MAULID NABI MUHAMMAD SAW

Maulid Nabi Untuk Merayakan Hari Kelahiran Nabi Muhammad saw

Archive for October 26th, 2008

Dakwah Majelis Rasulullah Di Manokwari Papua Irian Barat

Posted by Teknik Jumper on October 26, 2008

ImageImageSelasa 7 Oktober 2008, Kami, tiga personil, Munzir almusawa, Sdr Saeful Zahri, dan Sdr Hamidi Sanusi. Selasa, 22.45 WIB kami meninggalkan Bandara Soekarno Hatta Jakarta menuju Ujung Pandang untuk pindah pesawat, kami tiba di Ujung pandang pk 23.45 WITA (00.45 WIB), lalu meneruskan perjalanan menuju Manokwari Irian Barat,

Pagi Rabu 8 oktober 2008, kami tiba di Manokwari pk 7.45 WIT (5.45 wib). Pelukan hangat dan haru dari KH Ahmad Baihaqy membuat saya bertanya tanya, beliau mendahului saya ke Manokwari ini hanya sekitar dua minggu, namun beliau memeluk saya seakan akan sudah bertahun tahun tak jumpa, firasat saya mengatakan bahwa beliau menemui medan dakwah yang sangat berat, dan memang ternyata firasat saya benar, ketika kami keluar dari Bandara kami melihat dari beberapa mobil yang diparkir (bandara disana sangat sepi), saya melihat ada dua buah mobil Land cruiser hijau dan merah yang menyolok dari mobil lainnya, kekar dan gagah dilengkapi lampu kabut dan lampu biru sirene diatasnya, dan memang mobil itulah yang kemudian mengantar kami ke medan dakwah yang sangat berat.

ImageHarga penyewaan mobil itu 4 juta rupiah per hari, maka dua mobil itu digunakan dua hari total 18 juta rupiah, dan memang tak ada mobil yang bisa melintas kewilayah wilayah itu kecuali mobil mobil tertentu karena medan yang demikian berat, dan memang mobil sangat sedikit pula, dan jarang yang mau menyewakan untuk jarak jauh kecuali dengan harga yang mahal.

Kami dijamu makan pagi dirumah salah seorang tokoh muslim di Manokwari, lalu kami melanjutkan perjalanan ke wilayah Ransiki, yaitu kampung halaman puluhan santri KH Ahmad Baihaqi yang baru saja beliau asuh di kediaman beliau Jakarta selama dua tahun berselang.

Jalan yang beraspal namun sangat sempit itu sangat jarang dilalui mobil, barangkali dalam 10-15 menit kita baru menemui motor atau mobil lain yang melintas, sepanjang jalan saya lebih banyak menangis daripada bicara, walau diselingi canda dan percakapan, namun airmata ini terus tak tertahan, hati bagaikan teriris iris melihat banyaknya gereja, besarnya lambang salib, dan papan papan pengumuman besar yang bertuliskan : “MANOKWARI KOTA INJIL”, dan tak ada iklan lain yang terpampang dihampir setiap tikungan jalan diperjalanan itu selain kalimat itu.., kalimat yang sangat menyesakkan hati..

Saya terus berharap dan berharap jika melihat ada beberapa rumah (disana yang disebut perkampungan adalah beberapa rumah saja), saya sangat berharap melihat masjid, dan ternyata setiap ada bangunan besar mestilah Gereja, walau ada beberapa masjid saja namun sungguh sangat terkucil dan sedikit,

Ditengah tengah hutan atau kampung yang kita lewati jika tampak ada orang maka saya berharap harap dengan mata yang sibuk mencari cari ingin melihat seorang muslim, dengan pakaian peci putih atau peci hitam, atau wanita berjilbab, namun sepanjang jalan sekitar 3 jam perjalanan tak saya temukan pemandangan itu..

Saya terus membatin dan merintih.. Bumi ini milik Allah.. kenapa yang makmur adalah rumah rumah penyembahan pada selain Allah..?, bukankah Indonesia adalah negeri muslimin terbesar di dunia..?, lalu kemana muslimin di pulau terbesar ini..?

Kupandangi wajah wajah mereka yang kita lewati, dan hati terus berdoa : Wahai Allah, jadikan orang ini muslim.., jadikan ia mengenal sujud.., jadikan ia ummat nabi Mu.., wahai Allah jangan matikan ia dalam agama ini.. doa ini tak habis habisnya terbersit dihati.., jika melihat anak anak yang bermain gembira di sekitar sekolah gereja maka aku menangis lagi, Rabbiy anak anak ini.. wahai tuhanku anak anak ini.., jangan kau jadikan mereka pastor pastor yang memerangi muslimin kelak.. hingga akan murtad ditangan mereka banyak muslimin.. Wahai Tuhanku.. jangan..

Ingin rasanya saya turun dari mobil dan bersujud dan menangis sekeras kerasnya dalam sujud.., Tidak saya melihat ada Baliho besar atau papan pengumuman kecuali bertuliskan “MANOKWARI KOTA INJIL..”, kiri kanan gereja dan gereja.. Ingin rasanya aku buta agar tak pernah melihat pemandangan yg mengiris hati seperti ini..,

ImageImageSetelah hampir tiga jam perjalanan dan sudah mendekati wilayah Ransiki, maka tiba tiba muncul pemandangan yang mengharukan.., beberapa pemuda dengan motor dan bendera bendera tampak parkir.. bendera apakah gerangan..?, sudut mata saya yang sedari tadi mencari muslim ke segenap penjuru dan selalu tak menemukan apa apa hanya memandang dengan setengah hati pada pemuda pemuda bermotor dengan bendera itu,

Ketika kami semakin dekat maka bendera semakin jelas…. SUBHANALLAH..!!, ternyata Bendera Majelis Rasulullah saw…!, beberapa pemuda dari penduduk asli diantaranya berjaket Majelis Rasulullah saw menyambut kedatangan kami.., Subhanallah…, Saya tertegun tidak bisa turun dari mobil.., saya hampir tak percaya dengan yang saya lihat.. apakah saya mimpi..??, saya hanya diam di mobil dan menyambut uluran tangan mereka dengan haru.., peci peci putih..!, muslimin..!, bendera Majelis Rasulullah.., Jaket Majelis Rasulullah..!, di wilayah terpencil ini..??, beribu puji untuk Mu wahai Rabbiy..

Tak lama kemudian puluhan motor lainnya dengan bendera Majelis Rasulullah saw pun ikut menyambut kami, diikuti sebuah mobil bak terbuka yang dipenuhi santri KH Ahmad Baihaqi yang memang sedang mudik di kampung halaman mereka ini, dengan baju baju gamis putih, peci putih, dan rebana Thola’al Badru alaina..

ImageKH Ahmad Baihaqi adalah seorang pemuda yang aktif dalam perluasan dakwah dibanyak wilayah, beliau adalah Murid Almarhum Gus Maksum ALjauhari, rumah beliau adalah di wilayah Manggarai Jakarta selatan, beliau seorang yang sangat gigih dalam perjuangan dakwah, dengan kehidupan yang sangat sederhana, dan semangat juang yang tinggi beliau terus menembus wilayah wilayah Irian Barat untuk menyebarkan dakwah, khususnya pada pemuda pemudi, dan beliau bersedia pula menjadikan rumahnya di Manggarai sebagai tempat mukim para santri tersebut, luar biasa, bukan hal yang mudah memandu, mendidik, dan membimbing 30 santri dari Irian Barat, mengajari mereka mengaji, shalat, ceramah, maulid, qasidah, dan mereka belajar tanpa dibebani biaya apa apa, KH Ahmad Baihaqi berjuang untuk menafkahi santri santri itu, dan fihak Majelis Rasulullah saw sering turut membantu dan tak ada artinya dibanding perjuangan beliau,

Kenapa beliau mengajarkan pula maulid, qasidah dan rebana..?, karena untuk berdakwah di wilayah mereka kelak akan sangat cepat menarik masyarakat jika dengan alat musik rebana, karena hal itu juga menjadi hiburan yang dengan itu bisa merangkul banyak masyarakat di setiap wilayah,

Beliau sering kunjung ke Manokwari untuk berdakwah, dan beliau aktif pula sebagai kordinator Majelis Rasulullah saw di Pusat, juga sebagai pimpinan cabang Manggarai dan Manokwari Irian Barat, jiwa saya seakan menyatu dengan beliau dengan semangat yang satu pula, pembenahan ummat, dan menjadikan Rasul saw sebagai idola dan panutan, dan berjalan dengan manhaj Guru Mulia Alhafidh Almusnid Alhabib Umar bin Hafidh,

Dua tahun yang silam saya berkunjung ke Manokwari bersama beliau dan mengunjungi beberapa tokoh ulama, diantaranya adalah Gus Jumhari, Almarhum Gus Ali (abah ali), yang masing masing telah mempunyai pesantren di perkampungan Transmigran sekitar kota Manokwari, dan kemudian disetujuilah untuk membawa santri santri ke Jakarta dari anak anak penduduk asli, maka merekapun berdatangan ke Jakarta dan berdomisili di kediaman KH Ahmad Baihaqi, dan kemudian Abah ali wafat.. setelah puluhan tahun berdakwah di wilayah wilayah Irian barat, Santri santri tersebut memang sedang pulang kampung pada awal dan pertengahan ramadhan, dan berlebaran disana bersama keluarga mereka yang sebagian besar masih beragama nasrani.

ImageKetika rombongan kami, yaitu dua mobil Land Cruiser (karena medan yang kami tempuh tak bisa dilewati selain mobil 4 wd), tiba di Ransiki, maka seluruh masyarakat keluar menyambut, kira kira sekitar 200 orang muslimin muslimat, saya turun dari mobil tidak boleh menginjak tanah kecuali mesti menginjak piring yang terbuat dari keramik mewah, dan berusia ratusan tahun, dan ketika ditanya sudah berapa lama usianya merekapun tidak tahu, dan mereka hanya berkata piring piring itu sudah ada sebelum mereka dan ayah ayah mereka lahir, demikian adat disana memuliakan tamu agung, piring besar berdiamater 50cm itu disiapkan di bawah pintu mobil.., Subhanallah..

Kemudian piring itu dijadikan cindera mata bagi tamu agung tersebut.., sungguh sangat hangat sambutan mereka, airmata saya terus mengalir karena haru dan gembira bisa berkumpul dengan muslimin

ImageImageJamuan makan pagi pk 11.00 WIT, diteruskan acara halal bihalal, maulid dhiya’ullami dan tausiyah saya di masjid jami Ransiki diakhiri dengan shalat jamaah dhuhur, dan kesemua muslimin muslimat hadir, setelah shalat dhuhur maka kami meneruskan perjalanan ke Bintuni, Jarak tempuh Manokwari Ransiki 100km, dan Manokwar Bintuni adalah 300km.

Perjalanan diteruskan.., kami mengunjungi pula sebuah musholla di wilayah Siwi, satu satunya musholla di jarak tempuh berjam jam itu sangat dijaga dan dirawat oleh beberapa muslimin di wilayah Siwi tersebut, subhanallah… dalam puluhan perkampungan yang jaraknya sangat berjauhan dan berjam jam perjalanan itu, dan terpisah pisah dengan rimba belantara itu hanya ada satu musholla saja, dan belum ada masjid..

Sebagian para santri ada yang tidak dibolehkan lagi kembali ke Jakarta oleh muslimin di salah satu wilayah itu.. kenapa..?, karena mereka tak punya imam untuk shalat.. Dengan suara lirih dan tertunduk mereka berkata : “kami sudah masuk islam tapi kami ingin tahu caranya shalat, kami belum tahu”, maka selama anak itu bersama mereka, ia menjadi imam, dan jika anak itu sakit maka tak ada shalat di wilayah itu.., dan anak itu pula mengajari tarawih, mereka tak pernah tahu shalat tarawih, dan mereka baru pertama kali pula mengadakan Takbiran di malam idul fitri.., dan jika anak itu meninggalkan mereka ke Jakarta maka tak ada lagi shalat diwilayah itu.. Subhanallah..,

Airmata saya terus mengalir.., kita di Jakarta makmur dengan para ulama, habaib, kyai dan para Da’I, ternyata ada di wilayah saudara saudara kita yang sudah belasan tahun masuk islam namun ingin shalat tapi tak ada yg mengajarinya, Wilayah kita makmur dengan masjid dan musholla dan majelis taklim, namun disini musholla ada untuk wilayah yang mesti ditempuh berjam jam naik mobil..

ImageSetelah sekitar 1 jam dari Ransiki, kami mengunjungi sebuah perkampungan, yang di kampung itu hanya ada satu rumah muslim, namun Allah swt memberikan anugerah padanya, karena ia dan KH Ahmad Baihaqi berhasil merekrut beberapa keluarganya untuk masuk islam, dan saat kunjungan itu pula dilangsungkan pernikahan antara dua pemuda muslim dengan dua wanita yang baru masuk islam, saya mendapat kehormatan untuk menikahkannya, Sungguh sangat mengharukan.. kamipun disambut dengan tarian adat oleh mereka yang masih nasrani namun mulai mendekati keislaman,

ImageKami meneruskan perjalanan ke Bintuni.. Jalanan yang sangat sulit dilewati, kubangan Lumpur yang terus menghalangi mobil yang melintas sangat parah dan sulit dilalui, beberapa kali mobil land cruiser itu menggerung karena terjebak dalam kubangan Lumpur, tinggi Lumpur mencapai 50cm atau lebih, dan berkali kali mobil itu miring dan hampir terguling karena terjebak pada dalamnya Lumpur, Dua mobil kami terus terseok seok melintasi medan Lumpur sepanjang puluhan kilometer, dan konon dalam sekali melintas bisa berkali kali ganti ban karena ban mobil tercabik batu batu gunung yang tajam ditengah kubangan Lumpur..,

Kami tiba di Bintuni pk 20.30 WIT, setelah jarak tempuh sekitar 12 jam dari Manokwari, kami diperkenankan istirahat di hotel Kabira, satu satunya hotel di kota Bintuni yang dilengkapi ac, kami beristirahat.

Kamis, 9 oktober 2008, Dinihari sebelum subuh saya terkaget dari tidur, ternyata suara gemuruh hujan deras yang seakan akan menghancurkan atap dari dahsyatnya, saya kembali tidur beberapa saat dan kemudian bangun untuk Qiyamullail, lalu termenung sambil berdzikir dan doa, sungguh perjalanan yang sangat melelahkan, namun haru dan gembira,

ImageImageTernyata mereka yang tidak tidur malam itu untuk memasang umbul umbul Majelis Rasulullah saw dan spanduk serta baliho Majelis Rasulullah, mereka mengatakan malam itu hanya hujan gerimis, tak ada hujab deras.., lalu hujan deras apa yang membuat saya bangun dari tidur semalam..?, Wallahu A’lam

Pk 8.30 WIT (6.30 wib), riuh suara arak arakan masyarakat untuk menyambut kedatangan kami sudah semakin ramai, sekaligus acara halal bihalal, tabuhan hadroh yang khas papua sangat mengharukan, ratusan muslimin sudah memenuhi halaman parkir hotel dan mereka berdiri memegang spanduk dan baliho menyambut kedatangan saya, subhanallah… subhanallah.., kami keluar menyambut mereka, maka riuh sambutan mereka dan saya berpelukan dengan para tokoh masyarakat setempat, mereka menangis haru, sebagian orang orang tua menjerit dalam tangis.. Ada apakah gerangan..?

ImageSambil berjalan dengan iring iringan hadroh dan arak arakan kegembiraan mereka menuju Masjid salah seorang tokoh masyarakat menjelaskan sambil memegang tangan saya, ia berkata Lirih : “Kami sedari dulu hanya dengar saja dari datuk datuk kami tentang habib, kami tak pernah jumpa dengan para habib, kami hanya dengar saja dari orang orang tua kami, dan pagi ini kami bisa berjumpa dengan yang dinamakan habib, dan inilah pertama kali seorang habib mengunjungi Bintuni setelah ratusan tahun tak pernah ada kunjungan ke wilayah ini”. Kali ini saya yg menangis haru.., subhanallah.. oleh sebab itulah mereka menangis..,

Arak arakan yang semakin riuh ketika semakin dekat pada masjid, dan para jamaah hadroh adalah orang orang sepuh, acara di mulai dengan sambutan sambutan, berdirilah salah seorang tokoh dan menyampaikan sekilas sambutan, lalu berdiri tokoh lainnya, dan dari penyampaian mereka bahwa dijelaskan bahwa Islam masuk Papua sebelum Kristen, dan Islam sudah ada di Bintuni pada abad ke 16 Masehi, kemudian hilang dan tak tercatatkan sejarah, lalu tercatatkan pula di Bintuni pada abad ke 18 Masehi, dan ada beberapa wilayah yang diberi nama dengan nama dari bahasa arab, yaitu wilayah yang dipakai untuk jalan menuju Bintuni dinamakan wilayah Babo, mereka berkata bahwa yang dimaksud adalah Baabussalam, yaitu Pintu keselamatan, karena pendatang di masa lalu mesti melalui wilayah itu untuk masuk ke Bintuni.

ImageImageKemudian maulid Dhiya’ullami dilantunkan, bersama Jamaah Hadroh dari putra putra Ransiki Papua, kemudian saya menyampaikan Tausyiah dan diakhiri doa. Kami dijamu makan siang oleh para tokoh, lalu saya berkata pada mereka : “saya minta dipilihkan makanan untuk saya oleh tokoh tokoh, karena saya ingin makan makanan yang dipilihkan oleh tokoh tokoh, agar saya mendapat keberkahan dari tangan bapak bapak yang mulia, maka disendokkan pada saya “Papeda” yaitu bubur sagu yang dihidangkan dengan semacam sop Ikan, masya Allah..

Setelah acara jamuan maka kami kembali ke hotel, dan saya duduk bercengkerama dengan beberapa tokoh islam, dan mereka menyampaikan beberapa cerita tentang perjuangan islam, diantaranya bagaimana muslimin dihimpit oleh kalangan Nasrani, mereka menyebut suatu kejadian beberapa tahun yang silam, bahwa disebuah wilayah antara Sorong dan Papua terdapat sebuah suku dipinggir pantai, kebanyakan di wilayah itu muslimin, namun mereka tak ada lagi yang mengajarkan islam hingga turun temurun, mereka muslim tapi tak tahu agama islam, mereka sudah tidak kenal syahadat, mereka hanya mengenal satu ajaran adat, yaitu tak boleh makan babi, padahal babi adalah santapan yang masyhur di Irian, mereka menganggap itu hukum adat, padahal itu hukum islam, dan kepala suku mempunyai satu barang yang dikeramatkan, ia adalah sebuah kotak yang menyimpan pusaka turun temurun yang dipegang oleh kepala suku dari generasi ke generasi, mereka tak tahu benda apa itu,

Ketika mulai banyak para nelayan muslimin yang kunjung, mereka minta sebidang tanah pada kepala suku untuk musholla, maka kepala suku mengizinkan, lalu mereka kunjung kerumah kepala suku, dalam sambutan hangat itu kepala suku menunjukkan pusaka yang disimpan ratusan tahun dan diwariskan dari datuk datuknya, ketika kotak itu dibuka, maka para nelayan pun kaget dan bertakbir, ternyata isinya adalah Alqur’an yang sudah sangat tua.., Subhanallah.., mereka ternyata sejak berabad abad sudah muslimin, namun karena mungkin tak ada para dai dai pengganti, maka ajaran islam pun hilang dan tak lagi dikenali, tinggallah pusaka yang diwasiati turun temurun itu yang ada pada mereka, ternyata ia adalah Kitabullah, Alqur’anulkarim.

Maka kepala suku ini pun kembali memeluk islam, tak lama kabar sampai kepada Koramil dan kecamatan yang camat dan Danramil adalah Nasrani, mereka memanggil kepala suku itu dan mendampratnya habis habisan karena telah memberi sebidang tanah untuk muslimin membangun musholla, dan kepala suku dipaksa untuk mengusir mereka dan kepala suku tetap pada pendiriannya, maka kepala suku itu ditelanjangi hingga hanya celana dalamnya yg disisakan, lalu ia disiksa dan dicambuki dengan kulit ikan pari, Ikan pari terkenal dengan kulitnya yang penuh duri tajam yang beracun…, kepala suku tetap tidak mau merubah keputusannya.., ia tetap ingin mempertahankan pusaka Alqur’an dan tak mau mencabut izin untuk pembangunan musholla.. Subhanallah.. Dengan kejadian penjelasan tentang Alqur’an itu maka 80 kepala keluarga di Suku itu kembali pada islam.

Juga Diantara keluh kesah tokoh agama tersebut, mereka berkata : “dimana da’I da’I muslimin dari Jakarta?, dimana para hartawan dari Jakarta?, mereka hanya mau teriak teriak di televisi, dan sebagian dari kami tak ada listrik, jikapun wilayah yang sudah ada listrik belum tentu punya televisi, lalu darimana kami akan mengenal dan belajar islam?, kami hanya dengar dari teman teman yang punya televisi, bahwa para hartawan di Jakarta selalu mengirimkan dana uang banyak ke Palestina, Bosnia, Afghanistan, bagaimana mereka memberi bantuan kesana dan melupakan kami, kami muslimin yang sebangsa dengan mereka, kami masyarakat Papua menerima republik Indonesia karena kami tahu Republik Indonesia adalah Muslimin, namun setelah kami jadi saudara mereka kami dikucilkan dan ditinggalkan.., mereka jauh jauh mengirim uang banyak ke luar negeri dan kami disini susah dan tak mampu membangun musholla pun..” Masya Allah…

Pk 13.30 WIT kami menuju pulang, diantar tangis airmata para tokoh muslimin, setelah berpelukan, mobil melaju dan kami melihat dari kejauhan mereka masih berdiri termangu mengantar kepergian kami, selamat Tinggal Kota Bintuni…, kami sempat mampir ke rumah salah seorang ustaz di perkampungan Transmigran, yaitu di SP 5 (SP = satuan pemukiman), lalu kami meneruskan perjalanan pulang..

ImageAkibat hujan deras semalam, maka medan jalur pulang lebih buruk dari saat kemarin, Land Cruiser yang saya tumpangi sempat terperosok dan terjebak Lumpur dan tak bisa keluar dari Lumpur, kami beristirahat dan makan siang di pinggir jalan tempat mobil kami terjebak, setelah makan siang, maka mobil Land cruiser yang juga bersama kami pun menarik mobil itu keluar dari cengkeraman Lumpur, usaha yang cukup sulit itu pun akhirnya berhasil, setelah Lumpur itu di pacul terlebih dahulu untuk memudahkan mobil keluar dari jebakan Lumpur tersebut, seakan akan Bintuni tak mau kami meninggalkannya dan berusaha menahan mobil kami..

Kami berhenti sesaat di wilayah Mamai, menurunkan seorang anak santri bimbingan KH Ahmad Baihaqi, ayahnya masih nasrani, dan sudah mulai tertarik masuk islam, dan ia mengizinkan anaknya belajar di Jakarta dibawah bimbingan KH Ahmad Baihaqi, saya berdoa untuk ayahnya dan berfoto bersama, lalu kami pamit dan Meneruskan perjalanan,

Kami singgah di wilayah Kiwi, yaitu musholla yang dijaga oleh muslimin yang kami mampiri kemarin, kami berpamitan, ternyata musholla itu dibangun oleh seorang pengusaha wanita dari Jakarta, Ibu Tuti, demikian mereka menyebutnya, Ibu Tuti berkediaman di Tebet Jakarta selatan, dan ia sedang di wilayah ini dalam usahanya, semoga Allah melimpahkan kepadanya keberkahan dan kesuksesan, karena telah mendirikan musholla, yang menjadi satu satunya musholla di radius puluhan kilometer wilayah sekitar.

ImageKami meneruskan perjalanan menuju Ransiki.., Ditengah perjalanan itu saya sekilas tertidur dan bermimpi, saya melihat seorang habib, ia pemuda tampan seusia dengan saya, ia dengan pakaian putih, ia berkata pada saya : “saya dahulu berdakwah di wilayah ini dan saya dikejar kejar dan akhirnya saya dibunuh disini..”. saya terbangun dan melihat kearah kiri tempat perjumpaan kami dalam mimpi.., ternyata hanya semak belukar dan rimba yang gelap.. airmata saya mengalir lagi sambil melafadzkan fatihah untuknya.. ia membawa dakwah Nabi saw ditengah tengah pedalaman seperti ini, lalu wafat sebagai syahid dan kuburnya tak dikenali orang didalam rimba belantara Irian barat..

Kami tiba di Ransiki untuk makan malam dan berpamitan dengan para orang tua santri, saya diperlihatkan Alqur’an yang disobek sobek oleh Nasrani di wilayah Ransiki, saya tak tahan, saya menciumi Alqur’an itu dan menangis sekeras kerasnya, merekapun turut menjerit dan menangis, saya terlintas untuk marah dan menginstruksikan balas, namun akhirnya saya tenang, dan berdoa agar Allah hujankan hidayah bagi semua yang menyembah selain Allah, agar Allah hujani hidayah dan memenuhi papua dengan muslimin dan agar Allah jadikan penduduk Papua sebagai Ahlussujud.., dan agar Allah jadikan Papua bukan Manokwari kota Injil, tapi sebagai wilayah sayyidina Muhammad saw..

ImageKetika kami sudah dimobil, mereka melepas kepergian kami dengan adzan, lalu selesai adzan mobil meluncur pelahan dan puluhan muslimin menjerit tangis pilu melepas kepergian kami di gelapnya malam.., suara jerit tangis mereka benar benar menyayat hati.., mereka sangat cinta pada saya dan sayapun demikian, saat saya turun dari mobil anak anak pemuda papua berebutan menaruh kaki saya ditelapak tangan mereka, karena Mobil Land cruiser itu sangat tinggi hingga saya agak kepayahan saat turun dari mobil, mereka berebutan menaruh kaki saya ditelapak tangan mereka, saya menghalau mereka namun mereka tidak perduli menjadikan tangan tangan mereka sebagai injakan kaki saya sebelum ke bumi.., wahai Rabbiy alangkah suci hati mereka, mereka muallaf, mereka baru memeluk islam, betapa mereka mencintai karung dosa ini, bahkan mereka selalu berusaha menciumi saya, pundak, tangan punggung, dada, jika mereka ada kesempatan dekat mereka terus menciumi saya ditubuh sekenanya, saya menjadi akrab pula dengan mereka, saya bercanda dengan mereka, berfoto dalam berangkulan dengan mereka, dan mereka semakin gembira,

ImageKetika mobil meluncur meninggalkan Ransiki dan para pemuda setempat, maka tubuh saya terus meriang, ditengah hentakan dan guncangan mobil yang terus melewati medan berat, saya terus dihantui perasaan yang beraneka ragam, sedih, haru, semangat juang, tangis, dan terus terbayang diwajah saya betapa sulitnya para da’I terdahulu di wilayah ini, wilayah yang terjauh di Indonesia, terbayang kepala suku yang baru masuk islam, ia dilucuti pakaiannya, disiksa dan dicambuk dengan Kulit ikan pari yang berduri karena membela Alqur’an.., ia tetap bertahan dan menahan sakit, padahal ia baru saja memeluk islam, terbayang seorang habib muda yang dikejar kejar lalu dibantai dan dibunuh ditengah rimba sebagaimana mimpi saya…, terbayang wilayah wilayah muslimin yang ingin belajar shalat namun tak ada yang mengajarinya, mereka hanya bisa shalat jika berjamaah dan belum bisa shalat sendiri, maka jika imam itu (pemuda belasan tahun) sakit maka tidak ada shalat di kampung itu.., anak muda itu muallaf dan baru saja belajar shalat.., ia sudah berjuang di wilayahnya mengajarkan shalat..

Terbayang pula keluhan mereka tentang tidak adanya pengajaran islam untuk mereka, mereka hanya bisa lihat islam di TV dan sebagian besar wilayah perkampungan tidak punya tv, bahkan listrik hanya ada hingga jam 12 malam, lalu padam.. dan mereka mengeluh : “Lalu bagaimana kami belajar islam..?”, terbayang wajah para santri dari Ransiki Papua yang selalu hadir di Majelis Malam selasa di Masjid Almunawar Pancoran Jakarta, mereka baru belajar dasar agama saja, namun mereka sudah menjadi dai dai di wilayahnya dan wilayah sekitar, mengislamkan keluarganya, mengajak kakaknya masuk islam, mengajak ibunya masuk islam, subhanallah.. betapa mulianya mereka..

Bayangan bayangan itu benar benar mengiris hati saya.. terlintas dihati untuk meninggalkan Jakarta dan berdakwah di Papua, biarlah saya mati dibunuh dalam dakwah dan terkubur tanpa dikenali orang dimana kubur saya, duh.. betapa habib muda yang syahid itu dimanjakan dan dicintai Allah..

duh.. betapa mulianya anak anak muda cilik itu yang menjadi kesayangan Rasul saw kelak karena baktinya pada Nabi Muhammad saw, mereka mengajarkan shalat, mereka mengajar ngaji, menyebar maulid dhiya ullami, mereka mengibarkan bendera Majelis Rasulullah saw, memasang umbul umbul Majelis Rasulullah saw di wilayah wilayah mereka.., subhanallah.. Saya terus menangis dan tubuh ini meriang, setiba di Manokwari kami langsung beristirahat di kediaman Bpk Hj Shohib, dan bermalam..

ImageJumat 10 Oktober 2008, Pelukan terakhir perpisahan dengan KH Ahmad Baihaqi dan beberapa penduduk Ransiki sangat mengharukan.. berat sekali saya ingin melepas pelukan KH Ahmad Baihaqi, dia akan terus berjuang lagi, sebagaimana saya datang ia sangat erat memeluk saya, dan firasat saya bahwa ia sudah melewati masa masa berat, dan ternyata benar, dan kini ia harus kembali berjuang sendiri, kami harus meninggalkannya, saya sangat tidak tega dan berat meninggalkannya, saya terus memeluknya dan saya tak bisa menahan tangis, dan iapun menangis keras.., saya mulai merasa goncangan dahsyat dihati, saya harus melepas pelukan ini dan pergi, hati saya benar benar pilu dan pandangan mulai pudar, saya risau jika saya teruskan maka saya akan jatuh pingsan, maka saya melepas pelukannya dan berbalik.. berjalan ke pesawat dan tak berani membalikkan tubuh untuk memandangnya lagi.. saya tidak kuat melihat pemuda mulia itu tegak sendiri memandang kepergian kami.. ia akan terus berjuang sendiri hingga 23 oktober 2008 mendatang, ia akan kembali ke Jakarta bersama santri santri Ransiki..

Saya duduk di kursi pesawat…, saya tulis akhir dari laporan ini, selamat tinggal Bintuni, selamat Tinggal Ransiki, selamat tinggal Musholla siwi, selamat tinggal para pejuang dakwah, selamat tinggal para muallaf yang terus berjuang ditengah panasnya cuaca hutan tropis… selamat tinggal Manokwari, wahai Manokwari.. kau digelari kota Injil… betapa mencekik gelarmu..,

Rabbiy hujani Papua dengan Hujan Hidayah, bangkitkan kemuliaan muslimin, menegakkan kedamaian dan keimanan di wilayah mereka, tumbuhkan generasi muda mudi yang mencintai Rasulullah saw, cabut keinginan mereka untuk menyembah selain My Rabbiy… hujani mereka dengan keberkahan dan kemakmuran, singkirkan tangan tangan kuffar yang terus meracuni akidah mereka..

Saya membatalkan keinginan untuk tinggal di Papua, karena jika saya wafat disana maka perkembangan ini akan terhambat pula, biarlah saya di Jakarta, namun kami akan menyiapkan santri santri dan muda mudi yang akan menjadi laskar Muhammad saw di wilayah mereka, kini pun sebagian dari mereka telah berpencar ke wilayah wilayah sekitar mereka, memimpin shalat, mengajarkan Iman, mengajak kepada Islam, dan kita akan terus menyatukan barisan dan memperkuatnya hingga Manokwari bukan lagi bernama Manokwari kota Injil, tapi Irian Barat wilayah Sayyidina Muhammad saw.. amiin..

pesawat kami mendarat dengan selamat di Bandara Soekarno Hatta Jakarta pada Jumat Petang pk 20.00 wib.

Klik disini untuk melihat Galery Perjalan Dakwah Majelis Rasulullah ke Wilayah Manokwari.

**Dapatkan vcd perjalanan dakwah Majelis Rasulullah saw di Manokwari, dilengkapi kunjungan ke wilayah wilayah Ransiki, Bintuni, dll, juga perjalanan yg penuh hambatan dan jalanan berlumpur.

Posted in Ahlussunnah, Ajaran Wahabi, Bid'ah, Hadits Dho'if, Hukum Islam, Hukum Mazhab, Majelis Dzikir, Majelis Rasulullah, Masjid Nabawi, Maulid Nabi, Nabi Muhammad, Para Habaib, Sejarah Islam, Shalawat Nabi, Sunnah, Tahlilan, Tasawuf, Tawasul, Wali Allah, Ziarah Kubur | Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Semua Ummat Rasulullah Saw Pasti Masuk Surga Kecuali Yang Menolak

Posted by Teknik Jumper on October 26, 2008

قَالَ رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى (صحيح البخاري

Sabda Rasulullah saw :
“Semua ummatku masuk sorga kecuali yang menolak”. Para sahabat bertanya : siapa yang menolak wahai Rasulullah?, beliau saw bersabda : “Yang taat padaku masuk sorga, yang tidak taat padaku maka ia telah menolak” (Shahih Bukhari)
Image Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Limpahan puji kehadirat Allah jalla wa alaa, Maha Raja yang selalu bercahaya dengan Cahaya yang Abadi, Yang Maha Menerangi Alam semesta dengan Cahaya Kemegahan Nya, Yang Maha Menerangi Jiwa Hamba hamba Nya yang beriman dengan cahaya ketenangan, terang benderang jiwa hamba yang merindukan Allah, Cahaya Abadi dan Tunggal yang selalu didambakan oleh hamba hamba Nya yang beriman dari zaman ke zaman, Beruntunglah jiwa yang merindukan Allah, beruntunglah bibir yang menyebut Nama Allah, tiadalah bibir yang lebih agung melebihi bibir yang bergetar dan basah menyebut Nama Nya, tiada jiwa yang lebih bercahaya dan tenang melebihi jiwa yang mengingat Allah Swt, Maha Suci Allah yang Maha Menerangi jiwa kita dengan iman,

Hadirin hadirat singkaplah tabir yang menghalangi kita dengan Allah, singkaplah dengan doa dan munajat, singkaplah dengan mengemis kehadirat Allah, agar Dia menerangi jiwa kita dengan cahaya Nya, cahaya yang lebih terang dari seluruh cahaya. Cahaya diatas segala cahaya yang memberikan petunjuk kepada hamba hamba Nya dengan cahaya bagi hamba hamba Nya yang dikehendaki Nya” (QS Annur 35). Terang benderanglah hari hari mereka dengan cahaya kehidupan yang sempurna, terang benderanglah hidup mereka dan wafat mereka dalam kebahagiaan dunia dan akhirat.

Dialah Allah jalla wa alaa yang menerangiku dan kalian dengan cahaya ramadhan, dengan cahaya shiam dan cahaya qiyam. Nurushiyaam wal qiyam yang menerangi hari hari muslimin muslimat di Barat dan Timur untuk dilimpahi rahmat dan pengampunan dan pembebasan dari neraka, Beruntunglah yang mendapatkannya, beruntunglah mereka yang mendapatkan limpahan rahmat Ilahi di 10 malam pertama, limpahan pengampunan Ilahi di 10 malam kedua, dan pelepasan dari api neraka di 10 malam terakhir dan itulah semulia mulia anugerah..

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Sampailah kita di malam hari yang diberkahi Allah ini kepada seruan Sang Nabi saw, manusia yang paling ramah dan lembut dari semua manusia, makhluk yang paling berkasih sayang dari seluruh makhluknya Allah, Jiwa yang paling lembut dari semua jiwa yang diciptakan Allah yaitu Sayyidina Muhammad Saw.

Rasul saw menerangi hari hari kita seraya bersabda “kullu ummatii yadkhulul jannah illa man aba” seluruh umatku masuk ke dalam surga terkecuali mereka yang tidak mau dan menolak. Para sahabat terheran dan bertanya “siapa orang yang tidak mau masuk surga ya Rasulullah?” Rasul saw bersabda “orang orang yang tidak mentaati aku maka ia termasuk orang orang yang menolak”. Di dalam konteks hadits ini seakan akan muncullah disana betapa beratnya kita masuk ke dalam surga, Karena beliau saw bersabda “barangsiapa yang taat padaku akan masuk surga dan mereka yang menolak perintahku, mereka telah termasuk menolak surganya Allah.

Hadirin hadirat tampaknya hadits ini sangat tegas, merisaukan jiwa kita, Tapi kita perlu dalami makna hadits ini, Berkata Hujjatul Islam Imam Ibn Hajar Al Asqalani di dalam kitabnya Fathul Bari bisyarah Shahih Bukhari mengenai banyaknya penafsiran para muhadditsin tentang makna hadits ini.

Yang pertama orang orang yang menolak dan yang tidak mau, yang disebutkan Sang Nabi saw adalah orang orang yang menolak langsung apa yang diperintah oleh Sang Nabi saw di masa beliau saw, bukan di masa sekarang, Yang disebut orang yang menolak adalah orang yang menolak langsung perintahnya Rasul saw di masa beliau saw.

Pendapat yang kedua adalah mereka itu tertolak dari masuk surga disaat yang pertama bersama Rasulullah saw setelah meminum telaga haudh, Tidak bisa masuk surga, bersama, dan kenapa?,
karena banyak dosa dosa, mereka harus dihisab terlebih dahulu, Namun pada akhirnya Al Imam Ibn Hajar menjelaskan akhirnya kesimpulannya kembali kepada kalimat yang pertama “seluruh umatku masuk ke dalam surganya Allah Swt terkecuali yang menyembah selain Allah” maka kalimat disini menolak perintahnya Sang Nabi saw adalah menolak islam, tidak mau menerima islam dan menyembah selain Allah maka mereka tidak akan pernah mencium baunya surga sama sekali. Sisanya ada diantara para pendosa yang menerima apa apa yang diperintah Sang Nabi saw tetapi ada yang ia tidak mampu untuk melakukannya maka ia akan sampai dengan Syafa’at Nabi Muhammad Saw ke dalam surganya Allah.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Di malam agung ini tentunya kita juga teringat pada peristiwa peristiwa besar. Peristiwa rahasia keagungan Alquranulkarim yang turunnya di malam 17 Ramadhan dalam riwayat lainnya tentunya yang pasti adalah di bulan ramadhan. Sebagaimana firman Allah “bulan ramadhan adalah bulan yang diturunkan padanya Alquran” (QS. Al-Baqarah:185). Ikhtilaf pendapatnya, banyak yang mengatakan malam 17, banyak yang mengatakan malam lainnya dan lainnya tapi seluruh pendapat telah menjadi satu dengan firman Allah bahwa turunnya Alquran adalah di bulan ramadhan.

Satu kumpulan kalimat kalimat Ilahi yang menerangi jiwa hamba hamba Nya mulai 14 abad yang silam hingga akhir zaman, Mengawali segenap tuntunan hidayah yang setiap hurufnya merupakan cahaya keridhoan Ilahi, menuntun mereka kepada taubat dan istighfar. Menuntun kita kepada keluhuran dunia dan akhirat, menuntun mereka kepada kerinduan pada Allah, Menuntun mereka untuk meninggalkan kemaksiatan kepada Allah dan dosa, Menuntun mereka kepada hal hal yang dicintai Allah, Inilah tugas sang pembawa Alquran, Shohibul quran, shohibul ramadhan, Sayyidina Muhammad saw.

Hadirin hadirat oleh sebab itu jika kita renungkan ini bulan ramadhan bulan turunnya Alquran, 6660 ayat turun untuk umat ini yang jika diturunkan di atas gunung, gunung itu hancur lebur dari takutnya kepada Allah swt. Sebagaimana firman Allah “Jika kami turunkan Alquran diatas puncak sebuah gunung, akan kau lihat (maksudnya akan dilihat oleh manusia) gunung itu akan hancur dan lebur dari takutnya kepada Allah swt” (QS. Al-Hasyr:21). Takutnya dari kewibawaan Rabbul Alamin, dari keagungan dan kemegahan Maharaja langit dan bumi. Gunung yang demikian keras dan dahsyatnya akan hancur lebur, tunduk dan hancur berantakan dari takutnya kepada Allah. Gunung yang demikian keras itu ternyata punya perasaan takut kepada Allah, ternyata punya pengagungan (takdhim) kepada Allah swt. Bagaimana dengan jiwaku dan jiwa kalian? wahai umat mulia ini adakah pengagungan kepada Allah?

Alquran turun dan sampai kepada kita, adakah air mata mengalir meruntuhkan kerasnya hati kita mendengar kalam kalam Illahi yang turun ataukah sirna begitu saja sama dengan suara lainnya. Suara itu jika diturunkan untuk gunung bukan untuk manusia, gunung itu lebur tidak sanggup diajak bicara oleh Rabb sedangkan Alquran adalah Kalamullah yang langsung berbicara kepada umat Nabi Muhammad saw. Mana kalimatnya? Wahai orang yang beriman, wahai manusia, bukankah kita ini diajak bicara oleh Allah jalla wa alla? sehingga mereka itu orang orang ahlul khusyu’ bergetar ketika membaca firman firman Allah yang berisi kalimat mengucap langsung kepada mereka karena sudah diajak bicara kepada Allah. Seandainya kalimat itu akan hancur gunung itu, kenapa? karena yang diajak bicara gunungnya. Namun gunung tidak mampu menampungnya tapi karena jiwa kita mukminin mukminat akan terharu dan gembira diajak bicara oleh Allah.

Siapa yang diajak bicara oleh Allah? apakah shiddiqin?, para Nabi dan Rasul?, tapi ada siapa juga? ada juga para pendosa yang diajak bicara oleh Allah, Siapa mereka? wahai yang melampaui batas dalam berbuat dosa pada dirinya sendiri. Allah mengajaknya bicara langsung kepada para pendosa agar kembali dan taubat kepada Allah. Jangan putus asa dari rahmat Ku, Wahai Yang Maha Baik kepada kami, tiada kebaikan melebihinya. Hadirin hadirat beruntunglah jiwa yang merindukan Allah.

Peristiwa mulia pun terjadi diantaranya adalah kejadian Badr Al Kubro, Kejadian yang sangat agung dari 313 jiwa yang paling dicintai Allah di umat ini, Tidak ada derajat shalihin dan shiddiqin yang mencapai derajat Ahlul Badr. Semua mereka yang 313 adalah orang yang paling suci dan mulia di umat ini melebihi derajat para Qutbul aulia. Merekalah wajah wajah termulia dan paling terang benderang di yaumal qiyamah di umat ini “Ahlul Badr Radhiyallahu’anhum”. Dihadapan mereka dan diantara mereka adalah imam imam ahlul bait yaitu Sayyidina Ali bin Abi Tholib kw, Sayyidina Hamzah bin Abdul Mutholib ra, Sayyidina Ja’far bin Abi Tholib dan banyak lagi.

Khulafaurrasyidin semuanya ahlul badr (Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Ali, Sayyiidna Umar). Sayyidina Utsman ra tidak hadir dalam perang badr. Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari ada seorang tidak suka dengan Sayyidina Utsman dan berkata kepada Abdullah bin Umar, “sayyidina utsman itu kan tidak ikut dalam perang badr”. Abdullah bin Umar memanggilnya “sini, dia memang tidak ikut perang badr tapi ia menjaga putrinya Rasulullah saw”. Ketika putri Rasulullah sakit, istrinya (beliau menikah dengan putrinya Rasul saw), dia tinggalkan perang badr demi menjaga putrinya Sayyidina Muhammad saw maka Rasul saw bersabda “Utsman adalah ahlul badr”, demikian diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari. Sayyidina Utsman adalah salah satu orang ahlul badr walaupun tidak hadir tapi Rasulullah mengatakan “Utsman adalah ahlul badr”. Utsman bin Affan ra adalah ahlul badr berarti khulafaurrasyidin semuanya ahlul badr.

313 orang bukan yang wafat di perang badr namun yang hadir perang badr. Ada yang wafat di badr ada yang tidak. Badr adalah satu wilayah bukannya bulan purnama, memang artinya bulan purnama tapi yang disebut perang badr dan ahlul badr itu karena peperangannya di wilayah yang bernama wilayah badr. Dari sebelum Islam namanya sudah wilayah badr. Diriwayatkan di dalam Sirah Ibnu Hisyam ketika Rasul saw telah memerintahkan untuk para sahabat mengumumkan jihad. Sebagian sahabat tidak percaya karena belum pernah Rasul saw mengumumkan jihad sebelumnya dan ini peperangan yang pertama. Rasulullah saw tidak pernah mengumumkan peperangan, apa yang kita persiapkan. Persiapan hanya 3 hari, apa yang kita persiapkan? Muhajirin yang ahli perang tidak punya persiapan, senjata belum ada, kuda belum ada. Apa ini peperangan cuma punya beberapa orang.

Kumpulkan pria dewasa Anshor (Anshar adalah penduduk asli Madinah, Muhajirin adalah orang yg hijrah dari makkah ke madinah bersama Rasul saw) jumlahnya cuma 313 dan ini bukan peperangan kalau jumlahnya 313 orang. Yang akan dihadapi siapa? Kuffar quraesy jumlah mereka ribuan. Namun perintah jihad telah muncul maka oleh sebab itu Rasul saw mengumpulkan sahabat dan berkata salah seorang sahabat “Yaa Rasulullah berangkat walaupun kita tidak punya kemampuan. Kalau ini perintah Allah dan Rasul kami akan berangkat bersamamu” demikian kata salah seorang sahabat Muhajirin.

Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari Rasul saw berpaling dan berkata “ayo..?, ada yang punya pendapat lain?, ada yang mau mengemukakan pendapat?”. Tanya lagi, tanya lagi akhirnya berdiri salah seorang Anshor “seakan akan engkau tanya pendapat kami kaum Anshor wahai Rasul?”, Rasul saw menjawab “betul, aku dari tadi belum dengar orang Anshor yang memberikan dukungan”. Maka orang ini berdiri dan berkata “Yaa Rasulallah kami akan bersamamu, kemanapun engkau pergi kami akan bersamamu kalau engkau masuk ke dalam lautan kami bersamamu ke dalam lautan, tidak satupun yang tersisa dari kami terkecuali ikut bersamamu ke dalam lautan, Barangkali kalau kami mati bersamamu bisa membuatmu gembira”.

Ini merupakan petunjuk Allah. Inilah kaum Anshor, mereka rela mati demi gembiranya hati Rasulullah saw. Kalau matinya mereka membuat gembira hatinya Rasul saw, kami akan mati. Demikian Anshor (para pendukung) Nabi Muhammad saw. Hingga riwayat Shahih Bukhari “kalau bukan karena hijrah, aku akan Allah munculkan dari kaum Anshor bukan dari Makkah”. Tapi karena Allah menginginkan hijrah maka muncul dari Makkah Al Mukarramah tempat kelahiran Sang Nabi saw, karena Allah menghendaki hijrah dan kalau tidak Rasul saw berkata “kalau bukan karena hijrah pasti aku adalah orang yang lahir di kaum Anshor”. Demikian cintanya kaum Anshor kepada Nabi Muhammad saw.

Di dalam Shahih Bukhari Rasul saw bersabda “Rasul saw sangat mencintai kaum Anshor”. Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani menjelaskan asal muasal kaum Anshor adalah dari Yaman. Oleh karena itu Rasul saw bersabda “Iman itu di Yaman” (Shahih Bukhari). Karena apa? karena memang asal muasalnya orang Anshor adalah dari Yaman.

Demikian hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Maka pasukan dipersiapkan, mereka hanya memiliki 70 ekor unta. Jadi 1 unta dinaiki untuk 3 orang. Rasulullah saw bersama Sayyidina Ali bin Abi Tholib dan seorang sahabat lain. Sayyidina Abu Bakar Ashshidiq bersama sahabat lain. 1 unta untuk 3 orang. Ada yang berjalan kaki, ada yang mempunyai pedang. Pedang pertama dalam dunia islam dibuat dan diberikan kepada Sayyidina Ali bin Abi Tholib kw. Ada yang tidak punya pedang cuma alat pertanian saja, ada yang mengerti perang, ada yang tidak mengerti perang. Ini belum dipersiapkan pasukan. Demikian ahlul badr. Terdapat 3 bendera : 1 bendera putih di depan dan 2 bendera hitam di kiri dan kanan Rasulullah saw. Bendera hitam yang satu dipegang oleh Sayyidina Ali bin Abi Tholib dan bendera yang satunya dipegang oleh orang Anshor.

Pasukan keluar dari Madinah Al Munawwarah menuju medan badr, sampai di badr mereka berhenti. Saat saat sekarang ini tanggal 14, 15 ramadhan Rasul saw sudah berada di badr. Dan di malam 17 ramadhan tepatnya esok malam Rasul saw berdoa. Doa dengan doa yang sedemikian dahsyat didengar oleh Sayyidina Abu Bakar Ashshidiq doa beliau saw sebagaimana Sirah Ibn Hisyam “wahai Allah menangkanlah, menangkanlah, kalau muslimin kalah maka Kau tidak disembah lagi di muka bumi”. Maksudnya apa? habis kalau muslimin kalah, jumlahnya hanya 313 orang.

Inilah pendukungnya, kalau semua habis tidak ada muslimin di masa itu. Tinggallah anak anak, tinggallah wanita. Demikian keadaan muslimin di permukaan Barat dan Timur saat itu. Cuma itu saja ksatria ksatria muslimin, kalau seandainya kalah maka habis wahai Allah. Demikian cintanya Sang Nabi saw kepada Allah agar Allah memberikan kemenangan, agar banyak orang orang yang tunduk dan tidak menyekutukan Allah swt. Sampai jatuh ridanya, ridanya jatuh dari tingginya beliau mengangkat tangannya, berkata Abu Bakar Ashshidiq “ya Rasulullah pasti Allah akan kabulkan doamu, cukup Rasulullah, cukup ya Rasulullah”.

Keesokan harinya, hari badr telah terjadi terbitlah matahari dan tidak lama kemudian mereka telah berhadapan. (Idz Tastaghiitduuna rabbakum) ketika engkau meminta pertolongan pada Kami kata Allah. Jika engkau meminta bantuan…, sebelumnya sang Nabi tidak pernah meminta bantuan untuk menundukkan musuhnya. Beliau selalu bersabar diinjak walaupun dalam keadaan sujud dilimpahi kotoran unta, beliau tidak meminta kehancuran untuk musuh tapi saat itu beliau minta pada Allah. Disaat Abu Tholib melempari dan mengejar ngejarnya bagaikan orang gila yang dikejar kejar, beliau malah mendoakan. Tapi disaat itu beliau saw tidak meminta pertolongan kepada Allah untuk kehancuran tetapi disaat badr, Rasul saw meminta kemenangan, Ketika kalian meminta kepada Tuhan kalian maka dikabulkan untuk kalian, maka Aku menjawab doa kalian (doa sang Nabi) Aku menurunkan 1000 pasukan malaikat untuk menolong kalian” (QS Al Anfal 9)

Di dalam Sirah Ibnu Hisyam diriwayatkan para sahabat melihat disaat medan badr mulai berkecamuk turunlah awan yang gelap dan mengerikan mendekat ke medan badr dan mendengar gemuruh daripada kuda dan tasbih. Pasukan keluar memakai sorban sorban putih, ribuan pasukan keluar dari awan ke medan badr. Allah swt telah berfirman “Aku menurunkan untuk kalian 1000 pasukan malaikat” di dalam surat Al Imran Allah teruskan lagi “karena kalian sabar dan kalian taqwa Allah turunkan lagi 3000 pasukan malaikat, 5000 pasukan malaikat Allah turunkan untuk mendukung medan badr”. (diringkas dari firman Allah surat Al Imran 124-125)

Maka disaat itu dijelaskan didalam Sirah Ibnu Hisyam (buku sejarah Nabi yang tertua yang masih ada hingga kini), Jibril as memakai sorban berwarna kuning dan disaat itulah perang tentunya sudah tidak seimbang karena jumlah musyrikin 3000 dan jumlah muslimin 313 di tambah 5000 pasukan malaikat. Tentunya mereka dengan cepatnya memenangkan peperangan. Beberapa sahabat berkata “belum sempat pedang aku gerakkan lawanku sudah roboh karena sudah didahului pedangnya para malaikat”.

Dalam Sirah Ibnu Hisyam berkata Sayyidina Abdullah bin Abbas ra, tidak pernah Allah turunkan malaikat untuk turut berperang terkecuali di medan badr. Hadirin hadirat salah seorang sahabat berkata sebagaimana dijelaskan dalam Sirah Ibnu Hisyam bahwa ia buta, “aku buta sejak kejadian badr”, kalau aku tidak buta aku tunjukkan pada kalian darimana itu datangnya awan yang muncul dan turunnya pasukan malaikat di medan badr. Salah seorang sahabat lagi meriwayatkan kalau ia mendengar gemuruh yang sangat menakutkan diliputi awan gelap itu dan keluarnya pasukan malaikat, keponakan yang masih kecil wafat saat itu dari takutnya mendengar gemuruh yang sangat menakutkan itu. Gemuruh tasbih dan jeritan takbir dari ribuan para malaikat yang membantu medan badr.

Demikian dahsyatnya kemenangan ahlul taqwa yang berkumpul adalah orang yang paling taqwa kepada Allah, orang yang paling khusyu’, mereka menang bukan dengan banyaknya pasukan bukan dengan hebatnya senjata tapi dengan Allah. Kekuatan Illahiyah yang muncul pada mereka yang membuat Allah memenangkan pertempuran. Dan kejadian badr al kubro ini adalah semulia mulia kejadian karena bersatunya seluruh orang orang yang utama disaat sulitnya islam dan Allah jadikan kemuliaan itu kekal tidak sirna. Karena apa? karena ahlul badr lah yang kemudian muslimin muslimat mendapatkan kemenangan yang kemudian berkembanglah islam dan berkembang lagi.

Ketika muslimin mengandalkan pasukan dan banyaknya tentara, mereka kalah sebagaimana perang uhud. Perang uhud mulimin kalah padahal pasukannya banyak, senjatanya lengkap. Kenapa? karena mereka tidak taat apa yang diperintahkan sang Nabi. Pasukan pemanah jangan turun, padahal pasukan pemanah cuma 50 orang. Apa iya uhud ini kalah semua gara gara 50 orang? kenyataan kalau mereka bersatu dalam kekuatan Ilahi pasti menang karena Allah memberi kemenangan. Demikian hadirin hadirat hikmah dari peristiwa badr al kubro.

Kejadian kejadian itu diabadikan karena Allah swt menjadikan kejadian itu masih terus terdengar sampai beberapa tahun yang silam masih terdengar di medan badr. Wilayah badr itu setiap 17 ramadhan kalau bertepatan hari jumat di medan badr, beberapa tahun yang silam masih terdengar suara gemerincing dan suara takbir di medan itu (padang pasir) namun tidak ada wujudnya. Kenapa? Allah abadikan itu. Demikian medan mu’ta, kejadian perang mu’ta ketika Sayyidina Ja’far bin Abi Tholib syahid dan juga lainnya diabadikan sampai beberapa tahun yang silam. Ketika mulai dibangun universitas mu’ta ditempat itu di Yordan tidak lagi terdengar suara itu. Tapi sebelumnya ketika belum ada universitas mu’ta dan orang belum ramai, di medan mu’ta setiap hari jum’at subuh orang yang sholat subuh di masjid itu mereka akan mendengar gemuruh di wilayah padang tempat pertempuran medan mu’ta. Wujudnya tidak ada. Jadi orang yang usia 20 sampai 30 keatas masih bias bersaksi bahwa 10 tahun yang lalu sebelum masjid ini ada kami dengar suara itu. Demikian dahsyatnya Allah swt mengabadikan semangat mereka. Semangat bukan semangat emosi tapi semangat kekuatan Illahi, semangat khusyu’.

Demikian hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Medan Badr, Nuzulul Quran dan demikian banyaknya kejadian kejadian yang terjadi di bulan ramadhan dan kita tidak ikut di dalam kemuliaan kemuliaan itu tapi ketika jiwa kita ikut maka kita termasuk diantara mereka. Maukah kita diantara mereka? tentunya dengan mencintai Ahlul Badr, kita akan tergolong bersama mereka di yaumal qiyamah. Sebagaimana riwayat Shahih Bukhari Rasul saw ditanya oleh Abu Dzar “ya Rasulullah suatu kelompok mencintai kelompok lainnya tapi tidak bisa menyusul dengan kehebatan amal perbuatan mereka”, Rasul saw menjawab :”seseorang bersama dengan orang yang ia cintai”. Maka kita mengadakan acara besok malam di Monas Insya Allah, Haul Ahlul Badr dan semoga dengan itu kita dikumpulkan bersama ahlul badr.

Ya Rahman Ya Rahim Ya Dzaljalali wal ikram, hadirin hadirat bayangkan saat namaku dan namamu dipanggil kelak di yaumal qiyamah dan disaat itu kita akan melihat wajah wajah kita pun dipanggil oleh Allah satu persatu orang akan dipanggil, fulan bin fulan maju ke hadapan Allah, fulan bin fulan maju ke hadapan Allah. Kita akanmendengar danmelihat bagaimana agungnya wajah Ahlul Badr ketika dipanggil oleh oleh bagaimana terang benderangnya wajah mereka, sebagaimana firman Allah “wajah wajah mereka itu terang benderang menerangi mereka”. Hari dimana Allah tidak menghinakan Sang Nabi dan tidak menghinakan orang yang bersama beliau. Cahaya mereka menerangi mereka, bahkan mereka dinaungi oleh cahaya Allah Swt.

Kita berdoa kepada Allah, semoga Allah swt menerangi jiwa kita demi kemuliaan Ahlul Badr, demi cahaya Ahlul Badr, demi keshalihan dan ketaqwaan Ahlul Badr

Ya Rahman Ya Rahim, 313 nama nama agung yang paling Kau cintai dari umat ini kami bertawassul demi keagungan nama mulia mereka agar engkau jadikan limpahan kebahagiaan bagi kami dhahiran wa bathinan Ya Rahman Ya Rahim terangi hari hari kami dengan kebahagiaan, terangi jiwa kami dengan kesucian, terangi hari kami dengan keberkahan Ya Rahman Ya Rahim muliakan kami sebagai tamu yang termulia di bulan ramadhan, muliakan kami dengan kemuliaan laitulqadr, wahai Yang Maha Memiliki kemuliaan malam laitulqadr, Ya Rahman Ya Rahim Engkaulah Yang Maha Memiliki lailatulqadr, Engkaulah Yang Maha Memiliki malam mulia ini, Rabbiy malam ini kami meminta kepada Mu kemuliaan malam lailatulqadr, Ya Rahman Ya Rahim pastikan seluruh kami yang hadir mendapatkan kemuliaan lailatulqadr, kami meminta pada Mu Rabbiy, Ya Dzaljalali wal ikram agar Kau limpahkan kepada kami seribu kali lebih besar kemuliaan malam lailatulqadr hingga Kau jadikan setiap nafas kami Kau limpahkan kemuliaan lalatulqadr Ya Rahman Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Fakullu jami’an Laaillahailallah Laaillahailallah Laaillahailallah Laaillahailallah Muhammadurrasulullah. Insya Allah ta’ala minal aminin.

Hadirin hadirat kita memakmurkan esok malam Insya Allah kita doakan acara kita sukses, semoga Allah swt jadikan esok malam, malam bangkitnya kembali semangat ahlul badr di bumi Jakarta ini, semoga Allah swt kembali memberikan semangat dan anugerah khususnya kepada kita dengan segera Allah jadikan bumi Jakarta ini serambi Madinah Al Munawwarah, bumi yang paling banyak bershalwat dan berdzikir memanggil Nama Allah. Insya Allah kita akan berkumpul di monas esok malam dengan berdzikir Ya Allah sebanyak 1000X dan saya mohonkan kehadirannya sebelum pk. 21.00 WIB karena acara akan dimulai pk. 21.00 WIB.

Demikian hadirin hadirat hal yang perlu saya ralat, di malam selasa yang lalu ada ucapan yang saya salah ucap yaitu tentang haid. Wanita yang haid dan nifas di bulan ramadhan mengqadha puasanya dan yang tidak diqadha adalah sholatnya. Salah mengucapkan di malam selasa yang lalu. Demikian hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, semoga Allah swt memuliakan kita, keluarga kita dan ayahbunda kita dan segera Allah swt membenahi bumi Jakarta dan terus bumi Jakarta ini kita bentengi dengan lafdhul Jalallah dan keagungan Nama Allah swt dan semoga rahmat selalu terpencar pada muslimin.

Posted in Ahlussunnah, Ajaran Wahabi, Bid'ah, Hadits Dho'if, Hukum Islam, Hukum Mazhab, Majelis Dzikir, Majelis Rasulullah, Masjid Nabawi, Maulid Nabi, Nabi Muhammad, Para Habaib, Sejarah Islam, Shalawat Nabi, Sunnah, Tahlilan, Tasawuf, Tawasul, Wali Allah, Ziarah Kubur | Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.