWT berkata kepada para malaikat; “Tajaawaz ‘anhu” maka tolonglah dia, kata Allah; tolonglah dia, demikian hadirin hadirot Allah memuliakan orang-orang yang menolong orang-orang yang zholim dan Rasul tidak menyisakan satu kemuliaan pun dalam kehidupan ini terkecuali telah diajarkan oleh Nabi kita Muhammad SAW,

Kunci-kunci keridhoan Ilahi SWT dan yang keenam adalah “wa roddissalam” menjawab salam”, menjawab salam ini kecil hadirin hadirot, sebenarnya remeh saja, tapi kalau kita renungkan, ini menyambung silaturrahmi pada orang-orang yang tidak kita kenal, karena salam bukan hanya untuk orang yang kita kenal, untuk semua orang yang tidak kenal, yang kenal dan tidak kenal maka ia menjawab salam, kita bertemu dengan seseorang yang tidak kita kenal, kita ucapkan salam hormat padanya, ia menjawab, selesai, satu dua tahun lagi misalnya berjumpa lagi, ia akan kenali orang yang mengucap salam padaku padahal aku tidak kenal padanya , ketika ia terjebak dalam kesulitan orang itu akan menolongnya, ini orang berakhlak baik, ia tidak kenal padaku, ia berikan salam hormat padaku, hubungan kasih sayang, antara umat Nabi Muhammad SAW satu sama lain, tanpa mengenalnya, tanpa perlu pengakraban, tapi ucapan salam itu yang menyambung mereka satu sama lain, demikian hadirin hadirot Allah menginginkan ucapan salam sejahtera yang berasal dari nama-Nya yang Maha Agung, Maha Penyejahtera, disebarkan antara muslimin muslmat satu sama lain, bahkan kapada sholihin yang telah wafat, didalam sholat kita selalu mengucapkan “assalamu’alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillahishoolihin“
Rasul bersabda diriwayatkan didalam Shohih Bukhori “barang siapa yang mengucap ‘assalamu’alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillahishoolihin’ didalam sholatnya, maka Allah SWT menyampaikan salamnya kepada seluruh hamba Allah yang sholeh dilangit dan bumi”. Demikian hadirin hadirot, satu ucapan itu, menyambung silaturrahmi kita kepada seluruh hamba Allah yang sholeh, yang masih hidup dan yang telah wafat, untuk nanti dihari kiamat, orang-orang sholeh semua mengenal umat Nabi Muhammad SAW, ia bersalam kepada kami, disampaikan salamnya oleh Allah kepada kami tanpa kita mengenalnya, muncul nanti umat akhiruzzaman (akhir zaman) sudah satu kelompok dengan orang-orang yang sholeh, sudah dikenal dan berkenalan dengan orang yang sholeh karena selalu menyampaikan salam kepada mereka, demikian hebatnya Allah menyambung kemulian umat ini satu sama lain, bertemu seluruh hamba Allah yang sholeh dilangit dan bumi.

“Wa roddissalam wa ijaabatuddaa’i; dan mendatangi undangan-undangan”, yaitu undangan walimah, undangan akad nikah, ini adalah hal yang sangat disarankan oleh sang Nabi untuk dihadiri, sebagian ulama mengatakan haram orang yang tidak mendatangi undangan walimah tanpa uzur, ini tujuh wasiat dari Nabi kita Muhammad SAW. Mengenai hadits yang kita baca ini, telah dijelaskan dengan gamblang dimalam selasa yang lalu, dibawa kertas ini pada yang telah menikah, maka ia membawanya, dan yang belum menikah simpan sampai waktunya menikah, akan muncul keturunan-keturunanmu yang terjaga dari kekuatan syaithon, akan dijaga oleh Allah SWT, sebagai mana sabda sang Nabi “Lam yadhurrahusyaithoonu abadaa”, syaithon tidak akan bisa membawa mudhorot kepadanya, banyak muslimin muslimat sekarang yang sudah dihancur leburkan oleh syaithon, dengan hartakah, kedudukan kah, dengan apapun, dengan hawa nafsu, sehingga mereka hancur lebur, akan muncul insya Allah keturunan-keturunan kita kelak yang tidak bisa diganggu oleh syaithon selama-lamanya, ya Robb ya Rahman ya Rahim.
Nabi kita Muhammad SAW adalah semulia-mulia manusia, sangat mengajarkan kesederhanaan, diriwayatkan didalam Shohih Bukhori : “ketika Rasul SAW menikah, bagaimana sang Nabi SAW menikah? Bagaimana jamuan makanan, jamuan makan saat pernikahan sang Nabi? Diriwayatkan didalam Shohih Bukhori, ketika Rasul menikah, jamuan makannya adalah dua genggam “sya’iir” muddain minasya’iir” dua genggam terigu”. Dua genggam terigu itu, yang ada untuk masakan menyambut hari pernikahan sang Nabi, dua genggam tergu itu hadirin, kalau dibikin roti, kira-kira jadi sepuluh potong saja, roti tanpa ada lauknya sama sekali, kalau kita bertanya, bagaimana jamuan pernikahan sang Nabi? itulah jamuan pernikahan Rasulullah SAW, hari pernikahan Rasulullah SAW seperti itu, ini sunnah yang sangat-sangat hampir punah dimasa kita, muslimin muslimat sekarang malu mengamalkan sunnah Nabi Muhammad SAW, para aslafunasshoolihin sebagian dari ulama-ulama kita salafussholeh masih mengamalkan ini, mereka masih membawakan jamuan lain karena memang ada keluasan harta, jamuan lain mereka munculkan, tapi tetap mereka memasak dua genggam terigu, sehingga menjadi beberapa potong roti, untuk mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW, karena inilah sunnahnya Rasulullah SAW, sebagian besar muslimin merasa hina jika mengamalkan sunnah Nabinya, hadirin hadirot jika kita belum mampu mengamalkannya, paling tidak kita tahu ini sunnah Nabi Muhammad SAW. Sunnah Rasul bukanlah dengan jamuan yang mewah disaat pernikahan, bukan itu sunah sang Nabi, demikian sederhananya Nabi kita dan idola kita Muhammad Rasulullah SAW.

Dan beliau SAW bersabda diriwayatkan didalam Shohih Bukhori : ”Syarrutho’aam tho’aamulwaliimah di’aa fiihal’afaani wa yutrokul fukoro”, seburuk-buruk hidangan adalah hidangan pernikahan yang didalamnya hanya diundang orang-orang kaya saja tanpa mengundang orang-orang fuqoro”, ini seburuk-buruk hidangan kata Nabi Muhammad SAW, bukan berarti haram tentunya, bukan berarti haram tentunya, tetap halal, akan tetapi sang Nabi bicara seperti ini, menuntun umatnya agar muncul keseimbangan antara fuqoro (miskin) dan aghniya (kaya orang mampu), bisa saja Rasul mengatakan wajib, bisa saja orang berkata ; aku mengundang tamu-tamuku saja ini orang-orang mampu, orang-orang fuqoro nanti bisa sedekah sebanyak-banyaknya, tidak demikian, karena apa? Karena Rasul memahami keseimbangan hidup dan keberkahan pernikahan.
Orang-orang fuqoro ketika diundang jamuan pernikahan orang-orang kaya, barang kali ada yang lima enam tahun tidak pernah menyentuh makanan ini, seumur hidupnya belum pernah kenal dengan makanan model seperti itu, jika menyantapnya, maka ia akan berkata, masyaAllah Alhamdulillah berkah ini berkah, demikian hebatnya sang Nabi SAW menyatukan doa-doa para fuqoro, agar membawa keberkahan bagi kedua mempelai, demikian hebatnya sang Nabi SAW, tidak perlu berkata minta doa pada fuqoro karena doa mereka qobul, tidak demikian, Rasul menyeimbangkannya agar mereka tetap makan makanan para aghniya dalam undangan itu, membawa keberkahan bagi kedua mempelai, demikian indahnya Nabi kita Muhammad SAW, dalam setiap sunnah beliau tersimpan sedemikian banyak hikmah Ilahiyyah.
Diriwayatkan didalam Shohihul Bukhori Rasul SAW menyampaikan (yang sampai) kepada kita betapa indahnya budi pekerti beliau, ketika orang-orang dalam keramaian “Urs, ‘urs itu pesta pernikahan Anshor, diMadinatul Munawarah dari zaman dahulu sudah ada pesta pernikahan, zaman dahulu sudah ada kegembiraan dalam pernikahan, nah didalam kegembiraan itu tentunya para shahabat ingin tahu, kegembiraan seperti ini disetujui tidak oleh sang Nabi, padahal itu, pesta seperti itu tentunya merujuk kepada ghoflah (lupa dari Allah), tertawa terbahak-bahak dan lain sebagainya dalam pesta, barangkali ada lawaknya barangkali ada pentasnya dan lainnya, itu membuat seseorang lupa dari Allah, tapi bagaimana sang Nabi berbuat, apa beliau berkata ini munkar munkar bubarkan, tidak demikian, sang Nabi duduk ditempat yang jauh, melihat mereka yang berada dalam pernikahan itu dan mereka keluar, kau meninggalkan anak-anakmu pulang dari pada jamuan pesta pernikahan itu, Nabi SAW berbuat memalingkan konsentrasi mereka kepada khusu’ seraya berdiri dan berkata “Allahumma innak wa muhabbinnaas ilayya” demi Allah sungguh kalian ini orang yang paling kucintai”, coba hadirin hadirot kita bertanya, hubungannya apa antara pesta pernikahan dengan ucapan sang Nabi, wahai Allah sungguh mereka inilah orang yang paling kucintai, bagaimana nyambungnya kejadian ini, ini sang Nabi ingin membalilkkan jiwa mereka dari ghoflah kepada cinta kepada Nabi Muhammad SAW, dari mereka yang sedang tenggelam dalam hal-hal yang barangkali melupakan mereka dari khusu’nya sholat dari dzikirnya dipalingkan kembali dengan mendengar ucapan itu tentunya jiwa mereka berbalik, lebih mencintai sang Nabi,
Masya Allah kita yang keluar dari acara, kalau bahasa kita seakan-akan mau dimahari oleh sang Nabi atau diomeli oleh sang Nabi karena sudah berbuat acara besar-besaran perayaan pernikahan, ternyata tidak demikian, Nabi kita malah berkata; wahai Allah sungguh kalian adalah orang yang paling kucintai, rahasia kedalaman tarbiyah dan pendidikan qolbiyah yang mengajak jiwa mereka kembali pada kecintaan pada Nabi kita Muhammad SAW, demikian hebatnya tarbiyah sang Nabi dan bimbingan beliau untuk menghalau umatnya ini dari kemunkaran. Bagaimana orang kalau tenggelam dalam kemunkaran zaman sekarang misalnya ada orang yang tenggelam dalam mabuk-mabukan didiskoti atau dikafe-kafe, apa yang kita ucapkan? Barangkali kita menyindirnya, ini orang ahli munkar, pendosa, penjahat, ini ahli maksiat, tapi tidak demikian akhlak sang Nabi hadirin hadirot, bagaimana cara mereka kembali pada kemuliaan?

Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah, diriwayatkan ketika al-Imam Hasan al-Bashri, dilapori tentang suatu kelompok ditepi pantai yang dipenuhi dengan maksiat dan kejahatan, ini menganggu masyarakat sekitar, kerjanya cuma mabuk-mabukan dan berbuat dosa, Imam Hasan al-Bashri berkata “bangkit sekarang, kita datangi, maka semua murid-muridnya dan masyarakat bangkit, tentunya dikira akan dihancurkan, zaman sekarangkan berlakunya demikian sebagian saudara kita, akan tetapi Iman Hasan al-Bashri sampai disana seraya mengangkat kedua telapak tangannya ”Allahumma kamaa farrohtahum fiddunia farrih hum fil akhiroh” Wahai Allah sebagaimana Kau buat mereka gembira di dunia kami ingin mereka gembira juga di akhirat”, doa ini hadirin hadirot langsung kehadiratullah, dari jiwa yang ikhlas, akhlak pilihan. Kita sudah berbuat dosa dan maksiat, yang datang Imam Hasan al-Bashri, takut semuanya, tahu karena ini imam besar, akan tetapi bukan malah marah tetapi didoakan mereka ini, maka semuanya bertaubat kepada Allah SWT, demikian hebatnya akhlak Nabiyyuna Muhammad SAW wa barak’alaih.
Hadirn hadirot, Nabi kita diriwayatkan didalam Shohih Bukhori; beliau ingin membantu pekerjaan isterinya dirumah, bila tidak ada kesibukan beliau pun bersama isterinya bahkan mencuci pakaian, atau pun menambal sandal atau pun berbuat apapun dirumah, turut membantu isterinya dirumah, bila azan beliau tinggalkan seluruh aktifitas untuk menuju sholat, demikian indahnya idola kita sayyidina wa maulana Muhammad SAW wa barak’alaih, dan beliau ini sangat-sangat dermawan, hadirin hadirot yang dimuliakan Allah, dan jangan dikira Nabi ini miskin, Nabi itu hadirin hadirot setelah fatha Makkah kaya raya, tapi beliau tidak mau menggunakan hartanya, sangat kaya raya, beliau membagi-bagikan banyak kepada para fuqoro, bahkan seraya berani berkata setelah fatha Makkah, diriwayatkan didalam Shohih Bukhori, beliau bersabda: “Seandainya diantara kalian wafat, masih meninggalkan harta, silahkan bagikan hartanya, kalau meninggalkan hutang (falyahtinii wa ana maulaahu)” demikian diriwayatkan didalam shohih bukhori, masih ada muslimin punya hutang, datang padaku, aku yang akan menyelesaikannya, demikian jiwa besar Nabiyyuna Muhammad SAW wa barok’alaihi wa ‘ala alaih,
akan tetapi dalam kesederhanaannya, dalam cara pernikahannya, hanya sekelumit (sedikit) orang-orang ini saja, itulah yang tidak pernah kita temukan ditimur dan barat sepanjang zaman, mereka yang mengikutinya pasti dicintainya, mereka yang mengikutinya dicintai fiddunia wal akhiroh dan masih dicintai oleh Allah SWT, karena Allah SWT telah menjamin “Inkuntum tuhibbuunallah fattabi’uunii yuhbib kumullah” , jika kalian mencintai Allah, ikutilah Nabi Muhammad SAW, kalian akan dicintai oleh Allah, semakin kita mengikuti budi pekerti beliau ini, tidak mampu 100 persen sunnahnya, tidak mampu setengahnya, atau sedikit saja yang kita ikuti dari perbuatan sang Nabi, ada bentuk cintanya Allah yang menjanjikan untukmu, makin besar perbuatan kita mengamalkan sunnah makin besar cintanya Allah, alangkah indahnya orang yang memahami, ingin dicintai Allah adalah dengan mengikuti Muhammad Rasulullah SAW wa barok’alaihi wa ‘ala alaih.

Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah, diriwayatkan didalam Shohih Bukhori; dimana Rasul SAW sangat menjaga umat, jangan sampai berlebihan ibadah, jangan sampai berlebihan didalam maksiat, diriwayatkan ketika salah seorang sahabat ra berpuasa disiang hari setiap hari dan ia melakukan sholat malam setiap malam sepanjang malam, Rasul SAW memanggilnya “engkau yang kudengar setiap hari berpuasa dan setiap malam beribadah sepanjang malam?”, “Betul wahai Rasulullah SAW,” Rasul berkata “fala taf’al (jangan kau perbuat), shum wa afthir wa kum wa nam” bangun malam tapi juga ada tidurnya, tidurlah juga diantara bangun malammu dimalam hari, puasa boleh tapi jangan setiap hari mesti ada bukanya, demikian indahnya, sang Nabi seraya bersabda: “inna li jasadika ‘alaika haqqo wa inna li ‘ainika ‘alaika haqqo wa inna li zaujika ‘alaika haqqo” Dan sungguh tubuhmu itu mempunyai hak pada dirimu, matamu mempunyai hak, isterimu (keluargamu) mempunyai hak.
Demikian indahnya, Nabi kita Muhammad SAW mengajari kita, sehingga kita terpacu untuk selalu beribadah tapi jangan lupa, mata kita mempunyai hak , tubuh kita mempunyai hak untuk ibadah juga, jangan dipakai terus untuk maksiat siang dan malam, mata ini butuh air mata khusu’, demikian tubuh membutuhkan ruku’ dan sujud, makin besar dosa-dosa kita maka perbanyak ibadah kita, dan kita mempunyai keluarga yang keluarga kita mempunyai hak atas diri kita, jangan sampai kita jadikan keluarga kita itu, adalah hanya tuntunan dosa dan keduniawian, ajarkan mereka kemuliaan, ajarkan mereka keluhuran. Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah indah sekali tuntunan Nabi kita Muhammad SAW, inilah semulia-mulia idola, inilah semulia-mulia kekasih yang dengan mengikutinya akan terbit cahaya kecintaan Allah SWT kepada kita. Hadirin hadirot bangkitkan jiwa kita dengan lantunan nama Allah, terangilah jiwamu dengan nama-nama Allah SWT, yang Allah SWT telah berfirman “Wa lillaahil asmaail husna fad’uhu biha” Sungguh Allah itu mempunyai nama-nama yang agung maka serulah Dia” Yang meminta kita memanggil nama-Nya.
Bangkitlah (wahai) hadirin hadirot, bangkitlah dengan keagungan nama Allah, bangkitkan kekhusu’an dengan keagungan nama Allah, bangkitkan kebahagiaan dalam hidupmu dengan keagungan nama Allah, bangkitkan pengampunan-Nya dengan memanggil nama Alah, bangkitkan kekuatan dunia dan akhirat, kesejukan jiwa, kebahagiaan dunia, tercapainya hajat, kebahagiaan kekal dan abadi diakhirat, lepas dari siksa kubur, bangkitkan itu semua beserta kemuliaannya dengan memanggil nama Allahu Allah.

Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah, kita telah dengar firman-Nya: ”Walillahil amsail husna fad’uhu biha” Allah memberi nama-nama yang indah yaitu asmaul husna maka serulah dia, perintah dari Robbul’alamin, mengundang yang terpanggil dalam kemuliaan untuk memanggil nama-Nya. Kita mengenal 99 nama Alah, diriwayatkan didalam riwayat yang shohih “Barang siapa yang menghapalnya, tidak akan pernah menyentuh api neraka selama-lamanya” dan satu dari 99 nama Allah itu adalah Allah, ini adalah “sulthoonudzikir” (raja dari semua dzikir) kepada al-ma’rifatillah, karena berkumpul seluruh keagungan nama Allah pada kalimat Allah, maka hadirin hadirot kita bermunajat memanggil nama-Nya, menenangkan jiwa kita, menenangkan keadaan kita, menenangkan kerisauan kita, menenangkan permasalahan kita, menenangkan kehidupan kita, maka jadilah terbit dan terbenamnya matahari kesejukan dan kebahagian bagi kita, ya Allahu ya Allah ya Allahu ya Allah ya Allahu ya Allah ya Allahu ya Allah ya Allahu ya Allah ya Allahu ya Allah ya Allahu ya Allah ya Allahu ya Allah ya Rahman ya Rahim ya Dzaljalaali wal ikroom. Hadirin hadirot seluruh kenikmatan dunia dan akhirat berawal dari Allah SWT, seluruh kebahagiaan dunia dan akhirat dari Allah SWT, yang menerbitkan matahari dan membuat alam semesta ini ada, yang menciptakan milyaran planet terhampar dialam semesta bertasbih mengagungkan nama-Nya, sehingga jiwa kita didalam pelita-Nya yang terang benderang dengan nama Allah SWT.

Posted in Ahlussunnah, Ajaran Wahabi, Bid'ah, Hadits Dho'if, Hukum Islam, Hukum Mazhab, Majelis Dzikir, Majelis Rasulullah, Masjid Nabawi, Maulid Nabi, Nabi Muhammad, Para Habaib, Sejarah Islam, Shalawat Nabi, Sunnah, Tahlilan, Tasawuf, Tawasul, Wali Allah, Ziarah Kubur | Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Kelezatan Cinta Kepada Allah SWT dan Rasul-Nya

Posted by Teknik Jumper on November 5, 2008

ImageLimpahan puji kehadirat Allah swt yang Maha berhak atas kesempurnaan yang mulia, Maha Suci Allah yang dengan mengikuti Sang Nabi terangkatlah derajat kita kepada puncak kehidupan yang abadi, Maha Suci Allah, Nama Yang Maha Agung, Maha Berwibawa dengan kewibawaan yang Abadi, Maha Terang benderang Menerangi jiwa dengan kemuliaan khusyu, menerangi sanubari dengan ketenangan dan sakinah, menenangkan hari-hari mereka didalam kenikmatan yang melebihi seluruh kenikmatan, Kenikmatan khusyu dan rindu kehadirat Allah, yang bila telah bangkit dari sanubari bagaikan matahari yang terbit, maka sirnalah seluruh kenikmatan dan segala kesedihan, tenggelam dalam keasyikan pada Nama Allah swt..

Inilah (wahai) hadirin-hadirat surga bagi mukminin-mukminat sebelum mereka mengenal surga, Akan tetapi kita lihat bagaimana para Sahabat radhiyallahu’anhum dan para pengikutnya, dan para Shalihin dan Muqarrabien, mereka menginginkan kebersamaan selalu dengan mausia yang paling dekat kepada Allah (yaitu) Sayyidina Muhammad saw, karena apa?, Karena mereka merasakan kelezatan saat mereka bersama Nabi Muhammad saw, mereka merasakan puncak kekhusyuan saat mereka bersama Nabi Muhammad saw dan mereka tidak merasakan kelezatan hidup melebihi saat saat mereka bersama Rasulullah saw.

Oleh sebab itu sering kita dengar riwayat semacam Sayyidina Tsauban ra yang merasa tidak lagi menginginkan kenikmatan surga kecuali yang diinginkan adalah bersama Sang Nabi, Seperti hal hal semacam ini karena apa? Karena mereka merasakan kelezatan saat mereka bersama Nabi Muhammad saw.., Kelezatan apa?, Tentunya kelezatan dekat kepada Allah.., kelezatan khusyu.., kelezatan tuma’ninah.., ketika mereka memandang wajah Sang Nabi dan ketika mereka bersama Nabi Muhammad saw, Sebagaimana dijelaskan didalam Majmu’zawaid dan Musnad Imam Ahmad berkata Sayyidina Abu Hurairah “Yaa Rasulullah idza ra’ynaka raqqat quluubina..!”, Wahai Rasulullah jika kami melihat wajahmu kami terangkat pada puncak kekhusyuan.., Banyak diantara kita memandang benda, memandang gunung, memandang laut, maka terangkat (muncul) tuma’ninah dan khusyu dalam jiwa semakin ingat kepada Allah dan demikian dan lebih dan lebih memandang Nabi Muhammad saw yang menjadi lambang rahmat ilahi..,

Datanglah seseorang bertanya kepada Sang Nabi “yaa Rasulullah kapan datangnya hari kiamat?” (kita bertanya) siapa orang ini? Al Imam Ibn Hajar Asqalani didalam kitabnya Fathul Baari bisyarah Shahih Bukhari menjelaskan orang yang bertanya ini orang yang membuang air kecil di Masjid Nabawi. Orang yang boleh dikatakan sangat kurang ajar dan minim pemahamannya dan juga imannya, dia bertanya “kapan hari kiamat?” Rasul menjawab dengan pertanyaan “bukan kapan yang mestinya kau ketahui, apa yang kau siapkan? jangan bicarakan kapan hari kiamat karena yang diperlukan adalah persiapanmu, apa yang kau persiapkan?” ia berkata “La syai..! Tidak ada apa-apa yang kusiapkan. Maksudnya apa? Ia beramal hal yang fardhu dan memperbanyak hal yang sunnah semampunya tapi tidak punya satu amal yang ia andalkan terkecuali Mahabbatullah awa Rasul. Yang ku andalkan cinta kepada Allah dan RasulNya Muhammad saw, ini yang menjadi andalanku yang lain tidak ku andalkan walaupun akau beramal. “La syai” disini bukan berarti tidak beramal, beramal tetapi dia tidak mengandalkannya. Yang ia andalkan cintanya kepada Allah dan Rasul, maka Rasul menjawab “engkau bersama dengan orang yang engkau cintai” dijawab kabul dari cintanya kepada Allah dan Rasul diijabah langsung oleh Rasul saw. Barangkali kalau amalan lainnya belum tentu diijabah oleh Allah, tetapi cinta kepada Sang Nabi langsung dijawab oleh Rasul “anta ma a man ahbabta..!” engkau bersama dengan orang yang kau cintai.

Karena cinta ini (wahai) hadirin-hadirat adalah kiblatnya jiwa, kemana jiwa itu mengarah pasti kepada orang atau siapapun yang ia cintai. Walaupun ia menghadap kiblat tetap jiwanya akan mengarah kepada yang ia cintai, walaupun ia bersujud kepada Allah jiwanya akan bersama dengan orang yang ia cintai. Beruntung orang-orang yang mencintai Allah dan Rasul. Maka berkata Sayyidina Anas ibn Malik ra “kami tidak pernah gembira dalam suatu kegembiraan selain mendengar kabar : kau akan bersama dengan orang yang kau cintai. Kabar (inilah) yang sangat menggembirakan kami, janji dari Sang Nabi dan beliau ra Sayyidina Anas berkata “dan aku mencintai Rasulullah, aku mencintai Nabi Muhammad saw, Abu Bakar, dan Umar dan aku berharap akan bersama mereka walaupun aku tidak mampu beramal sedahsyat amal mereka. Ucapan Anas Ibn Malik yang dicantumkan didalam Shahih Bukhari ini diakui tentunya dan dibenarkan oleh seluruh Muhaddits dan ulama Ahlussunnah wal jamaah bahwa kecintaan kepada seseorang akan mengantarkannya bersama kelak di Yaumil Qiyamah. Hadits ini merujuk pada satu makna : beruntung mereka yang mencintai Nabi Muhammad saw, beruntung mereka dengan keberuntungan dunia dan akhirat mereka yang mencintai Sayyidina Muhammad saw, yang mencintai Rasulullah saw, Sungguh mereka akan bersama Sang Nabi, yang mencintai para shalihin mereka akan bersama dengan orang yang mereka cintai.

Hadirin-hadirat , lihat arah jiwamu, palingkan kepada makhluk yang dicintai Allah, apakah shalihin, apakah syuhada, terutama Nabi mulia yang paling dicintai Allah (yaitu) Nabi Muhammad saw. Disifatkan didalam taurat tentang kemuliaan Sang Nabi dari sifat-sifat beliau diriwayatkan didalam Shahih Bukhari “wala yadfa’ussayyi’atu bissayyi’ah” Rasul saw itu tidak membalas kejahatan dengan kejahatan akan tetapi beliau saw memaafkan dan mengampuni. Inilah budi pekerti manusia yang paling mulia, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, bahkan semakin jahat musuhnya semakin lembut beliau bahkan dan semakin keras keinginan Beliau mendoakan mereka dan mengajak kepada keluhuran, “walakin ya’fu wayaghfir”, Beliau memaafkan dan mengampuni, Manusia yang paling pemaaf adalah Nabi Muhammad saw oleh sebab itu dipuji oleh Allah “fainnakala’ala khuluqin adhim”, “walan yaqbidhahullah hatta yuqiima bihilmillatal ‘auja” Allah tidak akan mencabut ruh Sang Nabi sampai ia meluruskan agama yang telah disesat dan diselewengkan, sampai mereka mengucapkan dan meyakini Laailaahaillallah, sampai jiwa mereka terang benderang dengan Laailaahaillallah, sampai mereka tidak mengakui ada tuhan lain selain Allah. Terbukalah dengan kebangkitan Sang Nabi, terbuka mata yang buta menjadi melihat, telinga yang tuli menjadi mendengar, jiwa yang tertutup menjadi terbuka dengan cahaya hidayah. Bukan berarti orang-orang itu buta tetapi buta matanya dari hal yang mulia disisi Allah, ia melihat tapi tidak mau melihat apa-apa yang dimuliakan Allah, ia mendengar tapi telinganya berat mendengar hal-hal yang mulia disisi Allah, dan jiwa yang tertutup akan terbuka dan terbit dengan cahaya kebahagiaan dan kemuliaan dengan kebangkitan Nabi Muhammad saw.

Demikian hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah, demikian agungnya sifat Sang Nabi dan tentunya kita barangkali malu medengar sifat mulia Sang Nabi ini yang belum mampu kita ikuti, paling tidak kita memahami inilah sosok idola, inilah manusia yang indah yang paling pantas aku cintai Sayyidina Muhammad saw. Allah munculkan sifat-sifat mulia pada Sang Nabi agar dicintai oleh ummatnya saw, dan kemuliaan ini terwariskan pada jiwa para sahabat ra pewaris risalah Nabawiyah yang pertama dan kemudian dilanjutkan oleh para penerus risalah dari zaman ke zaman.

Ketika Rasul saw bersabda “orang yang memanjangkan celananya atau sarungnya maka Allah tidak akan memandangnya kelak di hari kiamat”. Mereka yg memanjangkan celananya atau sarungnya di bawah mata kaki tidak akan dilihat oleh Allah dihari kiamat. Ini sebagian saudara kita salah paham menganggap hal seperti ini tidak boleh maka mereka mungkin selalu menggulung celananya karena takut tidak dilihat oleh Allah, bukan ini maksudnya, karena hadits riwayat Shahih Bukhari ini diteruskan dan masih ada terusannya, Abu Bakar Asshiddiq ra memanjangkan salah satu dari pakaiannya kebawah seraya berkata “Yaa Rasulullah aku memakai pakaian seperti ini apakah Allah tidak melihatku nanti dihari kiamat?”. Tidakdilihat disini adalah tidak dihormati oleh Allah, yaitu dihina oleh Allah, Maka berkata Rasul saw : “sungguh kau berbuat seperti itu bukan karena kesombongan”, Jadi yang dilarang itu memanjangkan celana atau sarung karena sombong, Ini hampir tidak ada dimasa sekarang karena dizaman dulu orang bisa membedakan atara orang miskin dengan orang kaya raya dengan melihat celananya atau sarungnya yang dipanjangkan, Kalau orang kaya raya pasti ciri khasnya untuk membanggakan dirinya dia panjangkan celana atau sarungnya karena itu tanda ia selalu naik kereta tidak pernah berjalan kaki, tapi kalau para budak dan para fuqara pasti celananya dipendekkan karena selalu berjalan diatas debu, Ini zaman dahulu, zaman sekarang hal seperti ini hampir tidak pernah terjadi orang memanjangkan celananya karena tanda kesombongan, dan itu bukan simbol kesombongan lagi, bukan simbol orang miskin bukan simbol orang kaya, Oleh sebab itu sebagian saudara kita yang salah paham akan pertanyaan seperti ini selalu ditanyakan kepada saya lewat email atau website kesempatan ini saya menjawab,

Hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah sampailah kita dimalam mulia ini di hari pertama bulan Dzulhijjah, malam-malam agung seperti ini mengingatkan kita kepada peristiwa Hujjatul Wada’, dimana Rasul saw keluar dari Madinatul Munawwarah pada tanggal 25 Dzulqa’dah tahun 11 Hijriah dalam pendapat lain tahun 10 Hijriah keluarlah beliau bersama para sahabat untuk melakukan Haji dan Haji itu disebut Hujjatul Wada (Haji perpisahan) karena itu haji yang pertama dan haji yang terakhir. Rasul saw keluar pada hari sabtu 25 Dzulqa’dah untuk menuju medan haram, dan beliau saw sampai di Makkah Almukarramah dan melakukan fardhu Haji dan kemudian dimedan Arafah beliau berkhutbah didekat Jabalul Rahmah didengar oleh sedemikian banyak para sahabat diriwayatkan jumlah mereka 60 ribu dari para sahabat yang hadir pada hari itu dan Rasul berbicara tanpa pengeras suara akan tetapi yang paling depan dan paling belakang sama jelasnya mendengar suara beliau saw.

Dari salah satu ucapan beliau saw bersabda dalam khutbahnya “wahai hadirin aku merasa barangkali aku tidak berjumpa lagi dengan kalian dihaji yang akan datang, saksikan aku sudah menyampaikan risalah ini”. Demikian hadirin-hadirat kejadian Hujjatul Wada dan Rasul saw kembali dari medan haji ini dan setelah beliau kembali tidak lama beliaupun berziarah ke makam Baqi’, Beberapa bulan kemudian adalah Rabiul awwal dari bulan wafatnya Rasulullah saw saw, Beliau berziarah ke Baqi menziarahi Ahlul Badr, Demikian dijelaskan didalam Sirrah Ibn Hisyam beliau saw mendatangi kuburan Baqi lantas mengucapkan salam kepada syuhada Badr, saudara-saudar beliau saw yang telah berjuang hingga wafat membela perjuangan Allah dan RasulNya di perang Badr Al Kubra.

Beliau saw mengucapkan salam di pemakaman Badr lantas disaat itu ada salah seorang sahabat yg melihat Sang Nabi menangis dan menagis dalam doanya dimedan Baqi berziarah kepada sahabatnya yaitu Ahlul badr dan setelah itu Rasul berpaling kepada nya seraya berkata “wahai engkau, telah dipilihkan kepadaku dua pilihan untuk memilih hidup kekal dimuka bumi sampai hari kiamat dan juga surga kelak atau aku dalam surga dan bertemu Allah dan aku memilih surga dan berjumpa dengan Allah. Maka berkatalah sahabat itu “Yaa Rasulullah pilihlah yang pertama agar kau kekal didunia ini” Rasul berkata “aku memilih yang kedua…”, Sekembalinya beliau dari ziarah mulailah beliau ditimpa sakit yang membawa wafatnya. Tanggal 1 Rabiul awwal mulailah sakit beliau saw dan pada tanggal 12 Rabiul awwal beliau pun mangkat dan wafat disaksikan oleh para sahabat. Kejadian ini setelah Hujjatul Wada, Hujjatul Wada bulan Dzulhijjah lantas bulan Muharram dan Safar lalu Rabiul awwal wafatnya Nabi Muhammad saw.

Hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah, wafatlah Sang Nabi dan meninggalkan kemuliaan dan warisan agung pada kita, diteruskan oleh para khalifah-khalifah mulia dari mulai Sayyidina Abu Bakar Asshiddiq ra, Sayyidina Umar bin Khattab ra, Sayyidina Utsman bin Affan ra, Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw dan para pembesar sahabat yang terus membawakan kemuliaan Alqur’an, kemuliaan sunnah dan kemuliaan syariatul Mutaharah (Syariah yg suci), sampai masa-masa wafat merekapun tetap tersaksikan padanya cinta mereka kepada Allah dan Rasul, Ketika dimasa wafatnya Sayyidina Umar ibn Khattab ra diriwayatkan didalam Shahih Bukhari ketika beliau sudah ditaruh diatas tipan maka berkatalah Ibn Abbas ra untuk menenangkan Sayyidina Umar yang sedang menghadapi sakarah “wahai Umar kau telah menjadi sahabat Rasulullah, kau telah berbakti kepada Rasul dengan sebaik-baiknya bakti dan beliau pun wafat dalam keadaan ridha kepadamu wahai Umar, lantas kaupun bersahabat dengan Abu Bakar Asshiddiq kau telah berbakti kepadanya sebagai khalifah sampai iapun wafat dalam keadaan ridha kepadamu wahai Umar, dan kini engkau dihadapan sakarah kami sahabat-sahabat mu telah ridha atas apa yang engkau perbuat wahai Umar dan kami ridha kepadamu dan kau wafat dalam keadaan ridha dari kami”. Maka berkata Sayyidina Umar bin Khattab “kalau seandainya keridhaan Rasul itu adalah anugerah Allah kepadaku, demikian pula keridhaan Abu Bakar Asshiddiq itu adalah anugerah Allah kepadaku, tapi kalian?” kata Umar bin Khattab.

Maksudnya apa? Karena mereka masih hidup dan Umar bin Khattab tidak menyaksikan keridhoan mereka saat mereka wafat. Yang kutakutkan diantara kalian ada yang mempunyai hak atasku, seandainya aku memiliki gunung emas akan aku bagi-bagikan agar tidak ada satupun yang tidak ridha kepadaku sehingga aku tidak bertemu dengan azabnya Allah. Demikian hebatnya wafatnya para Khulafaur Rasyidin, hadirin-hadirat demikian wafatnya Sayyidina Utsman bin Affan ra yang beliau ini dimusuhi oleh sebagian orang sehingga beliau diblokir rumah beliau untuk tidak bisa beliau keluar dari rumah, tidak pula bisa mendapatkan kiriman makanan dan minuman. Maka berkata sahabat lainnya “wahai khalifah keluarkan pasukanmu untuk menyingkirkan orang-orang ini yang menghalangimu dari pada makanan dan minuman dan menghalangimu untuk masuk kemasjid, Utsman bin Affan berkata “aku tidak akan menumpahkan darah muslimin hanya karena satu manusia bernama Utsman bin Affan, biarkan mereka apa yang mereka perbuat, sampai orang – orang diluar tidak sabar akhirnya Utsman bin Affan ra wafat sebagai syahid ketika Ia membaca Al Qur’an nul karim dan Ia pun wafat dalam keadaan ditusuk.

Demikian pula wafatnya sayyidina Ali bin Abi Thalib ra , demikian hadirin hadirat para pembela Rasul dan para pembela risalah, sampailah kita dimalam ini menikmati hasil perjuangan mereka, hasil dari pada perjuangan mereka adalah Al Quran yang sampai kepada kita dan hadits nabawi, setiap huruf – hurufnya tercetak dengan darah dan pengorbanan mereka, hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, dimalam mulia ini kita mendengar sabda Nabi Muhammad saw untuk menenangkan jiwa kita, Rasul telah wafat, Khulafaur Rasyidin, para orang mulia telah wafat , para guru – guru kita banyak yang telah yang wafat, tinggallah kita dalam waktu yang dekat akan pula wafat dan kembali, membawa apa kita akan pergi, hadirin Sang Nabi telah bersabda, diriwayatkan dalan Sahih Bukhari ” akan kalian lihat setelah aku wafat hal hal yang tidak kalian sukai, dari fitnah, dari musibah, dari permasalahan, bersabarlah kalian sampai kalian menjumpai aku ditelaga Haudh”. Demikian sabda Nabi Muhammad menenangkan para pencintanya, menenangkan orang – orang yang selalu ingin bersama Allah, dengan mencintai Nabi Muhammad, beliau menenangkan hati mereka, kalian akan temukan apa yang tidak kalian sukai setelah aku wafat…., bersabarlah sampai kalian berjumpa denganku ditelaga Haudh”.

Kita bermunajat kepada Allah, Rabbiy pastikan semua wajah kami yang hadir dan berjumpa beliau ditelaga Haudh… Yaa Allah.. yaa Allah… 5x, Yaa Rahman yaa Rahim kami mencintai Nabi Muhammad, kami mencintai Abu Bakar Asshiddiq, kami mencintai Umar bin khatab, kami mencintai Utsman bin Affan, kami mencintai Ali bin Abi Thalib, kami mencintai Sayyidatuna Fathimah tuzahra, kami mencintai ahlul Badr, kami mencintai ahlul uhud, kami mencintai para wali Allah, namun kami tidak mampu mengejar dengan amal – amal kami sebagaimana dasyatnya amal mereka, maka Rabbiy pastikan kami bersama mereka karna cinta kami kepada mereka yaa Rabb, telah tenang jiwa kami ketika melewati musibah dan kesulitan didunia, kami mendengan kabar dari Sang Nabi : ” bersabarlah kalian sampai kalian menjumpai aku ditelaga Haudh” pastikan kami semua yang mendapatkan janji sang Nabi, Rabbiy kami bersabar sampai kami berjumpa dengan Nabi kami ditelaga Haudh, bersabar atas kerinduan, bersabar atas cinta kami, melihat wajah beliau yaa Rabb, telah Kau halangi mata kami dari memandang wajah Nabi kami, akan tetapi kami disabarkan oleh janji beliau : “bersabarlah kalian sampai kalian menjumpai aku ditelaga Haudh”

Yaa Rahman Yaa Rahim pandanglah segala buruknya amal kami, hinanya jiwa kami dari sanubari yang selalu ingkar dari semua yang Engkau ridhai, dan selalu ingin dengan hal hal yang Engkau murkai, kepada siapa kami mengadukan hati ini Rabbiy, kalau bukan kepadaMu yaa Rabb, akan tetapi dalam gelapnya jiwa dan sanubari ini ada kecintaan kepada Sayyidina Muhammad saw, dan amal amal yang saleh, maka jadikanlah titik terang ini menjadi matahari yang terang dalam jiwa kami dan jangan wafatkan kami kecuali sebagai ahlul sujud, sebagai ahlul khusyuk, sebagai ahlul taubah, sebagai ahlu qiyamulail, yaa Rahman yaa Rahim pastikan wafat kami kelak dalam puncak kemuliaan dan kesempurnaan ibadah, pastikan malam wafat kami atau siang wafat kami didalam khusnul khatimah yaa Rahman yaa Rahim pastikan kami bangkit di Yaumil qiyamah bersama orang orang yang kami cintai dan pastikan kami berjumpa dengan Nabi kami Muhammad saw.

Dan Rabbiy kami berdo’a untuk muslimin muslimat khususnya didaerah JABODETABEK yang masih terus ditimpa musibah hujan, Rabbiy Rabbiy terangkanlah permukaan alam semesta ini datangkan hujan yang membawa rahmat, dan jangan Engkau datangkan hujan yang membawa musibah, datangkanlah kemarau yang membawa rahmat dan jangan Engkau datangkan kemarau yang membawa musibah, singkirkan segala wabah penyakit, perbaiki akidah kami dan jiwa muslimin, kami mengadukannya kepada Mu yaa Rabb, dari dosa dosa kami, dari semua hajat kami, dari semua niat kami, dari semua harapan kami, kami titipkan kepada nama Mu yang Maha Agung, nama yang jika menyerunya maka terangkat jiwa kami kepada kemuliaan dan berjatuhan dosa – dosa kami.

Yaa Allahu yaa Allah… Yaa Allahu yaa Allah… Yaa Allahu yaa Allah… Yaa Allahu yaa Allah… Yaa Allahu yaa Allah… Yaa Allahu yaa Allah… Yaa Allahu yaa Allah… Yaa Allahu yaa Allah… Yaa Allahu yaa Allah… Rabbiy kami benturkan musibah yang akan datang kepada kami kepada nama Mu yang Maha Berwibawa, meruntuhkan dosa – dosa kami, meruntuhkansegala kesulitan kami, menerbitkan matahari keberkahan dalam kehidupan kami yaa Rahman yaa Rahim,

Washallallahu wasallamu ala nabiyyil ummiy, waala ali wasahbihi wasalam, tidak lupa kita do’akan tamu – tamu kita yang datang dari Kualalumpur khususnya karena mereka adalah juga para kordinator dakwah diwilayah Kualalumpur agar Allah memberikan pertolongan dan keluasan dan keberkahan dalam perjuangan ahlul sunah wal jamaah untuk terus menerus membuka keluasan dakwah Nabi Muhammad saw diwilayah Kualalumpur, dan juga atas da’I kita sekalian,

wassalmu’alikum warahmatullahi wabarakatuh.

Posted in Ahlussunnah, Ajaran Wahabi, Bid'ah, Hadits Dho'if, Hukum Islam, Hukum Mazhab, Majelis Dzikir, Majelis Rasulullah, Masjid Nabawi, Maulid Nabi, Nabi Muhammad, Para Habaib, Sejarah Islam, Shalawat Nabi, Sunnah, Tahlilan, Tasawuf, Tawasul, Wali Allah, Ziarah Kubur | Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Hakikat Hidup Dalam Kemuliaan Allahu Rabbiy

Posted by Teknik Jumper on November 5, 2008

ImageLimpahan puji kehadirat Allah yang telah menjadikan hujan sebagai lambang keindahan Illahi juga sebagai cobaan dan pengangkatan derajat bagi sebagian muslimin dan juga sebagai penghapusan dosa bagi sebagian muslimin dan juga sebagai Rahmat dan kemudahan bagi sebagaian muslimin lainnya. Maha Suci Allah SWT yang cahaya kelembutanNya terus memanggil para pendosa, cahaya kelembutan Illahi terus mengundang ruh dan jiwa mereka untuk meninggalkan dosa, untuk kembali kepada Allah “fafirruu ilallah..” Dari salah satu firman Allah memanggil hamba–hambaNya untuk lari dari dosa–dosa, lari dari seluruh permasalahan kepada Allah “fafirruu ilallah..” Wahai hamba–hambaKu tempat melarikan diri adalah kepadaKu, dari apapun keluhan–keluhan hamba-hambaNya hanya Dialah yang Maha Mampu memaksakan kehendaknya untuk mengatur dan merubah keadaan. Jalla wa’alla (Dia Maha Dahsyat dan Maha Luhur) yang menjadikan setiap saat merupakan Rahmat bagi umat dan sebagian lagi menjadi penghapusan dosa dan cobaan.

Maha Suci Allah yang undangannya memanggil nafas nafas para pendosa untuk bertaubat, mengundang mereka untuk kembali kepada Rahmat ilahi, sehingga tiadalah seseorang dari hamba ini wafat terkecuali menyesali ternyata betapa indah dan lemah lembutnya Allah, ternyata betapa baiknya Allah, ternyata betapa indahnya kasih sayang Allah, merugilah mereka yang telah meninggalkan Allah, didalam hidupnya, didalam hari harinya ia meninggalkan hal hal yang dicintai Allah, sebagaimana Allah SWT memanggil hamba hambaNya kelak di Yaumil Qiyamah “yaa ayyuhal insan.., Maa gharraka birabbikal kariim…….?” Wahai manusia apa yang telah membuatmu meninggalkanKu Tuhanmu yang Maha Pemurah? yang telah menciptakanmu dan menjadikanmu ada dari ketiadaan.,

Bukankah kita wajib berbakti kepada ayah dan ibu sedangkan Allah lebih dari pada jasa ayah dan bunda kita “maa gharraka birabbikal kariim……….” apa yang membuat engkau meninggalkan Tuhanmu yang Maha Pemurah yang menawarkan pengampunanNya atas setiap dosa, yang menginginkanmu selalu dekat kepada kasih sayangNya sehingga mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat, ketika orang orang menyesal di Yaumil Qiyamah akan tetapi sebagian hamba hamba Allah yang dimasa hidupnya selalu ingin bersama Allah mereka berada dalam kebahagiaan yang kekal, mereka di dalam istana istana termegah yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, sebagaimana hadits Qudsyi Allah berfirman didalam hadits Qudsiy diriwayatkan dalam Shahih Bukhari “a’dadatu li’ibaadiy……….” telah Aku siapkan bagi hamba hamba Ku yang Shalih, ini yang berbicara adalah yang Maha Menciptakan jagat raya dengan segala kemegahannya, Kuciptakan dan Kusiapkan bagi hamba–hambaKu yang saleh apa–apa yang belum pernah terlihat mata, belum pernah didengar telinga, belum pernah terlintas dalam lintasan pemikiran mereka.

Ucapan dari hadits Qudsiy firman Allah ini bagi mereka yang berfikir dan mendalami dan merenunginya merupakan undangan Allah kepada setiap jiwa kita, telah kusiapkan hidangan–hidangan dan istana agung untukmu wahai hambaKu, sayanglah dan merugilah jika engkau menolak tawaranKu dan inilah mahluk yang paling merugi ketika ia menolak tawaran Rabbul ‘alamin untuk hidup bersamanya dalam kebahagiaan yang kekal.

Hadirin-Hadirat yang dimuliakan Allah, sungguh Allah SWT lah yang tiada henti–hentinya Maha bersabar kepada mereka yang berbuat salah dari hambaNya dan betapa indahnya umat Nabi Muhammad saw yang mendapat undangan untuk selalu menghadap dalam setiap lima kali dalam setiap harinya, adakah lagi hamba yang lebih suci dan bercahaya dari umat Sayyidina Muhammad, mereka lima kali setiap hari dipanggil Allah, bukankah mereka benar–benar dimanjakan oleh Allah, adakah seorang raja memanggil seorang rakyatnya lima kali sehari terkecuali ia seorang yang sangat dicintai. Demikian keadaanku dan kalian yang selalu mendapat undangan agung lima kali setiap hari. Betapa suci dan terang benderangnya umat Nabi Muhammad saw dan betapa rugi dan gelapnya mereka yang menolak dengan Allah, ketika ia dipanggil oleh Allah ia menolak, ketika ia dipanggil oleh Allah untuk menghadap ia pun mungkar dan berpaling, adakah yang lebih rugi dari orang yang menolak undangan seorang raja, kalau ini rugi maka bagaimana dengan undangan Maha Raja langit dan bumi.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah sambutlah undangan Rabbul ‘allamin, dengan semangat gembira kehadirat Allah atas anugrahNya, jadikan siang dan malam kita selalu didalam cahaya Rabbani didalam cahaya kehidupan yang kekal dan inilah hakikat kehidupan yang mulia.

Hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah sampailah kita dimalam yang diberkahi Allah ini dan esok hari saudara saudari kita dimedan haji mereka akan sampai di padang Arafah, hari yang sangat agung dari sepanjang tahun, bahkan berkata sebagian Muhadditsin “hari Arafah adalah hari yang paling mulia sepanjang tahun. Allah SWT menjanjikan kepada mereka yang berpuasa dihari Arafah pengampunan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang”. Allah swt menjanjikan bagi orang yang berpuasa di hari Arafah pahala puasa setahun penuh, setahun penuh berarti termasuk Ramadhan berarti berlipat ganda dengan puasa Ramadhan Allah kumpulkan seluruh kemuliaan bulan lainnya berpadu dalam satu hari mulai terbitnya matahari hingga terbenamnya matahari tanggal 9 Dzulhijjah.

Hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah telah sampai riwayat didalam Alqur’anulkarim pada kita ketika Allah memerintahkan kepada Nabi Ibrahim as untuk menyembelih putranya “Ketika sudah sampai usia putranya itu mulai tumbuh, berkata Al Hafidh Al Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy usia putra Nabi Ibrahim 7 tahun, pendapat lain 12 tahun. Ada 2 pendapat, pendapat yang pertama mengatakan putra Nabi Ibrahim as yang disembelih adalah Nabi Ishaq as putra Nabi Ibrahim as, tetapi pendapat yang kedua mengatakan yang diperintah untuk disembelih adalah Nabi Ismail as putra Nabi Ibrahim as. Kedua pendapat ini sama-sama kuatnya, pendapat yang pertama didukung oleh Al Imam Al Hafidh Ibn Hajar Al Asqalaniy didalam kitabnya Fathul Baari bisharah Shahih Bukhari, pendapat yang kedua itupun didalam tafsir Imam Ibn Abbas dan ulama lainnya. Pendapat ulama berikhtilaf tentang putra Nabi Ibrahim as yang disembelih akan tetapi menjadi pendapat jumhur bahwa mereka putra Nabi Ibrahim as yang diperintah untuk disembelih. “Wahai putraku aku bermimpi melihat menyembelihmu maka bagaimana pendapatmu?, putranya masih 7 tahun. Mimpi dari para Nabi adalah wahyu dan perintah Allah, berbeda dengan mimpi kita bukan wahyu dan bukan perintah Allah. Mimpi para Nabi adalah wahyu dan perintah Allah, bila ia bermimpi menyembelih putranya maka Allah memerintahkannya untuk menyembelih putranya. Akan tetapi Nabi Ibrahim as bertanya pada putranya, kenapa harus bertanya kalau sudah perintah Allah? Demi mencoba iman putranya karena seorang Nabi sudah cerdas dari kecilnya. Kalau dia memang betul Nabi apalagi Rasul sudah cerdas menerima perintah Allah sejak kecil.

Maka berkata putranya ini “wahai ayahku perbuat apa yang diperintah Allah kau akan temukan aku sebagai orang yang bersabar. Maka Nabi Ibrahim as membawa putranya keatas bukit dan disaat itu syaitan menghalangi perbuatan Nabi Ibrahim as dan Nabi Ibrahim tidak mau menurut dengan godaan syaitan yang menghalanginya seraya mengambil 7 buah batu dan melempari syitan dan kejadian itupun hingga saat ini diabadikan dengan cara jumrah.

Allah swt menjadikan ummat ini mendapatkan kemuliaan-kemuliaan dari ummat yang terdahulu, perbuatan Nabi Ibrahim yang melihat syaitan yang menghalanginya menjalankan perintah Allah dilempari oleh Nabi Ibrahim as. Kita ummat Nabi Muhammad saw tidak mampu melihat syaitan tidak pula mampu untuk melempari syaitan, akan tetapi Allah menjadikan mereka yang berangkat haji melempar batu jumrah yaitu di Mina untuk apa? Untuk mendapatkan keberkahan dari perbuatan Nabi Ibrahim as.

Maha Suci Allah yang telah memperindah ummat ini dengan mengikat perbuatan mulia dari para Nabi dan Rasul diikat kepada ummat Nabi Muhammad saw. Nabi Ibrahim membawa putranya kebukit dan syaitan yang gagal menghalangi Nabi Ibrahim as datang kepada istrinya Sayyidatuna Sarah ra. Nabi Ibrahim mempunyai 2 istri Sayyidatuna Sarah ra dan Sayyidatuna Hajar ra, Sayyidatuna Hajar ra adalah ibunda Nabi Ismail as dan Sayyidatuna Sarah ra ibunda Nabi Ishaq as. Datang kepada Sayyidatuna Hajar ra “itu suamimu, anakmu dibawa keatas bukit mau disembelih” kata syaitan “sengaja katanya ia bermimpi menyembelih anaknya, itu dibawa anakmu mau disembelih diatas bukit”. Kaget Sayyidatuna Sarah ra dan berkata “apakah betul suamiku membawa membawa putraku untuk disembelih?”, maka berkatalah syaitan “buktikan saja, memang begitu”.

Kita lihat iman seorang wanita shalihah, maka berkatalah istrinya “aku takut suamiku ragu-ragu menerima perintahnya Allah..!”, malah ingin diyakinkan oleh Sayyidatuna Sarah ra kalau seandainya Nabi Ibrahim as ada didepannya akan ia bilang “jangan ragu-ragu kalau sudah perintah Allah. Demikian hebatnya iman Sayyidatuna Sarah ra. Maka putranya dibawa keatas bukit dan seraya berkata “wahai ayahku tajamkan pisaumu”. Demikian diriwayatkan didalam Fathul Baari bisharah Shahih Bukhari “tajamkan pisaumu wahai ayah dan jadikanlah pakaianku ini sebagai kafanku karena kita tidak mempunyai kain kafan, kalau nanti kena darah yang mengalir dari tubuhku tidak bisa dijadikan kafan maka jadikan saja pakaian ini kafan maka pakaiannya pun dibuka. Bocah kecil ini pun berkata “wahai ayah ikatlah akau agar aku tidak berontak sehingga kau ragu-ragu menyembelihku nanti” sehingga kepalanya ditaruhkan diatas batu dan Nabi Ibrahim mengangkat pedangnya dan malaikat Jibril membalikkan tangannya pada seekor kambing.

Siapa yang mampu berbuat seperti ini dari kita?, berat mendapat perintah Allah menyembelih anaknya. Akan tetapi Allah mengikat perbuatan ini dengan ummat Nabi Muhammad saw sehingga seluruh ummat Nabi Muhammad saw disunnahkan menyembelih qurban sehingga mendapatkan pahala kemuliaan Nabi Ibrahim as. Demikian Allah mengikat ummat ini dengan banyaknya hal-hal yang mulia dimasa yang terdahulu. Demikian indahnya Sayyidatuna Sarah ra dan Sayyidatuna Hajar wanita-wanita shalihah.

Sampailah kita dimalam hari ini kepada salah satu Qurratul aini li Rasulillah, belahan cinta Nabi Muhammad saw yaitu putri beliau saw Sayyidatun Fathimah tu Zahra ra yang menjadi lambang istri yang shalihah, putri yang shalihah dan ibunda yang shalihah dan sahabiyah yang shalihah. Empat kemuliaan Sayyidatuna Fathimah ra menjadi Qudwah (panutan) sebagai istri yang shalihah, menjadi Qudwah sebagai anak yang shalihah berbakti kepada ayah dan ibunya dan menjadi Qudwah sebagai ibu yang shaleh terhadap anaknya dan menjadi sahabat Nabi saw yang mulia.

Empat kemuliaan ini berkumpul pada Sayyidatuna Fathimah Zahra ra. Ketika datang tamu kepada Sayyidatuna Fatihimah Zahra ra tiadalah ia ingin menemui tamunya sebelum meminta izin kepada suaminya Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw padahal ia adalah putrinya Rasulullah saw.

Penghargaannya kepada suaminya tidak mau menemui tamu terkecuali sudah diizinkan oleh suaminya. Istri yang shalihah dan juga sebagai ibunda yang shalihah, ibunda yang selalu mendidik anak-anaknya dengan didikan yang mulia dengan pengajaran Nabi Muhammad saw. Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari ketika Sayyidatuna Fathimah Zahra ra mengadu kepada Rasul karena selalu menumbuk gandum dengan tangannya sendiri, tangan yang demikian lembutnya tercabik-cabik karena kasarnya daripada alat untuk menumbuk gandum itu. Tangan Sayyidatuna Fathimahtu Zahra ra yang demikian lembutnya yang diriwayatkan oleh Alhafidh Al Imam Muhammad bin Alwi dalam kitabnya bahwa Rasul saw selalu mencium pipinya Fathimah karena pipinya Sayyidatuna Fathimah ra wanginya sama dengan wanginya buah-buahan di surga sehingga Rasul saw jika rindu kepada surga mencium Sayyidatuna Fathimah ra putrinya.

Tangan lembut itu tercabik-cabik terkena kasarnya alat penumbuk gandum, ia harus menumbuk gandum setiap harinya untuk membuat roti sendiri untuk makanan anaknya seraya datang kepada Rasul meminta khadim barangkali ada pembantu yang bisa membantuku dirumah untuk menumbuk gandum wahai ayahku. Rasul saw menjawab “kuberi kau amalan yang lebih indah dari sekedar pembantu yaitu bacalah Subhanallah 33x, Alhamdulillah 33x dan Allahu akbar 34x sebelum tidur, itu akan membuatmu bersemangat dan memberimu kekuatan.

Ini mujarab hadirin, ini terijazahkan oleh guru mulia kita Alhafidh Almusnid Alhabib Umar bin Hafidh setahun yang silam, mengijazahkan setiap akan tidur untuk membaca Subhanallah 33x, Alhamdulillah 33x, Allahu akbar 34x sebelum setiap tidur.

Ini diriwayatkan didalam Shahih Bukhari dan ini adalah amalan yang dipegang oleh putrinya Rasulullah saw Sayyidatuna Fathimah Zahra ra. Kita bertanya kok tega sekali Rasulullah saw tidak mau memberi pembantu kepada putrinya, Bukankah ini putri yang paling disayangi? Kita bertanya apakah Rasul ini kejam mendidik putrinya? Tentunya tidak.

Jawabannya adalah putri beliau ini Sayyidatuna Fathimah ra adalah seorang wanita shalihah yang sangat khusyu dalam beribadah, maka Rasul saw tidak menginginkan anaknya memakan dari makanan yang ditumbuk oleh pembantu agar makanan anak-anaknya yaitu Sayyidina Hasan dan Husein ra langsung mendapatkan makanan dari gandum yang ditumbuk sendiri oleh tangan ibunya, Keberkahan dari ibunya Sayyidatuna Fathimah Zahra ra.

Ini menjadi hikmah bagi kita juga terutama bagi kaum wanita untuk memberi makan anak-anaknya dari tangannya sendiri. Tangan itu lebih membawa keberkahan dari seorang wanita shalih dan ibunya sendiri daripada tangan pembantu. Demikian didikan Nabi Muhammad saw sehingga muncul putra yang shalihin Sayyidina Hasan wal Husein ra yang keduanya menjadi imam besar bagi muslimin dan jadilah Sayyidatuna Fathimah Zahra ra ibunda bagi seluruh dzuriah Nabi saw hingga akhir zaman. Perbuatan yang sedikit menyakitkan tapi keberkahannya hingga akhir zaman.

Demikian hadirin dan beliau juga sebagai putri yang shalihah. Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari ketika Rasul saw ditumpahi kotoran onta saat bersujud, Sayyidatuna Fathimah ra keluar dari rumahnya dan berteriak ”wahai ayahku dan seraya mendudukkan Sang Nabi dari sujudnya dan membersihkan kotoran onta dari pundak Sang Nabi saw seraya menangis dan Rasul saw berkata “wahai Fathimah putriku akan muncul suatu saat bahwa agama islam akan merajai dimuka bumi”. Demikian hadirin-hadirat putri yang shalihah, hari-hari terakhir sebelum wafatnya Sang Nabi, Rasulullah saw memanggil Sayyidatuna Fathimah ra seraya berkata “wahai putriku biasanya Jibril datang kepadaku dibulan Ramadhan satu kali tapi kali ini ia datang dua kali, ini menunjukkan adalah ini tahun terakhirku dan aku akan wafat Wahai putriku”

mendengar ucapan ini maka menangislah Sayyidatuna Fathimah ra, dan berkatalah Rasul saw “wahai putriku apakah kau ridha sebagai kedudukan Sayyidah nisa Ahluljanna..?, kau ini adalah pemimpin seluruh wanita dari penduduk surga” maka seraya tersenyum dengan kabar gembira dari Rasulullah saw. Diriwayatkan oleh para fuqaha kita bahwa beliau tersenyum bukan karena derajatnya sebagai pemimpin wanita ahluljannah tapi karena gembira, karena apa? Karena telah dihibur oleh ayahnya yang menjadi manusia yang paling ia cintai seraya tersenyum karena dihibur oleh ayahnya Rasulullah saw. Sehingga Rasul saw bersabda diriwayatkan didalam Shahih Bukhari .”Sayyidatuna Fathimah tu Zahra ra adalah belahan tubuhku dan akan murkalah aku pada siapa-siapa yang membuatnya marah”.

Demikian hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah, agungnya putri Rasulullah saw ini sehingga jadilah keturunan Rasul saw muncul dari keturunan Sayyidatuna Fathimah Zahra ra sebagaimana firman Allah yang menjadi dalilnya “Sungguh wahai Muhammad kuanugerahkan padamu telaga al kautsar, dan lakukanlah shalat yaitu shalat idul adha, dan setelah itu berkurbanlah. “innasyani’aka huwal Abtar” justru mengatakanmu (Abtar adalah orang yg putus keturunannya) al abtar dialah yang abtar. Jadi Rasul saw ini digelari oleh salah seorang musyrikin abtar, abtar itu apa? Tidak punya keturunan lelaki karena semua keturunan Rasulullah wafat, maka Allah menjawab “innasyani’aka huwal Abtar”yang abtar itu yang putus keturunannya adalah yang mengucapkannya kepadamu bukan engkau saw. Ayat ini dijadikan dalil oleh para muhaddits kita bahwa keturunan Rasul tidak terputus yaitu berlanjut dari keturunan Sayyidatuna Fathimah ra karena Allah menjawab “innasyani’aka huwal Abtar”bukan Rasul yang putus keturunannya, berarti keturunannya Rasul tidak terputus sampai kepada Sayyidina Hasan wal Husein ra yang diakui zumhur oleh seluruh ulama ahlusunnah wal jamaah sebagai keturunan Rasulullah saw.

Demikian hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah, dan Rasul saw sebagai lambang manusia yang menghantarkan seluruh ummat kepada kemuliaan ini sangat dicintai oleh putrinya dan oleh para sahabat sehingga Sayyidatuna Fathimah Zahra ra setelah wafatnya Rasul tidak lagi keluar rumahnya seraya berkhalwat sehingga beliau ra wafat 6 bulan setelah wafatnya Rasulullah saw, setelah mendapat kabar dari Sang Nabi orang pertama yang akan menyusulku dari sahabatku adalah engkau wahai Fathimah. Beliau ra yang pertama kali menyusul ayahnya Rasulullah saw dan disusul oleh Sayyidina Abu Bakar Asshiddiq ra lantas para sahabat lainnya kembali ke alam barzakh, aku dan kalian semoga akan menyusul mereka..

Ketika Sayyidina Zied bin Haritsah ra diriwayatkan didalam Shahih Bukhari salah seorang budak yang ditawarkannya kebebasan untuk kembali kepada ayahnya atau tetap bersama Rasul. Kupilihkan padamu kata Rasul “bebas jadi orang merdeka balik pada ayahmu atau tetap bersamaku?” maka berkata Sayyidina Zeid bin Haritsah ra : “wahai Rasulullah aku tidak memilih orang lain selain mu”, jangan berkata silahkan pilih, Tidak akan kupilih orang lain selain mu ya Rasulullah”. Demikian indahnya cinta Sayyidina Zeid bin Haritsah ra kepada Sayyidina Muhammad saw dan ia bukan seorang sahabat besar dari Khulafaur Rasyidin, bagaimana para Khulafaurrasyidin Nabi?

Sayyidina Abdullah bin Umar ketika Rasul saw telah wafat, ia sedang duduk di Masjid Nabawi, maka terlihat seorang pemuda masuk ke masjid terburu dalam keadaan selesai berwudhu masuk kedalam shaf shalat berjamaah. Berkata Sayyidina Abdullah bin Umar ra : ini anak seperti ini kalau dilihat oleh Rasulullah saw pasti dicintai oleh Rasul”, kenapa? Pemuda yang mencintai sunnah Nabi Muhammad saw. Pemuda berwudhu terburu-buru ingin hadir shalat berjamaah.

Hadirin-hadirat sampailah kita 14 abad setelah wafatnya Rasulullah saw namun tidak bisa memutus cinta kita kepada Nabi Muhammad saw. 1400 tahun jarak antara kita dengan Rasulullah saw kita tidak bisa terputus dengan jarak sepanjang itu, kita tetap mencintai Nabi Muhammad saw. Kita tidak melihat Rasul, tidak berkumpul dengan Rasul, tidak mendengar suara Rasul tapi kita mencintai Nabi Muhammad saw. Inilah yang paling menggembirakan hati Sang Nabi karena beliau tidak gembira melebihi para pemuda yang mengikuti sunnah beliau saw. berkumpul kita dimalam hari ini niscaya kalau Rasulullah saw melihat kita akan mencintai kita.

Hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah penyampaian saya yang terakhir dari sabda Rasulullah diriwayatkan didalam Shahih Bukhari ketika beliau saw berkhutbah di akhir majelis sebelum beliau wafat seraya berkata “Sungguh manusia muslimin semakin banyak..” kata Rasul saw, beliau keluar pakai pengikat kepalanya tanda sakit kepalanya yang demikian dahsyat keluar menuju majelis dan duduk diatas mimbar menyampaikan ucapan “sungguh manusia muslimin akan semakin banyak, tetapi yang mendukung semakin sedikit, bagaikan butiran-butiran garam didalam suatu makanan, sedikit saja, barang siapa yang dipimpin oleh seorang muslim dan ia melihat ada suatu mudharat yang diperbuat oleh pemimpinnya tetapi membawa manfaat bagi kelompok muslimin lainnya maka terimalah perbuatan baiknya dan maafkan kesalahannya”. hadits ini riwayat Shahih Bukhari, pahamlah kita bahwa Rasulullah saw melarang pengingkaran terhadap pemimpin selama ia beragama islam. Rasul saw memilihkan kepada kita pembenahan ummat dari bawah bukan dengan penghancuran dari atas dengan kekerasan.

Inilah wasiat Nabi saw, berkata Imam Bukhari ra setelah Rasul saw mengucapkan ini beliau saw masuk rumahnya, itulah majelis yang terakhir dihadiri oleh Nabi Muhammad saw. Wasiat beliau saw bila muncul kelak orang-orang muslim yang memimpin pada kalian terlihat hal yang mudharat pada perbuatan mereka, pada sebagian muslimin dan masih membawa manfaat bagi sebagian muslimin lainnya terimalah perbuatan baik mereka dan maafkanlah kesalahan mereka, Inilah sabda dan wasiat Nabi kita yang terakhir dari khutbah beliau dimajelis beliau yang terakhir maka tentunya kita semua menerima dengan ucapan “sami’na wa athana ya Rasulullah saw”

Hadirin-hadirat baru beberapa hari yang lalu saya kembali dari Banjarmasin Kalimantan Selatan, demikian luar biasanya Banjarmasin Kalimantan Selatan ini, saya gelari wilayah ini sebagai serambi Madinah Al Munawwarah karena majelis-majelisnya disana majelis mingguannya puluhan ribu yang hadir bukan ribuan, Rasanya Majelis Rasulullah ini sudah demikian besarnya di Jakarta tetapi diwilayah Kalimantan Selatan puluhan ribu yang hadir setiap minggunya dan mereka bershalawat bersama menggetarkan bumi shalawat mereka ini. Puluhan ribu lidah muslimin muslimat, mereka berdatangan dengan motor, dengan mobil, bahkan dengan ratusan perahu sehingga kalau satu kampung ditempat majelis itu salah satu pemimpinnya yang disebut dengan Tuan Guru Syamsuni ia berkata : “Habib ini semua lelaki memenuhi jalanan wanitanya semua didalam rumah, karena satu kampung ini membuka rumahnya untuk menerima tamu-tamu dari kaum Nisa, disetiap rumah sudah ada televisi semua wanita memenuhi seluruh kampung disini. Ini sekitar 20 ribu yang hadir, masya Allah hadirin-hadirat ini Serambi Madinatul Munawwarah. Hadir dimajelis lain lagi puluhan ribu lagi yang hadir, ini majelis mingguan kita belum bicara majelis tahunan mereka, ini Serambi Madinatul Munawwarah.

Hadirin-hadirat akan tetapi Kalimantan Selatan mulai dirasuki dengan kerusakan aqidah yang mulai masuk diwilayah mereka dan kita akan terus untuk insya Allah membantu mereka menegakkan Sunnah Nabi Muhammad saw. Melihat kejadian itu saya bersemangat didalam jiwa ini sungguh niat agung kita menjadikan Jakarta ini Serambi Madinah Munawwarah, akan datang waktunya majelis-majelis maulid Nabi akan dipenuhi puluhan ribu muslimin dari pemuda-pemudi di Jakarta.

Rabbi Ya Rahman Ya Rahim demi hujan yang kau turunkan jadikanlah ini bukti dan saksi bahwa akan datang masa kota Jakarta dan sekitarnya menjadi Serambi Madinah Munawwarah, kota yang paling banyak mencintai Nabi Muhammad saw, mencintai sunnah Rasulullah, mengikuti sunnah Sang Nabi, Jadikanlah kota ini kota Ahlul sujud, kota ahlul khusyu, kota yang mencintai Rasulullah, Yaa Rahman Yaa Rahim Yaa dzaljalii wal ikram inilah doa kami Rabbi akan muncul kelak satu generasi sesudah kami yang akan memakmurkan kota Jakarta dan sekitarnya, dan memakmurkan seluruh Barat dan Timur menjadikan muka bumi ini para pecinta Nabi Muhammad saw, Rabbi kami berdoa dan kami mengikut sertakan dalam perjuangan ini.

Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Rahman Yaa Rahim Yaa dzaljalii wal ikram kami berharap kota Jakarta ini bergemuruh dengan melafadzkan nama Mu yang maha agung, hapuskan seluruh dosa-dosa kami, jawab seluruh hajat kami dengan pengabulan, singkirkan segala kesulitan kami Yaa Rahman Yaa Rahim. Hadirin-hadirat konsentrasikan jiwamu didalam memanggil nama Allah atas seluruh hajatmu, atas semua permintaanmu dan mintalah pengampunan atas dosa-dosa kita dan bimbingan agar kita dibukakan keberkahan dalam sisa kehidupan kita..

Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Rahman Yaa Rahim Yaa dzaljalii wal ikram, salah satu dari doa saya tidak ingin wafat sebelum melihat kota Jakarta menjadi Serambi Madinahtul Munawwarah. Amin Allahumma amin

Posted in Ahlussunnah, Ajaran Wahabi, Bid'ah, Hadits Dho'if, Hukum Islam, Hukum Mazhab, Majelis Dzikir, Majelis Rasulullah, Masjid Nabawi, Maulid Nabi, Nabi Muhammad, Para Habaib, Sejarah Islam, Shalawat Nabi, Sunnah, Tahlilan, Tasawuf, Tawasul, Wali Allah, Ziarah Kubur | Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Ajaran Tarbiyah Rasulullah saw Untuk Para Umatnya

Posted by Teknik Jumper on November 5, 2008

ImageAssalamu’alaikum warohmatullallhi wabarokaatuh,
Hamdan li Robbin Khosshona bi Muhammadin
Wa anqodznaa bi dzulmatiljahli waddayaajiri
Alhamdulillahilladzii hadaanaa bi ‘abdihilmukhtaari man da’aanaa ilaihi bil idzni waqod naadaanaa labbaika yaa man dallanaa wa hadaanaa
Shollallahu wa sallama wa baarok’alaih
Alhamdulillahilladzi jam’anaa fi hadzalmahdhor, Limpahan puji kehadirat Allah, Maha luhur, Maha menguasai kehidupan, Maha menguasai ruh dan menempatkannya di dalam jasad, Maha memilihkan tempat bagi ruh, untuk muncul di dalam jasad hambanya, sehingga ruh itu mempunyai alat untuk berbicara, sehingga ruh mempunyai alat untuk melihat, mendengar dan berbuat dengan pancainderanya,sehingga ruh diberi manqodzah dan derajat yang mulia oleh Allah untuk termuliakan, semakin dekat kehadiratullah jalla wa’ala, sehingga dijadikanlah tubuhnya ini alat untuk mencapai keridhoan Ilahi, sehingga dijadikanlah tubuhnya itu sebagai alat untuk mencapai keridhoan Allah.

Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah, Ketika selesai izin Robbul’alamin bagi seorang hamba untuk hidup di atas bumi Nya, selesai izin baginya untuk makam dan minum dari rizki di atas bumi-Nya, selesai izin dari Allah bagi bamba-Nya untuk memakai panca inderanya dalam hidupnya, maka Allah memisahkan ruh dengan jasadnya. Jasad dikembalikan kepada asalnya diperut bumi dan berpadu dengan tanah dan ruh mendapatkan pembawa kemuliaan yang dibawanya dimasa hidupnya ataupun membawa kehinaan yang ia lakukan dimasa hidupnya. Kembali ruh berpisah dengan jasad sebagaimana sebelum ia masuk ke alam dunia, iapun kembali berpisah dan selesai di alamulbarzah didalam pertanggungan jawab atas setiap detik masa hidupnya dimuka bumi.

Ya Allah yang Maha membangkitkan kealam penyeru kejalan keluhuran, yang seruan sang Nabi ini dilangsungkan dan diteruskan dari zaman-kezaman dari generasi ke generasi cahaya hidayah dilangsungkan oleh Allah dari jiwa mulia menuju jiwa mulia, menerangi hati si fulan menularkan cahayanya kepada jiwa lainnya, demikian rahasia kemuliaan kebangkitan (yaitu) sayyidina Muhammad SAW wabarik ‘alaih. Kemuliaan dari satu jiwa yang dipenuhi hikmah Ilahi, dipenuhi cahaya kemuliaan al-Qur’anulkarim, lantas disampaikan kepada jiwa-jiwa suci Muhajirin dan Anshor, mereka menerima kemuliaan cahaya risalah dan bimbingan-bimbingan sang Nabi, mereka menerima budi pekerti terindah, menyaksikan makhluk yang paling indah, menyaksikan budi pekerti yang paling indah, menyaksikan akhlak yang paling suci, sehingga mereka tenggelam meninggalkan seluruh idolanya, mereka tidak mengenal idola yang lain, selain Nabiyyuna Muhammad SAW, mereka lupa dengan semua yang mereka cintai, mereka asyik kepada manusia yang paling lembut dan berkasih sayang, manusia yang paling banyak tersenyum, manusia yang paling ramah, SAW wabarik ‘alaih, sehingga Allah memuji sang Nabi dalam Firman-Nya: “ Waman ahsana qoulan mimman da’aa ila Allah wa ‘amila sholihan wa qoola innanii minal muslimiin”
“Adakah ucapan yang lebih indah kata Allah selain ucapan orang yang menyeru kejalan Allah dan kepada amal sholeh dan berkata sungguh aku adalah orang yang muslim”

Maka jatuhlah memahaman kita sedemikian banyak para penyeru kejalan Allah dan kepada amal yang sholeh, akan tetapi pemimpin mereka semua Sayyidina Muhammad SAW. Pemimpin penyeru kejalan Allah.
“ Innaa arsalnaaka syahidan wa mubasyiron wa nadziron wa daa’iyan ila Allah bi idznihi wa siroojan muniroo”
Pelita yang terang benderang adalah gelar dari Allah, untuk Nabi-Nya Muhammad SAW. Alangkah indahnya gelar ini digelari oleh Allah “Siroojan muniroo” pelita yang terang benderang, yang para shahabat ketika dalam keadaan sedih maka mereka mencari-cara untuk sampai menghadap sang Nabi sehingga kesedihannya ketika memandang wajah manusia yang paling ramah, manusia yang paling tidak ingin menngecewakan orang lain, (adalah wajah) Muhammad Rasululah SAW.

Ayat demi ayat turun, sehingga kemuliaan demi kemuliaan disampaikan. Kita lihat pada hadits mulia ini, dimana semulia-mulia tuntunan sang Nabi, seraya menjaga kita dengan budi pekerti yang indah “Iyyaakum wazzhon fa innazzhonna akdzabul hadiits”, Hati-hati kalian dengan sangka buruk karena sangka buruk ucapan yang paling dusta”, disini sang Nabi membimbing kita untuk terhindar daripada permusuhan dan perpecahan, diteruskan oleh sang Nabi “walaa tajassasu“ jangan mencari-cari aib orang lain, “walaa tahassasu” jangan berusaha mencari-cari kabar tentang buruknya aib orang lain, “ walaa tabaaghoduu”, jangan saling membenci satu sama lain “walaa yakhthub rojulu ‘alaa khithbatii akhiihi hattaa yankiha auyatruk” akhlak sang Nabi , jangan melamar seorang wanita yang sudah dilamar oleh pria lainnya sampai ia menikahinya atau tidak jadi menikahinya”.

Ini hadirin, adalah tuntunan-tuntunan yang kalau kita lihat biasa saja tapi kalau dijalankan, orang yang melakukan ini akan menjadi pembuka kebahagiaan bagi masyarakatnya, akan dijadikan panutan, akan dijadikan idola, akan dicintai dan akan menjadi sebab terjadinya kebahagiaan dan kesejahteraan di masyarakatnya, muncul 2 orang seperti ini 3 orang , 4 orang 5 orang, dunia ini akan indah bila kita mengikuti makhluk yang paling indah (yaitu) Nabiyyuna Muhammad SAW yang diciptakan oleh yang Maha Indah (yaitu) Allah.

Al-Hafizd al-Iman Ibnu Hajar al-Asgholani dalam kitabnya fathul bari bi syarah Shohihul Bukhari, menukil (mengutip) makna dari hadits ini sekilas, bahwa yang dimaksud tidak boleh melamar wanita yang sudah dilamar oleh orang lain ini, ‘ala sabilil ikroh, makruh bukan haram, tapi dari jalan adab dan menjaga perpecahan, bukan tidak sahnya lamaran, lamarannya tetap sah, kalau seandainya hal itu belum menjadi pernikahan, akan tetapi hal seperti ini hal yang menjadi sebab perpecahan sehingga dilarang oleh Nabiyyuna Muhammad SAW. Rasul selalu menjaga agar kita selalu di dalam kemuliaan, selalu dalam kedamaian, selalu dalam persatuan.

Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah. Dan (dialah) Rasul SAW (yang) menyampaikan kepada kita cara-cara termudah dalam kehidupan. Rasul SAW dari bentuk keindahan tuntunannya, untuk orang-orang dari pada pemuda yang akan melakukan pernikahan ada bimbingannya dari sang Nabi, dalam berumah tangga ada bimbingannya, dalam bermasyarakat ada bimbingannya, dalam bermu’amalah (berbakti) pada ayah dan bunda ada tuntunannya, dalam berbuat kepada anak-anak dan keturunan ada tuntunannya.

Kita lihat bagaimana sang Nabi bersabda riwayat Shohih Bukhori: “Tazawwajuu walau bikhootim min hadiid” nikahlah kalian walau dengan mahar cincin dari besi”. Ini hadirin hadirot hadits yang tampaknya singkat saja, walaupun mengandung sedemikian banyak hikmah-hikmah mulia, disini sang Nabi mengangkat harga terbesar untuk kaum wanita, kalau kita membaca sekilas seakan-akan ini menghina kaum wanita, masa’ mahar dari cincin besi? Berapa harga cincin besi? di jalan juga banyak besi dibikin cincin. Hadirin hadirot justru disini Rasul SAW ingin mengajarkan bahwa mahar bukan untuk membeli wanita, sebagian orang salah paham, mahar adalah untuk membeli dan menghalalkan wanita. Wanita tidak bisa dibeli kehormatannya, oleh sebab itu Rasul SAW memberikan mahar yang demikian kecilnya dalam akad nikah, demi untuk apa? pertama menjaga perzinahan. Banyak pria dan wanita yang sudah ingin menikah tertahan gara-gara belum adanya harta yang banyak, terjadi pernikahan dan kehamilan sebelum menikah, ini yang pertama. Yang kedua menghargai derajat wanita tersebut, menghargainya dengan adab dan akhlak, bukan dengan harta atau emas dan perak, kalau yang menghargainya dengan emas dan perak yang mahar, maharnya sudah sedemikian mahalnya, selesai ia menikah ia berkata; engkau milikku, sudah besar-besar ku keluarkan maharnya, kan kira-kira begitu? tentunya tidak demikian. Islam menghargai kaum wanita. Ini mahar yang demikian tiada artinya, dalam hadiah dipersilahkan mahar semahal apapun.

Hadirin hadirot Rasul meneruskan lagi ”Aulim walau bi syaah” Riwayat Shohih Bukhori, adakan jamuan pernikahan “ jamuan pernikahan itu sunnah, walau dengan seekor kambing yang disembelih saja”. Berfikir puluhan juta, ratusan juta, makin murah makin malu, justru makin mahal makin jauh dari sunnah Nabi Muhammad SAW, semakin besar boleh-boleh saja, tapi yang sunnah adalah yang sederhana. Hadirin hadirot ini yang mesti dipahami oleh muslimin muslimah yang akan menikah atau yang putra-putrinya akan menikah atau yang kelak mempunyai anak yang akan menikah, perhatikan sunnah Nabi Muhammad SAW hal ini membawa keberkahan.

Diriwayatkan dalam Shohih Bukhori: “lewatlah seorang pemuda yang kaya raya non muslim, Rasul berkata : apa pendapat kalian tentang pemuda ini? maka orang yang disekitarnya berkata: orang kaya raya, orang merdeka, melamar siapa pun pasti diterima, kalau ia berbicara pasti didengar ucapannya, kalau ia minta tolong semua orang akan menolong, kalau dimintai pertolongan semuanya dia akan mampu memberikan pertolongan. Lalu lewat orang kedua, pemuda yang miskin muslim, pendapat kalian apa tentang pemuda ini? Maka mereka berkata: pemuda ini muslim tapi miskin, kalau seandainya ia dimintai bantuan belum tentu ia mampu membantu, kalau ia meminta bantuan belum tentu ada yang mau membantunya, kalau ia berbicara belum tentu orang mau dengar ucapannya, maka Rasul SAW bersabda : “Ini (menunjuk kepada pria yang miskin tadi) lebih afdhol dari sepenuh dunia pria yang tadi. Pria yang tadi sepenuh dunia ini lebih afdhol”.

kita Tanya, kenapa Rasulullah berbuat seperti itu? Rasul ingin mengangkat derajat dan kemuliaan yang hakiki dalam kehidupan, inilah kemuliaan, inilah hal-hal yang sangat luhur, dan inilah hal yang hina dimata Allah SWT. Ukuran kekayaan bukanlah ukuran, karena kehidupan dunia sementara, setelah itu ada yang kaya raya dengan istana megah yang kekal, merekalah orang yang bertaqwa kepada Allah. Kekayaan dan kemiskinan di dunia hanyalah sandiwara dan sementara saja, kesedihan dan kegembiraan di dunia adalah sesaat dan setelah itu akan muncul dua tempat bagi setiap orang yang hidup di atas permukaan bumi, dua tempat. Tempat yang orang-orang diridhoi oleh Allah yaitu surganya dalam kebahagiaan yang kekal, atau dalam kemurkaan Allah dalam api neraka, hanya dua tempat, tidak ada tempat yang ketiga, kalau tidak disini ya disini, kalau tidak disurga pasti dineraka, kalau tidak dineraka pasti disurga, salah satu dari dua, kemana kita? Demikian hadirin hadirot yang dimuliakan Allah.

Diriwayatkan, dari pada bentuk indahnya budi pekerti sang Nabi SAW oleh Shohih Bukhori: Rasul SAW memerintahkan kami tujuh hal kata para shahabat: yang pertama “ ’iyaadatul mariidh” menjenguk orang-orang yang sakit; Kita bertanya, ya ini hal sangat remeh, menjenguk orang sakit, tapi kalau kita dalami maknanya hadirin hadirot, diriwayatkan dalam Shohih Muslim, hadits qudsi Allah SWT berfirman: “Wahai hamba-Ku Aku sakit dan kau tidak menjenguk-Ku”, maka hambanya bertanya: Robbii bagaimana kami menjenguk-Mu? Sedangkan Engkau Robbul’aalamiin, maka Allah menjawab: “fulan, hamba-Ku sakit kau tidak menjenguknya “Lau’udtahu lawajad tani ‘indak, kalau kau menjenguknya, akan kau temukan Aku (kata Allah) berada disebelahnya”, bukan berarti wujudnya Allah, tapi bentuk besarnya keridhoan Allah SWT bagi orang yang menjenguk orang yang sakit. Orang yang menjenguk orang yang sakit hadirin hadirot, disini ada bentuk kekuatan, kekuatan apa? Kekuatan shilah dan hubungan dengan orang itu dan keluarganya, orang yang sakit, apabila ia dijenguk, ia tidak akan lupa selama-lamanya, saat aku sakit fulan yang menjengukku fulan, seandainya ia wafat keluarganya pun tidak akan lupa, saat almarhum sakit yang menjenguk si anu si anu si anu, ini perbuatan satu dua menit hadirin hadirot, akan tetapi menyambung shilah sedemikian panjangnya seumur hidup, bahkan sampai yaumil qiyamah.

Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah.
Demikian hebatnya sang Nabi mengajarkan satu dua menit perbuatan, bisa menyambung silaturrahminya dunia dan akhirat dengan orang tersebut dan keluarganya “ ‘iyaadatul maridh” bathinnnya ia mendapat keridhoan Allah sebagaimana hadit qudsi tadi, dzohirnya ia menyambung hubungannya kepada yang sakit dan keluarganya. Yang kedua, adalah “Tasymitul ‘aathis” yaitu “mengucapkan doa “Yarhamkallah” bagi orang yang bersin”, masa’ sunnahnya Nabi hanya urusan bersin saja pakai didoakan, pakai diperintah. Hadirin hadirot disini tersimpan dahsyatnya rahmatnya Allah SWT bagi orang yang memperbuatnya, karena ketika seseorang bisa mendoakan saudaranya, walau saudara hanya bersin saja, apalagi kalau saudaranya ditimpa sakit yang keras, bersin saja ini penyakit paling ringan sudah diajarkan doa oleh Nabi Muhammad SAW, doa itu muncul, melihat kesulitan saudaranya walaupun hanya besin, ini hebatnya sunnah Nabi Muhammad SAW mendidik dan mentarbiyah jiwa, untuk sampai kepada rahmat-Nya Allah SWT , karena Allah SWT akan menyayangi orang-orang yang menyayangi makhluk-Nya.

Selanjutnya yang ketiga “ Ittibaa’ul janazah” mengikuti dan mengantar jenazah”, kita jadi Tanya, urusan apa dengan mengantar jenazah? Rasul SAW bersabda, diriwayatkan dalam Shohih Muslim: “Barang siapa yang mengantar jenazah sampai mensholatkannya ia mendapat satu qiradh dan bila ia meneruskannya sampai menguburkannya ia mendapat pahala dua qiradh yang setiap satu qiradhnya bagaikan gunung uhud”, berapa menit kita mengantar jenazah? berapa menit mensholatkannya? berapa menit menguburkannya? barang kali paling lama dua jam saja, itu tersimpan pahala dua gunung uhud, lalu kita beribadah siang malam seratus tahun belum tentu terkumpul sebesar pahala dua gunung uhud, ini dijadikan oleh Allah SWT, pahala besar karena apa? demi muslimin muslimah, menyambung silaturrahmi kepada saudaranya, walaupun saudaranya telah wafat, wafat masih dikejar oleh muslimin muslimah karena tersimpan rahasia keridhoan Allah SWT, manfaat dari mayit, sekarang, bagaimana mayit memberi manfaat? Jelas hadits Nabi Muhammad SAW, ikut mensholatkannya, ikut menguburkannya, rahasia kemuliaan Allah dan keridhoan-Nya demikian besar dan dahsyatnya.

Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah SWT.
Yang keempat, Rasul meneruskan sabdanya “wanashril madzlum” dan menolong orang-orang yang teraniaya”, Menolong orang yang teraniaya, ini pahala besar, karena doa mereka tidak akan dihalangi oleh Allah, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW yang telah kita baca beberapa pertemuan yang lalu : “Ittaquu da’watal madzlum fainnahu laisa bainahu wa bainallahi hijaab“ hati-hatilah kalian pada doa orang-orang yang didzolimi karena tidak ada batas yang membatasi doa mereka dengan Allah SWT”. Orang yang dianiaya doanya diijabah oleh Allah SWT, Rasul mengajarkan apa, untuk membantu orang yang teraniaya, orang yang teraniaya, saat dibantu pasti berterima kasih dan mendoakan orang-orang yang membantunya, ijabah dari Allah SWT muncul, berkat perbuatan ini. Ini siasat sang Nabi mentarbiyah umatnya untuk selalu mendapatkan keuntungan besar dalam pahala-pahala, dibuka oleh Rasul SAW rahasia-rahasia kemuliaan.

Diriwayatkan pula dalam riwayat yang tsiqoh (riwayat yang kuat dan jelas sanadnya) , ketika salah seorang rahib dari Bani Israil, ia beribadah memisahkan dirinya dari keluarganya dari semua orang, memisahkan diri disebuah lembah tak kenal siapa pun, tidak mau berteman dengan siapa pun, membangun rumahnya sendiri, ada kebunnya, ada danaunya ada segalanya, ia tidak mau kenal dengan orang lain, hanya ibadah, lantas syaithon tidak puas melilhat orang ini, maka syaithon pergi melihat kampung terdekat dari pada rahib ini, syaithon melihat ada wanita yang sakit jiwa, ayahnya mencari obat tidak sembuh, kakaknya, ibunya sudah membawanya berobat kesana kemari, tidak ada penyakit dan tidak ada kesembuhan, syaithon berkata: ini, akan kujadikan cara untuk merusak rahib tadi, rahib seorang pemuda, ini wanitanya sakit jiwa, syaithon datang melalui mimpi kepada ayahnya, ini hadirin berhati-hati terhadap mimpi, mimpi walaupun melihat wajah orang suci, terang benderang, hati-hati kalau mengajak kepada kemunkaran, bisa jadi syaithon, kecuali mimpi saiyyiduna Muhammad SAW, pengecualiaan, sabda Rasulullah “Man ro’aani fil manaam faqod ro’aani walaa yatamatssalusyaithoonu bih“, barang siapa yang melihat aku dalam tidur sungguh ia telah melihat aku dan syaithon tidak bisa menyerupaiku” . indah sekali dan mulia satu ciptaan yang tidak bisa diserupai syaithon, saiyyuduna Muhammad SAW. Kembali kepada hikayah tadi, syaithon masuk dengan bentuk orang yang sholeh, wajah bercahaya, berkata kepada orang itu: “mau putrimu sembuh? Pergi kerahib itu, disana ada rahib ahli ibadah, taruh disana, titipkan disana, sembuh!” (lalu) Ia (syaiton) datang kepada kakak wanita yang sakit, pada ibunya, dengan mimpi yang sama, dimalam yang sama, keesokan harinya, ayah bercerita semalam aku mimpi begini-begini, istri berkata aku juga mimpi, kakaknya berkata aku juga mimpi, kalau begitu kita titipkan disana, (lalu) rahib menolak, aku tidak mau teman, jangankan wanita, pria saja aku tidak mau, karena akan menggangguku dari ibadah, apalagi wanita yang bukan muhrim, maka setelah dibujuk dan dibujuk, syaihton pun membisikan dalam hatinya terima saja, barangkali ibadah, nih hadirin hadirot, hati-hati dengan khali, khali itu adalah wanita dan pria yang sudah dewasa berada ditempat yang menyendiri dari orang lain. Ini bahaya (kalau) menyendiri, kalau ditempat ramai maka akan terhindar dari fitnah tapi kalau ditempat yang sepi?. Maka rahib pun menerimanya, “silahkan, tapi jangan dirumahku, disebelah, kau bangun rumah khusus untuknya, aku tidak akan berbuat apa-apa selain membawakan makanan untuknya dan mendoakan”, (kata rahib) maka ditinggalah mereka berdua dilembah ini, ini yang sangat berbahaya, karena yang ketiganya syaithon, betul saja syaithon membujuk, “jangan cuma diberi makan, ajak bicara, ini cuma berdua tidak ada orang lain, tidak ada walinya, tidak ada tetangganya, tidak ada saudara, tidak ada teman” (kata Syaiton) rahib itu mulai mengajak bicara, duduk bersamanya, dan akhirnya menghamilinya, tidak ada yang lihat, syaithon masuk lagi kedalam hatinya, “perempuan ini sudah hamil, sebentar lagi keluarganya datang, habis kau nanti, bagaimana cara yang terbaik? Cara yang terbaik bunuh saja! Bunuh, kuburkan, tidak ada yang tahu, katakan saja wanita ini wafat, sakit, semua percaya padamu, kau kan rahib”, (kata Syaiton), ia (rahib) pun membunuhnya. Orang yang tidak pernah berbuat dosa ini terjebak pada zina, syaithon tidak puas dijebak dengan pembunuhan, setelah terbunuh, syaithon belum puas, ia datang lagi kepada keluarganya, ayahnya, ibunya, lewat mimpi lagi, putri kalian dihamili oleh rahib itu, dia akan memungkiri, kalau tidak percaya gali kuburnya, buktikan putri kalian hamil atau tidak. Masyarakat keluar beramai-ramai mendatangi rahib, rahib ditanya betul kau telah menghamilinya? mana putri kami? wafat, dimana kuburannya? disini, kau menghamilinya? tidak, bongkar makamnya buktikan, terbukti hamil, rahib lari kerumahnya, dikejar oleh masyarakat sekitar dan syaithon muncul dengan wujud manusia, syaithon muncul dengan wujud manusia hadirin, teriwayatkan dalam beberapa riwayat Shohih Bukhori, pada para shahabat syaithon muncul dengan wujud manusia, lalu syaithon berkata; “wahai rahib aku yang membuat ini semua, aku cemburu melihat kau berbuat baik, ku datang kesana lewat mimpi, aku yang membisikanmu untuk berbuat zina, aku yang membisikanmu untuk membunuh, sekarang mereka sudah diluar, sebentar lagi mereka masuk, kau dibunuh sebagai pezina dan sebagai pembunuh, kalau kau mau mengikuti syarat yang kuberikan, akan kututup kau, orang tidak akan melihatmu, setelah itu, kamu boleh ibadah sepanjang hidupmu, satu syarat padaku”, “apa syaratnya” kata rahib, sekarang kau sujud padaku dan yakini akulah berkuasa atas segala sesuatu, rahib tidak tahan melihat ini, iapun sujud kepada syaithon dan berkata “kau berkuasa atas segala sesuatu” Pintu terbuka, masyarakat masuk dan membunuhnya, rahib ini, yang tidak pernah berbuat dosa, tenggelam didalam perzinahan, tenggelam dalam pembunuhan, wafat dalam kekufuran.

Demikian berbuatan syaithon, hal seperti ini hadirin bukan merisaukan kita, merisaukan sayyidul wujud Nabi Muhammad SAW, beliau tidak diam, beliau berikan kepada kita azimah untuk menjaga dari ini.

Di riwayatkan dalam Shohih Bukhori, Barang siapa yang mengumpuli isterinya dan membaca: “Bismillah wa jannibnisyaithon wa janniibisyaithon maa rozaqtanaa”, maka ketika ia memiliki keturunan, “Lam yadhurrahusyaithonu abadaa”. Orang yang ketika akan mengumpuli isterinya mengucap: bismillah wahai Allah jauhkan syaithon dariku dan jauhkanlah syaithon dari apa yang akan Engkau berikan, jika ia mempunyai keturunan maka tidak akan bisa dimudhorotkan dan dicelakakan oleh syaithon selama-lamanya” bersih. Ada azimat yang bisa membentengi dari godaan syaithon? Tidak ada, kecuali azimat sayyidina Muhammad SAW, demikian hebatnya sunnah sang Nabi menjaga umatnya jangan terjebak dengan kekuatan syaithon. kita bertanya, lalu bagaimana mereka yang terlepas dari kemuliaan itu? Rasul mengajak lagi, diriwayatkan dalam riwayat yang tsiqoh dan shohih “Barang siapa yang membaca bissmillahilladzi laa yadhurru ma’a ismihi syaiun fil ardhi walaa fissamaa wa huwassamii’ul ‘aliim tiga kali setiap harinya Allah akan menjaganya daripada kecelakaan godaan syaithon”, demikian hebatnya sang Nabi menjaga kita hadirin hadirot, dibentengi jangan sampai terjebak syaithon, jangan sampai terkena tercelakakan oleh musibah.

Riwayat lainnya dalam Shohih Muslim dikatakan; seorang sahabat mengadu kepada Rasulullah, ya Rasulullah semalam aku digigit kalijengking, Rasul berkata jika engkau membaca setiap hari “ a’uudzu bikalimaatillaahi taammaati min syarri ma kholaq” ia tidak akan digigit hewan berbisa”, jaminan dari Nabiyyuna Muhammad SAW, sampai digigit hewan berbisa pun Rasul menjaga kita, jangan sampai digigit hewan berbisa, jangan sampai dicelakakan oleh syaithon, ini penjagaan sang Nabi kepadaku dan kepada kalian dan kepada seluruh umatnya.

Telah benar Firman Allah yang telah berfirman “Laqod jaakum rosulun min anfusikum ‘aziizun ‘alaihi maa ‘anittum hariisun ‘alaikum bil mu’miniina rouufurrohiim” telah datang kepada kalian seorang rasul yang menjaga kalian dan sangat berat memikirkan musibah yang menimpa kalian dan kepada orang-orang beriman itu sangat berlemah lembut”. Dijaga hadirin hadirot, lebih dari ayah dan ibu, jangan kena hewan berbisa jangan terkena godaan syaithon, jangan sampai wafat dalam su’ul khotimah, ini sunnahnya, ini sunnahku, jangan berbuat ini, jangan berbuat itu, dijaga lebih dari ayah dan bunda kepada anak-anaknya, inilah idola kita, Nabi kita Muhammad SAW wabarok’alaih.

Besarnya cinta beliau kepada umatnya, terlepas dengan ucapan “Syafa’atii li ahlil kabaair min ummatii” syafa’atku akan kuberikan kapada umatku yang berdosa besar”. Adakah orang yang lebih baik dari ini? Adakah orang yang lebih lembut dan lebih mulia dan berhak untuk dicintai melebihi ini? Hadirin hadirot, dimasa itu kita harus bertanggung jawab atas segala dosa, dimana ayah dan ibu ingin mencelakakan anaknya, dan anak ingin mencelakakan ayah dan ibunya, suami ingin menjerumuskan isteri dan isteri ingin menjerumuskan suaminya asalkan selamat dari siksa Allah, disaat itu ada yang berkata “Syafa’atii li ahlil kabaair min ummatii” idolaku dan idola kalian idola muhijirin (para sahabat yang hijrah dari Makkah ke Madinah) dan anshor (para sahabat yang sudah tinggal diMadinah sebelum Rasulullah hijrah), idola para wali Allah, Nabiyyuna Muhammad SAW.

Hadirin hadirot, camkan, renungkan, ini akhir dari membahasan dan pembicaraan kita dimalam ini, renungkan, suatu saat, jika aku dan kalian beruntung, melewati sedemikian banyak medan-medan yang aneh, yang setelah itu sampailah kepada istana-istana megah, surganya Allah, itu akan sampai kepada kita dan disaat itu ada majlis-majlis, tempat-tempat duduk perkumpulan-perkumpulan, dimana orang-orang bisa berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW, jika engkau masuk kedalam surga kau pasti berjumpa dengan beliau, disaat itu bebas, kamu ingin mencium tangannya, ingin memeluknya, ingin mengadu; Ya Rasulullah aku dahulu terkena musibah ini dan itu dan lain sebagainya, silahkan, disaat itu kita bebas bertemu dengan Rasulullah SAW, Rasul menjamu para umatnya untuk jumpa dengan beliau diistana yang termegah tentunya, disurga Allah tidak ada istana yang lebih megah dari istana Nabi Muhammad SAW, dan para tamu berdatangan menyalaminya dan terus dan terus demikian, apakah ini akan datang kepada kita? satu dari dua, kalau tidak kenikmatan hidup maka kobaran jeritan api neraka.

Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah, tentunya kita berharap ya Robbii kami bersangka baik Engkau masukan seluruh kami kedalam surga-Mu Robbi, “ana ‘inda zdonni ‘abdi bii, Aku berada dalam sangkaan hamba-Ku”. Robbi kami semua yakin, bahwa Engkau akan memasukan kami kedalam surga-Mu, dan mengampuni kami. Seorang hamba dipanggil oleh Allah SWT dan telah dihitung amal-amal ibadahnya, dan lebih berat dosanya, ia digiring masuk kedalam api neraka, dan ia berhenti seraya berbalik; Robbii, dimasa hidup aku kira Kau tidak akan memasukanku kedalam surga, Allah berkata; masuk surga sekarang dengan sangka baikmu kepada-Ku, akankah sangka baikmu kepada Allah akan memastikanmu masuk kedalam surganya Allah SWT, ya Robb jangan salahkan kami bila bersangka baik Engkau akan memasukan kami kedalam surga, ya Robb didalam surga itulah kami berjumpa makhluk yang paling indah dan paling Kau cintai, disaat itu pastikan kami jumpa dengan idola kami (yaitu) Nabiyyuna Muhammad SAW, ya Robb kami mendengar sabda beliau “akan kalian lihat hal-hal yang kalian ingkari dari musibah dan kesulitan dalam hidup, “Fashbiruu hatta talqounii ‘alaa haudh” bersabarlah sampai kalian jumpa dengan aku ditelaga haudh”. Ya Robb pastikan kami dalam kelompok yang bersabar dalam hidup, pastikan kami jumpa dengan beliau ditelaga haudh, “Fashbiruu hatta talqounii ‘alaa haudh” sabarlah kalian sampai kalian jumpa dengan aku ditelaga haudh”, kami telah menganggap Robbii, ucapan kalian itu pada kami, yang bersabar 14 abad setelah beliau wafat, dan kami masih mengikuti sunnahnya, Robbii kami terjebak dalam dosa dan kesalahan dan hanya Engkaulah yang bisa mengangkat kami dari jebakan dosa dan perangakap syaithon, Robbi demi kemuliaan sunnah NabiMu Muhammad SAW selamatkan kami, hingga wafat dalam husnul khotimah, selamatkan kami untuk mencapai lezatnya khusu’ selamatkan kami dari kobaran api neraka ya Robb, jangan ada satu nama pun dari kami yang hadir, yang akan menginginkan api neraka, ya Allah, haramkan semua dari kami dari kobaran api neraka ya Robb, dari dahsyatnya siksa kubur, dari rintihan di alamul barzah, ya Allah ya Rahman ya Rahim ya dzaljalaali wal Ikrom, kami menjerit memanggil-Mu, dimajlis ini agar tidak terjadi jeritan kami di api neraka kelak ya Robb ya dzaljalaali wal ikrom ya dzat thouli wal in’aam, ketika Engkau bertanya kepada kami atas perbuatan kami, maka tentunya kami akan Kau adili dan masuk kedalam kemurkaanMu dan neraka, tapi jika Kau adili kami dengan rahmat-Mu dan syafa’at nabi-Mu, maka kami akan sampai kedalam surga, ya Robb ya Rahman ya Rahim pastikan kami mendapatkan syafa’at Nabi Muhammad SAW wa barok ‘alaih, pastikan kami bebas dari api neraka, ya Allah ya Rahman ya Rahim, bebaskan kami dari siksa kubur, bebaskan kami dari jeritan di alam kubur, bebaskan kami dari lolongan di alamul barzah, ya dzaljalaali wal Ikrom dan bebaskan kami kami dari musibah dan kesulitan didunia, Robbi Robbi ya dzaljalaali wal Ikrom, telah berjanji Nabi kami Muhammad SAW “Almar,u ma’a man ahab” seseorang bersama dengan orang yang ia cintai”. Ya Rahman ya Rahim, walaupun kami terbenam dan terperosok dalam jebakan dosa, tapi ada kecintaan dalam jiwa kami kepadaMu dan kepada NabiMu, ya Rahman ya Rahim, jika kami mengingat keindahan perjumpaan dengan Nabi kami maka disaat itu tidak ada lagi kenikmatan yang lebih, terkecuali berjumpa dengan dzatMu yang Maha Indah ya Allah ya Rahman ya Rahim “Allahummarzuknan nadzor ilaa wajhikal kariim” wahai Allah beri kami kesempatan memandang dzatMu yang Maha Indah”. Ya Allahu ya Allahu ya Allahu ya Allahu ya Allahu, “Allahummarzuknan nadzor ilaa wajhikal kariim” wahai Allah beri kami kesempatan memandang dzatMu yang Maha Indah, yang Maha Indah, yang Maha Indah, “Allahummarzuknan nadzor ilaa wajhikal kariim” “Allahummarzuknan nadzor ilaa wajhikal kariim” “Allahummarzuknan nadzor ilaa wajhikal kariim”, halalkan mata ini memandang dzatMu yang Maha Indah “Allahummarzuknan nadzor ilaa wajhikal kariim” “Allahummarzuknan nadzor ilaa wajhikal kariim” “Allahummarzuknan nadzor ilaa wajhikal kariim” ilaa wajhikal kariim” ilaa wajhikal kariim” ilaa wajhikal kariim” nadzor nadzor nadzor´ memandang memandang memandang dzatMu yang Maha Indah. Manusia yang terakhir keluar dari api neraka, berpuluh ribu tahun ia terus diteropang dan melolong di dalam neraka, ketika ia dipanggil oleh Allah, Allah menyikapkan tabir keindahan dzat-Nya, sehingga hampir melihat indahnya Allah, lalu Allah bertanya ; hamba-Ku pernahkah kau merasakan siksa neraka? Hamba itu berkata; tidak pernah ya Allah, dari indahnya memandang dzat Allah, hadirin hadirot jadikan malam-malam, malam doa dan munajat, mari kita akhiri perjumpaan ini dengan munajat, memanggil nama-Nya yang Maha Indah, ya Rahman ya Rahim ya dzaljalaali wal ikroom, demi keindahan dzat-Mu, demi kerinduan kami kepada-Mu padamkan seluruh dosa-dosa kami dan dosa kedua orang tua kami, halalkan seluruh dosa kedua orang tua kami, jangan sisakan sebutir dosapun pada pada mereka terkecuali telah Kau hapuskan, ya Robb ya dzaljalaali wal ikroom ya dzathouli wal in’aam ya Allahu ya Allahu ya Allahu ya Allahu ya Allahu ya Allahu ya Allahu ya Allahu ya Allahu, hadirin hadirot nikmati indahnya nama Allah, sejukkan jiwamu dengan nama-Nya, padamkan seluruh musibahmu dengan menyebut nama-Nya, singkirkan segala kesulitanmu dengan memanggil nama-Nya, Allah ya Rahman ya Rahim.

Hadirin hadirot hal yang perlu saya sampaikan, insya Allah, Allah telah mengizinkan kita untuk memulai mengadakan maulid tahunan Majelis Rasulullah SAW, beberapa bulan yang lalu, kita berbicara belum memungkinkan mengadakan majelis tahunan Majelis Rasulullah, akan tetapi tahun ini Alhamdulillah insya Allah, telah Allah izinkan kita mengadakan maulild tahunan, kita akan mengadakannya pada tanggal 12 Robi’ul Awal tepat, dipagi hari, acara dari jam delapan sampai sebelum dzuhur, kira-kira dua jam saja dan kita perkirakan hadirin melebihi 100 ribu muslimin muslimah, ini akan semoga menjadi maulid terbesar dibumi Jakarta dan sekitarnya.

Hadirin hadirot tempat yang telah kita tetapkan dan kita arah adalah stadium utama senayan Jakarta, akan tetapi karena baru saja kabar didahului oleh partai P3 mengadakan acara disana, maka kita tidak bisa mengadakan acara disana, saya pindahkan keistora senayan, ternyata juga sudah didahului oleh orang lain dalam acara-acara nasrani karena setiap harinya ada acara nasrani, oleh sebab itu kita mengalihkan acara di monas, insya Allah dimonumen nasional, kita akan mengadakan Maulid Akbar dan ini kita akan jadikan momen untuk terangkatnya sang idola sayyiduna Muhammad SAW dibumi Jakarta, dijantung kota Jakarta, kita deklarasikan idola yang paling berhak dimuliakan dibumi Jakarta sayyiduna Muhammad SAW. Artis-artis punya idolanya, bintang film ada idolanya, artis-artis dan panggung–panggung maksiat punya puluhan ribu idolanya, kita tunjukan panggung terbesar dibumi Jakarta, panggung sayyiduna Muhammad SAW, idola terbesar dibumi Jakarta, sayyiduna Muhammad SAW, hadirin hadirot dalam acara ini, kita tidak meleraikan partai politik manapun, justru kita mengundang seluruh pimpinan partai politik untuk mengakui bahwa idola kita sayyiduna Muhammad SAW, semua partai akan kita undang pimpinannya, untuk hadir dan melihat inilah kelompok orang-orang yang mengidolakan Rasulullah SAW, dan semua partai, kita akan harapkan untuk mendukung idola kita Nabi Muhammad SAW. Hadirin hadirot, agar dipilihlah oleh semua partai dan kelompok politik bahwa kelompok sayyidina Muhammad lebih besar dari partai lainnya. Ini kita mengundang dari seluruh stasiun televisi, kita mengundang dari seluruh surat kabar, agar diliput, dilihat oleh seluruh Indonesia dan semoga menular nanti, terdapat maulid agung di bandung, di semarang dan wilayah lainnya, akan terus insya Allah menular kekota-kota besar lainnya, kita jadikan ini momen besar dan fatha akbar untuk wilayah bumi Jakarta, demikian hadirin hadirot, minggu yang lalu kita membuka fatha akbar diwilayah depok yang selalu terhalangi dari maulid, Alhamdulillah telah dibuka oleh Allah, insya Allah kita jadikan 12 Robi’ul awal fatha akbar untuk Jakarta, amin Allahumma amin.

Agar sang Nabi dijadikan idola terbesar, sehingga masyarakat yang belum mengenal kemuliaannya, akan melihat bagaimana dahsyat dan banyaknya para pembela sayyidina Muhammad SAW, demikian hadirin hadirot, kita wujudkan cita-cita kita, menjadikan Jakarta ini serambi Madinatul Munawarah, kota yang paling ramai dengan maulid Nabi Muhammad SAW, kalau beliau dijadikan idola, ini hadirin yang hadir insya Allah melebihi 100 ribu muslimin muslimah, ini akan semakin aman Jakarta dari narkotika, dari MIRAS, dari perjudian, dari mabuk-mabukan, akan terkikis dengan banyaknya para pemuda yang beridolakan Rasulullah SAW, hingga sunnah beliau dicintai, dimuliakan dibumi Jakarta ini. Amin.

Posted in Ahlussunnah, Ajaran Wahabi, Bid'ah, Hadits Dho'if, Hukum Islam, Hukum Mazhab, Majelis Dzikir, Majelis Rasulullah, Masjid Nabawi, Maulid Nabi, Nabi Muhammad, Para Habaib, Sejarah Islam, Shalawat Nabi, Sunnah, Tahlilan, Tasawuf, Tawasul, Wali Allah, Ziarah Kubur | Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Dakwah Majelis Rasulullah Di Manokwari Papua Irian Barat

Posted by Teknik Jumper on October 26, 2008

ImageImageSelasa 7 Oktober 2008, Kami, tiga personil, Munzir almusawa, Sdr Saeful Zahri, dan Sdr Hamidi Sanusi. Selasa, 22.45 WIB kami meninggalkan Bandara Soekarno Hatta Jakarta menuju Ujung Pandang untuk pindah pesawat, kami tiba di Ujung pandang pk 23.45 WITA (00.45 WIB), lalu meneruskan perjalanan menuju Manokwari Irian Barat,

Pagi Rabu 8 oktober 2008, kami tiba di Manokwari pk 7.45 WIT (5.45 wib). Pelukan hangat dan haru dari KH Ahmad Baihaqy membuat saya bertanya tanya, beliau mendahului saya ke Manokwari ini hanya sekitar dua minggu, namun beliau memeluk saya seakan akan sudah bertahun tahun tak jumpa, firasat saya mengatakan bahwa beliau menemui medan dakwah yang sangat berat, dan memang ternyata firasat saya benar, ketika kami keluar dari Bandara kami melihat dari beberapa mobil yang diparkir (bandara disana sangat sepi), saya melihat ada dua buah mobil Land cruiser hijau dan merah yang menyolok dari mobil lainnya, kekar dan gagah dilengkapi lampu kabut dan lampu biru sirene diatasnya, dan memang mobil itulah yang kemudian mengantar kami ke medan dakwah yang sangat berat.

ImageHarga penyewaan mobil itu 4 juta rupiah per hari, maka dua mobil itu digunakan dua hari total 18 juta rupiah, dan memang tak ada mobil yang bisa melintas kewilayah wilayah itu kecuali mobil mobil tertentu karena medan yang demikian berat, dan memang mobil sangat sedikit pula, dan jarang yang mau menyewakan untuk jarak jauh kecuali dengan harga yang mahal.

Kami dijamu makan pagi dirumah salah seorang tokoh muslim di Manokwari, lalu kami melanjutkan perjalanan ke wilayah Ransiki, yaitu kampung halaman puluhan santri KH Ahmad Baihaqi yang baru saja beliau asuh di kediaman beliau Jakarta selama dua tahun berselang.

Jalan yang beraspal namun sangat sempit itu sangat jarang dilalui mobil, barangkali dalam 10-15 menit kita baru menemui motor atau mobil lain yang melintas, sepanjang jalan saya lebih banyak menangis daripada bicara, walau diselingi canda dan percakapan, namun airmata ini terus tak tertahan, hati bagaikan teriris iris melihat banyaknya gereja, besarnya lambang salib, dan papan papan pengumuman besar yang bertuliskan : “MANOKWARI KOTA INJIL”, dan tak ada iklan lain yang terpampang dihampir setiap tikungan jalan diperjalanan itu selain kalimat itu.., kalimat yang sangat menyesakkan hati..

Saya terus berharap dan berharap jika melihat ada beberapa rumah (disana yang disebut perkampungan adalah beberapa rumah saja), saya sangat berharap melihat masjid, dan ternyata setiap ada bangunan besar mestilah Gereja, walau ada beberapa masjid saja namun sungguh sangat terkucil dan sedikit,

Ditengah tengah hutan atau kampung yang kita lewati jika tampak ada orang maka saya berharap harap dengan mata yang sibuk mencari cari ingin melihat seorang muslim, dengan pakaian peci putih atau peci hitam, atau wanita berjilbab, namun sepanjang jalan sekitar 3 jam perjalanan tak saya temukan pemandangan itu..

Saya terus membatin dan merintih.. Bumi ini milik Allah.. kenapa yang makmur adalah rumah rumah penyembahan pada selain Allah..?, bukankah Indonesia adalah negeri muslimin terbesar di dunia..?, lalu kemana muslimin di pulau terbesar ini..?

Kupandangi wajah wajah mereka yang kita lewati, dan hati terus berdoa : Wahai Allah, jadikan orang ini muslim.., jadikan ia mengenal sujud.., jadikan ia ummat nabi Mu.., wahai Allah jangan matikan ia dalam agama ini.. doa ini tak habis habisnya terbersit dihati.., jika melihat anak anak yang bermain gembira di sekitar sekolah gereja maka aku menangis lagi, Rabbiy anak anak ini.. wahai tuhanku anak anak ini.., jangan kau jadikan mereka pastor pastor yang memerangi muslimin kelak.. hingga akan murtad ditangan mereka banyak muslimin.. Wahai Tuhanku.. jangan..

Ingin rasanya saya turun dari mobil dan bersujud dan menangis sekeras kerasnya dalam sujud.., Tidak saya melihat ada Baliho besar atau papan pengumuman kecuali bertuliskan “MANOKWARI KOTA INJIL..”, kiri kanan gereja dan gereja.. Ingin rasanya aku buta agar tak pernah melihat pemandangan yg mengiris hati seperti ini..,

ImageImageSetelah hampir tiga jam perjalanan dan sudah mendekati wilayah Ransiki, maka tiba tiba muncul pemandangan yang mengharukan.., beberapa pemuda dengan motor dan bendera bendera tampak parkir.. bendera apakah gerangan..?, sudut mata saya yang sedari tadi mencari muslim ke segenap penjuru dan selalu tak menemukan apa apa hanya memandang dengan setengah hati pada pemuda pemuda bermotor dengan bendera itu,

Ketika kami semakin dekat maka bendera semakin jelas…. SUBHANALLAH..!!, ternyata Bendera Majelis Rasulullah saw…!, beberapa pemuda dari penduduk asli diantaranya berjaket Majelis Rasulullah saw menyambut kedatangan kami.., Subhanallah…, Saya tertegun tidak bisa turun dari mobil.., saya hampir tak percaya dengan yang saya lihat.. apakah saya mimpi..??, saya hanya diam di mobil dan menyambut uluran tangan mereka dengan haru.., peci peci putih..!, muslimin..!, bendera Majelis Rasulullah.., Jaket Majelis Rasulullah..!, di wilayah terpencil ini..??, beribu puji untuk Mu wahai Rabbiy..

Tak lama kemudian puluhan motor lainnya dengan bendera Majelis Rasulullah saw pun ikut menyambut kami, diikuti sebuah mobil bak terbuka yang dipenuhi santri KH Ahmad Baihaqi yang memang sedang mudik di kampung halaman mereka ini, dengan baju baju gamis putih, peci putih, dan rebana Thola’al Badru alaina..

ImageKH Ahmad Baihaqi adalah seorang pemuda yang aktif dalam perluasan dakwah dibanyak wilayah, beliau adalah Murid Almarhum Gus Maksum ALjauhari, rumah beliau adalah di wilayah Manggarai Jakarta selatan, beliau seorang yang sangat gigih dalam perjuangan dakwah, dengan kehidupan yang sangat sederhana, dan semangat juang yang tinggi beliau terus menembus wilayah wilayah Irian Barat untuk menyebarkan dakwah, khususnya pada pemuda pemudi, dan beliau bersedia pula menjadikan rumahnya di Manggarai sebagai tempat mukim para santri tersebut, luar biasa, bukan hal yang mudah memandu, mendidik, dan membimbing 30 santri dari Irian Barat, mengajari mereka mengaji, shalat, ceramah, maulid, qasidah, dan mereka belajar tanpa dibebani biaya apa apa, KH Ahmad Baihaqi berjuang untuk menafkahi santri santri itu, dan fihak Majelis Rasulullah saw sering turut membantu dan tak ada artinya dibanding perjuangan beliau,

Kenapa beliau mengajarkan pula maulid, qasidah dan rebana..?, karena untuk berdakwah di wilayah mereka kelak akan sangat cepat menarik masyarakat jika dengan alat musik rebana, karena hal itu juga menjadi hiburan yang dengan itu bisa merangkul banyak masyarakat di setiap wilayah,

Beliau sering kunjung ke Manokwari untuk berdakwah, dan beliau aktif pula sebagai kordinator Majelis Rasulullah saw di Pusat, juga sebagai pimpinan cabang Manggarai dan Manokwari Irian Barat, jiwa saya seakan menyatu dengan beliau dengan semangat yang satu pula, pembenahan ummat, dan menjadikan Rasul saw sebagai idola dan panutan, dan berjalan dengan manhaj Guru Mulia Alhafidh Almusnid Alhabib Umar bin Hafidh,

Dua tahun yang silam saya berkunjung ke Manokwari bersama beliau dan mengunjungi beberapa tokoh ulama, diantaranya adalah Gus Jumhari, Almarhum Gus Ali (abah ali), yang masing masing telah mempunyai pesantren di perkampungan Transmigran sekitar kota Manokwari, dan kemudian disetujuilah untuk membawa santri santri ke Jakarta dari anak anak penduduk asli, maka merekapun berdatangan ke Jakarta dan berdomisili di kediaman KH Ahmad Baihaqi, dan kemudian Abah ali wafat.. setelah puluhan tahun berdakwah di wilayah wilayah Irian barat, Santri santri tersebut memang sedang pulang kampung pada awal dan pertengahan ramadhan, dan berlebaran disana bersama keluarga mereka yang sebagian besar masih beragama nasrani.

ImageKetika rombongan kami, yaitu dua mobil Land Cruiser (karena medan yang kami tempuh tak bisa dilewati selain mobil 4 wd), tiba di Ransiki, maka seluruh masyarakat keluar menyambut, kira kira sekitar 200 orang muslimin muslimat, saya turun dari mobil tidak boleh menginjak tanah kecuali mesti menginjak piring yang terbuat dari keramik mewah, dan berusia ratusan tahun, dan ketika ditanya sudah berapa lama usianya merekapun tidak tahu, dan mereka hanya berkata piring piring itu sudah ada sebelum mereka dan ayah ayah mereka lahir, demikian adat disana memuliakan tamu agung, piring besar berdiamater 50cm itu disiapkan di bawah pintu mobil.., Subhanallah..

Kemudian piring itu dijadikan cindera mata bagi tamu agung tersebut.., sungguh sangat hangat sambutan mereka, airmata saya terus mengalir karena haru dan gembira bisa berkumpul dengan muslimin

ImageImageJamuan makan pagi pk 11.00 WIT, diteruskan acara halal bihalal, maulid dhiya’ullami dan tausiyah saya di masjid jami Ransiki diakhiri dengan shalat jamaah dhuhur, dan kesemua muslimin muslimat hadir, setelah shalat dhuhur maka kami meneruskan perjalanan ke Bintuni, Jarak tempuh Manokwari Ransiki 100km, dan Manokwar Bintuni adalah 300km.

Perjalanan diteruskan.., kami mengunjungi pula sebuah musholla di wilayah Siwi, satu satunya musholla di jarak tempuh berjam jam itu sangat dijaga dan dirawat oleh beberapa muslimin di wilayah Siwi tersebut, subhanallah… dalam puluhan perkampungan yang jaraknya sangat berjauhan dan berjam jam perjalanan itu, dan terpisah pisah dengan rimba belantara itu hanya ada satu musholla saja, dan belum ada masjid..

Sebagian para santri ada yang tidak dibolehkan lagi kembali ke Jakarta oleh muslimin di salah satu wilayah itu.. kenapa..?, karena mereka tak punya imam untuk shalat.. Dengan suara lirih dan tertunduk mereka berkata : “kami sudah masuk islam tapi kami ingin tahu caranya shalat, kami belum tahu”, maka selama anak itu bersama mereka, ia menjadi imam, dan jika anak itu sakit maka tak ada shalat di wilayah itu.., dan anak itu pula mengajari tarawih, mereka tak pernah tahu shalat tarawih, dan mereka baru pertama kali pula mengadakan Takbiran di malam idul fitri.., dan jika anak itu meninggalkan mereka ke Jakarta maka tak ada lagi shalat diwilayah itu.. Subhanallah..,

Airmata saya terus mengalir.., kita di Jakarta makmur dengan para ulama, habaib, kyai dan para Da’I, ternyata ada di wilayah saudara saudara kita yang sudah belasan tahun masuk islam namun ingin shalat tapi tak ada yg mengajarinya, Wilayah kita makmur dengan masjid dan musholla dan majelis taklim, namun disini musholla ada untuk wilayah yang mesti ditempuh berjam jam naik mobil..

ImageSetelah sekitar 1 jam dari Ransiki, kami mengunjungi sebuah perkampungan, yang di kampung itu hanya ada satu rumah muslim, namun Allah swt memberikan anugerah padanya, karena ia dan KH Ahmad Baihaqi berhasil merekrut beberapa keluarganya untuk masuk islam, dan saat kunjungan itu pula dilangsungkan pernikahan antara dua pemuda muslim dengan dua wanita yang baru masuk islam, saya mendapat kehormatan untuk menikahkannya, Sungguh sangat mengharukan.. kamipun disambut dengan tarian adat oleh mereka yang masih nasrani namun mulai mendekati keislaman,

ImageKami meneruskan perjalanan ke Bintuni.. Jalanan yang sangat sulit dilewati, kubangan Lumpur yang terus menghalangi mobil yang melintas sangat parah dan sulit dilalui, beberapa kali mobil land cruiser itu menggerung karena terjebak dalam kubangan Lumpur, tinggi Lumpur mencapai 50cm atau lebih, dan berkali kali mobil itu miring dan hampir terguling karena terjebak pada dalamnya Lumpur, Dua mobil kami terus terseok seok melintasi medan Lumpur sepanjang puluhan kilometer, dan konon dalam sekali melintas bisa berkali kali ganti ban karena ban mobil tercabik batu batu gunung yang tajam ditengah kubangan Lumpur..,

Kami tiba di Bintuni pk 20.30 WIT, setelah jarak tempuh sekitar 12 jam dari Manokwari, kami diperkenankan istirahat di hotel Kabira, satu satunya hotel di kota Bintuni yang dilengkapi ac, kami beristirahat.

Kamis, 9 oktober 2008, Dinihari sebelum subuh saya terkaget dari tidur, ternyata suara gemuruh hujan deras yang seakan akan menghancurkan atap dari dahsyatnya, saya kembali tidur beberapa saat dan kemudian bangun untuk Qiyamullail, lalu termenung sambil berdzikir dan doa, sungguh perjalanan yang sangat melelahkan, namun haru dan gembira,

ImageImageTernyata mereka yang tidak tidur malam itu untuk memasang umbul umbul Majelis Rasulullah saw dan spanduk serta baliho Majelis Rasulullah, mereka mengatakan malam itu hanya hujan gerimis, tak ada hujab deras.., lalu hujan deras apa yang membuat saya bangun dari tidur semalam..?, Wallahu A’lam

Pk 8.30 WIT (6.30 wib), riuh suara arak arakan masyarakat untuk menyambut kedatangan kami sudah semakin ramai, sekaligus acara halal bihalal, tabuhan hadroh yang khas papua sangat mengharukan, ratusan muslimin sudah memenuhi halaman parkir hotel dan mereka berdiri memegang spanduk dan baliho menyambut kedatangan saya, subhanallah… subhanallah.., kami keluar menyambut mereka, maka riuh sambutan mereka dan saya berpelukan dengan para tokoh masyarakat setempat, mereka menangis haru, sebagian orang orang tua menjerit dalam tangis.. Ada apakah gerangan..?

ImageSambil berjalan dengan iring iringan hadroh dan arak arakan kegembiraan mereka menuju Masjid salah seorang tokoh masyarakat menjelaskan sambil memegang tangan saya, ia berkata Lirih : “Kami sedari dulu hanya dengar saja dari datuk datuk kami tentang habib, kami tak pernah jumpa dengan para habib, kami hanya dengar saja dari orang orang tua kami, dan pagi ini kami bisa berjumpa dengan yang dinamakan habib, dan inilah pertama kali seorang habib mengunjungi Bintuni setelah ratusan tahun tak pernah ada kunjungan ke wilayah ini”. Kali ini saya yg menangis haru.., subhanallah.. oleh sebab itulah mereka menangis..,

Arak arakan yang semakin riuh ketika semakin dekat pada masjid, dan para jamaah hadroh adalah orang orang sepuh, acara di mulai dengan sambutan sambutan, berdirilah salah seorang tokoh dan menyampaikan sekilas sambutan, lalu berdiri tokoh lainnya, dan dari penyampaian mereka bahwa dijelaskan bahwa Islam masuk Papua sebelum Kristen, dan Islam sudah ada di Bintuni pada abad ke 16 Masehi, kemudian hilang dan tak tercatatkan sejarah, lalu tercatatkan pula di Bintuni pada abad ke 18 Masehi, dan ada beberapa wilayah yang diberi nama dengan nama dari bahasa arab, yaitu wilayah yang dipakai untuk jalan menuju Bintuni dinamakan wilayah Babo, mereka berkata bahwa yang dimaksud adalah Baabussalam, yaitu Pintu keselamatan, karena pendatang di masa lalu mesti melalui wilayah itu untuk masuk ke Bintuni.

ImageImageKemudian maulid Dhiya’ullami dilantunkan, bersama Jamaah Hadroh dari putra putra Ransiki Papua, kemudian saya menyampaikan Tausyiah dan diakhiri doa. Kami dijamu makan siang oleh para tokoh, lalu saya berkata pada mereka : “saya minta dipilihkan makanan untuk saya oleh tokoh tokoh, karena saya ingin makan makanan yang dipilihkan oleh tokoh tokoh, agar saya mendapat keberkahan dari tangan bapak bapak yang mulia, maka disendokkan pada saya “Papeda” yaitu bubur sagu yang dihidangkan dengan semacam sop Ikan, masya Allah..

Setelah acara jamuan maka kami kembali ke hotel, dan saya duduk bercengkerama dengan beberapa tokoh islam, dan mereka menyampaikan beberapa cerita tentang perjuangan islam, diantaranya bagaimana muslimin dihimpit oleh kalangan Nasrani, mereka menyebut suatu kejadian beberapa tahun yang silam, bahwa disebuah wilayah antara Sorong dan Papua terdapat sebuah suku dipinggir pantai, kebanyakan di wilayah itu muslimin, namun mereka tak ada lagi yang mengajarkan islam hingga turun temurun, mereka muslim tapi tak tahu agama islam, mereka sudah tidak kenal syahadat, mereka hanya mengenal satu ajaran adat, yaitu tak boleh makan babi, padahal babi adalah santapan yang masyhur di Irian, mereka menganggap itu hukum adat, padahal itu hukum islam, dan kepala suku mempunyai satu barang yang dikeramatkan, ia adalah sebuah kotak yang menyimpan pusaka turun temurun yang dipegang oleh kepala suku dari generasi ke generasi, mereka tak tahu benda apa itu,

Ketika mulai banyak para nelayan muslimin yang kunjung, mereka minta sebidang tanah pada kepala suku untuk musholla, maka kepala suku mengizinkan, lalu mereka kunjung kerumah kepala suku, dalam sambutan hangat itu kepala suku menunjukkan pusaka yang disimpan ratusan tahun dan diwariskan dari datuk datuknya, ketika kotak itu dibuka, maka para nelayan pun kaget dan bertakbir, ternyata isinya adalah Alqur’an yang sudah sangat tua.., Subhanallah.., mereka ternyata sejak berabad abad sudah muslimin, namun karena mungkin tak ada para dai dai pengganti, maka ajaran islam pun hilang dan tak lagi dikenali, tinggallah pusaka yang diwasiati turun temurun itu yang ada pada mereka, ternyata ia adalah Kitabullah, Alqur’anulkarim.

Maka kepala suku ini pun kembali memeluk islam, tak lama kabar sampai kepada Koramil dan kecamatan yang camat dan Danramil adalah Nasrani, mereka memanggil kepala suku itu dan mendampratnya habis habisan karena telah memberi sebidang tanah untuk muslimin membangun musholla, dan kepala suku dipaksa untuk mengusir mereka dan kepala suku tetap pada pendiriannya, maka kepala suku itu ditelanjangi hingga hanya celana dalamnya yg disisakan, lalu ia disiksa dan dicambuki dengan kulit ikan pari, Ikan pari terkenal dengan kulitnya yang penuh duri tajam yang beracun…, kepala suku tetap tidak mau merubah keputusannya.., ia tetap ingin mempertahankan pusaka Alqur’an dan tak mau mencabut izin untuk pembangunan musholla.. Subhanallah.. Dengan kejadian penjelasan tentang Alqur’an itu maka 80 kepala keluarga di Suku itu kembali pada islam.

Juga Diantara keluh kesah tokoh agama tersebut, mereka berkata : “dimana da’I da’I muslimin dari Jakarta?, dimana para hartawan dari Jakarta?, mereka hanya mau teriak teriak di televisi, dan sebagian dari kami tak ada listrik, jikapun wilayah yang sudah ada listrik belum tentu punya televisi, lalu darimana kami akan mengenal dan belajar islam?, kami hanya dengar dari teman teman yang punya televisi, bahwa para hartawan di Jakarta selalu mengirimkan dana uang banyak ke Palestina, Bosnia, Afghanistan, bagaimana mereka memberi bantuan kesana dan melupakan kami, kami muslimin yang sebangsa dengan mereka, kami masyarakat Papua menerima republik Indonesia karena kami tahu Republik Indonesia adalah Muslimin, namun setelah kami jadi saudara mereka kami dikucilkan dan ditinggalkan.., mereka jauh jauh mengirim uang banyak ke luar negeri dan kami disini susah dan tak mampu membangun musholla pun..” Masya Allah…

Pk 13.30 WIT kami menuju pulang, diantar tangis airmata para tokoh muslimin, setelah berpelukan, mobil melaju dan kami melihat dari kejauhan mereka masih berdiri termangu mengantar kepergian kami, selamat Tinggal Kota Bintuni…, kami sempat mampir ke rumah salah seorang ustaz di perkampungan Transmigran, yaitu di SP 5 (SP = satuan pemukiman), lalu kami meneruskan perjalanan pulang..

ImageAkibat hujan deras semalam, maka medan jalur pulang lebih buruk dari saat kemarin, Land Cruiser yang saya tumpangi sempat terperosok dan terjebak Lumpur dan tak bisa keluar dari Lumpur, kami beristirahat dan makan siang di pinggir jalan tempat mobil kami terjebak, setelah makan siang, maka mobil Land cruiser yang juga bersama kami pun menarik mobil itu keluar dari cengkeraman Lumpur, usaha yang cukup sulit itu pun akhirnya berhasil, setelah Lumpur itu di pacul terlebih dahulu untuk memudahkan mobil keluar dari jebakan Lumpur tersebut, seakan akan Bintuni tak mau kami meninggalkannya dan berusaha menahan mobil kami..

Kami berhenti sesaat di wilayah Mamai, menurunkan seorang anak santri bimbingan KH Ahmad Baihaqi, ayahnya masih nasrani, dan sudah mulai tertarik masuk islam, dan ia mengizinkan anaknya belajar di Jakarta dibawah bimbingan KH Ahmad Baihaqi, saya berdoa untuk ayahnya dan berfoto bersama, lalu kami pamit dan Meneruskan perjalanan,

Kami singgah di wilayah Kiwi, yaitu musholla yang dijaga oleh muslimin yang kami mampiri kemarin, kami berpamitan, ternyata musholla itu dibangun oleh seorang pengusaha wanita dari Jakarta, Ibu Tuti, demikian mereka menyebutnya, Ibu Tuti berkediaman di Tebet Jakarta selatan, dan ia sedang di wilayah ini dalam usahanya, semoga Allah melimpahkan kepadanya keberkahan dan kesuksesan, karena telah mendirikan musholla, yang menjadi satu satunya musholla di radius puluhan kilometer wilayah sekitar.

ImageKami meneruskan perjalanan menuju Ransiki.., Ditengah perjalanan itu saya sekilas tertidur dan bermimpi, saya melihat seorang habib, ia pemuda tampan seusia dengan saya, ia dengan pakaian putih, ia berkata pada saya : “saya dahulu berdakwah di wilayah ini dan saya dikejar kejar dan akhirnya saya dibunuh disini..”. saya terbangun dan melihat kearah kiri tempat perjumpaan kami dalam mimpi.., ternyata hanya semak belukar dan rimba yang gelap.. airmata saya mengalir lagi sambil melafadzkan fatihah untuknya.. ia membawa dakwah Nabi saw ditengah tengah pedalaman seperti ini, lalu wafat sebagai syahid dan kuburnya tak dikenali orang didalam rimba belantara Irian barat..

Kami tiba di Ransiki untuk makan malam dan berpamitan dengan para orang tua santri, saya diperlihatkan Alqur’an yang disobek sobek oleh Nasrani di wilayah Ransiki, saya tak tahan, saya menciumi Alqur’an itu dan menangis sekeras kerasnya, merekapun turut menjerit dan menangis, saya terlintas untuk marah dan menginstruksikan balas, namun akhirnya saya tenang, dan berdoa agar Allah hujankan hidayah bagi semua yang menyembah selain Allah, agar Allah hujani hidayah dan memenuhi papua dengan muslimin dan agar Allah jadikan penduduk Papua sebagai Ahlussujud.., dan agar Allah jadikan Papua bukan Manokwari kota Injil, tapi sebagai wilayah sayyidina Muhammad saw..

ImageKetika kami sudah dimobil, mereka melepas kepergian kami dengan adzan, lalu selesai adzan mobil meluncur pelahan dan puluhan muslimin menjerit tangis pilu melepas kepergian kami di gelapnya malam.., suara jerit tangis mereka benar benar menyayat hati.., mereka sangat cinta pada saya dan sayapun demikian, saat saya turun dari mobil anak anak pemuda papua berebutan menaruh kaki saya ditelapak tangan mereka, karena Mobil Land cruiser itu sangat tinggi hingga saya agak kepayahan saat turun dari mobil, mereka berebutan menaruh kaki saya ditelapak tangan mereka, saya menghalau mereka namun mereka tidak perduli menjadikan tangan tangan mereka sebagai injakan kaki saya sebelum ke bumi.., wahai Rabbiy alangkah suci hati mereka, mereka muallaf, mereka baru memeluk islam, betapa mereka mencintai karung dosa ini, bahkan mereka selalu berusaha menciumi saya, pundak, tangan punggung, dada, jika mereka ada kesempatan dekat mereka terus menciumi saya ditubuh sekenanya, saya menjadi akrab pula dengan mereka, saya bercanda dengan mereka, berfoto dalam berangkulan dengan mereka, dan mereka semakin gembira,

ImageKetika mobil meluncur meninggalkan Ransiki dan para pemuda setempat, maka tubuh saya terus meriang, ditengah hentakan dan guncangan mobil yang terus melewati medan berat, saya terus dihantui perasaan yang beraneka ragam, sedih, haru, semangat juang, tangis, dan terus terbayang diwajah saya betapa sulitnya para da’I terdahulu di wilayah ini, wilayah yang terjauh di Indonesia, terbayang kepala suku yang baru masuk islam, ia dilucuti pakaiannya, disiksa dan dicambuk dengan Kulit ikan pari yang berduri karena membela Alqur’an.., ia tetap bertahan dan menahan sakit, padahal ia baru saja memeluk islam, terbayang seorang habib muda yang dikejar kejar lalu dibantai dan dibunuh ditengah rimba sebagaimana mimpi saya…, terbayang wilayah wilayah muslimin yang ingin belajar shalat namun tak ada yang mengajarinya, mereka hanya bisa shalat jika berjamaah dan belum bisa shalat sendiri, maka jika imam itu (pemuda belasan tahun) sakit maka tidak ada shalat di kampung itu.., anak muda itu muallaf dan baru saja belajar shalat.., ia sudah berjuang di wilayahnya mengajarkan shalat..

Terbayang pula keluhan mereka tentang tidak adanya pengajaran islam untuk mereka, mereka hanya bisa lihat islam di TV dan sebagian besar wilayah perkampungan tidak punya tv, bahkan listrik hanya ada hingga jam 12 malam, lalu padam.. dan mereka mengeluh : “Lalu bagaimana kami belajar islam..?”, terbayang wajah para santri dari Ransiki Papua yang selalu hadir di Majelis Malam selasa di Masjid Almunawar Pancoran Jakarta, mereka baru belajar dasar agama saja, namun mereka sudah menjadi dai dai di wilayahnya dan wilayah sekitar, mengislamkan keluarganya, mengajak kakaknya masuk islam, mengajak ibunya masuk islam, subhanallah.. betapa mulianya mereka..

Bayangan bayangan itu benar benar mengiris hati saya.. terlintas dihati untuk meninggalkan Jakarta dan berdakwah di Papua, biarlah saya mati dibunuh dalam dakwah dan terkubur tanpa dikenali orang dimana kubur saya, duh.. betapa habib muda yang syahid itu dimanjakan dan dicintai Allah..

duh.. betapa mulianya anak anak muda cilik itu yang menjadi kesayangan Rasul saw kelak karena baktinya pada Nabi Muhammad saw, mereka mengajarkan shalat, mereka mengajar ngaji, menyebar maulid dhiya ullami, mereka mengibarkan bendera Majelis Rasulullah saw, memasang umbul umbul Majelis Rasulullah saw di wilayah wilayah mereka.., subhanallah.. Saya terus menangis dan tubuh ini meriang, setiba di Manokwari kami langsung beristirahat di kediaman Bpk Hj Shohib, dan bermalam..

ImageJumat 10 Oktober 2008, Pelukan terakhir perpisahan dengan KH Ahmad Baihaqi dan beberapa penduduk Ransiki sangat mengharukan.. berat sekali saya ingin melepas pelukan KH Ahmad Baihaqi, dia akan terus berjuang lagi, sebagaimana saya datang ia sangat erat memeluk saya, dan firasat saya bahwa ia sudah melewati masa masa berat, dan ternyata benar, dan kini ia harus kembali berjuang sendiri, kami harus meninggalkannya, saya sangat tidak tega dan berat meninggalkannya, saya terus memeluknya dan saya tak bisa menahan tangis, dan iapun menangis keras.., saya mulai merasa goncangan dahsyat dihati, saya harus melepas pelukan ini dan pergi, hati saya benar benar pilu dan pandangan mulai pudar, saya risau jika saya teruskan maka saya akan jatuh pingsan, maka saya melepas pelukannya dan berbalik.. berjalan ke pesawat dan tak berani membalikkan tubuh untuk memandangnya lagi.. saya tidak kuat melihat pemuda mulia itu tegak sendiri memandang kepergian kami.. ia akan terus berjuang sendiri hingga 23 oktober 2008 mendatang, ia akan kembali ke Jakarta bersama santri santri Ransiki..

Saya duduk di kursi pesawat…, saya tulis akhir dari laporan ini, selamat tinggal Bintuni, selamat Tinggal Ransiki, selamat tinggal Musholla siwi, selamat tinggal para pejuang dakwah, selamat tinggal para muallaf yang terus berjuang ditengah panasnya cuaca hutan tropis… selamat tinggal Manokwari, wahai Manokwari.. kau digelari kota Injil… betapa mencekik gelarmu..,

Rabbiy hujani Papua dengan Hujan Hidayah, bangkitkan kemuliaan muslimin, menegakkan kedamaian dan keimanan di wilayah mereka, tumbuhkan generasi muda mudi yang mencintai Rasulullah saw, cabut keinginan mereka untuk menyembah selain My Rabbiy… hujani mereka dengan keberkahan dan kemakmuran, singkirkan tangan tangan kuffar yang terus meracuni akidah mereka..

Saya membatalkan keinginan untuk tinggal di Papua, karena jika saya wafat disana maka perkembangan ini akan terhambat pula, biarlah saya di Jakarta, namun kami akan menyiapkan santri santri dan muda mudi yang akan menjadi laskar Muhammad saw di wilayah mereka, kini pun sebagian dari mereka telah berpencar ke wilayah wilayah sekitar mereka, memimpin shalat, mengajarkan Iman, mengajak kepada Islam, dan kita akan terus menyatukan barisan dan memperkuatnya hingga Manokwari bukan lagi bernama Manokwari kota Injil, tapi Irian Barat wilayah Sayyidina Muhammad saw.. amiin..

pesawat kami mendarat dengan selamat di Bandara Soekarno Hatta Jakarta pada Jumat Petang pk 20.00 wib.

Klik disini untuk melihat Galery Perjalan Dakwah Majelis Rasulullah ke Wilayah Manokwari.

**Dapatkan vcd perjalanan dakwah Majelis Rasulullah saw di Manokwari, dilengkapi kunjungan ke wilayah wilayah Ransiki, Bintuni, dll, juga perjalanan yg penuh hambatan dan jalanan berlumpur.

Posted in Ahlussunnah, Ajaran Wahabi, Bid'ah, Hadits Dho'if, Hukum Islam, Hukum Mazhab, Majelis Dzikir, Majelis Rasulullah, Masjid Nabawi, Maulid Nabi, Nabi Muhammad, Para Habaib, Sejarah Islam, Shalawat Nabi, Sunnah, Tahlilan, Tasawuf, Tawasul, Wali Allah, Ziarah Kubur | Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Semua Ummat Rasulullah Saw Pasti Masuk Surga Kecuali Yang Menolak

Posted by Teknik Jumper on October 26, 2008

قَالَ رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى (صحيح البخاري

Sabda Rasulullah saw :
“Semua ummatku masuk sorga kecuali yang menolak”. Para sahabat bertanya : siapa yang menolak wahai Rasulullah?, beliau saw bersabda : “Yang taat padaku masuk sorga, yang tidak taat padaku maka ia telah menolak” (Shahih Bukhari)
Image Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Limpahan puji kehadirat Allah jalla wa alaa, Maha Raja yang selalu bercahaya dengan Cahaya yang Abadi, Yang Maha Menerangi Alam semesta dengan Cahaya Kemegahan Nya, Yang Maha Menerangi Jiwa Hamba hamba Nya yang beriman dengan cahaya ketenangan, terang benderang jiwa hamba yang merindukan Allah, Cahaya Abadi dan Tunggal yang selalu didambakan oleh hamba hamba Nya yang beriman dari zaman ke zaman, Beruntunglah jiwa yang merindukan Allah, beruntunglah bibir yang menyebut Nama Allah, tiadalah bibir yang lebih agung melebihi bibir yang bergetar dan basah menyebut Nama Nya, tiada jiwa yang lebih bercahaya dan tenang melebihi jiwa yang mengingat Allah Swt, Maha Suci Allah yang Maha Menerangi jiwa kita dengan iman,

Hadirin hadirat singkaplah tabir yang menghalangi kita dengan Allah, singkaplah dengan doa dan munajat, singkaplah dengan mengemis kehadirat Allah, agar Dia menerangi jiwa kita dengan cahaya Nya, cahaya yang lebih terang dari seluruh cahaya. Cahaya diatas segala cahaya yang memberikan petunjuk kepada hamba hamba Nya dengan cahaya bagi hamba hamba Nya yang dikehendaki Nya” (QS Annur 35). Terang benderanglah hari hari mereka dengan cahaya kehidupan yang sempurna, terang benderanglah hidup mereka dan wafat mereka dalam kebahagiaan dunia dan akhirat.

Dialah Allah jalla wa alaa yang menerangiku dan kalian dengan cahaya ramadhan, dengan cahaya shiam dan cahaya qiyam. Nurushiyaam wal qiyam yang menerangi hari hari muslimin muslimat di Barat dan Timur untuk dilimpahi rahmat dan pengampunan dan pembebasan dari neraka, Beruntunglah yang mendapatkannya, beruntunglah mereka yang mendapatkan limpahan rahmat Ilahi di 10 malam pertama, limpahan pengampunan Ilahi di 10 malam kedua, dan pelepasan dari api neraka di 10 malam terakhir dan itulah semulia mulia anugerah..

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Sampailah kita di malam hari yang diberkahi Allah ini kepada seruan Sang Nabi saw, manusia yang paling ramah dan lembut dari semua manusia, makhluk yang paling berkasih sayang dari seluruh makhluknya Allah, Jiwa yang paling lembut dari semua jiwa yang diciptakan Allah yaitu Sayyidina Muhammad Saw.

Rasul saw menerangi hari hari kita seraya bersabda “kullu ummatii yadkhulul jannah illa man aba” seluruh umatku masuk ke dalam surga terkecuali mereka yang tidak mau dan menolak. Para sahabat terheran dan bertanya “siapa orang yang tidak mau masuk surga ya Rasulullah?” Rasul saw bersabda “orang orang yang tidak mentaati aku maka ia termasuk orang orang yang menolak”. Di dalam konteks hadits ini seakan akan muncullah disana betapa beratnya kita masuk ke dalam surga, Karena beliau saw bersabda “barangsiapa yang taat padaku akan masuk surga dan mereka yang menolak perintahku, mereka telah termasuk menolak surganya Allah.

Hadirin hadirat tampaknya hadits ini sangat tegas, merisaukan jiwa kita, Tapi kita perlu dalami makna hadits ini, Berkata Hujjatul Islam Imam Ibn Hajar Al Asqalani di dalam kitabnya Fathul Bari bisyarah Shahih Bukhari mengenai banyaknya penafsiran para muhadditsin tentang makna hadits ini.

Yang pertama orang orang yang menolak dan yang tidak mau, yang disebutkan Sang Nabi saw adalah orang orang yang menolak langsung apa yang diperintah oleh Sang Nabi saw di masa beliau saw, bukan di masa sekarang, Yang disebut orang yang menolak adalah orang yang menolak langsung perintahnya Rasul saw di masa beliau saw.

Pendapat yang kedua adalah mereka itu tertolak dari masuk surga disaat yang pertama bersama Rasulullah saw setelah meminum telaga haudh, Tidak bisa masuk surga, bersama, dan kenapa?,
karena banyak dosa dosa, mereka harus dihisab terlebih dahulu, Namun pada akhirnya Al Imam Ibn Hajar menjelaskan akhirnya kesimpulannya kembali kepada kalimat yang pertama “seluruh umatku masuk ke dalam surganya Allah Swt terkecuali yang menyembah selain Allah” maka kalimat disini menolak perintahnya Sang Nabi saw adalah menolak islam, tidak mau menerima islam dan menyembah selain Allah maka mereka tidak akan pernah mencium baunya surga sama sekali. Sisanya ada diantara para pendosa yang menerima apa apa yang diperintah Sang Nabi saw tetapi ada yang ia tidak mampu untuk melakukannya maka ia akan sampai dengan Syafa’at Nabi Muhammad Saw ke dalam surganya Allah.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Di malam agung ini tentunya kita juga teringat pada peristiwa peristiwa besar. Peristiwa rahasia keagungan Alquranulkarim yang turunnya di malam 17 Ramadhan dalam riwayat lainnya tentunya yang pasti adalah di bulan ramadhan. Sebagaimana firman Allah “bulan ramadhan adalah bulan yang diturunkan padanya Alquran” (QS. Al-Baqarah:185). Ikhtilaf pendapatnya, banyak yang mengatakan malam 17, banyak yang mengatakan malam lainnya dan lainnya tapi seluruh pendapat telah menjadi satu dengan firman Allah bahwa turunnya Alquran adalah di bulan ramadhan.

Satu kumpulan kalimat kalimat Ilahi yang menerangi jiwa hamba hamba Nya mulai 14 abad yang silam hingga akhir zaman, Mengawali segenap tuntunan hidayah yang setiap hurufnya merupakan cahaya keridhoan Ilahi, menuntun mereka kepada taubat dan istighfar. Menuntun kita kepada keluhuran dunia dan akhirat, menuntun mereka kepada kerinduan pada Allah, Menuntun mereka untuk meninggalkan kemaksiatan kepada Allah dan dosa, Menuntun mereka kepada hal hal yang dicintai Allah, Inilah tugas sang pembawa Alquran, Shohibul quran, shohibul ramadhan, Sayyidina Muhammad saw.

Hadirin hadirat oleh sebab itu jika kita renungkan ini bulan ramadhan bulan turunnya Alquran, 6660 ayat turun untuk umat ini yang jika diturunkan di atas gunung, gunung itu hancur lebur dari takutnya kepada Allah swt. Sebagaimana firman Allah “Jika kami turunkan Alquran diatas puncak sebuah gunung, akan kau lihat (maksudnya akan dilihat oleh manusia) gunung itu akan hancur dan lebur dari takutnya kepada Allah swt” (QS. Al-Hasyr:21). Takutnya dari kewibawaan Rabbul Alamin, dari keagungan dan kemegahan Maharaja langit dan bumi. Gunung yang demikian keras dan dahsyatnya akan hancur lebur, tunduk dan hancur berantakan dari takutnya kepada Allah. Gunung yang demikian keras itu ternyata punya perasaan takut kepada Allah, ternyata punya pengagungan (takdhim) kepada Allah swt. Bagaimana dengan jiwaku dan jiwa kalian? wahai umat mulia ini adakah pengagungan kepada Allah?

Alquran turun dan sampai kepada kita, adakah air mata mengalir meruntuhkan kerasnya hati kita mendengar kalam kalam Illahi yang turun ataukah sirna begitu saja sama dengan suara lainnya. Suara itu jika diturunkan untuk gunung bukan untuk manusia, gunung itu lebur tidak sanggup diajak bicara oleh Rabb sedangkan Alquran adalah Kalamullah yang langsung berbicara kepada umat Nabi Muhammad saw. Mana kalimatnya? Wahai orang yang beriman, wahai manusia, bukankah kita ini diajak bicara oleh Allah jalla wa alla? sehingga mereka itu orang orang ahlul khusyu’ bergetar ketika membaca firman firman Allah yang berisi kalimat mengucap langsung kepada mereka karena sudah diajak bicara kepada Allah. Seandainya kalimat itu akan hancur gunung itu, kenapa? karena yang diajak bicara gunungnya. Namun gunung tidak mampu menampungnya tapi karena jiwa kita mukminin mukminat akan terharu dan gembira diajak bicara oleh Allah.

Siapa yang diajak bicara oleh Allah? apakah shiddiqin?, para Nabi dan Rasul?, tapi ada siapa juga? ada juga para pendosa yang diajak bicara oleh Allah, Siapa mereka? wahai yang melampaui batas dalam berbuat dosa pada dirinya sendiri. Allah mengajaknya bicara langsung kepada para pendosa agar kembali dan taubat kepada Allah. Jangan putus asa dari rahmat Ku, Wahai Yang Maha Baik kepada kami, tiada kebaikan melebihinya. Hadirin hadirat beruntunglah jiwa yang merindukan Allah.

Peristiwa mulia pun terjadi diantaranya adalah kejadian Badr Al Kubro, Kejadian yang sangat agung dari 313 jiwa yang paling dicintai Allah di umat ini, Tidak ada derajat shalihin dan shiddiqin yang mencapai derajat Ahlul Badr. Semua mereka yang 313 adalah orang yang paling suci dan mulia di umat ini melebihi derajat para Qutbul aulia. Merekalah wajah wajah termulia dan paling terang benderang di yaumal qiyamah di umat ini “Ahlul Badr Radhiyallahu’anhum”. Dihadapan mereka dan diantara mereka adalah imam imam ahlul bait yaitu Sayyidina Ali bin Abi Tholib kw, Sayyidina Hamzah bin Abdul Mutholib ra, Sayyidina Ja’far bin Abi Tholib dan banyak lagi.

Khulafaurrasyidin semuanya ahlul badr (Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Ali, Sayyiidna Umar). Sayyidina Utsman ra tidak hadir dalam perang badr. Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari ada seorang tidak suka dengan Sayyidina Utsman dan berkata kepada Abdullah bin Umar, “sayyidina utsman itu kan tidak ikut dalam perang badr”. Abdullah bin Umar memanggilnya “sini, dia memang tidak ikut perang badr tapi ia menjaga putrinya Rasulullah saw”. Ketika putri Rasulullah sakit, istrinya (beliau menikah dengan putrinya Rasul saw), dia tinggalkan perang badr demi menjaga putrinya Sayyidina Muhammad saw maka Rasul saw bersabda “Utsman adalah ahlul badr”, demikian diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari. Sayyidina Utsman adalah salah satu orang ahlul badr walaupun tidak hadir tapi Rasulullah mengatakan “Utsman adalah ahlul badr”. Utsman bin Affan ra adalah ahlul badr berarti khulafaurrasyidin semuanya ahlul badr.

313 orang bukan yang wafat di perang badr namun yang hadir perang badr. Ada yang wafat di badr ada yang tidak. Badr adalah satu wilayah bukannya bulan purnama, memang artinya bulan purnama tapi yang disebut perang badr dan ahlul badr itu karena peperangannya di wilayah yang bernama wilayah badr. Dari sebelum Islam namanya sudah wilayah badr. Diriwayatkan di dalam Sirah Ibnu Hisyam ketika Rasul saw telah memerintahkan untuk para sahabat mengumumkan jihad. Sebagian sahabat tidak percaya karena belum pernah Rasul saw mengumumkan jihad sebelumnya dan ini peperangan yang pertama. Rasulullah saw tidak pernah mengumumkan peperangan, apa yang kita persiapkan. Persiapan hanya 3 hari, apa yang kita persiapkan? Muhajirin yang ahli perang tidak punya persiapan, senjata belum ada, kuda belum ada. Apa ini peperangan cuma punya beberapa orang.

Kumpulkan pria dewasa Anshor (Anshar adalah penduduk asli Madinah, Muhajirin adalah orang yg hijrah dari makkah ke madinah bersama Rasul saw) jumlahnya cuma 313 dan ini bukan peperangan kalau jumlahnya 313 orang. Yang akan dihadapi siapa? Kuffar quraesy jumlah mereka ribuan. Namun perintah jihad telah muncul maka oleh sebab itu Rasul saw mengumpulkan sahabat dan berkata salah seorang sahabat “Yaa Rasulullah berangkat walaupun kita tidak punya kemampuan. Kalau ini perintah Allah dan Rasul kami akan berangkat bersamamu” demikian kata salah seorang sahabat Muhajirin.

Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari Rasul saw berpaling dan berkata “ayo..?, ada yang punya pendapat lain?, ada yang mau mengemukakan pendapat?”. Tanya lagi, tanya lagi akhirnya berdiri salah seorang Anshor “seakan akan engkau tanya pendapat kami kaum Anshor wahai Rasul?”, Rasul saw menjawab “betul, aku dari tadi belum dengar orang Anshor yang memberikan dukungan”. Maka orang ini berdiri dan berkata “Yaa Rasulallah kami akan bersamamu, kemanapun engkau pergi kami akan bersamamu kalau engkau masuk ke dalam lautan kami bersamamu ke dalam lautan, tidak satupun yang tersisa dari kami terkecuali ikut bersamamu ke dalam lautan, Barangkali kalau kami mati bersamamu bisa membuatmu gembira”.

Ini merupakan petunjuk Allah. Inilah kaum Anshor, mereka rela mati demi gembiranya hati Rasulullah saw. Kalau matinya mereka membuat gembira hatinya Rasul saw, kami akan mati. Demikian Anshor (para pendukung) Nabi Muhammad saw. Hingga riwayat Shahih Bukhari “kalau bukan karena hijrah, aku akan Allah munculkan dari kaum Anshor bukan dari Makkah”. Tapi karena Allah menginginkan hijrah maka muncul dari Makkah Al Mukarramah tempat kelahiran Sang Nabi saw, karena Allah menghendaki hijrah dan kalau tidak Rasul saw berkata “kalau bukan karena hijrah pasti aku adalah orang yang lahir di kaum Anshor”. Demikian cintanya kaum Anshor kepada Nabi Muhammad saw.

Di dalam Shahih Bukhari Rasul saw bersabda “Rasul saw sangat mencintai kaum Anshor”. Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani menjelaskan asal muasal kaum Anshor adalah dari Yaman. Oleh karena itu Rasul saw bersabda “Iman itu di Yaman” (Shahih Bukhari). Karena apa? karena memang asal muasalnya orang Anshor adalah dari Yaman.

Demikian hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Maka pasukan dipersiapkan, mereka hanya memiliki 70 ekor unta. Jadi 1 unta dinaiki untuk 3 orang. Rasulullah saw bersama Sayyidina Ali bin Abi Tholib dan seorang sahabat lain. Sayyidina Abu Bakar Ashshidiq bersama sahabat lain. 1 unta untuk 3 orang. Ada yang berjalan kaki, ada yang mempunyai pedang. Pedang pertama dalam dunia islam dibuat dan diberikan kepada Sayyidina Ali bin Abi Tholib kw. Ada yang tidak punya pedang cuma alat pertanian saja, ada yang mengerti perang, ada yang tidak mengerti perang. Ini belum dipersiapkan pasukan. Demikian ahlul badr. Terdapat 3 bendera : 1 bendera putih di depan dan 2 bendera hitam di kiri dan kanan Rasulullah saw. Bendera hitam yang satu dipegang oleh Sayyidina Ali bin Abi Tholib dan bendera yang satunya dipegang oleh orang Anshor.

Pasukan keluar dari Madinah Al Munawwarah menuju medan badr, sampai di badr mereka berhenti. Saat saat sekarang ini tanggal 14, 15 ramadhan Rasul saw sudah berada di badr. Dan di malam 17 ramadhan tepatnya esok malam Rasul saw berdoa. Doa dengan doa yang sedemikian dahsyat didengar oleh Sayyidina Abu Bakar Ashshidiq doa beliau saw sebagaimana Sirah Ibn Hisyam “wahai Allah menangkanlah, menangkanlah, kalau muslimin kalah maka Kau tidak disembah lagi di muka bumi”. Maksudnya apa? habis kalau muslimin kalah, jumlahnya hanya 313 orang.

Inilah pendukungnya, kalau semua habis tidak ada muslimin di masa itu. Tinggallah anak anak, tinggallah wanita. Demikian keadaan muslimin di permukaan Barat dan Timur saat itu. Cuma itu saja ksatria ksatria muslimin, kalau seandainya kalah maka habis wahai Allah. Demikian cintanya Sang Nabi saw kepada Allah agar Allah memberikan kemenangan, agar banyak orang orang yang tunduk dan tidak menyekutukan Allah swt. Sampai jatuh ridanya, ridanya jatuh dari tingginya beliau mengangkat tangannya, berkata Abu Bakar Ashshidiq “ya Rasulullah pasti Allah akan kabulkan doamu, cukup Rasulullah, cukup ya Rasulullah”.

Keesokan harinya, hari badr telah terjadi terbitlah matahari dan tidak lama kemudian mereka telah berhadapan. (Idz Tastaghiitduuna rabbakum) ketika engkau meminta pertolongan pada Kami kata Allah. Jika engkau meminta bantuan…, sebelumnya sang Nabi tidak pernah meminta bantuan untuk menundukkan musuhnya. Beliau selalu bersabar diinjak walaupun dalam keadaan sujud dilimpahi kotoran unta, beliau tidak meminta kehancuran untuk musuh tapi saat itu beliau minta pada Allah. Disaat Abu Tholib melempari dan mengejar ngejarnya bagaikan orang gila yang dikejar kejar, beliau malah mendoakan. Tapi disaat itu beliau saw tidak meminta pertolongan kepada Allah untuk kehancuran tetapi disaat badr, Rasul saw meminta kemenangan, Ketika kalian meminta kepada Tuhan kalian maka dikabulkan untuk kalian, maka Aku menjawab doa kalian (doa sang Nabi) Aku menurunkan 1000 pasukan malaikat untuk menolong kalian” (QS Al Anfal 9)

Di dalam Sirah Ibnu Hisyam diriwayatkan para sahabat melihat disaat medan badr mulai berkecamuk turunlah awan yang gelap dan mengerikan mendekat ke medan badr dan mendengar gemuruh daripada kuda dan tasbih. Pasukan keluar memakai sorban sorban putih, ribuan pasukan keluar dari awan ke medan badr. Allah swt telah berfirman “Aku menurunkan untuk kalian 1000 pasukan malaikat” di dalam surat Al Imran Allah teruskan lagi “karena kalian sabar dan kalian taqwa Allah turunkan lagi 3000 pasukan malaikat, 5000 pasukan malaikat Allah turunkan untuk mendukung medan badr”. (diringkas dari firman Allah surat Al Imran 124-125)

Maka disaat itu dijelaskan didalam Sirah Ibnu Hisyam (buku sejarah Nabi yang tertua yang masih ada hingga kini), Jibril as memakai sorban berwarna kuning dan disaat itulah perang tentunya sudah tidak seimbang karena jumlah musyrikin 3000 dan jumlah muslimin 313 di tambah 5000 pasukan malaikat. Tentunya mereka dengan cepatnya memenangkan peperangan. Beberapa sahabat berkata “belum sempat pedang aku gerakkan lawanku sudah roboh karena sudah didahului pedangnya para malaikat”.

Dalam Sirah Ibnu Hisyam berkata Sayyidina Abdullah bin Abbas ra, tidak pernah Allah turunkan malaikat untuk turut berperang terkecuali di medan badr. Hadirin hadirat salah seorang sahabat berkata sebagaimana dijelaskan dalam Sirah Ibnu Hisyam bahwa ia buta, “aku buta sejak kejadian badr”, kalau aku tidak buta aku tunjukkan pada kalian darimana itu datangnya awan yang muncul dan turunnya pasukan malaikat di medan badr. Salah seorang sahabat lagi meriwayatkan kalau ia mendengar gemuruh yang sangat menakutkan diliputi awan gelap itu dan keluarnya pasukan malaikat, keponakan yang masih kecil wafat saat itu dari takutnya mendengar gemuruh yang sangat menakutkan itu. Gemuruh tasbih dan jeritan takbir dari ribuan para malaikat yang membantu medan badr.

Demikian dahsyatnya kemenangan ahlul taqwa yang berkumpul adalah orang yang paling taqwa kepada Allah, orang yang paling khusyu’, mereka menang bukan dengan banyaknya pasukan bukan dengan hebatnya senjata tapi dengan Allah. Kekuatan Illahiyah yang muncul pada mereka yang membuat Allah memenangkan pertempuran. Dan kejadian badr al kubro ini adalah semulia mulia kejadian karena bersatunya seluruh orang orang yang utama disaat sulitnya islam dan Allah jadikan kemuliaan itu kekal tidak sirna. Karena apa? karena ahlul badr lah yang kemudian muslimin muslimat mendapatkan kemenangan yang kemudian berkembanglah islam dan berkembang lagi.

Ketika muslimin mengandalkan pasukan dan banyaknya tentara, mereka kalah sebagaimana perang uhud. Perang uhud mulimin kalah padahal pasukannya banyak, senjatanya lengkap. Kenapa? karena mereka tidak taat apa yang diperintahkan sang Nabi. Pasukan pemanah jangan turun, padahal pasukan pemanah cuma 50 orang. Apa iya uhud ini kalah semua gara gara 50 orang? kenyataan kalau mereka bersatu dalam kekuatan Ilahi pasti menang karena Allah memberi kemenangan. Demikian hadirin hadirat hikmah dari peristiwa badr al kubro.

Kejadian kejadian itu diabadikan karena Allah swt menjadikan kejadian itu masih terus terdengar sampai beberapa tahun yang silam masih terdengar di medan badr. Wilayah badr itu setiap 17 ramadhan kalau bertepatan hari jumat di medan badr, beberapa tahun yang silam masih terdengar suara gemerincing dan suara takbir di medan itu (padang pasir) namun tidak ada wujudnya. Kenapa? Allah abadikan itu. Demikian medan mu’ta, kejadian perang mu’ta ketika Sayyidina Ja’far bin Abi Tholib syahid dan juga lainnya diabadikan sampai beberapa tahun yang silam. Ketika mulai dibangun universitas mu’ta ditempat itu di Yordan tidak lagi terdengar suara itu. Tapi sebelumnya ketika belum ada universitas mu’ta dan orang belum ramai, di medan mu’ta setiap hari jum’at subuh orang yang sholat subuh di masjid itu mereka akan mendengar gemuruh di wilayah padang tempat pertempuran medan mu’ta. Wujudnya tidak ada. Jadi orang yang usia 20 sampai 30 keatas masih bias bersaksi bahwa 10 tahun yang lalu sebelum masjid ini ada kami dengar suara itu. Demikian dahsyatnya Allah swt mengabadikan semangat mereka. Semangat bukan semangat emosi tapi semangat kekuatan Illahi, semangat khusyu’.

Demikian hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Medan Badr, Nuzulul Quran dan demikian banyaknya kejadian kejadian yang terjadi di bulan ramadhan dan kita tidak ikut di dalam kemuliaan kemuliaan itu tapi ketika jiwa kita ikut maka kita termasuk diantara mereka. Maukah kita diantara mereka? tentunya dengan mencintai Ahlul Badr, kita akan tergolong bersama mereka di yaumal qiyamah. Sebagaimana riwayat Shahih Bukhari Rasul saw ditanya oleh Abu Dzar “ya Rasulullah suatu kelompok mencintai kelompok lainnya tapi tidak bisa menyusul dengan kehebatan amal perbuatan mereka”, Rasul saw menjawab :”seseorang bersama dengan orang yang ia cintai”. Maka kita mengadakan acara besok malam di Monas Insya Allah, Haul Ahlul Badr dan semoga dengan itu kita dikumpulkan bersama ahlul badr.

Ya Rahman Ya Rahim Ya Dzaljalali wal ikram, hadirin hadirat bayangkan saat namaku dan namamu dipanggil kelak di yaumal qiyamah dan disaat itu kita akan melihat wajah wajah kita pun dipanggil oleh Allah satu persatu orang akan dipanggil, fulan bin fulan maju ke hadapan Allah, fulan bin fulan maju ke hadapan Allah. Kita akanmendengar danmelihat bagaimana agungnya wajah Ahlul Badr ketika dipanggil oleh oleh bagaimana terang benderangnya wajah mereka, sebagaimana firman Allah “wajah wajah mereka itu terang benderang menerangi mereka”. Hari dimana Allah tidak menghinakan Sang Nabi dan tidak menghinakan orang yang bersama beliau. Cahaya mereka menerangi mereka, bahkan mereka dinaungi oleh cahaya Allah Swt.

Kita berdoa kepada Allah, semoga Allah swt menerangi jiwa kita demi kemuliaan Ahlul Badr, demi cahaya Ahlul Badr, demi keshalihan dan ketaqwaan Ahlul Badr

Ya Rahman Ya Rahim, 313 nama nama agung yang paling Kau cintai dari umat ini kami bertawassul demi keagungan nama mulia mereka agar engkau jadikan limpahan kebahagiaan bagi kami dhahiran wa bathinan Ya Rahman Ya Rahim terangi hari hari kami dengan kebahagiaan, terangi jiwa kami dengan kesucian, terangi hari kami dengan keberkahan Ya Rahman Ya Rahim muliakan kami sebagai tamu yang termulia di bulan ramadhan, muliakan kami dengan kemuliaan laitulqadr, wahai Yang Maha Memiliki kemuliaan malam laitulqadr, Ya Rahman Ya Rahim Engkaulah Yang Maha Memiliki lailatulqadr, Engkaulah Yang Maha Memiliki malam mulia ini, Rabbiy malam ini kami meminta kepada Mu kemuliaan malam lailatulqadr, Ya Rahman Ya Rahim pastikan seluruh kami yang hadir mendapatkan kemuliaan lailatulqadr, kami meminta pada Mu Rabbiy, Ya Dzaljalali wal ikram agar Kau limpahkan kepada kami seribu kali lebih besar kemuliaan malam lailatulqadr hingga Kau jadikan setiap nafas kami Kau limpahkan kemuliaan lalatulqadr Ya Rahman Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Fakullu jami’an Laaillahailallah Laaillahailallah Laaillahailallah Laaillahailallah Muhammadurrasulullah. Insya Allah ta’ala minal aminin.

Hadirin hadirat kita memakmurkan esok malam Insya Allah kita doakan acara kita sukses, semoga Allah swt jadikan esok malam, malam bangkitnya kembali semangat ahlul badr di bumi Jakarta ini, semoga Allah swt kembali memberikan semangat dan anugerah khususnya kepada kita dengan segera Allah jadikan bumi Jakarta ini serambi Madinah Al Munawwarah, bumi yang paling banyak bershalwat dan berdzikir memanggil Nama Allah. Insya Allah kita akan berkumpul di monas esok malam dengan berdzikir Ya Allah sebanyak 1000X dan saya mohonkan kehadirannya sebelum pk. 21.00 WIB karena acara akan dimulai pk. 21.00 WIB.

Demikian hadirin hadirat hal yang perlu saya ralat, di malam selasa yang lalu ada ucapan yang saya salah ucap yaitu tentang haid. Wanita yang haid dan nifas di bulan ramadhan mengqadha puasanya dan yang tidak diqadha adalah sholatnya. Salah mengucapkan di malam selasa yang lalu. Demikian hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, semoga Allah swt memuliakan kita, keluarga kita dan ayahbunda kita dan segera Allah swt membenahi bumi Jakarta dan terus bumi Jakarta ini kita bentengi dengan lafdhul Jalallah dan keagungan Nama Allah swt dan semoga rahmat selalu terpencar pada muslimin.

Posted in Ahlussunnah, Ajaran Wahabi, Bid'ah, Hadits Dho'if, Hukum Islam, Hukum Mazhab, Majelis Dzikir, Majelis Rasulullah, Masjid Nabawi, Maulid Nabi, Nabi Muhammad, Para Habaib, Sejarah Islam, Shalawat Nabi, Sunnah, Tahlilan, Tasawuf, Tawasul, Wali Allah, Ziarah Kubur | Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Fitnah Terhadap Ulama Serta Bantahan Dari Habib Munzir Bin Fuad Almusawa

Posted by Teknik Jumper on October 24, 2008

PERTANYAAN DARI SESEORANG DI FORUM MAJELIS RASULULLAH

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Segala Puja & Puji Bagi Allah SWT & Semoga Sholawat serta salam tercurahkan atas baginda Nabi Muhammad SAW. Semoga dgn Nur beliau, terlimpahkan Hidayah, Inayah & Taufiqnya kepada kita sekalian.

Sebelumnya saya ingin menyampaikan banyak terima kasih kepada Habib yang telah meluangkan waktu, tenaga maupun pikirannya.

Semoga Allah SWT, memberikan kemudahan, kelancaran, kesehatan agar Habib dapat beristiqomah dalam membawa bendera Kalimat LAAILAAHAILLALLAH, dibawah naungan Panji Rasulullah SAW.

Habib, saya mendapatkan berita dalam bentuk selembaran dakwah dengan nama MIMBAR DAKWAH (Asuhan : H. Muhammad Abduh SH ).

dari isi mimbar tsb beliau mempublikasikan materi yang bertitle : FATWA ULAMA JOMBANG DALAM BERBAGAI IBADAH / AMALAN.

Tujuan dari materi tsb yakni : AGAR FATWA TSB BISA DIKETAHUI / TERSOSIALISASIKAN KEPADA SELURUH UMMAT.

Tgl dipublikasikan : 1 Romadhan 1423 H ( + 1 tahun yang lalu )

Yang menjadi pertanyaan saya adalah :

1. Apakah benar bahwa Fatwa ini memang merupakan dari Ulama-ulama Jombang ?

2. Bagaimanakah status hukum forum tsb : Apakah legal / Illegal ?

3. Bagaimanakah sikap kita dalam menyikapai Fatwa tsb ?

Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Endang S.

Campz/Penggilingan

JAWABAN DARI HABIB MUNZIR BIN FUAD ALMUSAW

Wa’alaikum warahmatullah wabarakatuh,


Kebahagiaan dan Kesejukan Rahmat Nya semoga selalu menaungi hari hari anda dg kesejahteraan,


Saudaraku yg kumuliakan,


1. Saya ragu jika para penulis itu adalah ulama, karena jelas sekali kedangkalan mereka dalam syariah.


2. Saya ragu pula bahwa mereka adalah kelompok aswaja.


3. Telah saya jawab mengenai risalah itu beberapa bulan yg lalu, berikut jawaban saya :

Dari Munzir Almusawa :

Alhamdulillahirabbil ‘alamiin, wasshalaatu wassalaamu alaa sayyidilmursalin, wa alihi wa shahbihi ajmain wa ba’du.

Telah disampaikan kepada saya mengenai lembaran ini, pertama kali yg muncul dalam hati saya adalah :


1. lembaran ini bermaksud memecah belah muslimin, membawa fitnah untuk merisaukan masyarakat awam.


2. saya tak percaya bahwa lembaran ini ditulis oleh para kyai, karena terlalu dangkal sekali dan menunjukkan kebodohan dan awam terhadap ilmu syariah, barangkali lembaran ini hanya ditulis oleh para pemuda yg iseng belaka, namun saya akan coba jelaskan satu persatu Insya Allah.


FATWA ULAMA JOMBANG DALAM BERBAGAI IBADAH / AMALAN
“Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-NYA dan melanggar ketentuan – ketentuan-NYA, niscaya Allah memasukannya kedalam api neraka sedang ia kekal didalamnya, dan baginya siksa yang menghinakan”. [QS an-nisa;14]

Pembaca yang mulia Dibawah ini kami kutipkan berbagai fatwa tersebut.

BEBERAPA FATWA ULAMA NU JOMBANG

Bismillahirrahmanirrahim
Kami Ulama dari Nahdatul Ulama di Jombang, Jawa Timur, setelah bermusyawarah dalam masalah peribadatan umat Islam yang selama ini dianggap sebagai ibadah, amalan yang tidak sesuai dengan syariat Islam, setelah mengkaji ulang beberapa kali dan mengkaji ulang hadits-hadits, pendapat para Imam, telah mengambil keputusan untuk menghimbau, sekali lagi sifatnya menghimbau kepada kaum muslimin diseluruh Indonesia khususnya kaum nahdhiyyin, agar merubah secara bertahap amalan yang selama ini kurang sesuai dengan syariat Islam, agar mengikuti fatwa kami sebagai berikut :
DALAM HAL SHOLAT

1. Agar meninggalkan kebiasaan membaca Usholi dengan suara keras. Karena niat itu pakerjaan hati, cukup dalam hati saja.

JAWAB
Hal ini merupakan ijtihad Imam Syafii Rahimahullah, barangkali anda belum mengenal siapa imam syafii, Imam Syafii adalah murid Imam Malik rahimahullah, beliau sudah hafidh alqur’an sebelum usia baligh, dan ia sudah melewati derajat Al Hafidh dimasa mudanya, yaitu telah hafal 100 ribu hadits dg sanad dan matan, dan beliau telah pula melewati derajat Alhujjah dimasa dewasanya, yaitu hafal 300 ribu hadits dg sanad dan matan, dan beliau kemudian terus memperdalam Syariah dan hadits hingga menjadi imam, dan murid beliau sendiri yaitu Imam Hanbali (Ahmad bin Hanbal) hafal 1 Juta hadits dg sanad dan matan, dan murid Imam syafii banyak yg sudah menjadi Muhaddits dan Imam pula, ratusan para Muhaddits dan Imam yg bermadzhabkan syafii, diantaranya Alhafidh Al Muhaddits Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthi, Imam Al Hafidh AL Muhaddits Syarafuddin Abu Zakariya Yahya bin Syaraf Annawawi, dan imam imam lainnya, maka sangkalan anda batil karena anda hanya menyangkal tanpa ilmu, bukan seorang mujtahid, apalagi Muhaddits, mengenai penggunaan lafadh itu sudah muncul dalam kalangan Imam Madzhab, maka yg bermadzhabkan syafii boleh menggunakannya, dan tak satupun dalil atau ucapan para Imam dan muhadditsin yg mengharamkannya, lalu bagaimana anda mengharamkannya?

2. Ba’da shalat, imam tidak perlu baca wirid, dzikir dengan suara keras, cukup dalam hati, dan imam ba’da shalat tidak perlu memimpin do’a bersama dengan jama’ah. Imam dan jama’ah berdo’a sendiri- sendiri dalam hati.

JAWAB
Rasulullah saw bila selesai dari shalatnya berucap Astaghfirullah 3X lalu berdoa Allahumma antassalam, wa minkassalaam….dst” (Shahih muslim hadits no.591,592)
Kudengar Rasulullah saw bila selesai shalat membaca : Laa ilaaha illallahu wahdahu Laa syariikalah, lahulmulku wa lahulhamdu…dst dan membaca Allahumma Laa Maani’a limaa a’thaiyt, wala mu’thiy…dst” (shahih Muslim hadits no.593)

Hadits semakna pada Shahih Bukhari hadits no.808, dan masih banyak puluhan hadits shahih yg menjelaskan bahwa Rasul saw berdzikir selepas shalat dengan suara keras, sahabat mendengarnya dan mengikutinya, hal ini sudah dijalankan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum, lalu tabi’in dan para Imam dan Muhadditsin tak ada yg menentangnya.

Mengenai doa bersama sama Demi Allah tak ada yg mengharamkannya, tidak pada Alqur’an, tidak pada hadits shahih, tidak Qaul sahabat, tidak pula pendapat Imam Madzhab, para sahabat mendengar Rasul saw berdoa, bahkan Rasul saw mengabarkan bahwa orang yg mendoakan orang lain maka malaikat mengaminkannya (Shahih Muslim).

3. Jama’ah ba’da shalat, tidak perlu mencium tangan imam, cukup bersalaman saja.

JAWAB
Kebiasaan mencium tangan merupakan kebiasaan baik sebagai tanda penghormatan, hal ini telah dilakukan dan diajarkan oleh Rasulullah saw, sebagaimana diriwayatkan bahwa Ibn Abbas ra setelah wafatnya Rasul saw beliau berguru pada Zeyd bin Tsabit ra, maka Ibn Abbas ra disuatu hari menuntun tunggangan Zeyd bin tsabit ra, maka berkata Zeyd ra : “jangan kau berbuat itu”, maka berkata Ibn Abbas ra : “beginilah kita diperintah utk menghormati ulama ulama kitai”.

Maka turunlah Zeyd bin tsabit ra dari tunggangannya seraya mencium tangan Ibn Abbas ra dan berkata : “Beginilah kita diperintah memuliakan keluarga Rasulullah saw”.
(Faidhul Qadir oleh Al hafidh Al Imam Abdurra’uf Almanaawiy Juz 2 hal 22), (Is’aful Mubtha’ oleh Imam Al Hafidh Al Muhaddits Imam Assuyuthi ).
Anda lihat kalimat : “beginilah kita diperintah..”, kiranya siapa yg memerintah mereka?, siapa yg mengajari mereka?, mereka tak punya guru selain Muhammad Rasulullah saw.

Riwayat lain adalah ketika Ka’b bin malik ra gembira karena taubatnya diterima Allah swt, ia datang kepada Rasul saw dan mencium tangan dan juga kedua paha beliau saw (Fathul Baari Al masyhur oleh Imam Al Hafidh Al Muhaddits Ibn Hajar Al Atsqalaniy juz 8 hal 122)

Riwayat lain : “Kami mendekat pada Nabi saw dan mencium tangan nabi saw” (Sunan Imam Al Baihaqi Alkubra hadits no.13362)

Riwayat lain : “Berkata Tamiim ra bahwa Mencium tangan adalah sunnah”. (Sunan Imam Baihaqi Alkubra hadits no.13363)

Demikian Rasul saw tak melarang cium tangan, demikian para sahabat radhiyallahu’anhum melakukannya.

Bahkan beberapa riwayat pada shahih Bukhari bahwa para sahabat menciumi tangan Rasul saw, dan Imam Nawawi dalam syarah Nawawi ala shahih Muslim dan Imam Ibn Hajar al asqalaniy dalam Fathul Baari bisyarah shahih Bukhari menjelaskan bahwa cium tangan para shalihin adalah hal yg baik dan telah diajarkan dimasa Rasul saw, dan hal itu sunnah, karena para sahabat melakukannya pada Rasul saw, dan para sahabat melakukannya dg sahabat lain, dan para tabiin melakukannya pada sahabat, bahkan Imam Muslim berkata pada Imam Bukhari : Izinkan aku mencium kedua kakimu wahai Raja Ahli hadits.. (rujuk tadzkiratul huffadh dan siyar a’lamunnubala)

4. Dalam shalat subuh, imam tidak perlu membaca do’a qunut, kecuali bila ada suatu bahaya terhadap kehidupan umat Islam secara keseluruhan.


5. Do’a qunut boleh dibaca disetiap shalat, bila ada keperluan yang bersifat darurat, tidak hanya dalam shalat subuh.

JAWAB
Berikhtilaf para Imam Madzhab mengenai pembacaan doa qunut, dan Imam Syafii berpendapat bahwa Qunut itu diwaktu setiap subuh, dan Imam Hanbali dan Imam Malik berpendapat Qunut adalah setiap waktu shalat.

Namun satu hal.. tidak ada yg mengharamkan Qunut dibaca setiap subuh, bahkan para Mufassirin menjelaskan tak ada qunut kecuali saat shalat subuh, sebagaimana diriwayatkan pada tafsir Imam Attabari Juz 2 hal 566, dan ini merupakan Ijtihad para Imam yg mengeluarkan pendapat dg beribu pertimbangan, dg keluasan ilmu syariah yg mendalam, dan telah diakui pula oleh puluhan Imam dan ratusan Huffadhulhadits dan Muhadditsin setelah mereka, maka menyangkal dan mengharamkan hal ini adalah kesesatan yg nyata.

6. Shalat Rawatib / shalat sunah qobliah / ba’diah adalah sebagai berikut : Qobla subuh, qobla dan ba’da dhuhur, shalat ashar tidak ada rawatib, ba’da magrib dan ba’da shalat isya.

JAWAB
Banyak riwayat lain mengenai rawatib Qabliyah asar bahwa Rasul saw shalat Rawatib Qabliyah Asar dan tak pernah meninggalkannya (Shahih Imam Ibn Khuzaimah hadits no.1114, 1118, Shahih Ibn hibban hadits no.2452, Mustadrak ala shahihain hadits no.1173, Sunan Attirmidziy hadits no.429 dan masih terdapat belasan riwayat hadits shahih mengenai shalat Qabliyah Asar diantaranya diriwayatkan pada Shahih Ibn Hibban, Shahih Muslim dll.

DALAM SHALAT JUM’AT

1. Sebelum khotib naik mimbar, tidak ada adzan dan tidak ada shalat sunat qobla jum’at

JAWAB
Diriwayatkan bahwa ketika jamaah jumat semakin banyak di Madinah maka Khalifah Utsman bin Affan ra menambahkan adzan jumat dg dua adzan (shahih Bukhari hadits no.870,871,874), maka menggunakan dua adzan ini merupakan sunnah hukumnya, karena Rasul saw telah bersabda : “Berpeganglah kalian pada sunnahku dan sunnah khulafa’urrasyidin para pembawa petunjuk (shahih Ibn Hibbah, Mustadrak ala shahihain). Maka tidak sepantasnya kita muslimin menghapuskan hal hal yg telah dilakukan oleh para sahabat, karena sungguh mereka jauh lebih mengerti mana yg baik dijalankan dan mana yg tak perlu dijalankan, pengingkaran atas perbuatan sahabat berarti menganggap diri kita lebih mengetahui syariah dari mereka, dan hal ini merupakan pengingkaran atas hadits Rasul saw yg memerintahkan kita berpegang pada sunnah beliau dan sunnah khulafa’urrasyidin, maka pengingkaran atas hal ini merupakan kesesatan dan kebodohan yg nyata.

Mengenai shalat dua rakaat sebelum jum’at hal itu adalah sunnah, sebagaimana teriwayatkan dari belasan hadits shahih yg menjelaskan bahwa Rasul saw melakukan shalat sunnah qabliyyah dhuhur dan ba’diyah dhuhur, dan para ulama dan muhadditsin berpendapat bahwa shalat jumat adalah pengganti dhuhur, demikian para Muhadditsin dan ulama berpendapat bahwa pendapat yg kuat adalah Qabliyah jumat merupakan sunnah. (Fathul Baari Almasyhur Juz 2 hal 426)

Ketika khotib duduk diantara dua khutbah, tidak ada shalawat

JAWAB
Tidak pernah ada larangan shalawat diperbuat kapanpun dan dimanapun, shalawat boleh boleh saja dibaca kapanpun dan dimanapun, silahkan munculkan ayat alqur’an atau hadits shahih yg mengharamkannya?, lalu bagaimana terdapat pelarangan dari apa yg tidak diharamkan Allah swt?, ataukah ada syariah baru?

2. Ba’da shalat jum’at, imam tidak mempunyai kewajiban untuk memimpin do’a bagi makmum dengan suara kuat, silahkan imam dan jama’ah berdzikir, wirid dan do’a masing- masing

JAWAB
Selama hal itu baik tidak ada salahnya dilakukan, yg tak boleh dilakukan adalah hal hal yg dilarang dan diharamkan oleh Allah dan Rasul Nya, dan tak pernah ada hadits dan ayat yg mengharamkan hal ini, maka mengharamkannya merupakan pengingkaran atas syariah

3. Dalam shalat jum’at, tongkat yang selam ini dipakai oleh khotib, bukan merupakan sarana ibadah, hanya kebiasaan Khalifah Utsman, sekarang dapat ditinggalkan.

JAWAB
Perbuatan sahabat merupakan hal yg mesti kita jalankan hingga kini, termasuk diantaranya adalah penjilidan Alqur’an, sebagaimana tak satu ayat pun atau hadits yg memerintahkan Alqur’an untuk dibukukan dalam satu kitab, itu baru dilakukan dizaman Khalifah Abubakar ra, dan selesai pada masa Khalifah Utsman bin Affan ra, maka mereka yg merasa tak perlu mengikuti perbuatan Utsman bin Affan ra berarti mereka pun tak mengakui kitab Alqur’an yg ada hingga kini, karena penjilidannya baru dilakukan dimasa sahabat, satu hal yg sangat menyakitkan hati adalah kalimat : “hanya kebiasaan Khalifah Utsman”, seakan akan bagi mereka Amirulmukminin Utsman bin Affan ra itu tidak perlu dipanut, bukan seorang baginda mulia yg sangat agung disisi Allah sebagai Amirulmukminin, padahal beliau ini dimuliakan dan dicintai nabi saw.

4. Sebelum khotib naik mimbar, tidak perlu pakai pangantar dan tidak perlu membaca hadits Nabi SAW tentang jangan berkata-kata ketika khotib sedang khutbah. Tetapi sampaikanlah bersamaan dengan laporan petugas masjid tentang laporan keuangan, petugas khotib dan imam, hal ini sebagai perangkat laporan administrasi masjid bukan proses ibadah dalam shalat jum’at.

JAWAB
Baru ini ada muncul ajaran yg mengatakan bahwa kabar laporan keuangan masjid jauh lebih baik dari hadits nabi saw

DALAM SHALAT TARAWIH / WITIR / TAHAJJUD

Dalam bulan ramadhan diwajibkan shaum dan dimalam hari disunnahkan shalat tarawih, witir, yang selama ini masih ada yang berbeda pendapat karena itu perlu dikeluarkan himbauan ini.

1. Shalat tarawih, dilakukan Nabi SAW, sebanyak 8 rakaat dan 3 rakaat witir dapat dilakukan dengan cara 4-4-3.


JAWAB

Rasul saw melakukan shalat malam berjamaah dibulan ramadhan lalu meninggalkannya, dan tak memerintahkan untuk melakukannya, dari sini kita sudah mengetahui bahwa shalat sunnah tarawih adalah Bid’ah hasanah, dan baru dilakukan di masa Umar bin Khattab ra, yg mana beliau melakukannya 11 rakaat, lalu merubahnya menjadi 23 rakaat, dan tak ada satu madzhab pun yg melakukannya 11 rakaat, Masjidilharam menjalankannya 23 rakaat, dan Masjid Nabawiy Madinah hingga kini masih menjalankan madzhab Imam Malik yaitu 41 rakaat, tak ada satu madzhab pun yg melakukan 11 rakaat. (Rujuk Sunan Imam Baihaqiy Al Kubra, Fathul Baari Almasyhur, Al Umm Imam Syafii)

2. Tidak disunahkan membaca do’a bersama-sama antara rakaat.

JAWAB
Namun tak ada pula hadits yg mengharamkannya, maka tak ada hak bagi muslim manapun untuk mengharamkan hal yg tak diharamkan oleh Allah, dan berdoa boleh saja dilakukan kapanpun dan dimanapun, dan melarang orang berdoa adalah kesesatan yg nyata.

3. Tidak dibenarkan antar jama’ah membaca shalawat Nabi bersahut-sahutan

JAWAB
Allah swt memerintahkan kita bershalawat, maka melarang seseorang untuk menjalankan perintah Allah swt Kufur hukumnya.

4. Sebelum ramadhan tidak perlu shalat tasbih dan shalat nisfu sya’ban dan sedekah ruwah karena hadits tentang kedua shalat tersebut ternyata dhaif, lemah dan berbau pada hadits maudhu (palsu) karena terputus parawinya dan shalat ini tidak pernah dilakukan oleh Nabi dan Sahabat.

JAWAB
Mengenai shalat Tasbih maka haditsnya jelas diriwayatkan pada Almustadrak ala Shahihain dan berkata Imam Hakim bahwa hadits itu shahih dg syarat Imam Muslim, dan Ibn Abbas ra melakukannya, dan para Muhadditsin meriwayatkan keutamaannya, dan Rasul saw memerintahkannya (Rujuk Fathul Baari Almasyhur, sunan Imam Tirmidzi, sunan Abi Daud, sunan Ibn Majah, Sunan Imam Baihaqi Alkubra dan banyak lagi).
Satu hal yg lucu adalah ucapan : “berbau pada hadits maudhu (palsu)”, ini baru muncul Muhaddits baru dengan ilmu hadits yg baru pula, yg mana belasan perawi hadits yg meriwayatkan hal itu namun para ulama sempalan ini mengatakan hal itu mesti dihapuskan.

5. Pada shalat witir dibulan ramadhan, tidak perlu ada do’a qunut.

JAWAB
Qunut bukan hal yg wajib, Qunut hukumnya sunnah, Qunut pada shalat witr diriwayatkan dg hadits shahih pada Shahih Ibn Khuzaimah hadits no.1095, Sunan Imam Addaarimiy hadits no.1593, Sunan Imam Baihaqy ALkubra hadits no.4402, Sunan Abu dawud hadits no.1425, dan diriwayatkan pula bahwa membaca qunut witir adalah sesudah setengah pertama ramadhan, yaitu pada setengah kedua (mulai malam 15 ramadhan) (Al Mughniy Juz 1 hal 448) tak ada madzhab manapun yg mengharamkan Qunut di subuh, di witir, bahkan hal ini merupakan sunnah dengan hujjah yg jelas, maka bila muncul pendapat yg mengharamkan Qunut maka jelas bukanlah muncul dari ucapan ulama muslimin.

DALAM UPACARA TA’ZIYAH

1. Keluarga yang mendapat musibah kematian, wajib bagi Umat Islam untuk ta’ziyah selam tiga hari berturut-turut.

JAWAB
Tidak ada satu madzhab pun yg mengatakannya wajib, hal ini sunnah muakkadah, tidak ada dalil ayat atau hadits shahih yg mengatakan takziyah 3 hari berturut turut adalah wajib.

2. Kebiasaan selama ini yang masih melakukan hari ke 7, ke 40 dan hari ke 100 supaya ditinggalkan karena tidak ada contoh dari Nabi Muhammad SAW dan tidak ada tuntunannya. Upacara itu berasal dari ajaran agama Hindu dan Budha, menjadi upacara dari kerajaan Hyang dari daratan Tiongkok yang dibawa oleh orang Hindu ketanah melayu tempo dulu.

JAWAB
Mengikuti adat kuffar selama itu membawa maslahat bagi muslimin dan tidak melanggar syariah maka itu boleh saja, sebagaimana Rasul saw pun ikut adat kaum yahudi yg berpuasa di hari 10 Muharram (asyura) karena hari itu hari selamatnya Musa as dari kejaran fir’aun, maka Rasul saw pun ikut berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa asyura (shahih Bukhari, shahih Muslim)

Demikian pula kita menggunakan lampu, kipas angin, karpet, mikrofon, speaker dll untuk perlengkapan di masjid yg kesemua itu adalah buatan orang kafir dan adat istiadat orng kafir, boleh saja kita gunakan selama itu manfaat bagi muslimin dan tidak bertentangan dg syariah, demikian pula Alqur’an yg dicetak di percetakan, dan mesin percetakan itupun buatan orang kafir, dan mencetak buku adalah adat orang kafir, juga Bedug di masjid yg juga adat sebelum islam dan banyak lagi.

Boleh boleh saja kumpul kumpul dzikir dan silaturahmi dirumah duka 7 hari, 40 hari, bahkan tiap hari pun tak apa karena tak pernah ada larangan yg mengharamkannya.

3. Dalam ta’ziyah diupayakan supaya tidak ada makan-makan, cukup air putih sekedar obat dahaga.

JAWAB
Bukankah air putih pun merupakan hidangan?, bila anda mengharamkan hidangan bagi yg takziah, lalu dalil apa yg anda miliki hingga anda memperbolehkan air minum dihidangkan?, telah sepakat Ulama bahwa hidangan di tempat rumah duka hukumnya mubah, dan yg makruh dan haram adalah membuat pesta besar besaran saat ada kematian sebagaimana dimasa jahiliyah, mereka menyembelih banyak kerbau jika ada yg wafat untuk membuat pesta dg alas an menghibur keluarga duka, dan tak ada muslimin yg membuat pesta besar besaran jika ada kematian.

4. Acara dalam ta’ziyah baca surat Al Baqarah 152-160, kemudian adakan tabligh yang mengandung isi kesabaran dalam menerima musibah tutup dengan do’a untuk sang almahrum, tinggalkan kebiasaan membaca surat yasin bersama-sama, tahlil dan kirim fadhilah, semua itu ternyata hukumnya bid’ah.

JAWAB
Aturan mana yg menentukan Al Baqarah 152 – 160 dirangkai Tabligh lalu ditutup dg doa?, anda pun mengada ada saja tanpa Nash yg jelas dari hadits shahih.
Tahlil, Yaasiin dan dzikir yg dihadiahkan pada mayyit merupakan amal amal yg dikirimkan pada mayyit, dan itu diperbolehkan oleh Rasul saw, sebagaimana diriwayatkan bahwa seorang wanita datang pd Rasul dan bertanya : “wahai rasulullah, aku bersedekah dg membebaskan budak dan pahalanya kukirimkan untuk ibuku yg telah wafat, bolehkah?, Rasul memperbolehkannya, lalu wanita itu berkata lagi : ibuku sudah wafat dan belum haji, bolehkah aku haji untuknya?, Rasul saw memperbolehkannya, lalu wanita itu berkata lagi : “wahai Rasulullah, ibuku wafat masih mempunyai hutan puasa ramadhan sebulan penuh, maka bolehkah aku berpuasa untuknya?, maka Rasul sae menjawab : Boleh (shahih Muslim)

DALAM UPACARA PENGUBURAN

1. Tinggalkan kebiasaan dalam shalat jenazah dengan mangajak jama’ah untuk mengucapkan kalimat bahwa “jenazah ini orang baik, khair khair” Hal ini tidak pernah dilakukan Rasulullah SAW, dan tidak ada hadits sebagai pembimbing.

JAWAB
Ketika lewat sebuah jenazah dihadapan Rasul saw maka para sahabat memujinya dengan kebaikan, maka Rasul saw berkata : “semestinya.. semestinya.. semestinya..”, lalu tak lama lewat pula jenazah lain, dan para sahabat mengutuknya, maka rasul saw berkata : “semestinya.. semestinya.. semestinya..”. maka berkatalah Umar bin Khattab ra mengapa beliau berucap seperti itu, maka Rasul saw menjawab : “Barangsiapa yg memuji jenazah dg kebaikan maka sepantasnya baginya sorga, dan barangsiapa yg mengutuk jenalzah dg kejahatannya maka sepantasnya baginya neraka, kalian adalah saksi Allah dimuka Bumi.., adalah saksi Allah dimuka Bumi..,

adalah saksi Allah dimuka Bumi..” (shahih Muslim hadits no.949, Shahih Bukhari hadits no.1301), lalu pula ketika dimasa Umar bin Khattab ra menjadi khalifah pun terjadi hal yg sama yaitu lewat jenazah maka orang orang memujinya, maka Amirulmukminin Umar bin Khattab ra berkata : “sepantasnya..”, lalu lewat jenazah lain dan orang orang mengumpatnya, maka Amirulmukminin Umar bin Khattab ra berkata : “sepantasnya..”. maka para sahabat bertanya dan berkata Amirulmukminin Umar bin Khattab ra : “tiadalah jenazah disaksikan 4 orang bahwa dia orang baik maka ia masuk sorga”, lalu kami bertanya : Bagaimana kalau tiga saja yg bersaksi?, beliau ra menjawab : “walaupun tiga”. Lalu kami bertanya lagi : Bagaimana kalau dua orang saja..??, maka beliau ra menjawab : “dua pun demikian”. Maka kami tak bertanya lagi”. (shahih bukhari hadits no.1302), oleh sebab itu sunnah kita mengucapkan : “khair..khair..” pada jenazah dengan Nash yg jelas dan shahih dari shahihain dll.

1.Tinggalkan kebiasaan ketika mengangkat jenazah turun naik 3 kali, sambil dibacakan fatihah.


2. Tinggalkan kebiasaan selama ini adanya bimbingan kepada mayat yang sudah dalam kubur, yang disebut dengan talqin.


3. Tinggalkan kebiasaan membangun kuburan dengan bangunan yang mewah.


4. Tinggalkan kebiasaan selama ini membaca kitabsuci Al-Qur’an (Surah Yasin) diatas kuburan, kalau ziarah kekuburan bersihkan kemudian berdo’a.

JAWAB
semua hal yg diadakan setelah Rasul saw wafat selama itu membawa manfaat bagi muslimin dan tidak bertentangan dengan syariah islam maka hal itu boleh dilakukan, demikian fatwa Imam Syafii rahimahullah yg selaras dengan hadits Rasul saw : “Barangsiapa membuat buat hal baru yg baik maka baginya pahalanya dan pahala orang yg mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yg buruk maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dosanya” (Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi).

Hadits ini menjelaskan makna Bid’ah hasanah dan Bid;ah dhalalah.

Dan Rasul saw bersabda : sebesar besar dosa seseorang pada muslim lainnya adalah orang yg mempermasalahkan suatu hal yg halal, lalu menjadi haram sebab ia mempermasalahkannya” (Shahih Bukhari).

Demikian beberapa fatwa yang kami simpulkan, karena masalah yang kami kemukakan diatas sangat banyak dipertanyakan dari berbagai kalangan dan terutama dari kalangan besar nahdhiyyin.

Fatwa ini datang dari berbagai ulama NU yang berkumpul di Jombang dalam suatu pengajian, sehingga oleh KH Musthofa Djalil dikumpulkan beberapa ulama untuk membahas berbagai masalah sehari-hari yang masih menjadi silang sengketa dari kalangan ummat Islam, khususnya dari kalangan nahdiyyin untuk menjadi pegangan sehingga dapat diadakan bahan pertimbangan dan jangan melakukan perubahan dengan cara yang kurang bijaksana, khawatir akan menimbulkan gejolak, lakukanlah sosialisasi fatwa ini dengan diskusi dengan jiwa kebersamaan untuk menuju kepada ibadah dan pengamalan yang benar menurut syariat Islam. Kepada saudara-saudara yang menerima fatwa ini agar memperbanyak fatwa ini dan disampaikan secara beranting kesemua ummat Islam agar secara tersosialisasi dengan cepat.

Semoga Allah SWT menuntun kita kejalan yang lurus.

Jombang, 1 Ramadhan 1423 H

1. KH Musthofa Djalil

2. KH Abdullah Siddiq

3. KH Machfhud Siddiq

4. KH Abdullah Hasim

5. KH Hasyim Bascan

6. KH A Ridwan Hambal

7. KH Fathurrahman Sujono

8. KH Kholil Anshor

9. KH Tantowi Jauhari

Notulis Pertemuan : Drs H.M Sungkono, dikutip sesuai aslinya dari bulletin mimbar
da’wah

JAWAB
apapun yg dijadikan fatwa, namun fatwa fatwa diatas adalah batil dan tidak dilandasi pemahaman yg jelas dalam syariah islamiyah, oleh sebab itu saya menilai bahwa msutahil risalah ini ditulis oleh ulama.

Wassalam.
Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga sukses dg segala cita cita, semoga dalam kebahagiaan selalu,

Wallahu a’lam

Posted in Ahlussunnah, Ajaran Wahabi, Bid'ah, Hadits Dho'if, Hukum Islam, Hukum Mazhab, Majelis Dzikir, Majelis Rasulullah, Masjid Nabawi, Maulid Nabi, Nabi Muhammad, Para Habaib, Sejarah Islam, Shalawat Nabi, Sunnah, Tahlilan, Tasawuf, Tawasul, Wali Allah, Ziarah Kubur | Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Kelezatan Cinta Kepada Allah SWT dan Rasul-Nya

Posted by Teknik Jumper on October 24, 2008

ImageLimpahan puji kehadirat Allah swt yang Maha berhak atas kesempurnaan yang mulia, Maha Suci Allah yang dengan mengikuti Sang Nabi terangkatlah derajat kita kepada puncak kehidupan yang abadi, Maha Suci Allah, Nama Yang Maha Agung, Maha Berwibawa dengan kewibawaan yang Abadi, Maha Terang benderang Menerangi jiwa dengan kemuliaan khusyu, menerangi sanubari dengan ketenangan dan sakinah, menenangkan hari-hari mereka didalam kenikmatan yang melebihi seluruh kenikmatan, Kenikmatan khusyu dan rindu kehadirat Allah, yang bila telah bangkit dari sanubari bagaikan matahari yang terbit, maka sirnalah seluruh kenikmatan dan segala kesedihan, tenggelam dalam keasyikan pada Nama Allah swt..

Inilah (wahai) hadirin-hadirat surga bagi mukminin-mukminat sebelum mereka mengenal surga, Akan tetapi kita lihat bagaimana para Sahabat radhiyallahu’anhum dan para pengikutnya, dan para Shalihin dan Muqarrabien, mereka menginginkan kebersamaan selalu dengan mausia yang paling dekat kepada Allah (yaitu) Sayyidina Muhammad saw, karena apa?, Karena mereka merasakan kelezatan saat mereka bersama Nabi Muhammad saw, mereka merasakan puncak kekhusyuan saat mereka bersama Nabi Muhammad saw dan mereka tidak merasakan kelezatan hidup melebihi saat saat mereka bersama Rasulullah saw.

Oleh sebab itu sering kita dengar riwayat semacam Sayyidina Tsauban ra yang merasa tidak lagi menginginkan kenikmatan surga kecuali yang diinginkan adalah bersama Sang Nabi, Seperti hal hal semacam ini karena apa? Karena mereka merasakan kelezatan saat mereka bersama Nabi Muhammad saw.., Kelezatan apa?, Tentunya kelezatan dekat kepada Allah.., kelezatan khusyu.., kelezatan tuma’ninah.., ketika mereka memandang wajah Sang Nabi dan ketika mereka bersama Nabi Muhammad saw, Sebagaimana dijelaskan didalam Majmu’zawaid dan Musnad Imam Ahmad berkata Sayyidina Abu Hurairah “Yaa Rasulullah idza ra’ynaka raqqat quluubina..!”, Wahai Rasulullah jika kami melihat wajahmu kami terangkat pada puncak kekhusyuan.., Banyak diantara kita memandang benda, memandang gunung, memandang laut, maka terangkat (muncul) tuma’ninah dan khusyu dalam jiwa semakin ingat kepada Allah dan demikian dan lebih dan lebih memandang Nabi Muhammad saw yang menjadi lambang rahmat ilahi..,

Datanglah seseorang bertanya kepada Sang Nabi “yaa Rasulullah kapan datangnya hari kiamat?” (kita bertanya) siapa orang ini? Al Imam Ibn Hajar Asqalani didalam kitabnya Fathul Baari bisyarah Shahih Bukhari menjelaskan orang yang bertanya ini orang yang membuang air kecil di Masjid Nabawi. Orang yang boleh dikatakan sangat kurang ajar dan minim pemahamannya dan juga imannya, dia bertanya “kapan hari kiamat?” Rasul menjawab dengan pertanyaan “bukan kapan yang mestinya kau ketahui, apa yang kau siapkan? jangan bicarakan kapan hari kiamat karena yang diperlukan adalah persiapanmu, apa yang kau persiapkan?” ia berkata “La syai..! Tidak ada apa-apa yang kusiapkan. Maksudnya apa? Ia beramal hal yang fardhu dan memperbanyak hal yang sunnah semampunya tapi tidak punya satu amal yang ia andalkan terkecuali Mahabbatullah awa Rasul. Yang ku andalkan cinta kepada Allah dan RasulNya Muhammad saw, ini yang menjadi andalanku yang lain tidak ku andalkan walaupun akau beramal. “La syai” disini bukan berarti tidak beramal, beramal tetapi dia tidak mengandalkannya. Yang ia andalkan cintanya kepada Allah dan Rasul, maka Rasul menjawab “engkau bersama dengan orang yang engkau cintai” dijawab kabul dari cintanya kepada Allah dan Rasul diijabah langsung oleh Rasul saw. Barangkali kalau amalan lainnya belum tentu diijabah oleh Allah, tetapi cinta kepada Sang Nabi langsung dijawab oleh Rasul “anta ma a man ahbabta..!” engkau bersama dengan orang yang kau cintai.

Karena cinta ini (wahai) hadirin-hadirat adalah kiblatnya jiwa, kemana jiwa itu mengarah pasti kepada orang atau siapapun yang ia cintai. Walaupun ia menghadap kiblat tetap jiwanya akan mengarah kepada yang ia cintai, walaupun ia bersujud kepada Allah jiwanya akan bersama dengan orang yang ia cintai. Beruntung orang-orang yang mencintai Allah dan Rasul. Maka berkata Sayyidina Anas ibn Malik ra “kami tidak pernah gembira dalam suatu kegembiraan selain mendengar kabar : kau akan bersama dengan orang yang kau cintai. Kabar (inilah) yang sangat menggembirakan kami, janji dari Sang Nabi dan beliau ra Sayyidina Anas berkata “dan aku mencintai Rasulullah, aku mencintai Nabi Muhammad saw, Abu Bakar, dan Umar dan aku berharap akan bersama mereka walaupun aku tidak mampu beramal sedahsyat amal mereka. Ucapan Anas Ibn Malik yang dicantumkan didalam Shahih Bukhari ini diakui tentunya dan dibenarkan oleh seluruh Muhaddits dan ulama Ahlussunnah wal jamaah bahwa kecintaan kepada seseorang akan mengantarkannya bersama kelak di Yaumil Qiyamah. Hadits ini merujuk pada satu makna : beruntung mereka yang mencintai Nabi Muhammad saw, beruntung mereka dengan keberuntungan dunia dan akhirat mereka yang mencintai Sayyidina Muhammad saw, yang mencintai Rasulullah saw, Sungguh mereka akan bersama Sang Nabi, yang mencintai para shalihin mereka akan bersama dengan orang yang mereka cintai.

Hadirin-hadirat , lihat arah jiwamu, palingkan kepada makhluk yang dicintai Allah, apakah shalihin, apakah syuhada, terutama Nabi mulia yang paling dicintai Allah (yaitu) Nabi Muhammad saw. Disifatkan didalam taurat tentang kemuliaan Sang Nabi dari sifat-sifat beliau diriwayatkan didalam Shahih Bukhari “wala yadfa’ussayyi’atu bissayyi’ah” Rasul saw itu tidak membalas kejahatan dengan kejahatan akan tetapi beliau saw memaafkan dan mengampuni. Inilah budi pekerti manusia yang paling mulia, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, bahkan semakin jahat musuhnya semakin lembut beliau bahkan dan semakin keras keinginan Beliau mendoakan mereka dan mengajak kepada keluhuran, “walakin ya’fu wayaghfir”, Beliau memaafkan dan mengampuni, Manusia yang paling pemaaf adalah Nabi Muhammad saw oleh sebab itu dipuji oleh Allah “fainnakala’ala khuluqin adhim”, “walan yaqbidhahullah hatta yuqiima bihilmillatal ‘auja” Allah tidak akan mencabut ruh Sang Nabi sampai ia meluruskan agama yang telah disesat dan diselewengkan, sampai mereka mengucapkan dan meyakini Laailaahaillallah, sampai jiwa mereka terang benderang dengan Laailaahaillallah, sampai mereka tidak mengakui ada tuhan lain selain Allah. Terbukalah dengan kebangkitan Sang Nabi, terbuka mata yang buta menjadi melihat, telinga yang tuli menjadi mendengar, jiwa yang tertutup menjadi terbuka dengan cahaya hidayah. Bukan berarti orang-orang itu buta tetapi buta matanya dari hal yang mulia disisi Allah, ia melihat tapi tidak mau melihat apa-apa yang dimuliakan Allah, ia mendengar tapi telinganya berat mendengar hal-hal yang mulia disisi Allah, dan jiwa yang tertutup akan terbuka dan terbit dengan cahaya kebahagiaan dan kemuliaan dengan kebangkitan Nabi Muhammad saw.

Demikian hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah, demikian agungnya sifat Sang Nabi dan tentunya kita barangkali malu medengar sifat mulia Sang Nabi ini yang belum mampu kita ikuti, paling tidak kita memahami inilah sosok idola, inilah manusia yang indah yang paling pantas aku cintai Sayyidina Muhammad saw. Allah munculkan sifat-sifat mulia pada Sang Nabi agar dicintai oleh ummatnya saw, dan kemuliaan ini terwariskan pada jiwa para sahabat ra pewaris risalah Nabawiyah yang pertama dan kemudian dilanjutkan oleh para penerus risalah dari zaman ke zaman.

Ketika Rasul saw bersabda “orang yang memanjangkan celananya atau sarungnya maka Allah tidak akan memandangnya kelak di hari kiamat”. Mereka yg memanjangkan celananya atau sarungnya di bawah mata kaki tidak akan dilihat oleh Allah dihari kiamat. Ini sebagian saudara kita salah paham menganggap hal seperti ini tidak boleh maka mereka mungkin selalu menggulung celananya karena takut tidak dilihat oleh Allah, bukan ini maksudnya, karena hadits riwayat Shahih Bukhari ini diteruskan dan masih ada terusannya, Abu Bakar Asshiddiq ra memanjangkan salah satu dari pakaiannya kebawah seraya berkata “Yaa Rasulullah aku memakai pakaian seperti ini apakah Allah tidak melihatku nanti dihari kiamat?”. Tidakdilihat disini adalah tidak dihormati oleh Allah, yaitu dihina oleh Allah, Maka berkata Rasul saw : “sungguh kau berbuat seperti itu bukan karena kesombongan”, Jadi yang dilarang itu memanjangkan celana atau sarung karena sombong, Ini hampir tidak ada dimasa sekarang karena dizaman dulu orang bisa membedakan atara orang miskin dengan orang kaya raya dengan melihat celananya atau sarungnya yang dipanjangkan, Kalau orang kaya raya pasti ciri khasnya untuk membanggakan dirinya dia panjangkan celana atau sarungnya karena itu tanda ia selalu naik kereta tidak pernah berjalan kaki, tapi kalau para budak dan para fuqara pasti celananya dipendekkan karena selalu berjalan diatas debu, Ini zaman dahulu, zaman sekarang hal seperti ini hampir tidak pernah terjadi orang memanjangkan celananya karena tanda kesombongan, dan itu bukan simbol kesombongan lagi, bukan simbol orang miskin bukan simbol orang kaya, Oleh sebab itu sebagian saudara kita yang salah paham akan pertanyaan seperti ini selalu ditanyakan kepada saya lewat email atau website kesempatan ini saya menjawab,

Hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah sampailah kita dimalam mulia ini di hari pertama bulan Dzulhijjah, malam-malam agung seperti ini mengingatkan kita kepada peristiwa Hujjatul Wada’, dimana Rasul saw keluar dari Madinatul Munawwarah pada tanggal 25 Dzulqa’dah tahun 11 Hijriah dalam pendapat lain tahun 10 Hijriah keluarlah beliau bersama para sahabat untuk melakukan Haji dan Haji itu disebut Hujjatul Wada (Haji perpisahan) karena itu haji yang pertama dan haji yang terakhir. Rasul saw keluar pada hari sabtu 25 Dzulqa’dah untuk menuju medan haram, dan beliau saw sampai di Makkah Almukarramah dan melakukan fardhu Haji dan kemudian dimedan Arafah beliau berkhutbah didekat Jabalul Rahmah didengar oleh sedemikian banyak para sahabat diriwayatkan jumlah mereka 60 ribu dari para sahabat yang hadir pada hari itu dan Rasul berbicara tanpa pengeras suara akan tetapi yang paling depan dan paling belakang sama jelasnya mendengar suara beliau saw.

Dari salah satu ucapan beliau saw bersabda dalam khutbahnya “wahai hadirin aku merasa barangkali aku tidak berjumpa lagi dengan kalian dihaji yang akan datang, saksikan aku sudah menyampaikan risalah ini”. Demikian hadirin-hadirat kejadian Hujjatul Wada dan Rasul saw kembali dari medan haji ini dan setelah beliau kembali tidak lama beliaupun berziarah ke makam Baqi’, Beberapa bulan kemudian adalah Rabiul awwal dari bulan wafatnya Rasulullah saw saw, Beliau berziarah ke Baqi menziarahi Ahlul Badr, Demikian dijelaskan didalam Sirrah Ibn Hisyam beliau saw mendatangi kuburan Baqi lantas mengucapkan salam kepada syuhada Badr, saudara-saudar beliau saw yang telah berjuang hingga wafat membela perjuangan Allah dan RasulNya di perang Badr Al Kubra.

Beliau saw mengucapkan salam di pemakaman Badr lantas disaat itu ada salah seorang sahabat yg melihat Sang Nabi menangis dan menagis dalam doanya dimedan Baqi berziarah kepada sahabatnya yaitu Ahlul badr dan setelah itu Rasul berpaling kepada nya seraya berkata “wahai engkau, telah dipilihkan kepadaku dua pilihan untuk memilih hidup kekal dimuka bumi sampai hari kiamat dan juga surga kelak atau aku dalam surga dan bertemu Allah dan aku memilih surga dan berjumpa dengan Allah. Maka berkatalah sahabat itu “Yaa Rasulullah pilihlah yang pertama agar kau kekal didunia ini” Rasul berkata “aku memilih yang kedua…”, Sekembalinya beliau dari ziarah mulailah beliau ditimpa sakit yang membawa wafatnya. Tanggal 1 Rabiul awwal mulailah sakit beliau saw dan pada tanggal 12 Rabiul awwal beliau pun mangkat dan wafat disaksikan oleh para sahabat. Kejadian ini setelah Hujjatul Wada, Hujjatul Wada bulan Dzulhijjah lantas bulan Muharram dan Safar lalu Rabiul awwal wafatnya Nabi Muhammad saw.

Hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah, wafatlah Sang Nabi dan meninggalkan kemuliaan dan warisan agung pada kita, diteruskan oleh para khalifah-khalifah mulia dari mulai Sayyidina Abu Bakar Asshiddiq ra, Sayyidina Umar bin Khattab ra, Sayyidina Utsman bin Affan ra, Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw dan para pembesar sahabat yang terus membawakan kemuliaan Alqur’an, kemuliaan sunnah dan kemuliaan syariatul Mutaharah (Syariah yg suci), sampai masa-masa wafat merekapun tetap tersaksikan padanya cinta mereka kepada Allah dan Rasul, Ketika dimasa wafatnya Sayyidina Umar ibn Khattab ra diriwayatkan didalam Shahih Bukhari ketika beliau sudah ditaruh diatas tipan maka berkatalah Ibn Abbas ra untuk menenangkan Sayyidina Umar yang sedang menghadapi sakarah “wahai Umar kau telah menjadi sahabat Rasulullah, kau telah berbakti kepada Rasul dengan sebaik-baiknya bakti dan beliau pun wafat dalam keadaan ridha kepadamu wahai Umar, lantas kaupun bersahabat dengan Abu Bakar Asshiddiq kau telah berbakti kepadanya sebagai khalifah sampai iapun wafat dalam keadaan ridha kepadamu wahai Umar, dan kini engkau dihadapan sakarah kami sahabat-sahabat mu telah ridha atas apa yang engkau perbuat wahai Umar dan kami ridha kepadamu dan kau wafat dalam keadaan ridha dari kami”. Maka berkata Sayyidina Umar bin Khattab “kalau seandainya keridhaan Rasul itu adalah anugerah Allah kepadaku, demikian pula keridhaan Abu Bakar Asshiddiq itu adalah anugerah Allah kepadaku, tapi kalian?” kata Umar bin Khattab.

Maksudnya apa? Karena mereka masih hidup dan Umar bin Khattab tidak menyaksikan keridhoan mereka saat mereka wafat. Yang kutakutkan diantara kalian ada yang mempunyai hak atasku, seandainya aku memiliki gunung emas akan aku bagi-bagikan agar tidak ada satupun yang tidak ridha kepadaku sehingga aku tidak bertemu dengan azabnya Allah. Demikian hebatnya wafatnya para Khulafaur Rasyidin, hadirin-hadirat demikian wafatnya Sayyidina Utsman bin Affan ra yang beliau ini dimusuhi oleh sebagian orang sehingga beliau diblokir rumah beliau untuk tidak bisa beliau keluar dari rumah, tidak pula bisa mendapatkan kiriman makanan dan minuman. Maka berkata sahabat lainnya “wahai khalifah keluarkan pasukanmu untuk menyingkirkan orang-orang ini yang menghalangimu dari pada makanan dan minuman dan menghalangimu untuk masuk kemasjid, Utsman bin Affan berkata “aku tidak akan menumpahkan darah muslimin hanya karena satu manusia bernama Utsman bin Affan, biarkan mereka apa yang mereka perbuat, sampai orang – orang diluar tidak sabar akhirnya Utsman bin Affan ra wafat sebagai syahid ketika Ia membaca Al Qur’an nul karim dan Ia pun wafat dalam keadaan ditusuk.

Demikian pula wafatnya sayyidina Ali bin Abi Thalib ra , demikian hadirin hadirat para pembela Rasul dan para pembela risalah, sampailah kita dimalam ini menikmati hasil perjuangan mereka, hasil dari pada perjuangan mereka adalah Al Quran yang sampai kepada kita dan hadits nabawi, setiap huruf – hurufnya tercetak dengan darah dan pengorbanan mereka, hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, dimalam mulia ini kita mendengar sabda Nabi Muhammad saw untuk menenangkan jiwa kita, Rasul telah wafat, Khulafaur Rasyidin, para orang mulia telah wafat , para guru – guru kita banyak yang telah yang wafat, tinggallah kita dalam waktu yang dekat akan pula wafat dan kembali, membawa apa kita akan pergi, hadirin Sang Nabi telah bersabda, diriwayatkan dalan Sahih Bukhari ” akan kalian lihat setelah aku wafat hal hal yang tidak kalian sukai, dari fitnah, dari musibah, dari permasalahan, bersabarlah kalian sampai kalian menjumpai aku ditelaga Haudh”. Demikian sabda Nabi Muhammad menenangkan para pencintanya, menenangkan orang – orang yang selalu ingin bersama Allah, dengan mencintai Nabi Muhammad, beliau menenangkan hati mereka, kalian akan temukan apa yang tidak kalian sukai setelah aku wafat…., bersabarlah sampai kalian berjumpa denganku ditelaga Haudh”.

Kita bermunajat kepada Allah, Rabbiy pastikan semua wajah kami yang hadir dan berjumpa beliau ditelaga Haudh… Yaa Allah.. yaa Allah… 5x, Yaa Rahman yaa Rahim kami mencintai Nabi Muhammad, kami mencintai Abu Bakar Asshiddiq, kami mencintai Umar bin khatab, kami mencintai Utsman bin Affan, kami mencintai Ali bin Abi Thalib, kami mencintai Sayyidatuna Fathimah tuzahra, kami mencintai ahlul Badr, kami mencintai ahlul uhud, kami mencintai para wali Allah, namun kami tidak mampu mengejar dengan amal – amal kami sebagaimana dasyatnya amal mereka, maka Rabbiy pastikan kami bersama mereka karna cinta kami kepada mereka yaa Rabb, telah tenang jiwa kami ketika melewati musibah dan kesulitan didunia, kami mendengan kabar dari Sang Nabi : ” bersabarlah kalian sampai kalian menjumpai aku ditelaga Haudh” pastikan kami semua yang mendapatkan janji sang Nabi, Rabbiy kami bersabar sampai kami berjumpa dengan Nabi kami ditelaga Haudh, bersabar atas kerinduan, bersabar atas cinta kami, melihat wajah beliau yaa Rabb, telah Kau halangi mata kami dari memandang wajah Nabi kami, akan tetapi kami disabarkan oleh janji beliau : “bersabarlah kalian sampai kalian menjumpai aku ditelaga Haudh”

Yaa Rahman Yaa Rahim pandanglah segala buruknya amal kami, hinanya jiwa kami dari sanubari yang selalu ingkar dari semua yang Engkau ridhai, dan selalu ingin dengan hal hal yang Engkau murkai, kepada siapa kami mengadukan hati ini Rabbiy, kalau bukan kepadaMu yaa Rabb, akan tetapi dalam gelapnya jiwa dan sanubari ini ada kecintaan kepada Sayyidina Muhammad saw, dan amal amal yang saleh, maka jadikanlah titik terang ini menjadi matahari yang terang dalam jiwa kami dan jangan wafatkan kami kecuali sebagai ahlul sujud, sebagai ahlul khusyuk, sebagai ahlul taubah, sebagai ahlu qiyamulail, yaa Rahman yaa Rahim pastikan wafat kami kelak dalam puncak kemuliaan dan kesempurnaan ibadah, pastikan malam wafat kami atau siang wafat kami didalam khusnul khatimah yaa Rahman yaa Rahim pastikan kami bangkit di Yaumil qiyamah bersama orang orang yang kami cintai dan pastikan kami berjumpa dengan Nabi kami Muhammad saw.

Dan Rabbiy kami berdo’a untuk muslimin muslimat khususnya didaerah JABODETABEK yang masih terus ditimpa musibah hujan, Rabbiy Rabbiy terangkanlah permukaan alam semesta ini datangkan hujan yang membawa rahmat, dan jangan Engkau datangkan hujan yang membawa musibah, datangkanlah kemarau yang membawa rahmat dan jangan Engkau datangkan kemarau yang membawa musibah, singkirkan segala wabah penyakit, perbaiki akidah kami dan jiwa muslimin, kami mengadukannya kepada Mu yaa Rabb, dari dosa dosa kami, dari semua hajat kami, dari semua niat kami, dari semua harapan kami, kami titipkan kepada nama Mu yang Maha Agung, nama yang jika menyerunya maka terangkat jiwa kami kepada kemuliaan dan berjatuhan dosa – dosa kami.

Yaa Allahu yaa Allah… Yaa Allahu yaa Allah… Yaa Allahu yaa Allah… Yaa Allahu yaa Allah… Yaa Allahu yaa Allah… Yaa Allahu yaa Allah… Yaa Allahu yaa Allah… Yaa Allahu yaa Allah… Yaa Allahu yaa Allah… Rabbiy kami benturkan musibah yang akan datang kepada kami kepada nama Mu yang Maha Berwibawa, meruntuhkan dosa – dosa kami, meruntuhkansegala kesulitan kami, menerbitkan matahari keberkahan dalam kehidupan kami yaa Rahman yaa Rahim,

Washallallahu wasallamu ala nabiyyil ummiy, waala ali wasahbihi wasalam, tidak lupa kita do’akan tamu – tamu kita yang datang dari Kualalumpur khususnya karena mereka adalah juga para kordinator dakwah diwilayah Kualalumpur agar Allah memberikan pertolongan dan keluasan dan keberkahan dalam perjuangan ahlul sunah wal jamaah untuk terus menerus membuka keluasan dakwah Nabi Muhammad saw diwilayah Kualalumpur, dan juga atas da’I kita sekalian,

wassalmu’alikum warahmatullahi wabarakatuh.

Posted in Ahlussunnah, Ajaran Wahabi, Bid'ah, Hadits Dho'if, Hukum Islam, Hukum Mazhab, Majelis Dzikir, Majelis Rasulullah, Masjid Nabawi, Maulid Nabi, Nabi Muhammad, Para Habaib, Sejarah Islam, Shalawat Nabi, Sunnah, Tahlilan, Tasawuf, Tawasul, Wali Allah, Ziarah Kubur | Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Pendapat Para Imam dan Muhaddits Tentang Perayaan Maulid

Posted by Teknik Jumper on October 24, 2008

1. Berkata Imam Al Hafidh Ibn Hajar Al Asqalaniy rahimahullah :
Telah jelas dan kuat riwayat yang sampai padaku dari shahihain bahwa Nabi saw datang ke Madinah dan bertemu dengan Yahudi yang berpuasa hari asyura (10 Muharram), maka Rasul saw bertanya maka mereka berkata : “hari ini hari ditenggelamkannya Fir’aun dan Allah menyelamatkan Musa, maka kami berpuasa sebagai tanda syukur pada Allah swt, maka bersabda Rasul saw : “Kita lebih berhak atas Musa as dari kalian”, maka diambillah darinya perbuatan bersyukur atas anugerah yang diberikan pada suatu hari tertentu setiap tahunnya, dan syukur kepada Allah bisa didapatkan dengan pelbagai cara, seperti sujud syukur, puasa, shadaqah, membaca Alqur’an, maka nikmat apalagi yang melebihi kebangkitan Nabi ini?, telah berfirman Allah swt “SUNGGUH ALLAH TELAH MEMBERIKAN ANUGERAH PADA ORANG-ORANG MUKMININ KETIKA DIBANGKITKANNYA RASUL DARI MEREKA” (QS Al Imran 164)

2. Pendapat Imam Al Hafidh Jalaluddin Assuyuthi rahimahullah :
Telah jelas padaku bahwa telah muncul riwayat Baihaqi bahwa Rasul saw ber akikah untuk dirinya setelah beliau saw menjadi Nabi (Ahaditsulmukhtarah hadis no.1832 dengan sanad shahih dan Sunan Imam Baihaqi Alkubra Juz 9 hal.300, dan telah diriwayatkan bahwa telah ber Akikah untuknya kakeknya Abdulmuttalib saat usia beliau saw 7 tahun, dan akikah tak mungkin diperbuat dua kali, maka jelaslah bahwa akikah beliau saw yang kedua atas dirinya adalah sebagai tanda syukur beliau saw kepada Allah swt yang telah membangkitkan beliau saw sebagai Rahmatan lil’aalamiin dan membawa Syariah untuk ummatnya, maka sebaiknya bagi kita juga untuk menunjukkan tasyakkuran dengan Maulid beliau saw dengan mengumpulkan teman-teman dan saudara-saudara, menjamu dengan makanan-makanan dan yang serupa itu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan kebahagiaan. Bahkan Imam Assuyuthiy mengarang sebuah buku khusus mengenai perayaan maulid dengan nama : “Husnulmaqshad fii ‘amalilmaulid”.

3. Pendapat Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) :
Merupakan Bid’ah hasanah yang mulia dizaman kita ini adalah perbuatan yang diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul saw dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul saw dan membangkitkan rasa cinta pada beliau saw, dan bersyukur kepada Allah dengan kelahiran Nabi saw.

4. Pendapat Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljazriy rahimahullah dalam kitabnya ‘Urif bitta’rif Maulidissyariif :
Telah diriwayatkan Abu Lahab diperlihatkan dalam mimpi dan ditanya apa keadaanmu?, ia menjawab : “di neraka, tapi aku mendapat keringanan setiap malam senin, itu semua sebab aku membebaskan budakku Tsuwaibah demi kegembiraanku atas kelahiran Nabi (saw) dan karena Tsuwaibah menyusuinya (saw)” (shahih Bukhari hadits no.4813). maka apabila Abu Lahab Kafir yg Alqur’an turun mengatakannya di neraka mendapat keringanan sebab ia gembira dengan kelahiran Nabi saw, maka bagaimana dg muslim ummat Muhammad saw yang gembira atas kelahiran Nabi saw?, maka demi usiaku, sungguh balasan dari Tuhan Yang Maha Pemurah sungguh-sungguh ia akan dimasukkan ke sorga kenikmatan Nya dengan sebab anugerah Nya.

5. Pendapat Imam Al Hafidh Syamsuddin bin Nashiruddin Addimasyqiy dalam kitabnya Mauridusshaadiy fii maulidil Haadiy :
Serupa dengan ucapan Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljuzri, yaitu menukil hadits Abu Lahab.

6. Pendapat Imam Al Hafidh Assakhawiy dalam kitab Sirah Al Halabiyah
berkata “tidak dilaksanakan maulid oleh salaf hingga abad ke tiga, tapi dilaksanakan setelahnya, dan tetap melaksanakannya umat islam di seluruh pelosok dunia dan bersedekah pada malamnya dengan berbagai macam sedekah dan memperhatikan pembacaan maulid, dan berlimpah terhadap mereka keberkahan yang sangat besar”.

7. Imam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah
dalam syarahnya maulid ibn hajar berkata : “ketahuilah salah satu bid’ah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran nabi saw”

8. Imam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah
dengan karangan maulidnya yang terkenal “al aruus” juga beliau berkata tentang pembacaan maulid, “Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu, dan berita gembira dengan tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa yang membacanya serta merayakannya”.

9. Imam Al Hafidh Al Qasthalaniy rahimahullah
dalam kitabnya Al Mawahibulladunniyyah juz 1 hal 148 cetakan al maktab al islami berkata: “Maka Allah akan menurukan rahmat Nya kepada orang yang menjadikan hari kelahiran Nabi saw sebagai hari besar”.

10. Imam Al hafidh Al Muhaddis Abulkhattab Umar bin Ali bin Muhammad yang terkenal dengan Ibn Dihyah alkalbi dengan karangan maulidnya yg bernama “Attanwir fi maulid basyir an nadzir”.

11. Imam Al Hafidh Al Muhaddits Syamsuddin Muhammad bin Abdullah Aljuzri dengan maulidnya “urfu at ta’rif bi maulid assyarif”

12. Imam al Hafidh Ibn Katsir yang karangan kitab maulidnya dikenal dengan nama : “maulid ibn katsir”

13. Imam Al Hafidh Al ‘Iraqy dengan maulidnya “maurid al hana fi maulid assana”

14. Imam Al Hafidh Nasruddin Addimasyqiy telah mengarang beberapa maulid : Jaami’ al astar fi maulid nabi al mukhtar 3 jilid, Al lafad arra’iq fi maulid khair al khalaiq, Maurud asshadi fi maulid al hadi.

15. Imam assyakhawiy dengan maulidnya al fajr al ulwi fi maulid an nabawi

16. Al allamah al faqih Ali zainal Abidin As syamhudi dengan maulidnya al mawarid al haniah fi maulid khairil bariyyah

17. Al Imam Hafidz Wajihuddin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad As syaibaniy yang terkenal dengan ibn diba’ dengan maulidnya addiba’i

18. Imam ibn hajar al haitsami dengan maulidnya itmam anni’mah alal alam bi maulid sayid waladu adam

19. Imam Ibrahim Baajuri mengarang hasiah atas maulid ibn hajar dengan nama tuhfa al basyar ala maulid ibn hajar

20. Al Allamah Ali Al Qari’ dengan maulidnya maurud arrowi fi maulid nabawi

21. Al Allamah al Muhaddits Ja’far bin Hasan Al barzanji dengan maulidnya yang terkenal maulid barzanji

23. Al Imam Al Muhaddis Muhammad bin Jakfar al Kattani dengan maulid Al yaman wal is’ad bi maulid khair al ibad

Namun memang setiap kebaikan dan kebangkitan semangat muslimin mestilah ada yg menentangnya, dan hal yg lebih menyakitkan adalah justru penentangan itu bukan dari kalangan kuffar, tapi dari kalangan muslimin sendiri, mereka tak suka Nabi saw dicintai dan dimuliakan, padahal para sahabat radhiyallahu’anhum sangat memuliakan Nabi saw, Setelah Rasul saw wafat maka Asma binti Abubakar shiddiq ra menjadikan baju beliau saw sebagai pengobatan, bila ada yg sakit maka ia mencelupkan baju Rasul saw itu di air lalu air itu diminumkan pada yg sakit (shahih Muslim hadits no.2069).

seorang sahabat meminta Rasul saw shalat dirumahnya agar kemudian ia akan menjadikan bekas tempat shalat beliau saw itu mushollah dirumahnya, maka Rasul saw datang kerumah orang itu dan bertanya : “dimana tempat yg kau inginkan aku shalat?”. Demikian para sahabat bertabarruk dengan bekas tempat shalatnya Rasul saw hingga dijadikan musholla (Shahih Bukhari hadits no.1130). Sayyidina Umar bin Khattab ra ketika ia telah dihadapan sakratulmaut, Yaitu sebuah serangan pedang yg merobek perutnya dengan luka yg sangat lebar, beliau tersungkur roboh dan mulai tersengal sengal beliau berkata kepada putranya (Abdullah bin Umar ra), “Pergilah pada ummulmukminin, katakan padanya aku berkirim salam hormat padanya, dan kalau diperbolehkan aku ingin dimakamkan disebelah Makam Rasul saw dan Abubakar ra”, maka ketika Ummulmukminin telah mengizinkannya maka berkatalah Umar ra : “Tidak ada yang lebih kupentingkan daripada mendapat tempat di pembaringan itu” (dimakamkan disamping makam Rasul saw” (Shahih Bukhari hadits no.1328). Dihadapan Umar bin Khattab ra Kuburan Nabi saw mempunyai arti yg sangat Agung, hingga kuburannya pun ingin disebelah kuburan Nabi saw, bahkan ia berkata : “Tidak ada yang lebih kupentingkan daripada mendapat tempat di pembaringan itu”.

Dan masih banyak riwayat shahih lainnya tentang takdhim dan pengagungan sahabat pada Rasulullah saw, namun justru hal itu ditentang oleh kelompok baru di akhir zaman ini, mereka menganggap hal hal semacam itu adalah kultus, ini hanya sebab kedangkalan pemahaman syariah mereka, dan kebutaan atas ilmu kemurnian tauhid. Maka marilah kita sambut kedatangan Bulan Kebangkitan Cinta Muslimin pada Nabi saw ini dengan semangat juang untuk turut berperan serta dalam Panji Dakwah, jadikan medan ini benar benar sebagai ajang perjuangan kita untuk menerangi wilayah kita, masyarakat kita, masjid kita, musholla kita, rumah rumah kita, dengan cahaya Kebangkitan Sunnah, Cahaya Semangat Hijrah, kemuliaan kelahiran Nabi saw yg mengawali seluruh kemuliaan islam, dan wafatnya Nabi saw yg mengawali semangat pertama setelah wafatnya beliau saw.

Saudara saudarku, kelompok anti maulid semakin gencar berusaha menghalangi tegaknya panji dakwah, maka kalian jangan mundur dan berdiam diri, bela Nabimu saw, bela idolamu saw, tunjukkan akidah sucimu dan semangat juangmu, bukan hanya mereka yg memiliki semangat juang dan mengotori masji masjid ahlussunnah dengan pencacian dg memfitnah kita adalah kaum musyrik karena mengkultuskan Nabi,

Saudaraku bangkitlah, karena bila kau berdiam diri maka kau turut bertanggung jawab pula atas kesesatan mereka, padahal mereka saudara saudara kita, mereka teman kita, mereka keluarga kita, maka bangkitlah untuk memperbaiki keadaan mereka, bukan dengan pedang dan pertikaian, sungguh kekerasan hanya akan membuka fitnah lebih besar, namun dg semangat dan gigih untuk menegakkan kebenaran, mengobati fitnah yg merasuki muslimin muslimat..

Nah saudara saudaraku, para pembela Rasulullah saw.. jadikan 12 Rabiul awwal adalah sumpah setiamu pada Nabimu Muhammad saw, Sumpah Cintamu pada Rasulullah saw, dan Sumpah Pembelaanmu pada Habibullah Muhammad saw.

Posted in Ahlussunnah, Ajaran Wahabi, Bid'ah, Hadits Dho'if, Hukum Islam, Hukum Mazhab, Majelis Dzikir, Majelis Rasulullah, Masjid Nabawi, Maulid Nabi, Nabi Muhammad, Para Habaib, Sejarah Islam, Shalawat Nabi, Sunnah, Tahlilan, Tasawuf, Tawasul, Wali Allah, Ziarah Kubur | Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw

Posted by Teknik Jumper on October 24, 2008

ImageKetika kita membaca kalimat diatas maka didalam hati kita sudah tersirat bahwa kalimat ini akan langsung membuat alergi bagi sebagian kelompok muslimin, saya akan meringkas penjelasannya secara ‘Aqlan wa syar’an, (logika dan syariah). Sifat manusia cenderung merayakan sesuatu yg membuat mereka gembira, apakah keberhasilan, kemenangan, kekayaan atau lainnya, mereka merayakannya dengan pesta, mabuk mabukan, berjoget bersama, wayang, lenong atau bentuk pelampiasan kegembiraan lainnya, demikian adat istiadat diseluruh dunia. Sampai disini saya jelaskan dulu bagaimana kegembiraan atas kelahiran Rasul saw.

Allah merayakan hari kelahiran para Nabi Nya
* Firman Allah : “(Isa berkata dari dalam perut ibunya) Salam sejahtera atasku, di hari kelahiranku, dan hari aku wafat, dan hari aku dibangkitkan” (QS Maryam 33)
* Firman Allah : “Salam Sejahtera dari kami (untuk Yahya as) dihari kelahirannya, dan hari wafatnya dan hari ia dibangkitkan” (QS Maryam 15)
* Rasul saw lahir dengan keadaan sudah dikhitan (Almustadrak ala shahihain hadits no.4177)
* Berkata Utsman bin Abil Ash Asstaqafiy dari ibunya yg menjadi pembantunya Aminah ra bunda Nabi saw, ketika Bunda Nabi saw mulai saat saat melahirkan, ia (ibu utsman) melihat bintang bintang mendekat hingga ia takut berjatuhan diatas kepalanya, lalu ia melihat cahaya terang benderang keluar dari Bunda Nabi saw hingga membuat terang benderangnya kamar dan rumah (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583)
* Ketika Rasul saw lahir kemuka bumi beliau langsung bersujud (Sirah Ibn Hisyam)
* Riwayat shahih oleh Ibn Hibban dan Hakim bahwa Ibunda Nabi saw saat melahirkan Nabi saw melihat cahaya yg terang benderang hingga pandangannya menembus dan melihat Istana Istana Romawi (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583)
* Malam kelahiran Rasul saw itu runtuh singgasana Kaisar Kisra, dan runtuh pula 14 buah jendela besar di Istana Kisra, dan Padamnya Api di Kekaisaran Persia yg 1000 tahun tak pernah padam. (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583)

Kenapa kejadian kejadian ini dimunculkan oleh Allah swt?, kejadian kejadian besar ini muncul menandakan kelahiran Nabi saw, dan Allah swt telah merayakan kelahiran Muhammad Rasulullah saw di Alam ini, sebagaimana Dia swt telah pula membuat salam sejahtera pada kelahiran Nabi nabi sebelumnya.

Rasulullah saw memuliakan hari kelahiran beliau saw
Ketika beliau saw ditanya mengenai puasa di hari senin, beliau saw menjawab : “Itu adalah hari kelahiranku, dan hari aku dibangkitkan” (Shahih Muslim hadits no.1162). dari hadits ini sebagian saudara2 kita mengatakan boleh merayakan maulid Nabi saw asal dg puasa. Rasul saw jelas jelas memberi pemahaman bahwa hari senin itu berbeda dihadapan beliau saw daripada hari lainnya, dan hari senin itu adalah hari kelahiran beliau saw. Karena beliau saw tak menjawab misalnya : “oh puasa hari senin itu mulia dan boleh boleh saja..”, namun beliau bersabda : “itu adalah hari kelahiranku”, menunjukkan bagi beliau saw hari kelahiran beliau saw ada nilai tambah dari hari hari lainnya, contoh mudah misalnya zeyd bertanya pada amir : “bagaimana kalau kita berangkat umroh pada 1 Januari?”, maka amir menjawab : “oh itu hari kelahiran saya”. Nah.. bukankah jelas jelas bahwa zeyd memahami bahwa 1 januari adalah hari yg berbeda dari hari hari lainnya bagi amir?, dan amir menyatakan dengan jelas bahwa 1 januari itu adalah hari kelahirannya, dan berarti amir ini termasuk orang yg perhatian pada hari kelahirannya, kalau amir tak acuh dg hari kelahirannya maka pastilah ia tak perlu menyebut nyebut bahwa 1 januari adalah hari kelahirannya, dan Nabi saw tak memerintahkan puasa hari senin untuk merayakan kelahirannya, pertanyaan sahabat ini berbeda maksud dengan jawaban beliau saw yg lebih luas dari sekedar pertanyaannya, sebagaimana contoh diatas, Amir tak mmerintahkan umroh pada 1 januari karena itu adalah hari kelahirannya, maka mereka yg berpendapat bahwa boleh merayakan maulid hanya dg puasa saja maka tentunya dari dangkalnya pemahaman terhadap ilmu bahasa.

Orang itu bertanya tentang puasa senin, maksudnya boleh atau tidak?, Rasul saw menjawab : hari itu hari kelahiranku, menunjukkan hari kelahiran beliau saw ada nilai tambah pada pribadi beliau saw, sekaligus diperbolehkannya puasa dihari itu. Maka jelaslah sudah bahwa Nabi saw termasuk yg perhatian pada hari kelahiran beliau saw, karena memang merupakan bermulanya sejarah bangkitnya islam.

Sahabat memuliakan hari kelahiran Nabi saw
Berkata Abbas bin Abdulmuttalib ra : “Izinkan aku memujimu wahai Rasulullah..” maka Rasul saw menjawab: “silahkan..,maka Allah akan membuat bibirmu terjaga”, maka Abbas ra memuji dg syair yg panjang, diantaranya : “… dan engkau (wahai nabi saw) saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang benderang, dan langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan dalam tuntunan kemuliaan (Al Qur’an) kami terus mendalaminya” (Mustadrak ‘ala shahihain hadits no.5417)

Kasih sayang Allah atas kafir yg gembira atas kelahiran Nabi saw
Diriwayatkan bahwa Abbas bin Abdulmuttalib melihat Abu Lahab dalam mimpinya, dan Abbas bertanya padanya : “bagaimana keadaanmu?”, abu lahab menjawab : “di neraka, Cuma diringankan siksaku setiap senin karena aku membebaskan budakku Tsuwaibah karena gembiraku atas kelahiran Rasul saw” (Shahih Bukhari hadits no.4813, Sunan Imam Baihaqi Alkubra hadits no.13701, syi’bul iman no.281, fathul baari Almasyhur juz 11 hal 431). Walaupun kafir terjahat ini dibantai di alam barzakh, namun tentunya Allah berhak menambah siksanya atau menguranginya menurut kehendak Allah swt, maka Allah menguranginya setiap hari senin karena telah gembira dg kelahiran Rasul saw dengan membebaskan budaknya.

Walaupun mimpi tak dapat dijadikan hujjah untuk memecahkan hukum syariah, namun mimpi dapat dijadikan hujjah sebagai manakib, sejarah dan lainnya, misalnya mimpi orang kafir atas kebangkitan Nabi saw, maka tentunya hal itu dijadikan hujjah atas kebangkitan Nabi saw maka Imam imam diatas yg meriwayatkan hal itu tentunya menjadi hujjah bagi kita bahwa hal itu benar adanya, karena diakui oleh imam imam dan mereka tak mengingkarinya.

Rasulullah saw memperbolehkan Syair pujian di masjid
Hassan bin Tsabit ra membaca syair di Masjid Nabawiy yg lalu ditegur oleh Umar ra, lalu Hassan berkata : “aku sudah baca syair nasyidah disini dihadapan orang yg lebih mulia dari engkau wahai Umar (yaitu Nabi saw), lalu Hassan berpaling pada Abu Hurairah ra dan berkata : “bukankah kau dengar Rasul saw menjawab syairku dg doa : wahai Allah bantulah ia dengan ruhulqudus?, maka Abu Hurairah ra berkata : “betul” (shahih Bukhari hadits no.3040, Shahih Muslim hadits no.2485)

Ini menunjukkan bahwa pembacaan Syair di masjid tidak semuanya haram, sebagaimana beberapa hadits shahih yg menjelaskan larangan syair di masjid, namun jelaslah bahwa yg dilarang adalah syair syair yg membawa pada Ghaflah, pada keduniawian, namun syair syair yg memuji Allah dan Rasul Nya maka hal itu diperbolehkan oleh Rasul saw bahkan dipuji dan didoakan oleh beliau saw sebagaimana riwayat diatas, dan masih banyak riwayat lain sebagaimana dijelaskan bahwa Rasul saw mendirikan mimbar khusus untuk hassan bin tsabit di masjid agar ia berdiri untuk melantunkan syair syairnya (Mustadrak ala shahihain hadits no.6058, sunan Attirmidzi hadits no.2846) oleh Aisyah ra bahwa ketika ada beberapa sahabat yg mengecam Hassan bin Tsabit ra maka Aisyah ra berkata : “Jangan kalian caci hassan, sungguh ia itu selalu membanggakan Rasulullah saw”(Musnad Abu Ya’la Juz 8 hal 337).

Pendapat Para Imam dan Muhaddits atas perayaan Maulid
1. Berkata Imam Al Hafidh Ibn Hajar Al Asqalaniy rahimahullah :
Telah jelas dan kuat riwayat yg sampai padaku dari shahihain bahwa Nabi saw datang ke Madinah dan bertemu dengan Yahudi yg berpuasa hari asyura (10 Muharram), maka Rasul saw bertanya maka mereka berkata : “hari ini hari ditenggelamkannya Fir’aun dan Allah menyelamatkan Musa, maka kami berpuasa sebagai tanda syukur pada Allah swt, maka bersabda Rasul saw : “kita lebih berhak atas Musa as dari kalian”, maka diambillah darinya perbuatan bersyukur atas anugerah yg diberikan pada suatu hari tertentu setiap tahunnya, dan syukur kepada Allah bisa didapatkan dg pelbagai cara, seperti sujud syukur, puasa, shadaqah, membaca Alqur’an, maka nikmat apalagi yg melebihi kebangkitan Nabi ini?, telah berfirman Allah swt “SUNGGUH ALLAH TELAH MEMBERIKAN ANUGERAH PADA ORANG ORANG MUKMININ KETIKA DIBANGKITKANNYA RASUL DARI MEREKA” (QS Al Imran 164)

2. Pendapat Imam Al Hafidh Jalaluddin Assuyuthi rahimahullah :
Telah jelas padaku bahwa telah muncul riwayat Baihaqi bahwa Rasul saw ber akikah untuk dirinya setelah beliau saw menjadi Nabi (Ahaditsulmukhtarah hadis no.1832 dg sanad shahih dan Sunan Imam Baihaqi Alkubra Juz 9 hal.300), dan telah diriwayatkan bahwa telah ber Akikah untuknya kakeknya Abdulmuttalib saat usia beliau saw 7 tahun, dan akikah tak mungkin diperbuat dua kali, maka jelaslah bahwa akikah beliau saw yg kedua atas dirinya adalah sebagai tanda syukur beliau saw kepada Allah swt yg telah membangkitkan beliau saw sebagai Rahmatan lil’aalamiin dan membawa Syariah utk ummatnya, maka sebaiknya bagi kita juga untuk menunjukkan tasyakkuran dengan Maulid beliau saw dengan mengumpulkan teman teman dan saudara saudara, menjamu dg makanan makanan dan yg serupa itu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan kebahagiaan. bahkan Imam Assuyuthiy mengarang sebuah buku khusus mengenai perayaan maulid dengan nama : “Husnulmaqshad fii ‘amalilmaulid”.

3. Pendapat Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) :
Merupakan Bid’ah hasanah yg mulia dizaman kita ini adalah perbuatan yg diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul saw dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul saw dan membangkitkan rasa cinta pada beliau saw, dan bersyukur kepada Allah dg kelahiran Nabi saw.

4. Pendapat Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljazriy rahimahullah dalam kitabnya ‘Urif bitta’rif Maulidissyariif :
Telah diriwayatkan Abu Lahab diperlihatkan dalam mimpi dan ditanya apa keadaanmu?, ia menjawab : “di neraka, tapi aku mendapat keringanan setiap malam senin, itu semua sebab aku membebaskan budakku Tsuwaibah demi kegembiraanku atas kelahiran Nabi (saw) dan karena Tsuwaibah menyusuinya (saw)” (shahih Bukhari). maka apabila Abu Lahab Kafir yg Alqur’an turun mengatakannya di neraka mendapat keringanan sebab ia gembira dengan kelahiran Nabi saw, maka bagaimana dg muslim ummat Muhammad saw yg gembira atas kelahiran Nabi saw?, maka demi usiaku, sungguh balasan dari Tuhan Yang Maha Pemurah sungguh sungguh ia akan dimasukkan ke sorga kenikmatan Nya dengan sebab anugerah Nya.

5. Pendapat Imam Al Hafidh Syamsuddin bin Nashiruddin Addimasyqiy dalam kitabnya Mauridusshaadiy fii maulidil Haadiy : Serupa dg ucapan Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljuzri, yaitu menukil hadits Abu Lahab

6. Pendapat Imam Al Hafidh Assakhawiy dalam kitab Sirah Al Halabiyah
berkata “tidak dilaksanakan maulid oleh salaf hingga abad ke tiga, tapi dilaksanakan setelahnya, dan tetap melaksanakannya umat islam di seluruh pelosok dunia dan bersedekah pd malamnya dg berbagai macam sedekah dan memperhatikan pembacaan maulid, dan berlimpah terhadap mereka keberkahan yg sangat besar”.

7. Imam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah
dalam syarahnya maulid ibn hajar berkata : “ketahuilah salah satu bid’ah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran nabi saw”

8. Imam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah
dengan karangan maulidnya yg terkenal “al aruus” juga beliau berkata tentang pembacaan maulid, “Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu, dan berita gembira dg tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa yg membacanya serta merayakannya”.

9. Imam Al Hafidh Al Qasthalaniy rahimahullah dalam kitabnya Al Mawahibulladunniyyah juz 1 hal 148 cetakan al maktab al islami berkata: “Maka Allah akan menurukan rahmat Nya kpd orang yg menjadikan hari kelahiran Nabi saw sebagai hari besar”.

10. Imam Al hafidh Al Muhaddis Abulkhattab Umar bin Ali bin Muhammad yg terkenal dg Ibn Dihyah alkalbi dg karangan maulidnya yg bernama “Attanwir fi maulid basyir an nadzir”

11. Imam Al Hafidh Al Muhaddits Syamsuddin Muhammad bin Abdullah Aljuzri dg maulidnya “urfu at ta’rif bi maulid assyarif”

12. Imam al Hafidh Ibn Katsir yg karangan kitab maulidnya dikenal dg nama : “maulid ibn katsir”

13. Imam Al Hafidh Al ‘Iraqy dg maulidnya “maurid al hana fi maulid assana”

14. Imam Al Hafidh Nasruddin Addimasyqiy telah mengarang beberapa maulid : Jaami’ al astar fi maulid nabi al mukhtar 3 jilid, Al lafad arra’iq fi maulid khair al khalaiq, Maurud asshadi fi maulid al hadi.

15. Imam assyakhawiy dg maulidnya al fajr al ulwi fi maulid an nabawi

16. Al allamah al faqih Ali zainal Abidin As syamhudi dg maulidnya al mawarid al haniah fi maulid khairil bariyyah

17. Al Imam Hafidz Wajihuddin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad As syaibaniy yg terkenal dg ibn diba’ dg maulidnya addiba’i

18. Imam ibn hajar al haitsami dg maulidnya itmam anni’mah alal alam bi maulid syayidi waladu adam

19. Imam Ibrahim Baajuri mengarang hasiah atas maulid ibn hajar dg nama tuhfa al basyar ala maulid ibn hajar

20. Al Allamah Ali Al Qari’ dg maulidnya maurud arrowi fi maulid nabawi

21. Al Allamah al Muhaddits Ja’far bin Hasan Al barzanji dg maulidnya yg terkenal maulid barzanji

23. Al Imam Al Muhaddis Muhammad bin Jakfar al Kattani dg maulid Al yaman wal is’ad bi maulid khair al ibad

24. Al Allamah Syeikh Yusuf bin ismail An Nabhaniy dg maulid jawahir an nadmu al badi’ fi maulid as syafi’

25. Imam Ibrahim Assyaibaniy dg maulid al maulid mustofa adnaani

26. Imam Abdulghaniy Annanablisiy dg maulid Al Alam Al Ahmadi fi maulid muhammadi”

27. Syihabuddin Al Halwani dg maulid fath al latif fi syarah maulid assyarif

28. Imam Ahmad bin Muhammad Addimyati dg maulid Al Kaukab al azhar alal ‘iqdu al jauhar fi maulid nadi al azhar

29. Asyeikh Ali Attanthowiy dg maulid nur as shofa’ fi maulid al mustofa

30. As syeikh Muhammad Al maghribi dg maulid at tajaliat al khifiah fi maulid khoir al bariah.
Tiada satupun para Muhadditsin dan para Imam yg menentang dan melarang hal ini, mengenai beberapa pernyataan pada Imam dan Muhadditsin yg menentang maulid sebagaimana disampaikan oleh kalangan anti maulid, maka mereka ternyata hanya menggunting dan memotong ucapan para Imam itu, dengan kelicikan yg jelas jelas meniru kelicikan para misionaris dalam menghancurkan Islam.

Berdiri saat Mahal Qiyam dalam pembacaan Maulid
Mengenai berdiri saat maulid ini, merupakan Qiyas dari menyambut kedatangan Islam dan Syariah Rasul saw, dan menunjukkan semangat atas kedatangan sang pembawa risalah pada kehidupan kita, hal ini lumrah saja, sebagaimana penghormatan yg dianjurkan oleh Rasul saw adalah berdiri, sebagaimana diriwayatkan ketika sa’ad bin Mu’adz ra datang maka Rasul saw berkata kepada kaum anshar : “Berdirilah untuk tuan kalian” (shahih Bukhari hadits no.2878, Shahih Muslim hadits no.1768), demikian pula berdirinya Thalhah ra untuk Ka’b bin Malik ra.

Memang mengenai berdiri penghormatan ini ada ikhtilaf ulama, sebagaimana yg dijelaskan bahwa berkata Imam Alkhattabiy bahwa berdirinya bawahan untuk majikannya, juga berdirinya murid untuk kedatangan gurunya, dan berdiri untuk kedatangan Imam yg adil dan yg semacamnya merupakan hal yg baik, dan berkata Imam Bukhari bahwa yg dilarang adalah berdiri untuk pemimpin yg duduk, dan Imam Nawawi yg berpendapat bila berdiri untuk penghargaan maka taka apa, sebagaimana Nabi saw berdiri untuk kedatangan putrinya Fathimah ra saat ia datang, namun adapula pendapat lain yg melarang berdiri untuk penghormatan.(Rujuk Fathul Baari Almasyhur Juz 11 dan Syarh Imam Nawawi ala shahih muslim juz 12 hal 93)

Namun dari semua pendapat itu, tentulah berdiri saat mahal qiyam dalam membaca maulid itu tak ada hubungan apa apa dengan semua perselisihan itu, karena Rasul saw tidak dhohir dalam pembacaan maulid itu, lepas dari anggapan ruh Rasul saw hadir saat pembacaan maulid, itu bukan pembahasan kita, masalah seperti itu adalah masalah ghaib yg tak bisa disyarahkan dengan hukum dhohir, semua ucapan diatas adalah perbedaan pendapat mengenai berdiri penghormatan yg Rasul saw pernah melarang agar sahabat tak berdiri untuk memuliakan beliau saw.

Jauh berbeda bila kita yg berdiri penghormatan mengingat jasa beliau saw, tak terikat dengan beliau hadir atau tidak, bahwa berdiri kita adalah bentuk semangat kita menyambut risalah Nabi saw, dan penghormatan kita kepada kedatangan Islam, dan kerinduan kita pada nabi saw, sebagaimana kita bersalam pada Nabi saw setiap kita shalat pun kita tak melihat beliau saw.

Diriwayatkan bahwa Imam Al hafidh Taqiyuddin Assubkiy rahimahullah, seorang Imam Besar dan terkemuka dizamannya bahwa ia berkumpul bersama para Muhaddits dan Imam Imam besar dizamannya dalam perkumpulan yg padanya dibacakan puji pujian untuk nabi saw, lalu diantara syair syair itu merekapun seraya berdiri termasuk Imam Assubkiy dan seluruh Imam imam yg hadir bersamanya, dan didapatkan kesejukan yg luhur dan cukuplah perbuatan mereka itu sebagai panutan, dan berkata Imam Ibn Hajar Alhaitsamiy rahimahullah bahwa Bid’ah hasanah sudah menjadi kesepakatan para imam bahwa itu merupakan hal yg sunnah, (berlandaskan hadist shahih muslim no.1017 yg terncantum pd Bab Bid’ah) yaitu bila dilakukan mendapat pahala dan bila ditinggalkan tidak mendapat dosa, dan mengadakan maulid itu adalah salah satu Bid’ah hasanah, Dan berkata pula Imam Assakhawiy rahimahullah bahwa mulai abad ketiga hijriyah mulailah hal ini dirayakan dengan banyak sedekah dan perayaan agung ini diseluruh dunia dan membawa keberkahan bagi mereka yg mengadakannya. (Sirah Al Halabiyah Juz 1 hal 137)

Pada hakekatnya, perayaan maulid ini bertujuan mengumpulkan muslimin untuk Medan Tablig dan bersilaturahmi sekaligus mendengarkan ceramah islami yg diselingi bershalawat dan salam pada Rasul saw, dan puji pujian pada Allah dan Rasul saw yg sudah diperbolehkan oleh Rasul saw, dan untuk mengembalikan kecintaan mereka pada Rasul saw, maka semua maksud ini tujuannya adalah kebangkitan risalah pada ummat yg dalam ghaflah, maka Imam dan Fuqaha manapun tak akan ada yg mengingkarinya karena jelas jelas merupakan salah satu cara membangkitkan keimanan muslimin, hal semacam ini tak pantas dimungkiri oleh setiap muslimin aqlan wa syar’an (secara logika dan hukum syariah), karena hal ini merupakan hal yg mustahab (yg dicintai), sebagaiman kaidah syariah bahwa “Maa Yatimmul waajib illa bihi fahuwa wajib”, semua yg menjadi penyebab kewajiban dengannya maka hukumnya wajib. contohnya saja bila sebagaimana kita ketahui bahwa menutup aurat dalam shalat hukumnya wajib, dan membeli baju hukumnya mubah, namun suatu waktu saat kita akan melakukan shalat kebetulan kita tak punya baju penutup aurat kecuali harus membeli dulu, maka membeli baju hukumnya berubah menjadi wajib, karena perlu dipakai untuk melaksanakan shalat yg wajib .

contoh lain misalnya sunnah menggunakan siwak, dan membuat kantong baju hukumnya mubah saja, lalu saat akan bepergian kita akan membawa siwak dan baju kita tak berkantong, maka perlulah bagi kita membuat kantong baju untuk menaruh siwak, maka membuat kantong baju di pakaian kita menjadi sunnah hukumnya, karena diperlukan untuk menaruh siwak yg hukumnya sunnah.

Maka perayaan Maulid Nabi saw diadakan untuk Medan Tablig dan Dakwah, dan dakwah merupakan hal yg wajib pada suatu kaum bila dalam kemungkaran, dan ummat sudah tak perduli dg Nabinya saw, tak pula perduli apalagi mencintai sang Nabi saw dan rindu pada sunnah beliau saw, dan untuk mencapai tablig ini adalah dengan perayaan Maulid Nabi saw, maka perayaan maulid ini menjadi wajib, karena menjadi perantara Tablig dan Dakwah serta pengenalan sejarah sang Nabi saw serta silaturahmi.

Sebagaimana penulisan Alqur’an yg merupakan hal yg tak perlu dizaman nabi saw, namun menjadi sunnah hukumnya di masa para sahabat karena sahabat mulai banyak yg membutuhkan penjelasan Alqur’an, dan menjadi wajib hukumnya setelah banyaknya para sahabat yg wafat, karena ditakutkan sirnanya Alqur’an dari ummat, walaupun Allah telah menjelaskan bahwa Alqur’an telah dijaga oleh Allah.

Hal semacam in telah difahami dan dijelaskan oleh para khulafa’urrasyidin, sahabat radhiyallahu’anhum, Imam dan Muhadditsin, para ulama, fuqaha dan bahkan orang muslimin yg awam, namun hanya sebagian saudara saudara kita muslimin yg masih bersikeras untuk menentangnya, semoga Allah memberi mereka keluasan hati dan kejernihan, amiin.

Walillahittaufiq

Posted in Ahlussunnah, Ajaran Wahabi, Bid'ah, Hadits Dho'if, Hukum Islam, Hukum Mazhab, Majelis Dzikir, Majelis Rasulullah, Masjid Nabawi, Maulid Nabi, Nabi Muhammad, Para Habaib, Sejarah Islam, Shalawat Nabi, Sunnah, Tahlilan, Tasawuf, Tawasul, Wali Allah, Ziarah Kubur | Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Tanya Jawab Seputar Syafa’at

Posted by Teknik Jumper on October 24, 2008

Berikut artikel kiriman seseorang berserta sanggahan dari Hb Munzir seputar masalah syafa’at (Artikel ditandai dengan warna Hitam dan sanggahan oleh Hb Munzir ditandai dengan Warna Biru):

Apa arti syafa’at?
Menurut catatan kaki No. 46 dari Al Qur’an terbitan Departemen Agama RI adalah perantaraan. Jadi Juru Syafa’at adalah perantara.

Apakah Nabi Muhammad sebagai Juru Syafa’at?
* Surat Al Baqarah (2) :
“Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Dan kamu tidak akan diminta pertanggung jawab tentang penghuni neraka”

Bolehkah Nabi Muhammad menjadi Juru Syafa’at?
Tentu boleh kalau diizinkan Allah
* Surat An Najm (53) : 26
“Syafa’at mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali Allah sudah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhaiNya”
*Ayat Kursi Al Baqarah (2) : 255
“Siapakah yang dapat memberi syfa’at disisi Allah tanpa izinNya”

Bagaimanakah pengakuan Nabi Muhammad sendiri?
Apakah Nabi Muhammad mengaku sebagai Juru Syafa’at?
* Surat Al Ahqaf (46) : 9
“Katakanlah: Aku bukanlah rasul yang pertama diantara rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang diperbuat terhadapku, dan apa yang diperbuat terhadapmu, aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan”
* Surat Al Hijr (15) : 89
“Dan katakanlah: “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan”
* Hadits Shahih Bukhari 162
“Hai Fatimah! Selamatkanlah dirimu dari neraka! Sesungguhnya aku tidak kuasa apa-apa untuk membelamu dihadapan Allah kelak, selain hubungan yang hanya dapat kupenuhi sebaik-baiknya di dunia ini saja”
* Hadits Shahih Bukhari 163
“Hai, Bani Abdul Muthalib! Aku tidak kuasa apa-apa untuk membelamu sekalian di hadapan Allah kelak. Karena itu, kecuali sedikit harta yang kumiliki mintalah kepadaku jika kamu membutuhkan!”
* Hadits Shahid Bukhari 1261
“Dari Abu Hurairah r.a, katanya: Rasulullah Saw berdiri ketika Tuhan yang Maha Mulia dan Maha Besar menurunkan ayat yang artinya: “Dan berilah peringatan kepada kaum famili engkau terdekat!”
Lalu beliau bersabda:
“Hai kaum Qureisy! (atau perkataan yang serupa dengan itu). Tebuslah dirimu! Aku tiada dapat menolongmu barang sedikitpun dari siksa Tuhan.
Hai Bani Abdi Manaf!
Aku tiada bisa menolongmu sedikitpun.
Hai Abbas anak Abdul Muthalib!
Aku tiada bisa menolongmu sedikitpun dari siksa Tuhan.
“Hai Safiah, bibi Rasulullah!
Aku tiada bisa menolongmu sedikitpun dari siksa Tuhan.
Hai Fatimah binti Muhammad!
Mintalah kepada aku harta dan aku tiada bisa menolongmu sedikitpun dari siksa Tuhan!”

Tanggapan Hb Munzir :
Sabda Rasulullah saw :
Syafaatku adala kuberikan untuk ummatku yg berdosa besar (Shahih Muslim)

hadits beliau saw : “Sungguh matahari mendekat dihari kiamat hingga keringat sampai setengah telinga, dan sementara mereka dalam keadaan itu mereka ber istighatsah (minta tolong) kepada Adam, lalu mereka beristighatsah kepada Musa, Isa, dan kesemuanya tak mampu berbuat apa apa, lalu mereka beristighatsah kepada Muhammad saw” (Shahih Bukhari hadits no.1405), juga banyak terdapat hadits serupa pada Shahih Muslim hadits no.194, shahih Bukhari hadits no.3162, 3182, 4435, dan banyak lagi hadist2 shahih yg rasul saw menunjukkan ummat manusia ber istighatsah pada para nabi dan rasul, bahkan Riwayat shahih Bukhari dijelaskan bahwa mereka berkata pada Adam, Wahai Adam, sungguh engkau adalah ayah dari semua manusai.. dst.. dst…dan Adam as berkata : “Diriku..diriku.., pergilah pada selainku.., hingga akhirnya mereka ber Istighatsah memanggil manggil Muhammad saw.

Ucapan Nabi Muhammad saw bahwa beliau tidak mampu member syafaat adalah demi para sahabatnya tidak bertopang diri dan meninggalkan amal, karena ummat beliau saw sudah dijamin sorga walau hanya dengan ucapan Laa ilaha illallah, sebagaimana sabda beliau saw : Barangsiapa yg mengucap Laa ilaha illallah, maka ia akan masuk sorga. Maka selain daripada itu adalah siksa neraka yg tidak kekal bagi para pendosa, Bagi para pendosa disediakan pengampunan di dunia, jika mereka bertobat maka dalam sekejap dosanya sirna, jika mereka tak bertobat maka Allah jadikan setiap musibah mereka sebagai penghapus dosa (hadits riwayat shahih Bukhari), dan setiap kesedihan merekapun merupakan penghapusan dosa (shahih Bukhari), Setiap mereka shalat terdapat penghapusan dosa (Shahih Bukhari), setiap mereka berwudhu terdapat penghapusan dosa (shahih Bukhari dan Shahih Muslim), dan seluruh ibadah adalah menghapus dosa dosa, Muslimin selalu disucikan oleh Allah tanpa mereka sadari, semakin mereka taat maka semakin sucilah mereka, hingga wafat dalam kemuliaan dan masuk sorga, Berbeda dg agama kristus, untuk menebus dosa harus membunuh anak tuhan dulu..


Bolehkah Malaikat Menjadi Juru Syafa’at?
Jawabnya : Tidak
* Surat An Najm (53) : 26
“Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafa’at mereka sedikitpun tidak berguna”

Tanggapan Hb Munzir:
BISA.

Firman Allah swt : “Mereka yg menopang Arsy Allah dan sekitarnya, menyucikan Nama Tuhan mereka dan memuji mengagungkan Nya, dan beriman kepada Allah, dan mereka memohon ampunan dosa untuk orang yg beriman : “Wahai Tuhan Kami, Engkau Maha Luas Kasih sayang Mu dan Ilmu Mu, maka ampunilah dosa mereka yg bertobat dan mengikuti tuntunan Mu, dan singkirkan dari mereka siksa neraka jahim, Wahai Tuhan Kami, masukkan mereka ke sorga Aden, yg kau janjikan pada mereka, dan pula mereka yg mulia dari ayah mereka dan istri suami mereka, dan keturunan mereka, sungguh Engkau Maha Perkasa dan Maha Menghakimi, Maka selamatkan mereka dari kesalahan, dan sungguh mereka yg suci dari kesalahan dihari ini mereka itu telah kau sayangi, dan itulah keberuntungan yg agung (Al Ghafir 7-9)


Hanya siapakah yang dapat menjadi Juru Syafa’at?
Jawabnya: Hanyalah yang mengakui “Yang Hak”
* Surat Az Zukhruf (43) : 86
“Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa’at, akan tetapi orang yang dapat memberi syafa’at ialah orang yang mengakui akan “hak” dan mereka yang mengetahuinya”

Tanggapan Hb Munzir:
Semacam Isa yg disembah, tak akan bisa mensyafaati mereka yg menyembahnya, karena Allah telah jelas jelas berfirman : “Engkau kah wahai isa yg mengatakan pada orang orang : sembahlah aku dan ibuku dari selain Allah..?” maka Isa berkata : Maha Suci Engkau, sungguh aku tidaklah berucap demikian, dan yg telah kukatakan adalah hal yg benar, jika aku telah mengucapkannya maka pastilah Kau mengetahuinya, Kau Maha Tahu apa yg ada dalam diriku dan Aku tak mengetahui apa apa yg ada pada Diri Mu, Sungguh Engkau Maha Mengetahu hal yg gaib, tidaklah kukatakan pada mereka kecuali yg telah Kau perintahkan padaku tuk menyampaikannya, agar menyembah Allah, tuhanku dan tuhan kalian” (Al Maidah 116-117), bahkan kemudian Allah swt berfirman menyampaikan ucapan Isa as : “Jika kau menyiksa mereka maka mereka adalah hamba Mu, jika Engkau mengampuni mereka maka sungguh Engkau Maha Perkasa dan Berkasih sayang (AL Maidah 118).
Siapakah yang mengakui “yang hak”?
Tentu jawabnya adalah hakim dan harus hakim yang adil. Siapakah si Hakim Yang Adil itu?. * Hadits Shahih Muslim 127
“Rasulullah Saw Bersabda: Demi Allah yang jiwaku ditanganNya. Sesungguhnya telah dekat masanya Isa anak Maryam akan turun ditengah-tengah kamu. Dia kaan menjadi Hakim yang adil”.
* Surat Az Zukhruf (43) : 61
“Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat”

Tanggapan Hb Munzir:

Anda menggunting hadits itu, karena yg sebenarnya adalah : “Demi Allah yang jiwaku ditanganNya. Sesungguhnya telah dekat masanya Isa anak Maryam akan turun ditengah-tengah kamu. Dia akan menjadi Hakim yang adil, dan menghancurkan salib, membunuh Babi, dan mewajibkan orang kafir mengeluarkan Jizyah (semacam zakat), dan membagi bagikan harta hingga tak lagi ada yg menerimanya (Shahih Muslim, Shahih Bukhari). Jadi yg akan menghancurkan semua gereja dan salib dimuka bumi adalah Isa bin Maryam as.


Siapakah sebenarnya Juru Syafa’at?
* Surat Az Zumar (39): 44
“Selain dari pada Allah tidak ada Juru Syafa’at”

Tanggapan Hb Munzir:
Kalimat Lillah dalam ayat itu bermakna : “Milik Allah”, yg berarti bahwa syafaat itu milik Allah, tentunya hanya Allah yg berhak membagi bagikannya dihari kiamat, bukan tuhan lain semacam yesus atau lainnya. Demikian makna yg benar dalam bahasa, silahkan buka semua tafsir
* Surat AN’aam (6) : 51
“Tidak ada seorang pelindung dan pemberi syafa’at selain dari pada Allah”

Tanggapan Hb Munzir:
Pelindung kita adalah Allah, dan tak ada pemberi syafaat selain Allah, dan Allah memberinya kepada siapa yg dikehendaki Nya untuk membagikan syafaat, karena Rasul saw telah bersabda : “Akulah yg membagi bagi dan Allah Yang Maha Memberi” (Shahih Bukhari).
* Alkitab Yohanes 14 : 6
“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup, tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku” Penolong sama dengan Juru Selamat.

Tanggapan Hb Munzir:

Arti kata Al Masih dalam bahasa Arab adalah yg terhapus, Isa digelari Almasiih karena diangkat kelangit, bukan Juru selamat, Almasih juga berarti pendusta, karena Dajjal pun bergelar Almasih, silahkan buka semua buku tafsir dan kamus arab.


Perlu dan penting untuk diketahui bahwa pemohon doa syafa’at bukanlah pemberi syafa’at.
Pemohon doa syafa’at adalah manusia sedangkan pemberi syafa’at atau juru syafa’at adalah Allah sendiri, tidak ada yang lain.
* Surat Al An’am (6) : 51
“Tidak ada seorang pelindung dan pemberi syafaat pun selain dari pada Allah”

Tanggapan Hb Munzir:
Rasul saw bersabda : ”aku yg pertama kali memberi syafaat dan aku tak menyombongkan diri” (HR Musnad Ahmad)
Nabi Isa adalah Utusan Allah, Kalimatullah, Rohullah.
* Surat An Nisa (4) : 171
“Sesungguhnya hanyalah Al Masih Isa Putera Maryam itui adalah utusan Allah, dan (diciptakan dengan) kalimatNya yang disampaikanNya kepada Maryam dan (dengan tiupan ) roh dariNya”

Tanggapan Hb Munzir:
Anda memutus ayat ini, karena yg sebenarnya adalah : “Wahai Ahlulkitab, jangan membuat tipuan pada agama kalian, dan jangan berkata kecuali yg benar, sungguh Isa bin Maryam hanyalah utusan Allah dan penyampai kalimat Nya, Aku yg menaruhnya pada Maryam dari tiupan kehidupan dari Nya, maka berimanlah kalian (wahai kristen) kepada Allah dan kepada Rasul Rasul Nya, dan Jangan sesekali kalian katakana ada trinitas!, hentikanlah..!, sungguh Allah itu Tuhan Yang Esa, Maha Suci Dia dari memiliki putra!, (QS Annisa 171), silahkan lihat semua tafsir.
* Surat At Tahrim (66) : 12
“Maka Kami tiupkan ke dalam (rahim) nya sebagain dari roh Kami”

Tanggapan Hb Munzir:
Allah juga berfirman demikian tentang kejadian Adam as : “ketika aku menciptakan Adam, dan kutiupkan padanya ruhku, maka mereka (para malaikat) bersungkur sujud kepadanya (Adam as) (QS Shaad 72).
Nabi Isa adalah yang terkemuka di dunia dan akhirat.
* Surat Ali Imran (3) : 45
“Al Masih Isa Putera Maryam seorang yang terkemuka di dunia dan akhirat”

Tanggapan Hb Munzir:
Allah juga memuji nabi nabi yg lain dg pujian semakna.

* Surat Al Baqarah (2) : 255 atau Ayat Kursi Menyatakan hanya Allah sajalah yang terkemuka di akhirat.

Tanggapan Hb Munzir:
Tentu,bukan ada tuhan tuhan lain, semua selain Allah adalah Hamba.

Nabi Isa adalah yang mengetahui pengetahuan tentang hari kiamat
* Surat Az Zukhruf (43) : 61
“Dan sesungguhnya Isa itu, benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah, kamu ragu-ragu tentang hari kiamta itu” * Surat Luqman (31) : 34
“Sesungguhnya Allah hanya pada sisiNya sajalah, pengetahuna tentang hari kiamat”
Ternyata hanya Allah dan Nabi Isa yang mempunyai pengetahuan tentang hari kiamat.

Tanggapan Hb Munzir:
Yang dimaksud mengetahui assa’ah, bukanlah hari kiamat, tetapi mengetahui tanda tanda kiamat, karena turunnya ia kemuka bumi kelak adalah tanda hari kiamat (Tafsir Attabari dll), dan Rasul saw sudah tahu akan kejadian turunnya Isa bin Maryam as, bahkan Nabi Muhammad saw sudah tahu kejadian sorga dan neraka, syafaat, Timbangan Amal, Hisab, penduduk sorga, penduduk neraka, melihat sorga, melihat neraka, dan kesemua itu tak diketahui oleh Isa bin Maryam.

Ayat-ayat Al Qur’an yang menuliskan tentang orang-orang yang mengikuti Isa Al Masih Putera Maryam
* Surat Ali Imran (3) : 55
(Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-KU serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat” Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa orang-orang yang mengikuti Isa Al Masih Putera Maryam itu ditinggikan atau dimuliakan diatas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat
* Surat Ali Imran (3) : 57
“Adapun orang-orang yang beriman (kepada Isa) dan mengerjakan amal-amal yang saleh, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim”
* Surat Al Baqarah (2) : 62
“Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
* Surat Al Maidah (5): 82
“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani (Kristen)”. Yang demikian itu disebabkan karena diantara mereka itu terdapat pendeta-pendeta, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.”

Tanggapan Hb Munzir:
Lanjutkan ayat itu : “Jika mereka mendengar apa apa yg diturunkan pada Nabi Muhammad saw akan kau lihat airmata mereka mengalir (tangis haru) karena apa yg mereka ketahui dari kebenaran, mereka berkata : Wahai Tuhan Kami, kami beriman (kepada Muhammad), maka catatlah kami diantara orang orang yg menyaksikan kebenaran Muhammad” AL Maidah 83

Ayat Al Qur’an yang menuliskan tentang orang-orang yang menolak Isa Al Masih Putera Maryam
* Surat Ali Imran (3) : 56
“Adapun orang-orang yang kafir (yang menolak Isa), maka akan Kusiksa mereka dengan siksa yang sangat keras di dunia dan di akhirat dan mereka tidak memperoleh penolong”

Tanggapan Hb Munzir:
Yg dimaksud kafir dalam ayat ini adalah yg mendustakan isa sebagai Nabi dan mengatakannya adalah Tuhan, merekalah yg dimaksud kafir dalam ayat ini, mereka akan disiksa oleh Allah swt dg siksaan pedih dan kekal.

Adapun Pernyataan Nabi Muhammad saw terhadap Nabi Isa:
* Hadits Shahih Bukhari 503:
“Janganlah kamu memuliakan saya berlebihan sebagaimana memuliakan Isa anak Maryam, saya ini hanyalah hamba Allah”
Sedangkan Isa Maryam adalah Rohullah dan Kalimatullah atau Roh Allah dan Firman Allah (Qs An Nisaa (4) : 171, At Tahrim (66) : 12).

Tanggapan Hb Munzir:
* Semacam Isa yg disembah, tak akan bisa mensyafaati mereka yg menyembahnya, karena Allah telah jelas jelas berfirman : “Engkau kah wahai isa yg mengatakan pada orang orang : sembahlah aku dan ibuku dari selain Allah..?” maka Isa berkata : Maha Suci Engkau, sungguh aku tidaklah berucap demikian, dan yg telah kukatakan adalah hal yg benar, jika aku telah mengucapkannya maka pastilah Kau mengetahuinya, Kau Maha Tahu apa yg ada dalam diriku dan Aku tak mengetahui apa apa yg ada pada Diri Mu, Sungguh Engkau Maha Mengetahu hal yg gaib, tidaklah kukatakan pada mereka kecuali yg telah Kau perintahkan padaku tuk menyampaikannya, agar menyembah Allah, tuhanku dan tuhan kalian” (Al Maidah 116-117),
* bahkan kemudian Allah swt berfirman menyampaikan ucapan Isa as : “Jika kau menyiksa mereka maka mereka adalah hamba Mu, jika Engkau mengampuni mereka maka sungguh Engkau Maha Perkasa dan Berkasih sayang (AL Maidah 118).

Nabi Isa adalah Hakim yang Adil di hari kiamat
* Hadits Shahih Muslim 127:
“Demi Allah yang jiwaku ditanganNya, sesungguhnya telah dekat masanya Isa anak Maryam itu akan turun di tengah kamu. Dia kan menjadi Hakim yang Adil”
*Hadits Shahih Bukhari 1090:
“Rasulullah was bersabda: Demi Allah yang diriku dalam genggamanNya! Sesungguhnya akan turun kepadamu Ibnu Maryam menjadi hakim yang adil”
* Surat At Tiin (95) : 8
Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya”
* Surat An Nahl (16) : 124
“Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar akan memberi putusan diantara mereka di hari kiamat”
* Nabi Isa adalah Imam Mahdi.
Hadits Ibnu Majah: “Tidak ada Imam Mahdi selain Isa Putera Maryam”

Tanggapan Hb Munzir:

Anda menggunting hadits itu, karena yg sebenarnya adalah : “Demi Allah yang jiwaku ditanganNya. Sesungguhnya telah dekat masanya Isa anak Maryam akan turun ditengah-tengah kamu. Dia akan menjadi Hakim yang adil, dan menghancurkan salib, membunuh Babi, dan mewajibkan orang kafir mengeluarkan Jizyah (semacam zakat), dan membagi bagikan harta hingga tak lagi ada yg menerimanya (Shahih Muslim, Shahih Bukhari).

Jadi yg akan menghancurkan semua gereja dan salib dimuka bumi adalah Isa bin Maryam as. Hadits bahwa Imam Mahdi adalah isa adalah hadits dhoif yg tak bisa dijadikan dalil, sebagaimana hadits shahih adalah Isa Bin Maryam menjadi Makmum Imam Mahdi kelak.

Firman Allah swt :

Dan Ketika Allah mengambil sumpah janji setia dari semua Nabi : Ketika kuberi kalian kitab dan hikmah, lalu akan datang / bangkit Rasul (Muhamad saw) yg membenarkan aajaran kalian, kalian harus beriman padanya (pada Muhammad saw), dan kalian (wahai seluruh nabi termasuk isa) harus menjadi penolongnya, apakah kalian sudah bersumpah setia dg sumpahku ini..?, lalu mereka (seluruh nabi termasuk isa) berkata : kami telah berikrar (untuk setia dan membantu Nabi Muhammad saw), maka Allah berkata : saksikanlah!, aku menjadi saksi bersama kalian, barangsiapa yg tak menepati janjinya maka ia adalah orang fasiq (Ali Imran 81-82).

Allah telah jelas jelas berfirman : “Engkau kah wahai isa yg mengatakan pada orang orang : sembahlah aku dan ibuku dari selain Allah..?” maka Isa berkata : Maha Suci Engkau, sungguh aku tidaklah berucap demikian, dan yg telah kukatakan adalah hal yg benar, jika aku telah mengucapkannya maka pastilah Kau mengetahuinya, Kau Maha Tahu apa yg ada dalam diriku dan Aku tak mengetahui apa apa yg ada pada Diri Mu, Sungguh Engkau Maha Mengetahu hal yg gaib, tidaklah kukatakan pada mereka kecuali yg telah Kau perintahkan padaku tuk menyampaikannya, agar menyembah Allah, tuhanku dan tuhan kalian” (Al Maidah 116-117), bahkan kemudian Allah swt berfirman menyampaikan ucapan Isa as : “Jika kau menyiksa mereka maka mereka adalah hamba Mu, jika Engkau mengampuni mereka maka sungguh Engkau Maha Perkasa dan Berkasih sayang (AL Maidah 118).

Maka jelaslah sudah.. bahwa yg akan menghabisi semua gereja dan salib adalah Nabi Isa as sendiri, membantu Nabi Muhammad saw.

Wallahu a’lam

Posted in Ahlussunnah, Ajaran Wahabi, Bid'ah, Hadits Dho'if, Hukum Islam, Hukum Mazhab, Majelis Dzikir, Majelis Rasulullah, Masjid Nabawi, Maulid Nabi, Nabi Muhammad, Para Habaib, Sejarah Islam, Shalawat Nabi, Sunnah, Tahlilan, Tasawuf, Tawasul, Wali Allah, Ziarah Kubur | Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Tausyiah Habib Munzir di Masjid Raya Almunawar

Posted by Teknik Jumper on October 24, 2008

ImageLimpahan puji kehadirat Allah swt Yang Maha menurunkan rahmatNya setiap waktu dan kejap, Sepanjang zaman alam semesta menyaksikan kedermawanan Allah, Yang Maha Memelihara setiap hamba-hambaNya dengan kasih sayang yang melebihi segenap kasih sayang, kasih sayang tunggal dari Rabbul a’lamin yang telah berfirman “wahuwa ma’akum ayna maa kuntum……” Dia Allah bersama kalian dimanapun kalian berada”. Sejauh manapun langkah seorang hamba ia tetap bersama Allah dengan kebersamaan yang tidak akan pernah berpisah, selalu bersama Rabbul a’lamin, Sebelum mereka lahir ke muka bumi mereka di alam rahim sendiri, belum ada yang mengenal wajahnya, belum pula ia mengenal apapun, Allah telah bersamanya dan memeliharanya hingga ia datang ke permukaan bumi dengan izin Allah untuk hidup diatas bumiNya, kemudian ia akan wafat, diturunkan oleh tangan-tangan sahabat dan kekasihnya kedalam kubur dan ditinggalkan oleh semua keluarga dan kekasihnya, sendiri, dan tanahpun dibenam dan ditutupkan dan selesailah Ia dalam kesendirian, ia bersama Allah.

Hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah, sungguh Allah swt selalu bersama hamba-hambaNya dalam kehidupan dan dalam kematian. Dan Dialah yang paling dekat kepada kita karena telah Allah mengenalkan diri Nya Maha Pemberi, akan tetapi akan kedekatan kepada Allah yang lebih dekat kepada hambaNya , kita ini sering dibatasi dengan tirai dosa. Ketika tirai dosa itu menutup maka walaupun tidak jauh antara kita dengan Allah tetapi terasa lebih jauh dari perjalanan ribuan tahun karena tertutup dengan tirai dosa walaupun ia sangat dekat dengan Allah. Seperti orang yang duduk di sebelah dinding, disebelah dinding satunya adalah temannya. Hampir saja ia berdampingan hanya dibatasi dinding saja, ia sangat dekat dan tidak ada yang lebih dekat dengannya selain temannya. Tapi ia terbatasi dan tidak akan pernah bersatu bersama. Demikianlah tirai yang menghalangi sebagian hamba-hamba Allah dengan Allah. Akan tetapi tirai yang demikian hebatnya itu yang bila telah menutup maka tidak seakan-akan jauh kita dari Allah dengan jarak ribuan tahun ini akan tersingkap dan terbuka dengan taubat dan inabah. Ketika jiwa kita memanggil nama Allah ingin dekat kepadaNya, ketika tidak ingin menyembah kepada tuhan selainNya meminta dan mengemis maka perlu jarak penghalang antara dia dengan Allah. Jadilah ia orang yang mendapatkan kedekatan dengan Allah.

Hadirin-hadirat akan datang suatu masa kita akan dikuburkan dan selesai. Disaat itu ia sendiri bukan satu dua hari, bukan satu dua tahun mungkin ribuan tahun dalam kesendirian. Ketika kita berbicara pada siapapun tidak bisa pula berbuat apa-apa hanya pasrah akan ketentua Allah. Tidak bisa berbuat apapun selain pasrah kepada ketentuan illahi, bukan satu dua tahun tapi ribuan tahun. Didalam kegelapan barzakh dalam keadaan sendiri, apa yang mereka perbuat? Hanya menanti dan menunggu saja, itu saja yang mereka perbuat. Menunggu…menunggu…menunggu sidang akbar. Berbahagialah mereka yang dimasa hidupnya dipenuhi dengan berlian-berlian ibadah sehingga perhiasan mulia itu menemaninya pula dialam barzakh didalam penantiannya didalam sidang akbar. Merugilah mereka yang wafat dalam keadaan miskin kepada ibadah, maka ribuan tahun didalam kegelapan, ribuan tahun dalam rintihan, ribuan tahun dalam penyesalan, ribuan tahun sendiri, sendiri hadirin – hadirat, tidak ada teman, tidak ada musuh, tidak ada kekasih, tidak siapapun menemani. Demikian keadaan setiap manusia yang wafat, demikian keadaan kita pula, akan tetapi ketika seorang hamba didalam iman… maka amal ibadahnya akan menemaninya kalau barangkali lebih dari itu ruhnya berkumpul bersama Shiddiqqin, nanti saat saat perjumpaan sidang akbar dg Allah, beruntung orang orang yang wafat dalam kerinduan kepada Allah, ia wafat dalam kedaan rindu kepada Allah, maka ia menunggu ribuan tahun dalam barzakh dalam kerinduan, sehingga ia dibangkitkan di Yaumil Qiyamah bersama orang oaring yang rindu kepada Allah, betapa indah ketika perjumpaan antara Allah dan dirinya tang tel;ah ribuan tahun menanti perjumpaan dengan Allah, sedangkan Allah menjelaskan kepada Sang Nabi, sang Nabi menjelaskan kepada kita ‘Man ahabba liqa’allah, ahabballah liqa’ah…’ barang siapa yang rindu perjumpaan dengan Allah maka Allah rindu berjumpa dengannya.

Demikian Tuntunan Illahi agar kita mencapai kebahagiaan yang kekal di dunia, di barzakh dan di Yaumil Qiyamah. Demikian beruntungnya orang – orang yang mengikuti Sang Nabi saw, dan beliau telah menjelaskan kepad kita “tidak akan ada habis habisnya kaum dari kelompok umatku. Tentunya dari kaum ulama dan fuqaha yg membela kebenaran yang terus didalam kesucian, yang terus mengajak kepada kemuliaan hidup, mengajak kepada meninggalkan perpecahan dan permusuhan, mengajak kepada akhlak mulia, mengajak kepada hal hal yang luhur. Tidak akan ada habisnya, kata Sang Nabi saw, sampai mereka berjumpa dengan Allah tetap mereka terlihat dengan jelasnya. Maka berkata Sayyidina Abdullah bin Abd bin Mas’ud berkata sungguh kalian ini berpadulah bersama jamaah, sungguh Allah tidak akan menjadikan kelompok terbesar pada umat Muhammad dealam kesesatan. Demikian berkata Sayyidina Abdullah bin Mas;ud ra, tidak akan terjadi kelompok terbesar ummat Nabi Muhammad dalam kesesatan.

Oleh sebab itu hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah, Al Imam Ibn Hajar Asqalani didalam kitabnya Fathul Baari bisharah Shahih Bukhari menukil tentang riwayat Ibn Mas’hud ini yang dimaksud didalam hadits ini bahwa Ahlussunnah waljamaah akan bersabar, walaupun mereka-mereka yang terus mengingkari dan lepas dari jamaah tapi Rasul menjaminnya kelompok mulia itu akan terus ada dari sejak zaman Sang Nabi saw terus sampai hari kebangkitan mereka tetap ada. Alhamdulillah hadirin-hadirat dan juga penjelas dari hadits ini adalah ucapan Sayyidina Abdullah bin Mas’hud ra bahwa Allah tidak akan menjadikan jamaah ummat Nabi Muhammad saw didalam kesesatan, Yang kesesatan adalah yang memisahkan diri sedikit-sedikit.

Demikian hadirin-hadirat jangan sampai kita tergoyang dengan pemahaman-pemahaman baru yang keluar dari 4 Madzhab besar Ahlussunnah waljamaah karena telah dikatakan oleh Sayyidina Abdullah bin Mas’hud ra bahwa ummat Nabi Muhammad saw yang jamaah yang kumpulan besar tidak akan berkumpul didalam kesesatan. Jadi tidak ada perkumpulan baru yang mengatakan ini ummat muslimin sekarang kebanyakan didalam kesesatan salah karena yang muncul dalam 4 Madzhab besar ini telah dijamin kebenarannya dengan Sabda Nabi Muhammad saw tidak akan habis-habisnya kelompok dari ummatku akan terus dhahir akan terus ada sampai mereka berjumpa dengan Allah swt, hadist ini menenangkan kita. Alhamdulillah Rasul saw telah menjamin bahwa kelompok itu pasti terus ada dan terlihat, jadi jangan tertipu kalau ada yang bilang ini sesat itu batil ini bid’ah, Ini munculnya baru, Justru Rasul saw telah berkata mereka tetap ada dan tidak sirna.

Demikian hadirin-hadirat Yang dimuliakan Allah swt, sampailah kita dimalam yang diberkahi Allah swt ini dan kita terus mendalami hikmah-hikmah Illahiyah dengan tuntunan Alqur’an dan dengan apa-apa yang dibawa oleh Sang Nabi saw. Allah swt terus bersama hamba-hamba Nya sepanjang hamba-hamabaNya dalam kehidupan lantas wafat mereka berpindah ke alam barzakh, Ada hambaNya yang masih dialam rahim, ada yang dialam dunia, semuanya Allah menjawab pada mereka “wahuwamaakum…” Dia bersama kalian dimanapun kalian berada. Apakah di dunia, apakah di barzakh, apakah di alam rahim ataupun di alam arwah, Allah tetap bersama mereka, dan dekat, inti undangan Illahi kepada jiwa kita. Allah mengundang sanubari kita untuk dekat kepadaNya dan untuk selalu bersamaNya karena Allah swt telah berfirman “fadzkuruniy adzkurkum…” Ingatlah Aku dan Aku akan ingat kepada kalian. Lamaran-lamaran Illahi untuk jiwa yang memahami kemuliaan hidup, memahami hakekat kehidupan. Hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah swt kita lihat bagaimana hamba-hamba Allah yang shaleh terdahulu yang selalu dituntun dan didalam pemeliharaan Allah swt, Allah swt menjelaskan didalam kejadian Nabi Yusuf as, seorang Nabi yang ketika masih kecil bermimpi melihat matahari dan bulan dan bintang-bintang bersujud kepadaNya. Ia berkata menyampaikan dan mengabarkan kepada ayahnya, siapa ayahnya? Nabi Yakub as, siapa nabi Yakub?, Putranya Nabi Ishaq as, siapa Nabi Ishaq? Putra Nabi Ibrahim as. Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari Nabi Yusuf bin Ishaq bin Yaqub bin Ibrahim as. Nabi Yaqub yang mendengar mimpi itu paham mimpi ini adalah tanda kenabian, Maka ia berkata kepada putranya Yusuf “jangan kau ceritakan kepada saudara-saudara engkau , sungguh setan itu akan membuat permasalahan dan fitnah. Akan tetapi tidak bisa dipungkiri cinta Nabi Yakub pada Yusuf jauh lebih besar daripada saudara-saudaranya, bukan karena membeda-bedakan atau pilih kasih, tentunya Nabi Yakub lebih memuliakan Nabi Yusuf karena ia Rasulullah, karena ia utusan Allah, mesti lebih dimuliakan dari yang lainnya.

Maka ini dilihat oleh saudara-saudaranya dan membangkitkan kedengkian. Mereka berkata cinta ayah kita hanya untuk Yusuf kita mesti menjauhkan Yusuf dari ayah kita supaya kita kebagian perhatian ayah. Maka dibawalah Yusuf dengan izin dan berat hati dari ayahnya untuk dibawa berburu lantas dibuang didalam sumur. Nabi Yusuf as menaruh kepercayaan kepada kakak-kakaknya ternyata yang dipercaya berkhianat. Maka Nabi Yusuf dijatuhkan didalam sumur dan dibawakan kepada ayahnya pakaian Yusuf yang digoresi darah kambing. Ayahnya menangis, menagis dalam kesedihan karena kehilangan putra yang akan menjadi Rasul dan Nabi, barangkali firasat ayahnya tahu dalam penjagaan Allah tapi berat rasanya berpisah dengan anak yang sangat ia cintai. Dari dahsyatnya kesedihan Nabi Ya’kub karena kehilangan putranya ini, iapun menjadi buta…, karena terlalu banyak menangis.

Nabi Yusuf didatangi oleh kafilah yang ingin mengambil air, maka ketika wadah air diturunkan dan ditarik ke atas yang diangkat bukan air tapi bayi atau anak yang sangat terang benderang. Maka berkata “masya Allah indah sekali anak ini” Nabi Yusuf ketika melihat itu gembira. Sungguhlah aku dapat orang yang baik yang menolongku, ternyata Nabi Yusuf dikecewakan lagi. Orang yang mengambilnya itu ternyata bukan orang yang berniat baik, orang yang mengambilnya ini justru seorang penjual budak, maka Nabi Yusuf dijual dipasar dengan harga murah. Maka Nabi Yusuf as dua kali dikecewakan oleh makhluk, ia pun dibeli oleh seorang kaya raya dan diberi tinggal didalam istananya lantas Nabi Yusuf pun mendapat fitnah dari istri orang kaya tersebut, sehingga orang kaya itu menjebloskannya kedalam penjara, Padahal terbukti Nabi Yusuf tidak bersalah, maka tiga kali Nabi Yusuf kecewa karena menaruh harapannya kepada makhluk.

Demikian Allah memberikan pendidikan dan pemeliharaan kepada Rasul Nya. Seorang Rasul tidak layak menaruh harapan kecuali kepada Allah, hingga ia telah kembali kepada Allah, harapannya selalu milik Allah, Lantas iapun keluar tidak lama dari penjara diangkat menjadi menteri keuangan, Dari seorang anak yang dibuang di sumur, lantas diangkat lalu dijual dengan harga murah sebagai budak, lalu masuk penjara, diakhirnya diangkat menjadi menteri keuangan. Demikian Hebatnya pola kehidupan Nabi Yusuf as melewati samudera kehidupan, maka iapun mempunyai hak untuk membagi-bagikan sedekah dan zakat untuk masyarakat fuqara, Maka Nabi Yusuf melihat diantara orang-orang yang mengantri adalah kakak-kakaknya, Ini kakak-kakak ku dulu yang membuang aku disumur, Nabi Yusuf yang mengenali mereka dan mereka tidak mengenali Nabi Yusuf. Maka disaat itu Nabi Yusuf melihat ada seorang anak kecil…, oh ini pasti adikku. Karena memang teriwayatkan didalam Buku buku Tafsir namanya Bunyamin as, ia seorang Nabi, Nabi Yusuf berkata pada pengawalnya “taruhlah alat timbangan emas ini kekantong yang untuk adikku yang kecil itu Bunyamin as taruh didalamnya tanpa ada yang tahu”.

Setelah hal itu terjadi maka diumumkanlah alat penimbang yang terbuat dari emas hilang, semua mereka harus digeledah. Maka ketika digeledah ketemulah alat penimbang emas pada tempat Bunyamin, Maka menangis kakak-kakaknya meminta pengampunan kepada Nabi Yusuf, bebaskan adik kami ini ambil salah satu dari kami, jangan kau salahkan adik kami ini Bunyamin, Ayah kami sudah tua akan sedih kalau seandainya anak ini akan kalian bawa, Nabi Yusuf tetap berkeras anak ini adalah pencuri dan ia harus ditangkap dan bersama kami, kalian pulanglah pada ayah kalian.

Merekapun kembali kepada ayahnya dalam kesedihan seraya mengadu kepada ayahnya dan Nabi Ya’qub ditimpa musibah yang lebih besar karena ia mencintai Bunyamin yang juga akan menjadi Nabi yang juga tercabut darinya, Maka Nabi Ya’qub yang telah buta berkata kepada anak-anaknya “pergi kalian dari hadapanku jangan kembali terkecuali membawa Yusuf, Maka merekapun pergi dan berputus asa, mereka kembali kepada sang menteri keuangan.

“Wahai tuan kami tolonglah lepaskan adik kami karena ayah kami sudah dalam keadaan tua renta, sudah buta tidak bisa melihat karena sedih ditinggal salah satu anaknya sekarang kalian akan mengambil lagi anaknya maka ia akan dalam kesedihan”. Dan berkata Nabi Yusuf “tahukah kalian dosa kalian kepada adik kalian Yusuf….??”, maka mereka melihat wajah menteri ini teringatlah kepada Yusuf..!, Mereka berkata “a’innaka anta Yusuf…???” apakah kau ini Yusuf….?? Nabi Yusuf berkata “ana Yusuf…” aku adalah Yusuf dan ini adalah adikku. Maka merekapun berpelukan dan memohon maaf kepada Nabi Yusuf as.

Maka Nabi Yusuf berkata “ini pakaianku, pergi kalian kepada ayah kita berikan pakainaku ini dan usapkan ke wajahnya, lantas bawa ayah dan ibu ke istana”. Ini hikayat saya sampaikan dari Surat Yusuf, maka merekapun kembali kepada Nabi Ya’qub as, Sampai dipintu maka Nabi Ya’qub “aku mencium baunya Nabi Yusuf…!” maka ketika diusapkan pakaian Yusuf kewajahnya maka iapun melihat kembali…, Demikian dijelaskan didalam Alqur’annul karim surat Yusuf. Maka merekapun datang bersama-sama menuju istana Nabi Yusuf dan mereka memberi salam penghormatan, ayah Yusuf yaitu Nabi Ya’qub dan ibunya dan juga adik dan kakak-kakaknya memberikan salam penghormatan kepada Nabi Yusuf, Maka berkatalah Nabi Yusuf “wahai ayah ini ternyata makna dari mimpiku yang terdahulu, karena matahari dan bulan dan bintang-bintang memberi penghormatan kepadaku, Matahari adalah ayahnya bulan adalah ibunya dan bintang-bintang adalah saudara-saudaranya,Demikian hadirin-hadirat Allah swt melewatkan hari-hari permukaan bumi dengan hikmah-hikmah besar, Ribuan tahun yang silam akan tetapi dinukil didalam Alqur’an nulkarim menjadi bahan renungan bagi kita bahwa Allah swt tidak akan mengecewakan orang-orang yang berharap kepadaNya.

Hadirin-hadirat tentunya lebih lagi kemuliaan Sayyidina Muhammad saw pemimpin Nabi dan Rasul… Kembali dari apa yang kita baca tadi “wahuwa ma’akum ayna maa kuntum” Dia Allah selalu bersama kalian dimanapun kalian berada. Rasulullah saw ketika hijrah bersama Sayyidina Abu Bakar Asshiddiq ra diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, berkatalah Sayyidina Abu Bakar Asshiddiq “wahai Rasulullah, jika orang kafir itu melihat kaki mereka, mereka akan melihat kaki kita..”. Maka Rasul saw menjawabnya bagaimana pendapatmu hubungan dua orang, yang ketiganya adalah Allah..?”, Demikian hebatnya Rasul saw, dengan tenang dan sejuknya jiwa beliau didalam keadaan yang demikian bahaya seraya berkata “Bagaimana pendapat kalian, kalau seandainya ada dua orang, yang ketiganya adalah Allah…”. Makna dari firman Allah ‘Dia bersama kalian dimanapun kalian berada’.

Demikian hadirin hadirat hakikat iman yang mesti kita pahami dan kita dalami dari kemuliaan kebersamaan bersama Allah dalam segala hal, didalam kesulitan , didalam musibah, dalam kenikmatan, jangan lepaskan cahaya ilahi dari dalam jiwa. Sungguh Nabi kita Muhammad saw tiada henti-hentinya menuntun pada kemuliaan dan menjadi lambang dari pada Rahmatnya Allah SWT. Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, ketika Rasul saw sedang dihadapkan kepadanya hidangan makanan, dihadapkannya hidangan makanan, maka makanan itu bertasbih, terdengar tasbihnya oleh para sahabat, kita memahami bahwa seluruh benda dan makhluk itu bertasbih kepada Allah, akan tetapi hadirin hadirat, Allah jadikan makanan itu bertasbih dan terdengar oleh para sahabah ketika makanan itu dihadapkan kepada Nabi Muhammad saw, menunjukan kemuliaan yang demikian dasyatnya dari manusia yang paling dimuliakan Allah dengan cahaya tuntunan illahi Nabi Muhammad saw. Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, ketika para sahabah dalam kehausan, Rasul saw menaru bejana lantas keluarlah air dari jari jari beliau, lantas beliau bersabda “sini.. datangilah, kunjungilah keberkahan yang dilimpahi di air suci ini dan keberkahan dari Allah, Beliau sendiri yang mengatakan “kesini…, datang kepada air suci yang di berkahi ” dari mana?, Yang keluar dari jari jari beliau saw. Hal hal seperti ini hadirin hadirat mestilah kita kenali, sejarah sejarah Nabi kita Muhammad saw.

Pembahasan saya yang terakhir dimalam ini adalah bahwa beliau saw ini mencintai sujud, beliau saw ini adalah orang yang sangat menyukai sujud, sehingga diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, bertanya para sahabah kepada Sayyidatuna Aisyah “Bagaimana sujudnya Rasul, “Rasul saw ketika bersujud ( kata Sayyidatuna Aisyah ) sepanjang 50 ayat” kira-kira begitu kalau shalat malam 50 ayat, kalau bacaan orang yang lancar bacaan Alqurannya 100 ayat itu kira-kira setengah jam, kalau 50 ayat ini kira-kira 15 menit dalam 1 kali sujud.

Hadirin hadirat demikianlah jiwa yang turut bersujud, barangkali berbeda dengan jiwa-jiwa kita, tubuh jiwa kita ingin bersujud tapi tubuh kita menolak, hati kita ingin sujud kalau perlu walau hanya 5,6 menit, tetapi tubuh kita menolak untuk lama-lama bersujud, kenapa ?? karna tubuh kita ini kurang dipenuhi cahaya sujud, kalau tubuh kita dipenuhi cahaya sujud dia tidak akan merasa lelah dalam bersujud, ketika kita terlepas dari kenikmatan sujud maka ingin rasanya sujud dan segera selesai, Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, sedangkan Rasul saw telah bersabda demikian diriwayatkan didalam Shahih Muslim “Derajat hamba yang paling dekat kepada Allah adalah saat dia sedang bersujud, inilah yang sedekat-dekatnya hamba kepada Allah dan inilah yang paling sulit bisa di nikmati, Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, Ketika Sayyidina Tsauban ra ditanya oleh para sahabat “apa amal yang paling dicintai oleh Allah?, Tsauban tidak menjawab, pertanyaan kedua Tsauban tidak menjawab, pertanyaan ketiga baru dia menjawab, “Aku telah bertanya pertanyaan ini kepada Rasul dan beliau menjawab “perbuatan yang paling dicintai Allah adalah banyak bersujud kepada Allah” itulah perbuataan yang dicintai Allah.

Hadirin hadirat didalam riwayat Sayyidina Rabi’iah bin Ka’ab ra, diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, ketika diriwayatkan oleh Imam bin Hajar dalam kitabnya Fathul baari bisyarah shahih bukhari, ketika Rabi’ah bin Ka’ab ini meminta kepada Rasul “kuminta padamu yaa Rasulullah agar aku bisa bersamamu wahai Rasul” maka Rasul saw menjawab “bila kau ingin dekat denganku disurga dan menemaniku disurga maka perbanyaklah sujud” demikian Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, kita mendengar nama-nama mulia semacam Imam Ali Zaenal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib, yang digelari Assajjad karna dia sujud 1000 kali setiap malamnya melakukan shalat 500 rakaat didalam tahajjudnya, berkata alhafid Al imam bin Hajar asqalani menukil ucapan Imam Nawawi didalam sharah Nawawi Shahih Muslim, bahwa ketika ditimbang antara lamanya berdiri atau banyaknya sujud maka banyaknya sujud lebih mulia dari lamanya berdiri disaat shalat, demikianlah yang diperbuat oleh para sahabat, mereka memperbanyak sujudnya.

Hadirin hadirat muliakanlah hari-hari kita dan malam-malam kita dengan memperbanyak sujud dan pula jangan lupakan diri dan jiwa kita, ketika diri kita bersujud, ingat jiwa kita agar pula bersujud kepada Allah, ketika jiwa telah bersujud pada Allah maka ia akan menikmati kehidupan ini bagaikan surga, ia seakan sudah sampai kedalam kenikmatan surga sebelum ia wafat karena telah menikmati indahnya kedekatan kehadirat Rabb, ketika seseorang telah memahami dan merasakan indahnya dzikrullah, indahnya mengingat nama Allah, indahnya mensucikan nama Allah, ia akan merasakan kenikmatan yang lebih dari seluruh kenikmatan yang ada dimuka bumi, dia akan lupa dengan surga dan segala isinya, akan lupa dengan neraka dengan segala ancamannya, karena ia telah menikmati kenikmatan yang terluhur dan tertinggi, yaitu kemuliaan khusyuk didalam kemuliaan cahaya sujud, bukankah telah bersabda Nabi kita Muhammad saw “sungguh Allah telah mengharamkan api neraka dari membakar anggota sujud” menunjukan ibadah sujud ini ibadah yang sangat mulia dan dia dirangkai didalam shalat, Rasul telah bersabda “wahai Allah jadikan hal yang paling kucintai adalah shalat, ketahuilah ketika meledak dari kerinduan kepada Allah, beliau melampiaskannya dengan memperbanyak shalat, dengan melakukan sujud dan rukuk.

Hadirin hadirat warisilah kemuliaan sujud ini, jadikan hari-hari kita dalam kemulian sujud dan ingatlah saat-saat dimana kita kita semua kelak akan sendiri dialam barzah, ribuan tahun menanti keputusan Allah, menanti sidang akbar, beruntunglah mereka yang wafat didalam barzakhnya sebagai orang yang merindukan Allah dan anggota sujudnya menyaksikan ia bahwa banyak bersujud. Kita bermunajat kepada Allah SWT, Yaa Rahman Yaa Rahim… kami mengadukan keadaan kami yang demikian jauh dari kemuliaan sujud, Rabbiy kepada siapa kami meminta kalau bukan kepada yang Maha memiliki kelezatan sujud, tumpahkan atas kami kemuliaan ini, curahkan atas kami kebahagiaan didalam kemuliaan sujud, Rabbiy yaa Rahman Yaa Rahim… kami berdoa kehadiratMu agar Kau melimpahkan kepada kami keberkahaan dalam kehidupan dan didalam sakaratul maut dan di alam barzah dan di Yaumil Qiyamah, limpahi atas kami kebahagiaan dunia wal akhirah, Yaa Rahman Yaa Rahim… dan kami telah meliahat bagaimana turunnya hujan dimalam ini, kami meminta kepadamu agar kau jadikan hujan ini hujan Rahmah dan jauhkan kami hujan yang membawa musibah, Yaa Rahman Yaa Rahim… Kau datangkan hujan kepada kami, jadikanlah hujan ini membawa Rahmah jadikan angin yang menghembus membawa Rahmah, Yaa Allahu yaa Allah… yaa Allahu yaa Allah…Yaa Rahman Yaa Rahim…

Hadirin hadirat kita teruskan dengan dzikir Jalalah memanggil nama Allah, bermunajat kepada Allah, ini musim hujan sudah mulai mendatangi Jakarta dan mengunjungi Jakarta dan sekitarnya, dan tahun yang lalu adalah sedemikian dasyatnya mengerikan datangnya kewilayah Jabodetabek ini, maka kita berdoa dimalam ini kepada Allah, agar Allah SWT menyingkirkan hujan yang membawa musibah dan agar allah mendatangkan hujan yang membawa Rahmah, dan membentengi kita dari musibah yang datang, Yaa Rabbiy kami berdoa agar Kau ringankan cobaan bagi muslimin muslimat dipermukaan bumi di barat dan timur dan khususnya diwilayah Jabodetabek ini, Yaa Rahman Yaa Rahim… wilayah kota muslim terbesar dimuka bumi, akan tetapi sedemikian dahsyatnya musibah datang kepada kita, seperti tahun yang lalu kita berdoa kepada Allah dengan keagungan nama Allah, agar Allah SWT membentengi musibah dari kita, Yaa Allahhu yaa Allah….. 100x, Yaa Rahman Yaa Rahim yaa Dzaljalaaliwal ikram.

Hadirin hadirat disaat kita dalam kegundahan atau dalam kesedihan, ingatlah suatu waktu saat kita sedang bersendiri didalam kubur kita, disaat itu kita tidak bisa menyebut nama Allah Allah, tidak lagi bisa bersujud, tidak lagi bisa lagi beribadah, maka serulah NamaNya dengan suara lirih, dengan kerinduan kehadiratnya, hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, semoga Allah SWT mengangkat musibah dari muslimin muslimat, agar Allah bangkitkan matahari kebangkita muslimin muslimat dibarat dan timur, amin Allaumma amin.

Posted in Ahlussunnah, Ajaran Wahabi, Bid'ah, Hadits Dho'if, Hukum Islam, Hukum Mazhab, Majelis Dzikir, Majelis Rasulullah, Masjid Nabawi, Maulid Nabi, Nabi Muhammad, Para Habaib, Sejarah Islam, Shalawat Nabi, Sunnah, Tahlilan, Tasawuf, Tawasul, Wali Allah, Ziarah Kubur | Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Allah SWT Tidak Akan Jadikan Umat Nabi Muhammad SAW Dalam Kesesatan

Posted by Teknik Jumper on October 24, 2008

ImageLimpahan puji kehadirat Allah swt Yang Maha menurunkan rahmatNya setiap waktu dan kejap, Sepanjang zaman alam semesta menyaksikan kedermawanan Allah, Yang Maha Memelihara setiap hamba-hambaNya dengan kasih sayang yang melebihi segenap kasih sayang, kasih sayang tunggal dari Rabbul a’lamin yang telah berfirman “wahuwa ma’akum ayna maa kuntum……” Dia Allah bersama kalian dimanapun kalian berada”. Sejauh manapun langkah seorang hamba ia tetap bersama Allah dengan kebersamaan yang tidak akan pernah berpisah, selalu bersama Rabbul a’lamin, Sebelum mereka lahir ke muka bumi mereka di alam rahim sendiri, belum ada yang mengenal wajahnya, belum pula ia mengenal apapun, Allah telah bersamanya dan memeliharanya hingga ia datang ke permukaan bumi dengan izin Allah untuk hidup diatas bumiNya, kemudian ia akan wafat, diturunkan oleh tangan-tangan sahabat dan kekasihnya kedalam kubur dan ditinggalkan oleh semua keluarga dan kekasihnya, sendiri, dan tanahpun dibenam dan ditutupkan dan selesailah Ia dalam kesendirian, ia bersama Allah.

Hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah, sungguh Allah swt selalu bersama hamba-hambaNya dalam kehidupan dan dalam kematian. Dan Dialah yang paling dekat kepada kita karena telah Allah mengenalkan diri Nya Maha Pemberi, akan tetapi akan kedekatan kepada Allah yang lebih dekat kepada hambaNya , kita ini sering dibatasi dengan tirai dosa. Ketika tirai dosa itu menutup maka walaupun tidak jauh antara kita dengan Allah tetapi terasa lebih jauh dari perjalanan ribuan tahun karena tertutup dengan tirai dosa walaupun ia sangat dekat dengan Allah. Seperti orang yang duduk di sebelah dinding, disebelah dinding satunya adalah temannya. Hampir saja ia berdampingan hanya dibatasi dinding saja, ia sangat dekat dan tidak ada yang lebih dekat dengannya selain temannya. Tapi ia terbatasi dan tidak akan pernah bersatu bersama. Demikianlah tirai yang menghalangi sebagian hamba-hamba Allah dengan Allah. Akan tetapi tirai yang demikian hebatnya itu yang bila telah menutup maka tidak seakan-akan jauh kita dari Allah dengan jarak ribuan tahun ini akan tersingkap dan terbuka dengan taubat dan inabah. Ketika jiwa kita memanggil nama Allah ingin dekat kepadaNya, ketika tidak ingin menyembah kepada tuhan selainNya meminta dan mengemis maka perlu jarak penghalang antara dia dengan Allah. Jadilah ia orang yang mendapatkan kedekatan dengan Allah.

Hadirin-hadirat akan datang suatu masa kita akan dikuburkan dan selesai. Disaat itu ia sendiri bukan satu dua hari, bukan satu dua tahun mungkin ribuan tahun dalam kesendirian. Ketika kita berbicara pada siapapun tidak bisa pula berbuat apa-apa hanya pasrah akan ketentua Allah. Tidak bisa berbuat apapun selain pasrah kepada ketentuan illahi, bukan satu dua tahun tapi ribuan tahun. Didalam kegelapan barzakh dalam keadaan sendiri, apa yang mereka perbuat? Hanya menanti dan menunggu saja, itu saja yang mereka perbuat. Menunggu…menunggu…menunggu sidang akbar. Berbahagialah mereka yang dimasa hidupnya dipenuhi dengan berlian-berlian ibadah sehingga perhiasan mulia itu menemaninya pula dialam barzakh didalam penantiannya didalam sidang akbar. Merugilah mereka yang wafat dalam keadaan miskin kepada ibadah, maka ribuan tahun didalam kegelapan, ribuan tahun dalam rintihan, ribuan tahun dalam penyesalan, ribuan tahun sendiri, sendiri hadirin – hadirat, tidak ada teman, tidak ada musuh, tidak ada kekasih, tidak siapapun menemani. Demikian keadaan setiap manusia yang wafat, demikian keadaan kita pula, akan tetapi ketika seorang hamba didalam iman… maka amal ibadahnya akan menemaninya kalau barangkali lebih dari itu ruhnya berkumpul bersama Shiddiqqin, nanti saat saat perjumpaan sidang akbar dg Allah, beruntung orang orang yang wafat dalam kerinduan kepada Allah, ia wafat dalam kedaan rindu kepada Allah, maka ia menunggu ribuan tahun dalam barzakh dalam kerinduan, sehingga ia dibangkitkan di Yaumil Qiyamah bersama orang oaring yang rindu kepada Allah, betapa indah ketika perjumpaan antara Allah dan dirinya tang tel;ah ribuan tahun menanti perjumpaan dengan Allah, sedangkan Allah menjelaskan kepada Sang Nabi, sang Nabi menjelaskan kepada kita ‘Man ahabba liqa’allah, ahabballah liqa’ah…’ barang siapa yang rindu perjumpaan dengan Allah maka Allah rindu berjumpa dengannya.

Demikian Tuntunan Illahi agar kita mencapai kebahagiaan yang kekal di dunia, di barzakh dan di Yaumil Qiyamah. Demikian beruntungnya orang – orang yang mengikuti Sang Nabi saw, dan beliau telah menjelaskan kepad kita “tidak akan ada habis habisnya kaum dari kelompok umatku. Tentunya dari kaum ulama dan fuqaha yg membela kebenaran yang terus didalam kesucian, yang terus mengajak kepada kemuliaan hidup, mengajak kepada meninggalkan perpecahan dan permusuhan, mengajak kepada akhlak mulia, mengajak kepada hal hal yang luhur. Tidak akan ada habisnya, kata Sang Nabi saw, sampai mereka berjumpa dengan Allah tetap mereka terlihat dengan jelasnya. Maka berkata Sayyidina Abdullah bin Abd bin Mas’ud berkata sungguh kalian ini berpadulah bersama jamaah, sungguh Allah tidak akan menjadikan kelompok terbesar pada umat Muhammad dealam kesesatan. Demikian berkata Sayyidina Abdullah bin Mas;ud ra, tidak akan terjadi kelompok terbesar ummat Nabi Muhammad dalam kesesatan.

Oleh sebab itu hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah, Al Imam Ibn Hajar Asqalani didalam kitabnya Fathul Baari bisharah Shahih Bukhari menukil tentang riwayat Ibn Mas’hud ini yang dimaksud didalam hadits ini bahwa Ahlussunnah waljamaah akan bersabar, walaupun mereka-mereka yang terus mengingkari dan lepas dari jamaah tapi Rasul menjaminnya kelompok mulia itu akan terus ada dari sejak zaman Sang Nabi saw terus sampai hari kebangkitan mereka tetap ada. Alhamdulillah hadirin-hadirat dan juga penjelas dari hadits ini adalah ucapan Sayyidina Abdullah bin Mas’hud ra bahwa Allah tidak akan menjadikan jamaah ummat Nabi Muhammad saw didalam kesesatan, Yang kesesatan adalah yang memisahkan diri sedikit-sedikit.

Demikian hadirin-hadirat jangan sampai kita tergoyang dengan pemahaman-pemahaman baru yang keluar dari 4 Madzhab besar Ahlussunnah waljamaah karena telah dikatakan oleh Sayyidina Abdullah bin Mas’hud ra bahwa ummat Nabi Muhammad saw yang jamaah yang kumpulan besar tidak akan berkumpul didalam kesesatan. Jadi tidak ada perkumpulan baru yang mengatakan ini ummat muslimin sekarang kebanyakan didalam kesesatan salah karena yang muncul dalam 4 Madzhab besar ini telah dijamin kebenarannya dengan Sabda Nabi Muhammad saw tidak akan habis-habisnya kelompok dari ummatku akan terus dhahir akan terus ada sampai mereka berjumpa dengan Allah swt, hadist ini menenangkan kita. Alhamdulillah Rasul saw telah menjamin bahwa kelompok itu pasti terus ada dan terlihat, jadi jangan tertipu kalau ada yang bilang ini sesat itu batil ini bid’ah, Ini munculnya baru, Justru Rasul saw telah berkata mereka tetap ada dan tidak sirna.

Demikian hadirin-hadirat Yang dimuliakan Allah swt, sampailah kita dimalam yang diberkahi Allah swt ini dan kita terus mendalami hikmah-hikmah Illahiyah dengan tuntunan Alqur’an dan dengan apa-apa yang dibawa oleh Sang Nabi saw. Allah swt terus bersama hamba-hamba Nya sepanjang hamba-hamabaNya dalam kehidupan lantas wafat mereka berpindah ke alam barzakh, Ada hambaNya yang masih dialam rahim, ada yang dialam dunia, semuanya Allah menjawab pada mereka “wahuwamaakum…” Dia bersama kalian dimanapun kalian berada. Apakah di dunia, apakah di barzakh, apakah di alam rahim ataupun di alam arwah, Allah tetap bersama mereka, dan dekat, inti undangan Illahi kepada jiwa kita. Allah mengundang sanubari kita untuk dekat kepadaNya dan untuk selalu bersamaNya karena Allah swt telah berfirman “fadzkuruniy adzkurkum…” Ingatlah Aku dan Aku akan ingat kepada kalian. Lamaran-lamaran Illahi untuk jiwa yang memahami kemuliaan hidup, memahami hakekat kehidupan. Hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah swt kita lihat bagaimana hamba-hamba Allah yang shaleh terdahulu yang selalu dituntun dan didalam pemeliharaan Allah swt, Allah swt menjelaskan didalam kejadian Nabi Yusuf as, seorang Nabi yang ketika masih kecil bermimpi melihat matahari dan bulan dan bintang-bintang bersujud kepadaNya. Ia berkata menyampaikan dan mengabarkan kepada ayahnya, siapa ayahnya? Nabi Yakub as, siapa nabi Yakub?, Putranya Nabi Ishaq as, siapa Nabi Ishaq? Putra Nabi Ibrahim as. Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari Nabi Yusuf bin Ishaq bin Yaqub bin Ibrahim as. Nabi Yaqub yang mendengar mimpi itu paham mimpi ini adalah tanda kenabian, Maka ia berkata kepada putranya Yusuf “jangan kau ceritakan kepada saudara-saudara engkau , sungguh setan itu akan membuat permasalahan dan fitnah. Akan tetapi tidak bisa dipungkiri cinta Nabi Yakub pada Yusuf jauh lebih besar daripada saudara-saudaranya, bukan karena membeda-bedakan atau pilih kasih, tentunya Nabi Yakub lebih memuliakan Nabi Yusuf karena ia Rasulullah, karena ia utusan Allah, mesti lebih dimuliakan dari yang lainnya.

Maka ini dilihat oleh saudara-saudaranya dan membangkitkan kedengkian. Mereka berkata cinta ayah kita hanya untuk Yusuf kita mesti menjauhkan Yusuf dari ayah kita supaya kita kebagian perhatian ayah. Maka dibawalah Yusuf dengan izin dan berat hati dari ayahnya untuk dibawa berburu lantas dibuang didalam sumur. Nabi Yusuf as menaruh kepercayaan kepada kakak-kakaknya ternyata yang dipercaya berkhianat. Maka Nabi Yusuf dijatuhkan didalam sumur dan dibawakan kepada ayahnya pakaian Yusuf yang digoresi darah kambing. Ayahnya menangis, menagis dalam kesedihan karena kehilangan putra yang akan menjadi Rasul dan Nabi, barangkali firasat ayahnya tahu dalam penjagaan Allah tapi berat rasanya berpisah dengan anak yang sangat ia cintai. Dari dahsyatnya kesedihan Nabi Ya’kub karena kehilangan putranya ini, iapun menjadi buta…, karena terlalu banyak menangis.

Nabi Yusuf didatangi oleh kafilah yang ingin mengambil air, maka ketika wadah air diturunkan dan ditarik ke atas yang diangkat bukan air tapi bayi atau anak yang sangat terang benderang. Maka berkata “masya Allah indah sekali anak ini” Nabi Yusuf ketika melihat itu gembira. Sungguhlah aku dapat orang yang baik yang menolongku, ternyata Nabi Yusuf dikecewakan lagi. Orang yang mengambilnya itu ternyata bukan orang yang berniat baik, orang yang mengambilnya ini justru seorang penjual budak, maka Nabi Yusuf dijual dipasar dengan harga murah. Maka Nabi Yusuf as dua kali dikecewakan oleh makhluk, ia pun dibeli oleh seorang kaya raya dan diberi tinggal didalam istananya lantas Nabi Yusuf pun mendapat fitnah dari istri orang kaya tersebut, sehingga orang kaya itu menjebloskannya kedalam penjara, Padahal terbukti Nabi Yusuf tidak bersalah, maka tiga kali Nabi Yusuf kecewa karena menaruh harapannya kepada makhluk.

Demikian Allah memberikan pendidikan dan pemeliharaan kepada Rasul Nya. Seorang Rasul tidak layak menaruh harapan kecuali kepada Allah, hingga ia telah kembali kepada Allah, harapannya selalu milik Allah, Lantas iapun keluar tidak lama dari penjara diangkat menjadi menteri keuangan, Dari seorang anak yang dibuang di sumur, lantas diangkat lalu dijual dengan harga murah sebagai budak, lalu masuk penjara, diakhirnya diangkat menjadi menteri keuangan. Demikian Hebatnya pola kehidupan Nabi Yusuf as melewati samudera kehidupan, maka iapun mempunyai hak untuk membagi-bagikan sedekah dan zakat untuk masyarakat fuqara, Maka Nabi Yusuf melihat diantara orang-orang yang mengantri adalah kakak-kakaknya, Ini kakak-kakak ku dulu yang membuang aku disumur, Nabi Yusuf yang mengenali mereka dan mereka tidak mengenali Nabi Yusuf. Maka disaat itu Nabi Yusuf melihat ada seorang anak kecil…, oh ini pasti adikku. Karena memang teriwayatkan didalam Buku buku Tafsir namanya Bunyamin as, ia seorang Nabi, Nabi Yusuf berkata pada pengawalnya “taruhlah alat timbangan emas ini kekantong yang untuk adikku yang kecil itu Bunyamin as taruh didalamnya tanpa ada yang tahu”.

Setelah hal itu terjadi maka diumumkanlah alat penimbang yang terbuat dari emas hilang, semua mereka harus digeledah. Maka ketika digeledah ketemulah alat penimbang emas pada tempat Bunyamin, Maka menangis kakak-kakaknya meminta pengampunan kepada Nabi Yusuf, bebaskan adik kami ini ambil salah satu dari kami, jangan kau salahkan adik kami ini Bunyamin, Ayah kami sudah tua akan sedih kalau seandainya anak ini akan kalian bawa, Nabi Yusuf tetap berkeras anak ini adalah pencuri dan ia harus ditangkap dan bersama kami, kalian pulanglah pada ayah kalian.

Merekapun kembali kepada ayahnya dalam kesedihan seraya mengadu kepada ayahnya dan Nabi Ya’qub ditimpa musibah yang lebih besar karena ia mencintai Bunyamin yang juga akan menjadi Nabi yang juga tercabut darinya, Maka Nabi Ya’qub yang telah buta berkata kepada anak-anaknya “pergi kalian dari hadapanku jangan kembali terkecuali membawa Yusuf, Maka merekapun pergi dan berputus asa, mereka kembali kepada sang menteri keuangan.

“Wahai tuan kami tolonglah lepaskan adik kami karena ayah kami sudah dalam keadaan tua renta, sudah buta tidak bisa melihat karena sedih ditinggal salah satu anaknya sekarang kalian akan mengambil lagi anaknya maka ia akan dalam kesedihan”. Dan berkata Nabi Yusuf “tahukah kalian dosa kalian kepada adik kalian Yusuf….??”, maka mereka melihat wajah menteri ini teringatlah kepada Yusuf..!, Mereka berkata “a’innaka anta Yusuf…???” apakah kau ini Yusuf….?? Nabi Yusuf berkata “ana Yusuf…” aku adalah Yusuf dan ini adalah adikku. Maka merekapun berpelukan dan memohon maaf kepada Nabi Yusuf as.

Maka Nabi Yusuf berkata “ini pakaianku, pergi kalian kepada ayah kita berikan pakainaku ini dan usapkan ke wajahnya, lantas bawa ayah dan ibu ke istana”. Ini hikayat saya sampaikan dari Surat Yusuf, maka merekapun kembali kepada Nabi Ya’qub as, Sampai dipintu maka Nabi Ya’qub “aku mencium baunya Nabi Yusuf…!” maka ketika diusapkan pakaian Yusuf kewajahnya maka iapun melihat kembali…, Demikian dijelaskan didalam Alqur’annul karim surat Yusuf. Maka merekapun datang bersama-sama menuju istana Nabi Yusuf dan mereka memberi salam penghormatan, ayah Yusuf yaitu Nabi Ya’qub dan ibunya dan juga adik dan kakak-kakaknya memberikan salam penghormatan kepada Nabi Yusuf, Maka berkatalah Nabi Yusuf “wahai ayah ini ternyata makna dari mimpiku yang terdahulu, karena matahari dan bulan dan bintang-bintang memberi penghormatan kepadaku, Matahari adalah ayahnya bulan adalah ibunya dan bintang-bintang adalah saudara-saudaranya,Demikian hadirin-hadirat Allah swt melewatkan hari-hari permukaan bumi dengan hikmah-hikmah besar, Ribuan tahun yang silam akan tetapi dinukil didalam Alqur’an nulkarim menjadi bahan renungan bagi kita bahwa Allah swt tidak akan mengecewakan orang-orang yang berharap kepadaNya.

Hadirin-hadirat tentunya lebih lagi kemuliaan Sayyidina Muhammad saw pemimpin Nabi dan Rasul… Kembali dari apa yang kita baca tadi “wahuwa ma’akum ayna maa kuntum” Dia Allah selalu bersama kalian dimanapun kalian berada. Rasulullah saw ketika hijrah bersama Sayyidina Abu Bakar Asshiddiq ra diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, berkatalah Sayyidina Abu Bakar Asshiddiq “wahai Rasulullah, jika orang kafir itu melihat kaki mereka, mereka akan melihat kaki kita..”. Maka Rasul saw menjawabnya bagaimana pendapatmu hubungan dua orang, yang ketiganya adalah Allah..?”, Demikian hebatnya Rasul saw, dengan tenang dan sejuknya jiwa beliau didalam keadaan yang demikian bahaya seraya berkata “Bagaimana pendapat kalian, kalau seandainya ada dua orang, yang ketiganya adalah Allah…”. Makna dari firman Allah ‘Dia bersama kalian dimanapun kalian berada’.

Demikian hadirin hadirat hakikat iman yang mesti kita pahami dan kita dalami dari kemuliaan kebersamaan bersama Allah dalam segala hal, didalam kesulitan , didalam musibah, dalam kenikmatan, jangan lepaskan cahaya ilahi dari dalam jiwa. Sungguh Nabi kita Muhammad saw tiada henti-hentinya menuntun pada kemuliaan dan menjadi lambang dari pada Rahmatnya Allah SWT. Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, ketika Rasul saw sedang dihadapkan kepadanya hidangan makanan, dihadapkannya hidangan makanan, maka makanan itu bertasbih, terdengar tasbihnya oleh para sahabat, kita memahami bahwa seluruh benda dan makhluk itu bertasbih kepada Allah, akan tetapi hadirin hadirat, Allah jadikan makanan itu bertasbih dan terdengar oleh para sahabah ketika makanan itu dihadapkan kepada Nabi Muhammad saw, menunjukan kemuliaan yang demikian dasyatnya dari manusia yang paling dimuliakan Allah dengan cahaya tuntunan illahi Nabi Muhammad saw. Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, ketika para sahabah dalam kehausan, Rasul saw menaru bejana lantas keluarlah air dari jari jari beliau, lantas beliau bersabda “sini.. datangilah, kunjungilah keberkahan yang dilimpahi di air suci ini dan keberkahan dari Allah, Beliau sendiri yang mengatakan “kesini…, datang kepada air suci yang di berkahi ” dari mana?, Yang keluar dari jari jari beliau saw. Hal hal seperti ini hadirin hadirat mestilah kita kenali, sejarah sejarah Nabi kita Muhammad saw.

Pembahasan saya yang terakhir dimalam ini adalah bahwa beliau saw ini mencintai sujud, beliau saw ini adalah orang yang sangat menyukai sujud, sehingga diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, bertanya para sahabah kepada Sayyidatuna Aisyah “Bagaimana sujudnya Rasul, “Rasul saw ketika bersujud ( kata Sayyidatuna Aisyah ) sepanjang 50 ayat” kira-kira begitu kalau shalat malam 50 ayat, kalau bacaan orang yang lancar bacaan Alqurannya 100 ayat itu kira-kira setengah jam, kalau 50 ayat ini kira-kira 15 menit dalam 1 kali sujud.

Hadirin hadirat demikianlah jiwa yang turut bersujud, barangkali berbeda dengan jiwa-jiwa kita, tubuh jiwa kita ingin bersujud tapi tubuh kita menolak, hati kita ingin sujud kalau perlu walau hanya 5,6 menit, tetapi tubuh kita menolak untuk lama-lama bersujud, kenapa ?? karna tubuh kita ini kurang dipenuhi cahaya sujud, kalau tubuh kita dipenuhi cahaya sujud dia tidak akan merasa lelah dalam bersujud, ketika kita terlepas dari kenikmatan sujud maka ingin rasanya sujud dan segera selesai, Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, sedangkan Rasul saw telah bersabda demikian diriwayatkan didalam Shahih Muslim “Derajat hamba yang paling dekat kepada Allah adalah saat dia sedang bersujud, inilah yang sedekat-dekatnya hamba kepada Allah dan inilah yang paling sulit bisa di nikmati, Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, Ketika Sayyidina Tsauban ra ditanya oleh para sahabat “apa amal yang paling dicintai oleh Allah?, Tsauban tidak menjawab, pertanyaan kedua Tsauban tidak menjawab, pertanyaan ketiga baru dia menjawab, “Aku telah bertanya pertanyaan ini kepada Rasul dan beliau menjawab “perbuatan yang paling dicintai Allah adalah banyak bersujud kepada Allah” itulah perbuataan yang dicintai Allah.

Hadirin hadirat didalam riwayat Sayyidina Rabi’iah bin Ka’ab ra, diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, ketika diriwayatkan oleh Imam bin Hajar dalam kitabnya Fathul baari bisyarah shahih bukhari, ketika Rabi’ah bin Ka’ab ini meminta kepada Rasul “kuminta padamu yaa Rasulullah agar aku bisa bersamamu wahai Rasul” maka Rasul saw menjawab “bila kau ingin dekat denganku disurga dan menemaniku disurga maka perbanyaklah sujud” demikian Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, kita mendengar nama-nama mulia semacam Imam Ali Zaenal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib, yang digelari Assajjad karna dia sujud 1000 kali setiap malamnya melakukan shalat 500 rakaat didalam tahajjudnya, berkata alhafid Al imam bin Hajar asqalani menukil ucapan Imam Nawawi didalam sharah Nawawi Shahih Muslim, bahwa ketika ditimbang antara lamanya berdiri atau banyaknya sujud maka banyaknya sujud lebih mulia dari lamanya berdiri disaat shalat, demikianlah yang diperbuat oleh para sahabat, mereka memperbanyak sujudnya.

Hadirin hadirat muliakanlah hari-hari kita dan malam-malam kita dengan memperbanyak sujud dan pula jangan lupakan diri dan jiwa kita, ketika diri kita bersujud, ingat jiwa kita agar pula bersujud kepada Allah, ketika jiwa telah bersujud pada Allah maka ia akan menikmati kehidupan ini bagaikan surga, ia seakan sudah sampai kedalam kenikmatan surga sebelum ia wafat karena telah menikmati indahnya kedekatan kehadirat Rabb, ketika seseorang telah memahami dan merasakan indahnya dzikrullah, indahnya mengingat nama Allah, indahnya mensucikan nama Allah, ia akan merasakan kenikmatan yang lebih dari seluruh kenikmatan yang ada dimuka bumi, dia akan lupa dengan surga dan segala isinya, akan lupa dengan neraka dengan segala ancamannya, karena ia telah menikmati kenikmatan yang terluhur dan tertinggi, yaitu kemuliaan khusyuk didalam kemuliaan cahaya sujud, bukankah telah bersabda Nabi kita Muhammad saw “sungguh Allah telah mengharamkan api neraka dari membakar anggota sujud” menunjukan ibadah sujud ini ibadah yang sangat mulia dan dia dirangkai didalam shalat, Rasul telah bersabda “wahai Allah jadikan hal yang paling kucintai adalah shalat, ketahuilah ketika meledak dari kerinduan kepada Allah, beliau melampiaskannya dengan memperbanyak shalat, dengan melakukan sujud dan rukuk.

Hadirin hadirat warisilah kemuliaan sujud ini, jadikan hari-hari kita dalam kemulian sujud dan ingatlah saat-saat dimana kita kita semua kelak akan sendiri dialam barzah, ribuan tahun menanti keputusan Allah, menanti sidang akbar, beruntunglah mereka yang wafat didalam barzakhnya sebagai orang yang merindukan Allah dan anggota sujudnya menyaksikan ia bahwa banyak bersujud. Kita bermunajat kepada Allah SWT, Yaa Rahman Yaa Rahim… kami mengadukan keadaan kami yang demikian jauh dari kemuliaan sujud, Rabbiy kepada siapa kami meminta kalau bukan kepada yang Maha memiliki kelezatan sujud, tumpahkan atas kami kemuliaan ini, curahkan atas kami kebahagiaan didalam kemuliaan sujud, Rabbiy yaa Rahman Yaa Rahim… kami berdoa kehadiratMu agar Kau melimpahkan kepada kami keberkahaan dalam kehidupan dan didalam sakaratul maut dan di alam barzah dan di Yaumil Qiyamah, limpahi atas kami kebahagiaan dunia wal akhirah, Yaa Rahman Yaa Rahim… dan kami telah meliahat bagaimana turunnya hujan dimalam ini, kami meminta kepadamu agar kau jadikan hujan ini hujan Rahmah dan jauhkan kami hujan yang membawa musibah, Yaa Rahman Yaa Rahim… Kau datangkan hujan kepada kami, jadikanlah hujan ini membawa Rahmah jadikan angin yang menghembus membawa Rahmah, Yaa Allahu yaa Allah… yaa Allahu yaa Allah…Yaa Rahman Yaa Rahim…

Hadirin hadirat kita teruskan dengan dzikir Jalalah memanggil nama Allah, bermunajat kepada Allah, ini musim hujan sudah mulai mendatangi Jakarta dan mengunjungi Jakarta dan sekitarnya, dan tahun yang lalu adalah sedemikian dasyatnya mengerikan datangnya kewilayah Jabodetabek ini, maka kita berdoa dimalam ini kepada Allah, agar Allah SWT menyingkirkan hujan yang membawa musibah dan agar allah mendatangkan hujan yang membawa Rahmah, dan membentengi kita dari musibah yang datang, Yaa Rabbiy kami berdoa agar Kau ringankan cobaan bagi muslimin muslimat dipermukaan bumi di barat dan timur dan khususnya diwilayah Jabodetabek ini, Yaa Rahman Yaa Rahim… wilayah kota muslim terbesar dimuka bumi, akan tetapi sedemikian dahsyatnya musibah datang kepada kita, seperti tahun yang lalu kita berdoa kepada Allah dengan keagungan nama Allah, agar Allah SWT membentengi musibah dari kita, Yaa Allahhu yaa Allah….. 100x, Yaa Rahman Yaa Rahim yaa Dzaljalaaliwal ikram.

Hadirin hadirat disaat kita dalam kegundahan atau dalam kesedihan, ingatlah suatu waktu saat kita sedang bersendiri didalam kubur kita, disaat itu kita tidak bisa menyebut nama Allah Allah, tidak lagi bisa bersujud, tidak lagi bisa lagi beribadah, maka serulah NamaNya dengan suara lirih, dengan kerinduan kehadiratnya, hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, semoga Allah SWT mengangkat musibah dari muslimin muslimat, agar Allah bangkitkan matahari kebangkita muslimin muslimat dibarat dan timur, amin Allaumma amin.

Posted in Ahlussunnah, Ajaran Wahabi, Bid'ah, Hadits Dho'if, Hukum Islam, Hukum Mazhab, Majelis Dzikir, Majelis Rasulullah, Masjid Nabawi, Maulid Nabi, Nabi Muhammad, Para Habaib, Sejarah Islam, Shalawat Nabi, Sunnah, Tahlilan, Tasawuf, Tawasul, Wali Allah, Ziarah Kubur | Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Sayyidina Muhammad SAW Perantara Kecintaan Muslimin Kepada ALLAH SWT

Posted by Teknik Jumper on October 24, 2008

ImageLimpahan puji kehadirat Allah swt Yang Maha Luhur, Yang Maha melimpahkan hidayah dan iman kepada hamba-hambaNya dari zaman ke zaman maka terpilihlah namaku dan nama kalian untuk tergabung di dalam kelompok Sayyidina Muhammad saw. Maha Suci Allah yang menjadikan Alam semesta sebagai lambang keindahanNya, sebagai lambang kesempurnaan Allah. Matahari dan bulan, bintang-bintang di angkasa raya, setiap tetes air dan getaran ombak di lautan yang kesemuanya dijadikan oleh Allah sebagai cermin bagi kita untuk menikmati keindahan Allah, menikmati keagungan Allah, memahami kemuliaan Allah. Keindahan Allah Yang Maha Indah, yang menjadikan seseorang memahami makna keindahan Allah, sirnalah seluruh keindahan yang ada di alam semesta berganti dengan puncak kerinduaan dan nafas-nafas yang merindukan Dzat Yang Maha Indah.., Allah…

Hadirin-hadirat, telah kita dengar tadi daripada kalimat Al Imam Abdullah bin Alwi Alhaddad, Al Hafidz Al Musnid Hujjatul Islam wabarakatulanam yg berkata : “almunfarid bilkamaali……..” dari salah satu syair beliau tadi beliau berkata “almunfarid bilkamaal……..” yaitu : “Yang Maha Tunggal dan Yang Maha sendiri dengan kesempurnaan”, Yang kesempurnaanNya mengungguli semua kesempurnaan, Kalimat ini ketika kita renungkan “Almunfarid…………..” Yang Maha sendiri dan Maha Tunggal dalam kesempurnaan.

Hadirin-hadirat maka pahamlah kita bahwa semua alam semesta akan fana dan sungguh Yang Maha sempurna tetap abadi, Beruntunglah jiwa yang mencintai Yang Maha sempurna.., Allah.., hadirin hadirat telah Allah jadikan alam semesta ini sedikit mengenalkan keindahan Allah kepada kita, mengenalkan kesempurnaan Allah, mengundang kecintaan kita kepada Allah, menghantarkan kerinduan kita kepada Allah. Sehingga ketika kita melihat bulan purnama yang indah ingatlah kepada Yang Maha Menciptakan yang paling indah.., Allah.., Ketika kita melihat bintang-bintang yang terang benderang dilangit, ingatlah yang menciptakan hal itu dari ketiadaan, dan keindahannya.. Allah..,

Jadilah setiap nafas kita menghantarkan kita kepada keindahan Allah, Allah menciptakan suatu makhluk yang juga menghantar kita kepada mahabbatullah yaitu Sayyidina Muhammad saw yang dengan melihat wajah beliau saw sampailah kita kepada khusyu, yang dengan mengikuti gerak-gerik dan tuntunan beliau saw sampailah kita kepada kesempurnaan iman.

Hadirin-hadirat, (beliau saw adalah) manusia yang sempurna diciptakan oleh Allah sebagai lambang kesempurnaan Allah, untuk menghantarkan kita kepada kecintaan kepada Allah, untuk menghantarkan kita kepada kerinduan kepada Allah, Allah jadikan alam semesta ini cermin dan lambang keindahanNya, dan Allah jadikan satu makhluk yang paling cepat menghantar kita kepada keridhaan Allah Sayyidina Muhammad saw.

Namun Masih muncul pertanyaan : “seandainya kita bisa cinta kepada Allah dengan ingat kepada Nabi Muhammad saw hati-hati itu syirik”. Padahal jika kita melihat bulan purnama lalu kita rindu kepada Allah, jadilah bulan purnama itu yang menjadi perantara antara cinta kita dengan Allah, Ketika kita melihat kenikmatan yang datang kepada kita barangkali berupa anak keturunan atau berupa harta atau berupa kedudukan atau berupa hal-hal yang bersifat duniawi bila itu menghantarkan cinta kita kepada Allah jadilah ia perantara menuju kecintaan kita kepada Allah. Demikian Allah jadikan sedemikian banyak perantara di alam semesta untuk menghantarkan kita kehadiratNya , dan Allah ciptakan perantara yang terindah kepada Allah (adalah) Sayyidina Muhammad saw.

Kita lihat bagaimana hadits yang kita baca tadi diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari bahwa Rasul saw bersabda “apakah kalian tidak takjub dan heran melihat Allah membalikkan caci-maki kaum Quraisy?” (Shahih Bukhari), kenapa? Al Imam Al Hafidz Ibn Hajar Al Asqalaniy di dalam kitabnya Fathul Baari bisyarah Shahih Bukhari menjelaskan makna hadits ini di zaman itu dari bencinya orang-orang Quraisy terhadap Sang Nabi sehingga beliau sudah diubah namanya bukan lagi Muhammad (Muhammad adalah orang yg banyakdipuji/tyerpuji) tapi dipanggil “Mudzammam” yaitu orang yang selalu dicaci maki dan dihina.

Demikian gelar Sang Nabi daripada orang-orang kuffar Quraisy, dan gelar itu sudah menjadi ucapan setiap orang-orang kuffar hingga mereka tidak lagi menamakan beliau ini Muhammad tapi selalu menamakannya Mudzammam, orang yang selalu dicaci, orang yang banyak dihina, orang yang sangat terhina. Maka Rasul saw melihat wajah-wajah para sahabat bersedih dengan gelar yang ditaruhkan kepada orang yang dicintai Allah ini, maka seyogyanya kalian lihat mereka itu mencaci bukan mencaci Muhammad tetapi mencaci Mudzammam, (diantara cacian orang Qureisy) : Allah melaknat Mudzammam, Allah memuntahkan kemarahanNya kepada Mudzammam, Allah mencelakakan Mudzammam, mereka tidak menyebut Muhammad tetapi mereka menyebut Mudzammam. Maksudnya caciannya bukan kepadaku, Aku Muhammad. Hadirin tahukah makna “innama Muhammad” nama Muhammad artinya nama yang selalu dipuji dan yang banyak padanya sifat-sifat yang terpuji. Dan beliaulah saw memang orang yang paling berhak menyandang nama Muhammad. Orang yang paling banyak dipuji dan orang yang berkumpul padanya sifat-sifat yang terpuji, memang orang yang paling banyak dipuji seluruh langit dan bumi adalah Nabiyuna Muhammad saw. Dimuliakan dan dicintai di langit dan bumi, tujuh lapis langitpun diperintah oleh Allah untuk gembira dengan kedatangan Sang Nabi.

Sebagaimana diriwayatkan didalam Shahihain Bukhari dan Muslim ketika Rasul saw Mi’raj kelangit dan malaikat menjawab “wani’malmajii’u jaa’………………..”, setiap malaikat itu berkata : “semulia-mulia yang datang telah datang”, ucapan ini disetiap langit sampai ke langit yang ketujuh. Disambut dan dimuliakan oleh penduduk langit daripada para malaikat . Tentunya disambut dan dicintai oleh jiwa mukminin-mukminat dan para Nabi karena beliau juga teriwayatkan di dalam Shahih Bukhari ketika malam Isra’ wal Mi’raj disambut oleh para Nabi. Mereka memuji Sang Nabi “Marhaban Yaa Akhi Shalih wa waladun shalih………..” disambut oleh Nabi Adam as “selamat datang wahai saudaraku yang shaleh, wahai anakku yang shaleh”. Demikian para Nabi terus menyambut beliau saw hingga semua Nabi diperintah oleh Allah menyambut Rasulullah Muhammad saw, beruntunglah jiwa yang mencintai Nabi Muhammad saw karena cinta kita kepada Sang Nabi, lambang cinta kita kepada Allah.

Kita lihat bagaimana para sahabat mencintai Sang Nabi, hadits ini hadirin-hadirat juga melambangkan kepada kita bahwa manusia yang paling mulia ini juga banyak dicaci, banyak dihina, Hadits ini menghibur semua orang-orang yang dicaci dan dihina bahwa ada satu orang yang digelari Mudzammam , orang yang paling banyak dicaci dan paling banyak dihina dan ialah manusia yang paling terpuji Muhammad Rasulullah, Jangan sampai diantara kita merasa hina dan sedih kalau orang menghina kita, ada orang yang paling mulia justru digelari orang yang paling banyak dicaci. Demikian hadirin-hadirat indahnya hadits ini menenangkan orang-orang yang terhina dan tercaci, menenangkan orang yang terdzalimi dan ditindas dan beliau saw berkata “mereka mencaciku Mudzammam sedangkan aku Muhammad” karena beliau saw dipuji oleh orang-orang dari mukminin-mukminat, para Nabi, para malaikat dan Allah. Allah memuji beliau saw : “sungguh kau (wahai Muhammad saw) berada pada akhlak yang agung” (QS Alqalam), padahal “adzhim” adalah salah satu dari sifat-sifat Allah. Menunjukkan bukan Sang Nabi memiliki sifat Allah, bukan itu maksudnya. Maksudnya Allah ingin memuliakan derajat Sang Nabi sedemikian tingginya. Alangkah mulianya hadits ini ketika dibaca oleh orang-orang yang terhina dan orang-orang yang difitnah dan dicaci, dia akan ingat manusia yang paling terpujipun digelari orang yang paling banyak dihina shallallahuwassallama wabarik alaihi.

Sehingga diriwayatkan didalam Shahih Bukhari ketika Rasul saw bercerita untuk mengingatkan betapa indahnya kenabian beliau saw dan ummat beliau saw seraya berkata ketika Allah swt memberikan kepadaku perpisahan seakan-akan orang-orang membangun sebuah rumah yang megah tapi tersisa ada satu batu atau bata yang belum terpasang, maka semua orang yang lewat di rumah itu memuji rumah yang indah itu tapi mereka tersangkut, kenapa ini batu satu belum terpasang?. Ada satu bata yang berada ditempat yang paling strategis justru belum terpasang. Maka Rasul saw meneruskan : “aku adalah batu bata yang terakhir terpasang”, akulah pengakhir dari semua para Nabi.

Hadits ini menunjukkan banyak makna diantaranya ada dua makna besar. Yang pertama menghikayatkan kesempurnaan kenabian beliau saw adalah beliaulah saw Nabi yang terakhir dan beliaulah saw Nabi yang menjadi penyempurna seluruh ajaran para Nabi, makna yang kedua kerendahan hati beliau bahwa bukan berarti beliaulah saw yang menguasai para Nabi, aku hanyalah salah satu dari batu bata dan semua batu bata itulah para Nabi, aku salah satu diantaranya. Demikian indahnya perumpamaan dari Nabi kita Muhammad saw.

Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari bagaimana Sayyidina Saib ra dari kaum Anshar, Sayyidina Saib ini lanjut usianya sampai 94 tahun dan ia berkata “Aku tetap menikmati pendengaran dan penglihatan dari semua yang ada pada diriku dengan sempurna”. Usianya 94 tahun tapi ia tetap awet muda seperti usia 40 tahun. Sayyidina Saib saat Rasul wafat usianya 8 tahun berarti masih sangat kecil ketika jumpa dengan Rasul mungkin usianya 6 tahun kira-kira, ia berkata : “Saat itu aku sakit dan saudara sepupuku minta doa kepada Rasulullah saw, lantas kulihat Rasul berwudhu. Setelah berwudhu aku meminum air dari bekas wudhu Rasulullah saw”. Keberkahan dari air bekas wudhu Sang Nabi membuat tubuhnya sempurna hingga usia 94 tahun tetap dalam keadaan awet muda, kenapa? Karena air mulia itu masuk dan merasuk pada tubuhnya. Hadirin-hadirat jangan sampai kita tertipu dengan bisikan syaitan “apa ini minum air bekas wudhu?”. karena air berubah-ubah dan bereaksi dengan apa-apa yang ada didepannya dari manusia. Ini sudah dibuktikan oleh para ilmuwan kita dan telah saya bahas tentunya, bahwa air itu berubah-ubah ketika orang yang dihadapannya marah dan mencaci, air yang dihadapannya berubah menjadi buruk bila dilihat dengan mikroskop, Bila orang yang didepannya itu mengucapkan kalimat-kalimat indah, maka air berubah menjadi lebih indah bentuknya bagaikan berlian, dan bila diucapkan doa-doa air semakin indah bentuknya. Maka air ini bereaksi, air ini bereaksi juga ketika bersentuhan dengan kulit manusia yang paling indah Nabi Muhammad saw, air bereaksi dengan doa Rasul saw yg diucapkannya saat beliau saw berwudhu,

Kita lihat bagaimana muslimin-muslimat hingga saat ini masih mencium Hajar Aswad, sedangkan Hajar Aswad ini diriwayatkan didalam Shahih Bukhari berkata Sayyidina Umar bin Khattab : “kalau bukan karena Rasulullah yang mencium mu maka aku tidak akan mencium mu wahai Hajar Aswad, engkau hanya batu”. Tidak lebih dan tidak kurang dari batu, tidak bisa membawa mudharat dan manfaat, tetap batu, tapi ketika batu itu telah dicium oleh Nabi Muhammad maka muslimin-muslimat berebutan menciumnya karena dengan menciumnya dapat keberkahan dan rahmat…, dari apa? Dari sunnah Nabi Muhammad saw, karena sentuhan bibirnya Rasulullah saw pada Hajar Aswad, Rasulullah menciumnya maka mukminin-mukminat mencium.

Demikian hadirin-hadirat keadaan para Sahabat ra sehingga berkata Sayyidina Marwah ra diriwayatkan didalam Shahih Bukhari bahwa Rasul saw ini pemilik wajah yang paling indah, pemilik tubuh yang paling sempurna, Bukanlah beliau saw ini terlalu tinggi dan tidak pula terlalu pendek, sempurna penciptaan Allah kepada beliau saw. Hingga tidak terlalu tinggi tidak terlalu pendek sedemikian hebatnya. Sehingga berkata Sayyidina Abu Bakar Asshiddiq di riwayatkan di dalam Shahih Bukhari, ketika dimasa khalifahnya Abu Bakar Assiddiq ra setelah selepas daripada shalat Ashar beliau melihat Sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Thalib putranya Sayyidina Ali bin Abi Thalib, diambil digendong oleh Sayyidina Abu Bakar Asshiddiq, Sayyidina Abu Bakar Asshiddiq saat itu berjalan bersama Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw disebelahnya. Lalu Sayyidina Abu Bakar Asshiddiq sedang bercanda dengan ayahnya Sayyidina Hasan yaitu Sayyidina Ali bin Abi Thalib seraya berkata “ini Hasan wajahnya mirip dengan Rasulullah saw, mirip dengan Nabi tidak mirip dengan Ali bin Abi Thalib” .Maka tertawalah Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw, ini menunjukkan akrabnya hubungan antara Sayyidina Abu Bakar Asshiddiq ra dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw. Bila muncul pemahaman dimasa sekarang yang mengatakan Sayyidina Abu Bakar Asshiddiq ra ini mendahului khilafah Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw dan ada diantara mereka permusuhan maka ini adalah fitnah yang batil. Karena jiwa mereka murid-murid Rasulullah tidak mempunyai sifat kikir dan sifat keinginan berebutan kekuasaan.

Al Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy didalam kitabnya Fathul Baari bisharah Shahih Bukhari menjelaskan makna daripada kejadian itu ada 2 makna. Yang pertama memang Sayyidina Abu Bakar Asshiddiq ra menjelaskan wajah Sayyidina Hasan bin Ali ini mirip dengan wajahnya Rasulullah saw karena diperkuat oleh riwayat-riwayat shahih lainnya wajah Sayyidina Hasan ini mirip kepada wajah Rasul daripada wajah ayahnya. Yang kedua ucapan ini adalah untuk memuji Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw. Orang yang membaca sekilas seakan-akan ini merendahkan Sayyidina Ali kw, “wajah mirip Rasul daripada ayahnya” tidak bilang begitu tapi justru itu makna pujian didalam bahasa arab bahwa putra Sayyidina Ali bin Abi Thalib wajahnya mirip Rasulullah Muhammad saw. Menunjukkan pujian kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang termuliakan dengan putra yang wajahnya mirip dengan Rasulullah saw kakeknya tentunya. Demikian hadirin-hadirat keakraban para sahabat ra sehingga diriwayatkan didalam Shahih Bukhari ketika Rasul saw menuju Bathah saat beliau melakukan shalat jama’ qashar dhuhur dan ashar, selesai dari shalat itu. Ini riwayat hadirin-hadirat Shahih Bukhari mesti kita pahami bahwa Shahih Bukhari adalah kitab yang paling shahih dari semua kitab hadits. Jumhur seluruh ulama Ahlusunnah waljamaah tidak satupun terkecuali mengakui keabsahan Shahih Bukhari. Maka disaat itu kulihat Rasul saw selesai shalat ashar dan shalat dhuhur jama’ lantas kulihat para sahabat “Setelah selesai dari shalat itu kulihat para sahabat bukan lagi mencium tangan Rasul saw, Kita sering dengar orang mengingkari orang cium tangan zaman sekarang, mereka bukan lagi mencium tangan beliau saw, namun mengambil tangan beliau kedua-duanya dan mengusapkan diwajah mereka, Ini perbuatan para sahabat ra, seandainya masa sekarang ini ada yang berkata seperti ini niscaya dikatakan kultus dikatakan musyrik, padahal ini perbuatan para sahabat Rasul saw,

Diriwayatkan didalam buku yang paling Shahih yaitu Shahih Bukhari. Para sahabat mengambil tangan Rasul dan mereka mengusapkannya diwajah mereka, semulia-mulia tangan dan semulia-mulia wajah yang disentuh oleh telapak tangan Sang Nabi. Kenapa mereka berbuat demikian? Apakah mereka tidak mengenal tauhid? Apakah mereka keterlaluan dalam islam? Sungguh mereka yang lebih memahami tauhid karena mereka murid-murid Rasulullah saw. Seandainya ini mungkar maka Rasul akan mengatakan mungkar jangan kalian perbuat sekali lagi hal seperti ini. Dan Rasul berdiam memahami cinta dari para sahabat, cinta mereka untuk mengusapkan wajah mereka dengan tangan Nabi saw. Maka berkata perawi hadits ini “kuambil pula tangan Sang Nabi dan ketika ku genggam tangannya lebih dingin daripada salju dan lebih wangi daripada misk”.

Hadirin-hadirat kita lihat kenapa Allah swt membuat sempurna Sang Nabi demikian hal. Tidak ada manusia yang keringatnya dibikin wangi oleh Allah terkecuali Nabi Muhammad saw, kita bertanya kenapa wahai Allah Kau perbuat seperti ini? Sehingga para sahabat menyaksikan didalam riwayat mutawatir bahkan diriwayatkan didalam Shahih Bukhari bahwa tangan beliau lebih wangi dan kulit beliau lebih wangi dari bau minyak misk. Minyak misk adalah minyak wangi termahal didunia, menunjukkan hadirin-hadirat Allah sudah mewangikan tubuh Sang Nabi ketika beliau saw lahir.

Berdeda seperti tangan ulama dan habaib zaman sekarang harus diberi minyak wangi dulu baru wangi, (Anas bin Malik ra setiap pagi meminyaki tangannya dg minyak wangi, demi untuk orang orang yg menyalaminya, rujuk Adabul Mufrad oleh Imam Bukhari), Kalau beliau saw sudah dijadikan Allah swt tubuhnya wangi dan keringatnya wangi dan tidak tembus dalam logika kita bagaimana keringat yang muncul dari sel-sel tubuh beliau membuat wangi hingga keluarnya keringat itu. Ini telah dikehendaki oleh kesempurnaan Allah Yang Maha sempurna dan tidak terjadi pada makhluk lainnya mulai Adam hingga manusia terakhir, tidak ada yang keringatnya wangi terkecuali Muhammad saw. Oleh sebab itu hadirin-hadirat tidak salah Allah ciptakan beliau sempurna seperti ini supaya dicintai. Kalau seandainya cinta kepada Rasul tidak perlu cinta pada tubuhnya, atau tidak perlu cinta kepada beliau, atau maksudnya cinta kepada Allah jangan kau memuliakan Nabi, Buktinya Allah buat hal yang berbeda pada diri Rasulullah, kalau tidak tidak perlu dibuat keringatnya wangi dan sengaja keringatnya wangi membuat orang suka menciumi beliau, Kalau Allah tahu perbuatan ini mungkar Allah tidak akan perbuat demikian, namun berubahlah keringat beliau wangi, wajah yang paling indah.

Demikian hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah, malam ini sengaja memang pembahasan kita kepada idola kita Nabi Muhammad saw, Kenapa..?, Karena jarang majlis-majlis ta’lim yang mau mengenalkan sosok Nabi Muhammad saw, Disini ada guru kita Habib Alwi bin Utsman tadi menyampaikan bagaimana telapak tangan Nabi keluar dimasa Imam Ahmad Rifa’i, mungkin diantara kita bertanya apakah hal seperti ini benar?, Sungguh hal ini (ada pada) hukum didalam hadits-hadits shahih bahkan ayat Alquran, sebagaimana bahwa Allah swt berfirman (hadits Qudsiy) diriwayatkan didalam Shahih Bukhari : “ barang siapa yang memusuhi wali-wali Ku, Ku umumkan perang baginya. Tiada hamba-hambaKu mendekat kepadaku akan hal yang fardhu dan mereka tidak berhenti tapi terus mendekat kepadaKu dengan hal-hal yang sunnah sampai Aku mencintainya, diteruskan dalam hadits yang panjang salah satu dari ucapannya “bila hambaKu itu waliKu minta kepadaKu akan Ku beri”, maka tidak mustahil ketika Imam Ahmad Rifai meminta kepada Allah untuk bisa lebih bercium tangan dengan Nabi Muhammad saw hal seperti ini bukan mustahil, hal seperti ini tidak terjadi pada semua orang. Hal seperti ini terjadi pada yang memintanya dan yang memintanya adalah wali Allah, dan kemuliaanya bukan karena keramat atau lainnya karena sebab ketaqwaannya kepada Allah. Bahkan kita lihat bagaimana Allah menjelaskan didalam surat An Nahl didalam Alquran ketika ummat Nabi Sulaiman yang salah satu diantara mereka berkata “aku bisa membawakan singgasana Ratu Balqis sebelum kau mengedipkan matamu”(QS Annaml 40). Ini di Aquranulkarim, oleh sebab itu ketika muncul pengingkaran didalam jiwa kita pada hal-hal yang bersifat ghaib dan ajaib telah dijelaskan oleh Allah dalam ayat itu, Ini seorang hamba yang diberi ilmu dari kitabullah kata Allah. “berkatalah seseorang yang mempunyai ilmu dari kitab Allah : Wahai Sulaiman aku bisa membawakan singgasana Ratu Balqis kehadapanmu sebelum kau mengedipkan matamu, dalam sekejap muncullah singgasana Ratu Balqis (dari dalam tanah) muncul dihadapan Nabi Sulaiman bin Daud as (QS Annaml 40). Alquranulkarim yang bicara, oleh sebab itu hal seperti ini tidak mustahil terjadi pada Imam Ahmad Rifai, dan sungguh Rasul saw bersabda “bershalawatlah kalian dimanapun kalian berada, sungguh shalawat kalian disampaikan kepadaku saw”. Demikian hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah, majelis mulia kita di malam mulia ini tentunya dipenuhi pembahasan agar kita lebih mengenal idola kita Nabi kita Muhammad Rasulullah saw.

Hadirin-hadirat kita bermunajat kepada Allah swt agar kita terus dibimbing dalam kesempurnaan tauhid, dalam kecintaan kepada Allah dan Rasul sebagaimana Rabbi kau bimbing hamba-hambaMu yang shaleh dari para sahabat Rasul daripada Auliya daripada imam-imam kami…, Rabbi….Rabbi.. telah Kau bimbing mereka pada kesempurnaan tauhid maka bimbing pula jiwa kami pada sempurnanya tauhid, sempurnanya iman, sempurnanya mahabbah, Yaa Rahman Yaa Rahim bangkitkan muslimin-muslimat yang mencintai Nabi Muhammad saw.., yang mengidolakan Nabi Muhammad saw.

Hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah kita berdoa kepada Allah agar Allah bangkitkan jiwa-jiwa para pecinta Rasulullah, orang-orang berani menahan pedih dan sakit demi karena cinta kepada idolanya, (kita lihat) Ada yang memasang anting atau besi dan cincin di lidahnya atau memasangnya dibibirnya, Ini semua mereka lakukan seraya menahan sakit dan pedihnya demi karena mengikuti idolanya, ini keadaan saudara kita muslimin-muslimat…,

Bagaimana dengan diriku dan diri kalian, bagaimana dengan idolaku dan idola kalian Nabi Muhammad saw.., Sedemikian banyak orang-orang yang malu memakai sunnah Sang Nabi dihadapan umum sedangkan orang-orang non muslim memegang injilnya dengan bangga dihadapan umum tapi ummat Nabi Muhammad malu terlihat siwaknya didepan umum, malu kalau dia mengikuti sunnah Sang Nabi, merasa hina kalau dia mengikuti sunnah Sang Nabi padahal itulah bentuk kemuliaan disisi Allah swt.

Yaa Rahman Yaa Rahim Yang Maha Melimpahkan Kemuliaan bangkitkan muslimin-muslimat agar bangga terhadap sunnah Nabi Mu, agar cinta kepada Nabi Mu Muhammad saw. Dan Rabbi masing-masing dari kami mempunyai kesalahan yang hingga malam ini terus menggigit dan merobek jiwa kami, kalau bukan pengampunan Mu Yaa Rahman, kalau bukan maaf Mu Yaa Rabbi, kalau bukan maaf Mu Yaa Allah…

Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Rahman Yaa Rahim telah Kau jadikan alam semesta beserta isinya lambang keindahan Mu, lambang kesempurnaan Mu dan kau jadikan Nabi Muhammad sebagai lambang keindahan Mu yang menuntun kami kepada khusyu, menuntun kami kepada iman, perantara yang menyampaikan kami kepada keindahan Dzat Mu, kepada kesempurnaan Mu, kepada cahaya keagungan Mu. Wahai Yang Maha bercahaya… Wahai Yang Maha Indah… Wahai Yang Maha Megah… Wahai yang menerbitkan kesempurnaan pada setiap benda dan makhluk Mu…

Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah…Yaa Rahman Yaa Rahim terbitkan nama Mu Yang Maha tunggal sempurna dalam jiwa kami, tuntun kami pada kehadirat Mu Yaa Rahman Yaa Rahim wassallallahuala sayyidinamuhammadin wa’alahiwashahbihi wassalam.

Posted in Ahlussunnah, Ajaran Wahabi, Bid'ah, Hadits Dho'if, Hukum Islam, Hukum Mazhab, Majelis Dzikir, Majelis Rasulullah, Masjid Nabawi, Maulid Nabi, Nabi Muhammad, Para Habaib, Sejarah Islam, Shalawat Nabi, Sunnah, Tahlilan, Tasawuf, Tawasul, Wali Allah, Ziarah Kubur | Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Bimbingan Rasulullah SAW Untuk Berbakti Kepada ALLAH SWT

Posted by Teknik Jumper on October 24, 2008

ImageLimpahan Puji kehadirat Allah swt Yang Maha Luhur, Yang Maha Menguasai setiap ruh dan jiwa, (*mengetahui) berapa lama mereka akan hidup di atas permukaan bumi, berapa jumlah sel yang merangkai tubuhnya, berapa jumlah nafasnya dan berapa jumlah hari-hari yang dilewatinya, sejak ia lahir dari rahim ibundanya sehingga ia wafat. Dan (*Dia) Allah Maha Menguasai langit dan bumi, Maha Mengetahui setiap kehidupan, Maha Mengatur segala kehidupan, Maha Menguasai segala kehidupan, Maha lembut dan mengenalkan kelembutan Nya kepada keturunan Adam as.

Maha Suci Allah yang memuliakan ruh dan jiwa untuk mencapai keabadian dengan jalan keridhaan, dengan kesucian jiwa yang menyejukkan hari-hari dan malam (*malam) nya, sehingga jadilah usia dan hari-harinya seindah-indah usia, jadilah harinya semulia-mulia hari, ketika mereka melewatinya dalam cahaya keridhaan Illahi, ketika mereka melewatinya dengan mengagungkan Allah. Tidak ada hari yang lebih agung dari terbit dan terbenamnya matahari dalam usia kita terkecuali disaat hari-hari kita mengagungkan Allah. Tiada pula lintasan pemikiran yang lebih mulia selain lintasan pemikiran yang memuliakan Allah, yang merindukan Allah, yang meminta keridhaan Allah, yang menyesal atas dosa-dosanya kepada Allah, inilah hamba yang paling mulia hidup di atas permukaan bumi yang milikNya, inilah nafas-nafas termulia yang kita lewati dalam kehidupan.

Dan demikianlah hamba-hamba Allah melewati hari-hari yang sementara sampai datang waktunya mereka tidak lagi melihat terbitnya matahari, tidak pula melihat siang dan malam, tidak pula melihat wajah, tidak pula melihat warna, bentuk dan sifat, mereka telah berpindah ke alam barzakh. Akan tetapi penguasa di alam barzakh adalah tetap Allah. Beruntunglah mereka yang dimuka bumi selalu ingin bersama Allah maka barzakh nya bersama Allah, dan ia akan terus dalam kebersamaan di dalam keridhaan Ilahi, Dalam cahaya keindahan Allah hari-harinya berlalu, dosa-dosanya tergulung dalam pengampunan Allah,

Adakah yang lebih indah dari hamba yang seperti ini..?, dosa-dosanya ditelan oleh gelombang pengampunan Illahi karena ia membangkitkan gelombang pengampunan Allah dengan istighfar, dengan penyesalan atas dosa-dosanya, dengan jiwa yang menyesal dan merasa bersalah kepada Allah. Yang Maha berhutang seluruh hamba kepadaNya, sehingga dinamakan Malikuddayyaan (yaitu) Raja yang berhutang kepada Nya seluruh hambaNya, berhutang penglihatan, pendengaran, panca indera dan seluruh nafas yang diberikan olehNya, hutang yang tiada pernah terbayar .

Demikian hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah, dan semulia-mulia orang yang berhutang adalah kepada Allah Yang Maha Memaafkan. Hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah, cahaya kemuliaan hidayah yang tebit dengan kebangkitan Sayyidina Muhammad saw, Tidak terbenam dengan wafatnya Sang Nabi saw, tapi cahaya itu terus terbit dan akan abadi menuntun kemuliaan kepada keridhaan Allah, diteruskan dari zaman ke zaman oleh mereka yang membawa wasiat dan amanat dari Sang Nabi saw karena mereka mendengar perintah dan instruksi dari Sayyidina Muhammad saw “Ballighuu..’anniiy walaw aayah..”, “sampaikan dariku walaupun satu ayat”. Sehingga semua mereka menyampaikan dari apa yang mereka dengar tentang agama ini, mereka telah berpadu dengan sambungan perintah Nabi Muhammad saw. “Ballighuu..’anniiy”.

sampaikanlah dariku, maksudnya apa?, Wakililah aku untuk menyampaikan (*ajaranku) walaupun satu ayat. Demikian dahsyatnya Sang Nabi meminta kepada ummatnya untuk membantu beliau dalam menyampaikan risalah. “Ballighuu ‘anniiy………”, sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.

Demikian hadirin-hadirat hal yang diharapkan oleh Sang Nabi, hal yang diminta oleh Sang Nabi dan inilah bentuk dari bakti ummat kepada Sang Nabi dan semulia-mulia bakti makhluk kepada makhluk lainnya adalah bakti seorang hamba kepada Nabinya, dan seagung-agung bakti kepada Allah adalah mereka-mereka yang turut menegakkan kemuliaan Allah. “Ballighuu ‘anniiy………” sampaikanlah dariku walaupun satu ayat, mereka yang mendengar ini maka mereka telah diwakilkan oleh Sang Nabi untuk menyampaikan risalah, menyampaikan hadits, menyampaikan ayat, menyampaikan apa dari bimbingan-bimbingan Sang Nabi.

Hadirin-hadirat demikian hebatnya seluruh ummat Nabi Muhammad saw yang telah mendapatkan mandat langsung perwakilan dari Rasulullah saw untuk menyampaikan apa yang dia dengar. Jangan sampai kita tertipu sehingga kita berfikir aku belum pantas menyampaikan dan menasehati orang lain. La’ Wallah, (*Demi Allah tidak!), nasehat bukan harus di atas mimbar, walaupun hanya dengan sms, walaupun hanya dengan senyum, walaupun hanya dengan perbuatan mulia, itulah nasehat dan itulah tanda engkau telah mengambil perwakilan dari Sang Nabi. Demikian semakin banyak ia menyampaikan apa-apa yang ia ketahui maka semakin eratlah hubungan nya dengan Imamnya saw.

Hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah, demikian dahsyatnya Allah mengikat ummat ini kepada Nabinya, walaupun Nabi kita saw telah wafat akan tetapi berkesinambungan rahasia kemuliaannya diteruskan oleh seluruh ummatnya dari zaman ke zaman sehingga seluruh ummat Sang Nabi turut mengambil tanggung jawab sebagai pendukung Muhammad Rasulullah saw. Akan tetapi hadirin-hadirat walaupun Rasul saw telah wafat tetapi kewibawaan dan kemuliaan ruh beliau saw tidak sirna dan (*tidak) dihapus bahkan oleh para Sahabat ra.

Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari ketika dua orang yang berteriak-teriak di Masjid Nabawi, di masjid Rasul saw di Madinatul Munawwarah jauh setelah Rasul saw wafat di masa Khalifah Umar bin Khattab ra maka berkata : “kalian berdua darimana?” , dua orang ini berkata “dari Thaif…”, tempat jauh dari Madinah, maka berkata Sayyidina Umar ra “kalau kalian orang sini akan kuberi hukuman kepada kalian karena berani mengangkat suara di Masjid Rasulullah saw”. Demikian hadirin-hadirat padahal larangan ini hanya muncul disaat Sang Nabi masih hidup, sebagaimana firman Allah “Yaa ayyuhalladzina amanu…”. “Wahai orang-orang yang beriman jangan kau angkat (*atau) keraskan suara kalian dihadapan Sang Nabi sebagaimana kalian saling mengeraskan suara satu sama lain, (*karena bila kalian mengangkat suara dihadapan Sang Nabi) maka akan jatuhlah amal pahala kalian tanpa kalian sadari” (QS Alhujurat). Ini adalah dihadapan Sang Nabi, maka pd riwayat Shahih Bukhari Sayyidina Umar masih melarang orang yang mengangkat suara di Masjidil Rasul sehingga beliau berkata “tarfa’an ashwaatakuma…….” Kalian mengeraskan suara di Masjid Rasulullah padahal masjid itu tinggal batunya. Kalau sebagian orang mengatakan Nabi telah wafat sudah tidak lagi mendengar dan melihat, akan tetapi para sahabat masih menjaga adab di Masjidil Nabawi seakan-akan Rasulullah saw selalu bersama mereka di Masjidil Nabawi.

Demikian adab para sahabat kepada Rasulullah saw tidak sirna dengan wafatnya Sang Nabi bahkan setelah Rasul saw wafat pun mereka tetap menjaga adab dan akhlak kepada Nabi mereka. Demikian hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah.

Rasul saw telah menjelaskan pula kepada kita, penjelasan ini juga sebagai ulasan bagi kita, peringatan bagi kita untuk berhati-hati.Seraya bersabda diriwayatkan pd Shahih Bukhari “Latattabi’uuna…..” kelak ummatku ini akan mengikuti orang-orang dari adat istiadat kaum lain dari yg sebelum mereka, sejengkal demi sejengkal lalu sehasta demi sehasta mereka mengikuti adat istiadat dari orang sebelum mereka sampai jika seandainya mereka (orang sblm mereka) masuk kedalam lobang biawak pun akan diikuti adat istiadatnya. Maka berkata para sahabat “al yahud wannashara?” Apakah yang dimaksud dengan orang Yahudi dan Nasrani ya Rasulullah?” Rasul berkata “lalu siapa kalau bukan mereka?”.

Maksudnya apa hadirin-hadirat?, Hal-hal yang muncul dari adat istiadat dari orang-orang yang muncul sebelum Sang Nabi, selayaknya kita meninggalkannya semampunya, akan tetapi hal-hal yang bermanfaat jangan sampai kita tertipu lantas langsung saja menghilangkan semua apa-apa yang bermanfaat, La’ Wallah. Karena juga diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari bahwa Rasul saw ketika mendengar orang-orang Yahudi berpuasa tanggal 10 Muharram maka Rasul saw memerintahkan orang muslimin untuk ikut berpuasa. Bukankah ini mengikuti adat istiadat orang Yahudi?, akan tetapi membawa manfaat sehingga Rasul saw berkata ” Kami lebih berhak memuliakan Nabi Musa as dari kalian. Karena orang Yahudi puasa tanggal 10 Muharram karena hari itu hari selamatnya Nabi Musa as dari kejaran Fir’aun. Nabi saw mengikuti dan memerintahkan para sahabat untuk mengikutinya, menunjukkan hal-hal yang baik dan bermanfaat justru diperintah oleh Rasulullah saw untuk mengikutinya.

Demikian hadirin-hadirat jangan sampai kita terjebak dengan pemahaman hal seperti ini menjadi besar dan menjadi kacau balau di dalam pemahaman muslimin. Semua yang datang dari Yahudi dan Nasrani tidak boleh diikuti, namun yang bermanfaat boleh diikuti. Lampu inipun daripada adat istiadat Yahudi dan Nasrani, selama membawa manfaat boleh diikuti tapi selama hal yang mungkar dan bertentangan dengan syariatul mutaharah selayaknya dihiindari.

Demikian hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah. Rasul saw telah membimbing kita kepada sedemikian sempurnanya bimbingan sehingga bimbingan beliau berkesinambungan hingga akhir zaman. Sebagaimana dijelaskan dan ditemukan oleh para ilmuwan kita, susah-susahnya para ilmuwan dan ilmu kedokteran untuk mencari obat untuk melancarkan aliran darah dari penyakit pengentalan darah, dari penyakit stroke dan lain sebagainya berpuluh ratus juta dikeluarkan untuk mengobatinya, ternyata mereka menemukan obatnya adalah melakukan rukuk dan sujud. Mereka yang melakukan rukuk sehingga sejajarlah otaknya dengan dada jantungnya dan aliran darah yang demikian memperkuat dan memperlancar aliran darah. Demikian pula posisi sujud ketika jantung berada diatas kepalanya sehingga lebih tinggi daripada kepalanya disaat itulah kelancaran aliran darah lebih terpacu dan tujuh anggota tubuh sujud yang bersentuhan dengan bumi berpadu dengan gravitasi bumi dan memperlancar darah. Demikian dahsyatnya syariatul Musthafa Muhammad saw menjawab segala macam penyakit, tersimpan didalam shalat.

Demikian hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah, demikian dahsyatnya sunnah Nabawiyah dan tuntunan Sang Nabi dan tidaklah kita mampu menguak semua hikmah Illahiyah dalam syariatul mutaharah tapi sebagian yang terbuka ini membuat hal-hal yang mengagetkan kita ternyata gerakan shalat bukan hanya sekedar gerakan ubudiyah tapi itulah gerakan yang paling efektif bagi seluruh keturunan Adam as. Semakin banyak ia melakukan shalat fardhu ditambah sunnahnya semakin sehat wal’afiat hidupnya. Demikian dahsyatnya Allah Yang Maha memahami segala kejadian, Yang Maha menciptakan manusia dari ketiadaan dan Dialah Yang Maha mengetahui atas apa yang dibutuhkan oleh manusia.

Hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah, beruntunglah orang-orang yang memahami hakekat kehidupannya adalah menuju Allah, dalam keridhaan atau dalam kemurkaan, dalam dosa atau dalam pahala tetap akhirnya adalah kepada Allah. Kayakah, miskinkah, susahkah, mudahkah, besarkah atau kecil, wanita atau pria puncak akhirnya adalah berhadapan dengan Rabbul a’lamin “yaumayaquumunnaas……” hari dimana manusia berdiri dihadapan Rabbul a’lamin (QS Al Infithar).

Saat itu pasti datang kepada setiap hamba yang hidup diatas permukaan bumi, sehingga mereka yang terlambat mendapatkan hidayah seraya berkata “yaa laitani kuntu…..” alangkah indahnya kalau seandainya aku ini menjadi tanah (QS Annaba’) bukan lagi menjadi manusia yang harus bertanggung jawab dan menghadap Rabbul a’lamain. Tapi beruntunglah mereka yang merindukan Allah, puncak jika mereka berhadapan dengan Allah adalah puncak kelezatan dari segala yang lezat, bertemunya yang dirindukan kepada yang merindukan.

Beruntunglah jiwa yang merindukan Allah. Hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah Rasul saw diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari menyampaikan kepada kita salah satu hikayat bahwa ada seorang bayi yang ketika sedang disusui ibunya tiba-tiba lewatlah seseorang yang ahli maksiat dan pendosa, ibu itu berkata “wahai Allah jadikan lah anakku sepertinya”, bayi itu menjawab “wahai Allah jangan kau jadikan aku sepertinya”, dan lewatlah seorang fuqara lantas ibu itu berkata “wahai Allah jangan jadikan anakku sepertinya” lantas anak itu menjawab “wahai Allah jadikan aku sepertinya”. Maka Imam Bukhari alaihirahmatullah dalam Shahihnya menambahkan makna dari hadits ini bahwa yang didoakan oleh sang ibu pertama kali adalah orang yang wafat didalam kekufuran, dan yang bayi itu meminta jadikan aku sepertinya adalah orang yang ketika mendapat cobaan selalu mengucap Hasbiyallah, yang selalu berucap ketika mendapat cobaan mengucapkan “Hasbiyallah” cukuplah bagiku Allah.

Demikian diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, hikayat ini singkat tapi Rasul saw menyampaikannya bukan sekedar cerita dongeng belaka tapi menuntun jiwa untuk memahami makna kehidupan dan makn keberuntungan yang hakiki dan makna kehinaan yang hakiki. Demikian hadirin-hadirat, Alhafidz Al Imam Ibn Hajar Asqalaniy didalam kitabnya Fathul Baari bisharah Shahih Bukhari memperjelas daripada hadits ini bahwa juga terdapat sebagaimana teriwayatkan bahwa pembantu yg menyisiri rambutnya putra-putri Fir’aun adalah seorang mukmin, Ketika jatuh sisirnya ia mengucapkan nama Allah. Maka ia pun diketahui mengikuti agamanya Musa as, ibu ini bersama bayinya di angkat keatas sebuah tempat yang tinggi dihadapkan ke sebuah bejana besar berisi minyak yang bergolak, Ibu ini ketakutan ragu karena tidak berani melompat melihat anaknya yang dalam pelukan, maka Allah berikan kekuatan dan kemampuan kepada anaknya untuk berucap “ishbiriiy yaa ummah….” Sabarlah wahai ibunda, kita dalam kebenaran, maka ibu itupun ketika disuruh memilih antara Allah tapi harus lompat di dalam minyak yang mendidih bersama bayinya atau hidup menyembah Fir’aun, ia melompatkan dirinya kedalam minyak tersebut, ia ragu terhadap anaknya dan pada anaknya Allah berikan kekuatan untuk memberi ketabahan kepada sang ibu.

Hadirin-hadirat hikmah dari hikayat ini dari demikian besarnya bakti mereka kepada Allah, mereka tidak ingin jauh dari Allah, padahal kalau ibu itu barangkali ia berfikir baiknya aku menipu Fir’aun, biarkan saja seakan-akan menyembah Fir’aun berapa detik lagi aku kembali terus dalam hakekat aqidahku menyembah Allah. Ibu ini tidak ingin demikian karena ingin dekat dengan Allah, tidak ingin jauh dari Allah. Demikian dahsyatnya ia membela Allah, membela Tauhid, membela iman sehingga ia harus membayar kedekatannya kepada Allah dengan melompatkan diri ke minyak yang mendidih. Ia melakukannya demi keinginannya untuk dekat ke hadirat Allah Jalla Wa’ala.

Demikian hadirin-hadirat bahkan diriwayatkan Sayyidatuna Asiah ra istri Fir’aun yang ketika ia diketahui menyembah agama Musa as ia ditangkap dan dicambuk, maka berkatalah istri Fir’aun Sayyidatuna Asiah ra semakin kau tambah cambukanmu semakin membuatku rindu kepada Allah. Demikian dahsyatnya kerinduannya kepada Rabbul a’lamin, dimana jiwaku dan jiwa kalian dari kerinduan kehadirat Allah Jalla wa’ala?, Hadirin-hadirat kita adalah kaum dhuafa yang terus mengemis kehadirat Allah agar terus diberi kekuatan, agar diberi kemampuan oleh Allah untuk mencapai derajat jiwa tertinggi yaitu merindukan Allah swt. Inilah derajat tertinggi setiap jiwa yang hidup diatas permukaan bumi, mereka adalah orang-orang yang merindukan Allah. Kita tidak mampu barangkali siang dan malam, maka barangkali satu-dua menit, barangkali satu-dua kejap terpanggil jiwa kita dalam sujud untuk kerinduaan Rabbul a’lamin. Dan juga kemuliaan itu akan bangkit ketika kita peduli kepada sesama, jangan biarkan orang sesama kita dalam kegelapan dan kesesatan, ajak mereka dengan kelembutan dan kasih sayang.

Demikian hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah, saya juga tidak berpanjang lebar karena baru saja kembali dari Kuala Lumpur tadi jam 16.00 sore, dan perlu saya laporkan juga pada hadirin selama tujuh hari saya disana terus mengunjungi majelis ke majelis bangkitnya para pemuda untuk mencintai Nabi Muhammad saw. Berpadu mulai dari para ulama, para Habaib untuk membangkitkan ummat agar mengalihkan idola-idola muslimin daripada hal-hal yang hina disisi Allah kepada Nabi Muhammad saw. Akan tetapi muncul sedikit kendala di wilayah Perlis, karena wilayah ini memang terkenal tidak menyukai Sang Nabi dimuliakan, dan ditempat itu penghambatan yang sedemikian dahsyatnya. Ketika kami telah sampai diwilayah Kedah lantas semakin mendekat ke wilayah Perlis dari majelis ke majelis sampailah di wilayah Perlis mereka telah menghalangi kita untuk menyampaikan Mauidzah, sehingga muncul ancaman kalau sampai saya naik ke atas mimbar untuk menyampaikan ceramah akan ditangkap. Oleh sebab itu majelis di batalkan padahal majelis dihadiri hampir seribu orang, dan untuk wilayah Perlis seribu orang adalah hal yang sangat dahsyat sekali. Akan tetapi alhamdulillah habis hal seperti ini bukan malah memadamkan semangat dari masyarakat Perlis aswaja, mereka telah menjanjikan dua bulan yang akan datang akan mengadakan Tabligh Akbar yang lebih besar lagi dan akan mengurus segala sesuatunya agar lebih teratur sehingga tidak terjadi pelarangan atau ancaman untuk ceramah padahal yang saya sampaikan hanyalah tentang Mahabbatullah wa Rasul, tentunya dari saudara-saudara kita yang tidak menyukai maulid, tidak menyukai tabarrauk dan tahlil akan tetapi mereka juga saudara kita bukan untuk dimusuhi dan diperangi, tetapi untuk disadrkan kepada kemuliaan. Kita bermunajat kepada Allah swt agar Allah swt melimpahkan kebangkitan dan kemuliaan kepada muslimin-muslimat . Yaa Rahman Yaa Rahim bangkitkan semangat muslimin muslimat untuk mencapai kemuliaan akhlak Sang Nabi, untuk mendalami sosok Sang Nabi, untuk mempelajari profil Sang Nabi, sehingga mereka mencapai kesempurnaan hidup, sehingga mereka mencapai kebahagiaan dunia wal akhirat .

Yaa Rahman Yaa Rahim telah kau terbitkan matahari kebangkitkan muslimin-muslimat diwilayah kami terbitkan pula diseluruh wilayah lainnya, di Malaysia, di Singapura dan di seluruh Barat dan Timur. Rabbi terbitkan kebangkitan muslimin-muslimat untuk meninggalkan kekerasan dan kembali kepada kelembutan, kepada akhlak Rasulullah, kepada keberkahan, kepada semangat Muhajirin dan Anshar.

Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Rahman Yaa Rahim inilah nama yang paling agung yang kau ajarkan kepada kami, inilah nama Mu Rabbi… Rabbi.. maka tiadalah kami satu kali memanggil nama Mu terkecuali kau pastikan hujan hidayah kepada beribu orang-orang yang berbuat maksiat, kau pastikan hujan hidayah memanggil jiwa-jiwa para pezina, para pemabuk, para narkotika. Rabbi…Rabbi… undang mereka dalam hidayah, kami bermunajat Rabbi mewakili Sang Nabi yang beliau saw selalu mendoakan mereka. Rabbi kami bermunajat untuk hujan hidayah bagi saudara-saudari kami yang masih dalam kegelapan dosa, yang masih dalam kehinaan, dan juga kami mengadukan jiwa kami Rabbi… kerusakan jiwa yang selalu ingin lari dari apa yang Kau ridhai, kerusakan jiwa yang selalu menghindar dari apa yang Kau cintai. Rabbi kepada siapa kami mengadukan hal ini kalau bukan kepada nama Mu… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah nikmatilah ucapan memanggil nama Rabbul alamin, nikmatilah lafadz agung ini karena inilah seindah-indah yang kita ucapkan, inilah semulia-mulia yang kita ingat, inilah yang seagung-agung yang kita sebutkan, panggillah nama Nya dan benamkan seluruh hajatmu, dan semua kesulitan dan rintanganmu, tenggelamkan dalm samudera nama Nya…

Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Rahman Yaa Rahim terangi jiwa kami dengan nama Mu Yang Maha Luhur, terangi jiwa kami dengan seindah khusyu, terangi jiwa kami dengan kemuliaan nama Mu Rabbi, terangi hari-hari kami dengan kemudahan dan keberkahan, terangi kami dengan pengabulan setiap hajat dan tersingkirnya segala cobaan. Wahai yang seagung-agung disebut lidah, Wahai yang sesuci-suci bimbingan oleh jiwa, Wahai yang dengan mengingatnya sucilah jiwa pada puncak-puncak keluhuran Yaa Rahman Yaa Rahim… Washallallahu ala Sayyidina Muhammadin wa’ala alihi washahbihi wasallim… Walhamdulillahirabbil a’lamin.

Posted in Ahlussunnah, Ajaran Wahabi, Bid'ah, Hadits Dho'if, Hukum Islam, Hukum Mazhab, Majelis Dzikir, Majelis Rasulullah, Masjid Nabawi, Maulid Nabi, Nabi Muhammad, Para Habaib, Sejarah Islam, Shalawat Nabi, Sunnah, Tahlilan, Tasawuf, Tawasul, Wali Allah, Ziarah Kubur | Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.